One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Rindu


__ADS_3

Empat tahun berlalu, semenjak kepergian Wilia, Davio lebih memilih banyak menyibukkan diri untuk mengembangkan perusahaan nya di kota ini. Dia tak pergi kemana-mana, Davio lebih memilih menghabiskan sisa-sisa umur nya di kota ini dengan harapan masih bisa bertemu sang istri.


Perusahaan otomotif Davio saat ini sudah menjadi perusahaan raksasa, seluruh usaha nya selama empat tahun ternyata tidak sia-sia. Bahkan dia juga sudah mendirikan universitas swasta tempat nya banyak menghabiskan waktu untuk bernostalgia.


Di setiap pergerakan nya selalu mengingatkan antara dia dan Wilia yang selalu menorehkan luka semakin menganga. Meski begitu, rasa cinta nya tak pernah pudar. Semakin lama justru rasa cinta nya semakin besar. Bahkan kerinduan nya terhadap wanita itu membuat perasaan nya acak-acakan.


"Wilia, apa kamu tidak merindukan ku?" Gumamnya seraya mengamati bingkai foto yang sedang dipegang nya, menampilkan seorang wanita berperut buncit dengan ekspresi wajah tersenyum sembari memegang perutnya. Di foto itu, terlihat sekali Wilia sangat bahagia. Sungguh dia begitu merindukan foto itu.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu mampu membuat hati ku acak-acakan meski kau sudah lama menghilang?" Tangan Davio meraba foto yang dilindungi kaca bingkai. "apa ini hukuman atas niat jahat ku? Bukankah sudah terlalu lama aku tersiksa? Kenapa kau belum juga kembali?"


Sekali lagi, Davio menitihkan air mata. Dia membayangkan sudah sebesar apa putranya. Terakhir kali melihat darah daging nya saat Davio mengantar Wilia melakukan USG, bentuk wajahnya hampir sempurna, dia bahkan bisa melihat betapa mungil nya hidung itu. Mengingat hal itu, semakin membuat Davio menangis.


Dia rindu, bahkan sangat rindu. Kenapa Tuhan tak memberi nya kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka.


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


"Masuk!"


"Permisi, Tuan. Saya membawa beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani," Sekertaris Davio datang membawa setumpuk dokumen. Wanita yang selalu mencari perhatian Davio dengan berbagai cara, namun nyatanya Davio benar-benar tak tergiur sama sekali dengan wanita di depan nya meski selalu berpenampilan menarik dan ingin terlihat sempurna di depan nya.


"Letakkan saja di sana, kalau sudah tidak ada urusan lagi kau boleh pergi." Usirnya secara halus. Davio benar-benar muak dengan sekertaris nya yang sering kedapatan ingin mencuri perhatian nya. Andai kinerjanya tidak baik mungkin sudah lama Davio memecatnya, sayang nya dia cukup kompeten dalam bekerja sehingga Davio sulit mencari cara untuk menyingkirkan nya.


"Masih ada satu lagi, Tuan. Besok Anda akan menghadiri pertemuan dengan kolega kita di kota N." Angeline mengingatkan, karena memang jika tidak diingatkan biasanya Davio akan lupa.

__ADS_1


Davio tampak memijat keningnya yang terasa berdenyut. "Aku akan mengingat nya. Sekarang kamu boleh keluar."


Angeline mengangguk lalu pergi begitu saja, Seperti nya dia cukup lelah dengan sikap Davio yang selalu saja dingin. Padahal sudah berbagai cara menjebak pria itu, ternyata dia memang sangat sulit ditaklukkan. Bahkan pernah satu kali Angeline memasukkan obat perangsang ke dalam minuman nya saat menghadiri acara pesta para pebisnis yang saat itu ditemani Angeline. Sayang nya itu tak berpengaruh apa-apa, justru Davio lebih memilih diantarkan pulang bersama asisten pribadi nya dan mengunci dirinya di kamar hotel hingga tak memberikan sedikit pun celah Angeline untuk mendekati.


__ADS_2