
Baru saja mereka tertawa, tiba-tiba kembali hening setelah menyadari kekonyolan masing-masing.
Davio berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, dia menarik tangan Wilia dan berjalan ke arah sofa.
"Wilia, ada yang ingin ku katakan pada mu." Davio memulai pembicaraan setelah mendudukkan Wilia di sofa dan dirinya juga ikut duduk duduk di samping nya.
"Ada apa?" Wilia merasa ikut tegang saat melihat tatapan Davio terlihat sangat serius.
"Maafkan aku atas kejadian semalam," Davio menghela nafasnya seraya memejamkan mata. "akibat kecerobohan ku, aku merusak masa depan mu."
Mendengar perkataan itu membuat Wilia memalingkan wajah. "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku anggap ini adalah kesalahan kita berdua." Sahutnya tak ingin mengingat-ingat nya lagi. Tadinya Wilia sudah lupa dengan impian nya yang ingin menjaga keperawanan sampai menikah karena terlena dengan rasa nikmat yang Davio berikan, bahkan dia juga sudah tak menyesal lagi. Tapi saat mendengar perkataan Davio yang mengatakan telah merusak masa depan nya benar-benar membuat Wilia bersedih dan kembali ingat dia sudah tak perawan lagi.
"Tidak bisa begitu, Wilia. Karena aku sudah menodai mu maka aku harus bertanggung jawab,"
"Tanggung jawab?" Wilia membelalakkan mata. "tidak perlu! Aku tidak butuh uang, kau tak perlu tanggung jawab karena aku tidak butuh uang. Uang yang diberikan Daddy sangat banyak, bahkan sampai sekarang aku masih bingung menghabiskan uang jajan ku. Jadi kau tak perlu membayar ku satu peser pun." Tolak nya mentah-mentah membuat Davio hanya bisa menanggapi dengan menggelengkan kepala dan ingin sekali menepuk jidatnya.
Astaga ... Apakah rumor yang beredar tentang Wilia selalu mendapatkan nilai IPK 4,0 ini nyata??
Davio bahkan tak akan percaya secuil pun jika Wilia adalah keturunan orang cerdas yang memiliki usaha di seluruh penjuru dunia.
"Hei, kau kenapa? Apakah kepala mu sakit?" Wilia menatap heran pada Davio yang sedang menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi tidak terbaca.
"T-tidak, leher ku hanya sedikit pegal." Bohong nya menahan tawa. Astaga, ternyata ada juga bentukan makhluk seperti ini.
"Ooh ... Mungkin terlalu banyak menoleh," Ekspresi Wilia yang sangat percaya dengan kebohongan Davio benar-benar semakin Davio tak kuat untuk tidak meledakkan tawanya.
Hahahaha..,
__ADS_1
"Kau kenapa? Gila ya?" Tanya Wilia kesal karena tiba-tiba Davio tertawa keras sampai memegangi perutnya padahal jelas-jelas tidak ada yang lucu sama sekali.
"Dasar gadis bodoh!" Kembali lagi, tangan Davio benar-benar tidak tahan untuk tidak menoyor kening Wilia membuat wanita itu sangat jengkel.
"Hei, seharusnya itu kau yang bodoh, bukan aku." Sahut Wilia tak terima dengan perlakuan Davio tadi.
Menurut Wilia yang bodoh itu Davio bukan dirinya, tiba-tiba tertawa tanpa sebab lalu mengatakan dia bodoh sambil melakukan kekerasan pada keningnya. Bayangkan saja kalau Wilia melaporkan ke polisi pasti Davio akan ditahan karena telah melakukan kdrt tanpa hubungan.
"Aku? Aku bodoh?"
"Tentu saja." Wilia menganggukkan kepala penuh keyakinan membuat Davio kembali tertawa keras.
"Dasar bodoh! Kau tahu apa yang menyebabkan ku mengatakan mau ini bodoh?"
"Tentu saja aku tidak tahu karena aku ini tidak bodoh! Nilai IPK selalu yang terbaik dari semua teman-teman ku." Sahut nya kesal.
