One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Perdebatan


__ADS_3

"Wilia, bagaimana dengan tubuh mu? Apa ada yang sakit?"


Setelah dokter mengatakan bahwa Wilia sedang mengandung dengan usia kandungan nya yang sudah memasuki 1 bulan, Davio buru-buru masuk ke ruang perawatan Wilia. Pria itu juga menyesal karena tadi sempat menuduh nya yang tidak-tidak. Akibat rasa cemburunya satu bulan lalu setelah acara pernikahan, Davio terus-terusan mendiami Wilia. Bahkan pria itu cenderung menghindari nya karena jika bersama dengan Wilia membuat nya mengingat dengan percakapan Wilia bersama seorang pria satu bulan laku. Dan Davio takut akan emosi bila mengingat hal itu yang justru akan membuat hubungan mereka semakin memburuk.


"Kenapa repot-repot bertanya?" Wilia menatap sinis Davio. "Mau aku sakit atau tidak, tidak ada urusan nya dengan mu." Tentu saja wanita itu masih sangat mengingat perilaku Davio sebelum dirinya pingsan dan dilarikan ke sini.


Dengan tega nya pria itu mengatakan dirinya hanya bermalas-malasan di kamar sembari membalas chattan dari pria lain, padahal sekali saja Wilia tidak pernah berhubungan dengan pria lain setelah menikah.


"Wilia, aku tahu aku salah. Aku sudah keterlaluan tadi, sekarang aku minta maaf."


Lagi-lagi Wilia menatap pria di depan nya dengan senyum sinis di bibir nya. "Minta maaf?" "Dengan mudah nya kamu mengucapkan kata maaf? Lalu saat kau mulai lupa dengan kesalahan mu, kau akan kembali melakukan nya lagi?"


Oh, sungguh Wilia tak pernah mengira sebelum nya jika pria dihadapannya bisa berbuat kasar dengan nya. Wilia kira yang perlu ditakutkan dari Davio hanyalah gairah nya yang sewaktu-waktu bisa membuat nya terlena nya, faktanya pria itu juga terkadang bisa bersikap kasar pada wanita. Dan itu sungguh berada jauh dari ekspektasi nya sebelum nya yang akan menjalani rumah tangga seperti ini. Untung saja pernikahan nya hanya berlaku selama satu tahun, dan tidak memiliki perasaan pada laki-laki itu. Jadi Wilia tak akan merasa rugi meski berpisah dengan laki-laki ini.


"Wilia, aku tidak bermaksud seperti itu. Oke. Tadi pagi aku mengaku salah. Aku minta maaf. Aku sudah berpikiran negatif tentang mu. Tolong, berikan kesempatan aku untuk memperbaiki dari awal." Davio meraih tangan Wilia, namun rupanya wanita itu masih terlalu sakit hati. Dia mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman Davio tetapi tenaganya tak cukup kuat. Davio masih terus menggenggam tangan Wilia hingga mau tak mau akhirnya Wilia membiarkan Davio memegang tangan nya.

__ADS_1


"Kita mulai dari awal ya?" Satu tangan Davio mengusap perut Wilia yang masih terbungkus baju pasien. "apalagi sudah ada baby di antara kita."


Kedua bola mata Wilia melebar mendengar nya. "Maksud kamu apa?" Tanya Wilia penasaran. Dia menatap lekat bola mata Davio yang terlihat tidak sedang bercanda.


"Ya, Wilia. Kau sedang mengandung anak kita. Sebentar lagi kita akan memiliki bayi. Apa kau tidak senang?" Tanya Davio menatap haru Wilia. Pria masih merasa seperti mimpi, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Dan impian mami nya sebentar lagi tercapai. Ya, saat percakapan nya tempo lalu, mami Bulan mengatakan keinginan nya, yaitu menginginkan Davio cepat-cepat memiliki seorang penerus.


Awalnya Davio sempat ragu mengingat belum ada wanita yang mampu menempati hatinya. Namun disaat itu pula, Davio mengingat Wilia. Dia tahu Wilia bisa memberikan seorang putra. Dan tanpa diketahui Wilia, niat Davio mengajaknya menikah secara kontrak adalah untuk memanfaatkan wanita itu. Davio memang hanya menginginkan seorang anak dari nya, dab setelah anak itu lahir, Davio akan merawat sendiri karena Davio sangat yakin, wanita seperti Wilia tidak akan mampu mengurusi bayi seorang diri.


"Hiks ... Hiks ... Kenapa aku harus hamil..? Huaa..." Tiba-tiba Wilia menangis keras setelah sadar dari lamunan nya.


Huhuhu ... Huhuhu...,


"Wilia, sudah. Jangan berteriak. Anak itu sudah telanjur ada di perut mu, mau kau menangis berteriak sampai semua orang di rumah sakit mendengar pun tak akan mengubah keadaan."


Davio memang bukan tipe pria yang bisa bersikap romantis, jadi sebenarnya wajar saja jika dia hanya mengatakan sekenanya saja. Namun tidak bagi wanita yang sedang menangis, Wilia sampai menggigit tangan kekar Davio yang sedang mengelus-elus perut nya.

__ADS_1


Aaaaaa...!


Dia terlalu kesal pada pria itu, jika pria lain melihat wanita nya menangis maka yang akan diusap setidaknya adalah bagian punggung atau kepala. Bukan seperti Davio, wanita menangis tetapi yang diusap adalah perut nya.


"Katanya kau menyuruh ku untuk tidak teriak-teriak? Tapi kenapa kau juga ikut teriak?" Sungut Wilia setelah berhasil meredakan tangis nya. Dia menatap jengkel Davio yang sedang meringis seraya mengibas-ngibaskan tangan. Andai tahu pria itu bisa merasakan sakit juga, seharusnya Wilia akan menggigit semakin kuat dan membuat Davio semakin kesakitan.


"Kenapa kau menggigit ku?" Davio sangat kesal dengan wanita yang sedang menatap nya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Namun meskipun hatinya sangat kesal dan ingin rasanya membentur kan kepala Wilia ke tembok, Davio masih tetap bersikap tenang karena tak ingin membuat bayi nya stres.


Konon, wanita hamil itu mudah stres. Dan jika ibu hamil stres, maka peluang janin ikut tertular stres juga tinggi. Dan tentunya Davio tak akan membuat anak nya yang baru dicetak itu langsung mengalami stres akibat perbuatan kedua orang tuanya.


"Tiba-tiba aku menginginkan nya, aku merasa tangan mu sangat enak dan ingin sekali menggigit nya, jadi langsung ku gigit tangan mu. Katanya kalau wanita hamil itu mengalami ngidam. Dan ngidam adalah sesuatu yang diinginkan seorang wanita itu hamil. Itu berarti, apa yang ku inginkan tadi adalah termasuk mengidam. Jadi langsung aku turuti kemauan bayi ku ini." Jelas Wilia seraya menampakkan senyum songong nya dengan tangan nya yang terus mengusap-usap perut nya yang masih rata.


"Maaf, nak. Baru saja kau hadir di perut mami, tapi mami sudah memfitnah mu demi keselamatan mami. Tapi kau jangan khawatir, setelah kau lahir, mami akan langsung menghadiahkan mu makanan paling enak di muka bumi ini. Dan kau pasti tak akan menolak nya.” Kata nya dalam hati.


Sebenarnya Wilia kasihan memfitnah anak nya yang masih belum berbentuk itu, tapi mau bagaimana lagi? Ini demi keselamatan diri nya. Bukan kah keselamatan diri yang paling utama dibanding memfitnah anaknya yang belum lahir? Eh!

__ADS_1


__ADS_2