One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Wedding Day


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang tentang ajakan Davio untuk menikah, akhirnya Wilia mengiyakan kemauan Davio. Meskipun sebenarnya Wilia sangat terpaksa karena Davio terus mengancam nya akan membuat hamil dulu baru menikah jika Wilia tak menyetujui nya. Membuat Wilia mengiyakan keputusan itu meksi dia mengajukan berbagai macam syarat yang diiyakan begitu saja oleh Davio.


Mereka akan menjalani pernikahan secara diam-diam selama satu tahun dengan syarat-syarat yang sudah mereka buat. Ya, pernikahan yang dilakukan adalah pernikahan kontrak, karena baik dari pihak Davio maupun Wilia, keduanya sama-sama belum memiliki perasaan kecuali keuntungan dalam permainan ranjang tentunya. Jika sudah masalah ranjang, tak memiliki perasaan pun bisa jadi asal kedua nya sama-sama mau dan tidak dalam keadaan terpaksa.


"Wilia, aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke negara. Dan tinggal melakukan pemberkatan, kau ingin kita melakukan dimana?" Davio mendekati Wilia yang sedang tiduran dengan tengkurap seraya bermain ponsel. Dia berusaha mengusap rambut Wilia yang langsung ditepis oleh perempuan itu.


"Ck, terserah kau saja. Aku sibuk, tidak ingin mengurusi." Sahut nya ketus tanpa mengalihkan tatapan nya dari ponsel. Dia sedang menikmati kegiatan nya ini saat berselancar ria menyelam di dunia maya.


"Wilia, aku minta pendapat mu." Sahut Davio tenang berusaha mati-matian agar tak terpancing amarah nya. Pria itu kembali mendekati Wilia, dia hanya ingin melihat tontonan apa yangs sedang dilihat wanita nya hingga tak menatap kearah nya sedikit pun.


"Sudah ku bilang terserah!" Sahutnya lagi dengan suara lebih tinggi. Dia sama sekali tak menatap ke arah Davio karena memang fokusnya sedang pada ponsel yang dipegang nya.


Laki-laki menggeram tertahan seraya mengendalikan diri agar tak menghukum Wilia, laki-laki itu benar-benar tak suka bila dirinya diabaikan dengan orang yang dianggap nya penting.


"kau itu sebenarnya kenapa?" Tanya Davio dengan suara dibuat serendah mungkin agar tak kelepasan membentak wanita nya.


"Sudah ku bilang terserah! Aku tidak ingin mengurusi masalah pernikahan!" Lagi-lagi Wilia tak menatap kearah Davio, laki-laki itu semakin kelap mata.


"Wilia..," Suaranya berubah berat dengan nafas sedikit memburu. Tatapan nya masih tertuju pada bola mata Wilia yang masih fokus menatap ponsel. Dengan santainya bahkan Wilia menggerak-gerakkan kaki nya diangkat keatas.


"Ck, TER-SE-RAH!" Sahutnya lagi tanpa menatap Davio yang sudah menatap tajam kearah nya.

__ADS_1


"Wilia!!" Bentak Davio menggelegar hingga membuat wanita itu menjatuhkan ponselnya. Dia sangat terkejut mendengar bentakan Davio, tubuh wanita itu bergetar dengan air mata yang langsung mengalir ke pipi. Dia tak berani menatap Davio namun ingin sekali melihat pria itu. Bukan karena cengeng, tapi selama ini belum ada satu orang pun yang membentak diri nya membuat nya ketakutan seperti ini.


"W-Wilia, a-aku tidak sengaja membentak mu," Gumam Davio saat menyadari akan kesalahannya, Dia mengusap wajahnya kasar karena telah menyadari kesalahannya, dan segera mendekap tubuh wanita nya yang sudah menangis tanpa mau menatap kearah nya.


"Kau jahat!" Wilia berusaha memberontak dari pelukan Davio namun tetap saja, tenaga nya kalah kuat dari laki-laki itu. "Aku benci kamu! Aku benci! Aku membenci mu..!" Wilia kembali mendorong dengan dorongan yang sangat kuat, namun tetap saja dia tak bisa melepaskan Davio.