"Ap-" Perkataan Wilia langsung dipotong Davio, karena jika Wilia terus-terusan bicara maka dapat dipastikan tujuan dirinya mengajak Wilia bicara akan gagal karena akan terus-terusan ribut memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas.
"Kau ingat? Tadi aku mengatakan ingin bertanggung jawab atas perbuatan semalam dan tadi pagi."
"Ya, tentu saja aku ingat. Memang nya aku ini pikun?" Wilia masih kesal dengan sikap Davio yang sejak menertawakan nya dan mengatainya bodoh, jadi dia menjawab asal agar Davio semakin kesal.
"Dan kau menjawab apa?" Davio mengingatkan jawaban Wilia tadi dengan tatapan serius. Tak ada tawa, tidak juga datar.
"Aku mengatakan, aku tidak butuh tanggung jawab mu. Uangku sangat banyak, kau tidak perlu memberi ku kompensasi."
"Itu yang namanya bodoh! Memang nya kau ini mobil yang baru saja ku rusak? Lalu hanya dengan memberi beberapa kompensasi untuk kerusakan mobil selesai?" Perkataan Davio ini semakin membuat ekspresi Wilia benar-benar menjadi wanita bodoh yang tak faham apa-apa.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Aku ingin bertanggung jawab pada mu bukan ingin memberi sejumlah uang."
"Lalu dengan apa? Aku lihat di film-film wanita yang baru saja ditiduri akan diberi uang." Sahut Wilia yang memang benar, beberapa hari lalu dia menonton film yang tokoh wanita nya tak sengaja di tiduri oleh pria asing kemudian tokoh laki-laki meninggalkan sejumlah uang lalu pergi begitu saja. Dan di cerita itu si perempuan juga sangat senang karena mendapat uang uang sangat banyak.
"Ck, kau ini terlalu banyak menonton drama."
"Terus kau ingin bertanggung jawab dengan apa?" Tanya Wilia penasaran.
"Bukan kah kemarin aku sudah bilang bilang? Aku ingin menikahi mu."
"Oh ... Men-What??!" Selalu saja seperti ini. Wilia yang awal mulanya tak menyadari perkataan Davio hampir saja mengiyakan. Namun saat menyadari Davio mengajak nya menikah membuat nya terkejut dan tanpa sadar berteriak keras."
"Ya, bukan kah itu bagus? Kau tak perlu khawatir dengan status mu yang sudah tak perawan. Dan jika benihku membuahkan hasil maka anak kita akan mendapat status keluarga yang lengkap."
Jika dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan Davio, sebenarnya tidak rugi juga jika dia harus menikah dengan Davio karena laki-laki itu juga cukup tampan yang bisa dia pamerkan ke teman-teman nya.
"T-tapi aku belum ingin menikah," Setelah dipikir lagi, Wilia tidak ingin menikah tanpa cinta, karena bagaimana pun orang menikah ya harus dengan cinta.
"Aku juga sama. Tapi mau bagaimana lagi? Memang nya kau tidak kasihan jika kau benar-benar mengandung anak ku lalu lahir tanpa sosok ayah?"
Davio menghela nafas nya. Dia hanya ingin sedikit menakuti Wilia yang pastinya akan langsung dipikirkan oleh gadis bodoh itu.
"Kau tahu bukan bagaimana nasib anak yang lahir tanpa ayah. Dia akan di cerca seluruh dunia sebagai anak haram. Apa kau akan membiarkan anak kita menderita?"
"T-tidak, aku tidak mau." Wilia menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Tentu saja dia tak akan sanggup jika anaknya bernasib seperti itu. Dan tanpa sadar Wilia mengelus perutnya sendiri yang masih belum isi apa-apa, makanan pun tidak ada karena sejak semalam dia belum mengisi nya.
Davio yang melihat Wilia mengelus perut nya mencoba menahan tawa sekuat mungkin, karena jika Wilia sampai menyadari akibat tawa nya yang meledak maka dapat dipastikan misi nya untuk membujuk menikah pasti akan gagal.
__ADS_1