
"T-tunggu!" Wilia menggigit bibir bawahnya, tak mampu menatap Davio. Baru saja mengusir nya, tapi baru beberapa langkah Wilia kembali menghentikan nya.
"Ada apa?" Davio berbalik seraya menampilkan senyum. Meskipun hati nya sedang patah, tapi dia berusaha bersikap bahagia di depan Wilia.
"Apa kau akan tetap pergi?" Tanya nya seraya memalingkan wajah. Semburat merah menampakkan diri dengan sempurna menghiasi dua pipi Wilia.
"Maksudmu?" Davio sedikit tak mengerti dengan perkataan istri nya. Baru saja Wilia menolak, yang artinya benar-benar menginginkan Davio pergi. Tiba-tiba dia mengatakan hal demikian.
"Apa hanya sebatas ini perjuangan mu? Apa memang kau mudah sekali menyerah?" Tanya nya marah, membuat Davio melebarkan senyum. Perkataan Wilia tentu mengandung makna agar pria itu kembali berjuang, yang artinya Wilia masih memberi nya kesempatan.
"A-apakah kau benar-benar masih memberiku kesempatan?" Tanya nya memastikan. Dia tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya.
Wilia tak berkata-kata lagi, dia memilih bungkam dengan posisi masih memalingkan wajah.
__ADS_1
"Baiklah, aku anggap diam mu mengartikan kalau aku masih memiliki kesempatan." Sahut pria itu sembari melangkahkan kaki untuk kembali mendekati Wilia.
"Terimakasih, sayang. Aku sangat bahagia karena kau masih memberi kesempatan pada ku untuk menebus semua dosa-dosa ku pada mu dan juga putra kita." Davio membawa wajah itu agar menatap wajah nya, hingga dua pandangan itu saling beradu
Bola mata Davio masih berkaca-kaca. Bukan karena sedih, melainkan terharu karena setelah begitu lama nya akhirnya dia bisa kembali menyentuh pipi lembut istri nya.
"Terimakasih, sayang." Davio membawa Wilia ke dalam pelukan, lalu menangis tergugu di pundak sang istri. Putra mereka yang melihat pemandangan itu pun hanya menatap dengan pandangan heran merasa tak mengerti dengan aksi orang tuanya.
"Sudah, Vio. Jangan menangis. Aku akan memberimu satu kali lagi kesempatan, tapi jika kembali menyakiti ku, aku tak akan pernah membiarkan kau bisa menemui putra kita apalagi menemui ku."
"Ya, sayang. Aku berjanji. Tidak akan lagi menyakiti kalian." Pandangan Davio berganti pada bibir ranum istri nya, hingga tanpa sadar wajahnya semakin mendekat dan terjadilah adu bibir di antara dua orang itu tanpa menyadari bola di antara mereka ada anak kecil yang memperhatikan adegan mereka.
Sangat lama mereka berciuman, namun tak ada tanda-tanda yang ingin melepaskan. Bahkan tangan Davio mulai bekerja di tempat-tempat tertentu, membuat Wilia semakin terlena dengan perlakuan nya.
__ADS_1
Saat bibir Davio turun ke leher, akhirnya bibir itu bisa berkata bebas sekeras mungkin melampiaskan rasa nikmat yang di ciptakan Davio.
Anak kecil yang sejak tadi memperhatikan aksi dua orang itu akhirnya mulai bosan, dia mendekat lalu menepuk-nepuk kaki mami nya yang masih menempel erat dengan tubuh Davio. Bahkan Davio sengaja menggesekkan benda yang sudah tegak berdiri dibalik celana untuk menikmati sensasi geli akibat benturan dua tubuh itu meskipun masih sama-sama saling terhalang kain.
"Mami sedang melakukan apa?" Tanya Glenn setelah berkali-kali menepuk-nepuk kaki mami nya tapi tak menyadari.
Hah?
Wilia mendorong tubuh suaminya setelah menyadari ada Glenn di sana hingga tubuh Davio sedikit limbung namun tidak sampai terjatuh.
"Astaga, sayang." Davio menengadah sakit.
Sedangkan wajah Wilia semakin memerah menginginkan kelakuan nya yang tak mengenal tempat, bahkan sampai tak menyadari masih ada Glenn di antara mereka.
__ADS_1
...Tamat ~...