"Maaf..., aku sungguh tidak sengaja membentak mu," Ucapan Davio terdengar pilu. Dia sungguh menyesal telah membentak wanita nya. Davio adalah tipe orang yang tidak sabaran. Dia tak akan sabar jika terus-terusan diabaikan oleh Wilia.


"Pergi dari sini!" Tatapan Wilia begitu tajam dari biasanya. Bahkan Davio sampai tak bisa mengerti dengan sikap Wilia kali ini. Sebenarnya ada apa dengan wanita nya kali ini, kenapa tiba-tiba seperti ini?


"Ku bilang pergi..!" Wilia sudah tak lagi memberontak, namun mata sembab nya benar-benar tak beralih sedikit pun mata Davio.


"Aku bilang pergi, Vio!" Sahutnya lagi seraya menatap kearah jendela.


"Baik-baik, aku pergi. Ternyata wanita ku kalau sedang marah berubah jadi singa, ya." Sahut Davio seraya terkekeh mencoba membuat wanita nya kembali tertawa namun usahanya tak membuahkan hasil karena Wilia benar-benar tak melihat kearah nya sedikit pun.


.


.


.

__ADS_1


Seminggu setelah kejadian dimana Davio membentak Wilia. Kini keduanya melaksanakan pernikahan secara sembunyi-sembunyi yang hanya dihadiri oleh beberapa orang kepercayaan Davio.


Wilia bahkan tak mengundang satu pun sahabat nya karena memang tidak ingin ada yang mengetahui, dan Davio menyetujui. Asal mau menikah dengan Wilia saja sudah membuat Davio sangat senang.


Davio sangat berharap, Wilia benar-benar bisa mengandung benihnya setelah berulang kali menanamkan benih di sana. Karena memang tujuan menikahi nya adalah untuk mendapatkan seorang putra tanpa sepengetahuan Wilia tentunya.


"Sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang suami-isteri. Mempelai pria dipersilahkan mencium istrinya." Seorang pendeta memberikan arahan setelah selesai memberkati keduanya dan dinyatakan sebagai suami-istri.


Tanpa ragu-ragu Davio menempelkan bibir nya pada bibir Wilia. Tangan Davio sejak tadi sudah bertengger di pinggang Wilia membuat wanita itu ikut mencengkeram baju Davio saat dengan berani nya Davio semakin memperdalam ciuman nya.


Terdengar suara sorakan dari beberapa orang yang menyaksikan, bahkan pendeta pun ikut tersenyum melihat keagresifan Davio. Wilia yang menyadari apa yang akan dilakukan Davio selanjutnya segera menginjak kaki suaminya hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.


"Kau! Kenapa kau menginjak ku?" Tanya Davio kesal tanpa ingat kalau dirinya baru saja menikah dan sedang diperhatikan orang-orang.


"Lihat lah! Orang-orang memperhatikan kita," Bisik Wilia kesal. Andai bisa, ingin sekali rasanya Wilia menenggelamkan kepala Davio ke kolam yang banyak ikan lele nya.


"Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?" Tanya Davio karena merasa masih memiliki sedikit malu, dia menatap ke segala arah. Untung saja saja orang-orang yang dia undang hanya sedikit hingga tak membuat nya semakin merasa malu.


"Salah sendiri! Kau selalu tak bisa mengkondisikan diri, main sosor saja."


Dan perdebatan-perdebatan kecil itu terus-terusan mereka lakukan hingga membuat pendeta itu geleng-geleng kepala. Namun yang paling membuat malu dua orang itu adalah saat sang pendeta menyuruh mereka untuk duduk di kursi saja jika ingin meneruskan perdebatan, atau lebih baiknya lagi meneruskan di kamar agar cepat-cepat mendapat momongan. Membuat orang-orang suruhan Davio itu tertawa keras mengejek sepasang pengantin yang tak tahu suasana.

__ADS_1


__ADS_2