
Hari demi hari terus berganti, susah dan senang terus membersamai dua insan yang baru saja memulai lembaran baru. Tak terasa kandungan Wilia sudah berusia dua bulan, dan selama satu bulan ini, Davio sudah tak lagi bersikap cuek apalagi kasar, yang ada hanya sikapnya yang begitu manis serta sabar menghadapi segala perilaku serta tingkah Wilia yang terkadang absurd dan membuat nya jengkel.
Sebenarnya kadang Wilia juga merasa kasihan pada pria itu karena Wilia selalu mengerjai dengan segala tingkah absurd nya.
Wilia memang mulai menerima semua sikap manis Davio, namun bukan berarti dia menghentikan tingkah absurd nya demi membalas perlakuan Davio yang terkadang membuat nya jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Jika saat ingin berjalan saja harus digendong seperti orang lumpuh. Sudah terlanjur kesal dengan sikap posesif Davio, secara sengaja Wilia mengerjai Davio dengan melompat-lompat di kasur saat pria itu berada di kamar. Dan tidak berselang selama satu menit, kaki dan tangan Wilia diikat rapat menggunakan dasi miliknya sampai dokter kandungan yang memeriksa Wilia datang.
Dan hari ini adalah waktu nya Wilia membalas perlakuan buruk Davio sebelumnya.
"Wilia, sebenarnya kau kenapa? Apa ada yang sakit? Jawab, Wilia. Kalau kau terus diam, bagaimana aku mengetahui penyebab nya?" Sudah berulangkali bertanya penyebab nya menangis, namun rupanya Wilia benar-benar masih ingin menguji kesabaran Davio. Bahkan tangisan nya terdengar semakin keras saat Davio terus mendesaknya untuk menjawab.
"Ayolah, Wilia. Aku bukan seorang yang memiliki ilmu telepati hingga mampu mengetahui isi hati mu?" Entah sudah ke berapa kali nya Davio menanyakan penyebab wanita itu menangis, namun Wilia justru hanya menarik pakaian Davio dan dijadikan sebagai lap ingus yang sudah mengalir seiring dengan tangisan nya yang semakin deras.
Srooott.
Tidak tahu sudah pakaian ke berapa yang menjadi korban lap ingus wanita itu. Sebenarnya Davio sudah memahami jika wanita yang sedang hamil itu akan cenderung lebih sensitif. Karena dulu saat Ana mengandung dialah yang terus menemani bahkan memenuhi semua keinginan nya. Dan kali ini, Davio sudah menyediakan banyak stok kesabaran untuk menghadapi wanita hamil karena itu lah yang sangat dia butuhkan selama mengurus nya.
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan menjadikan pakaian ku sebagai lap. Kalau kau butuh tissue akan ku ambilkan. Tapi jangan lap menggunakan pakaian sembarangan." Tutur nya hati-hati karena tak ingin membuat wanita itu semakin menangis terlebih saat mendengar suara keras nya. Karena memang sudah biasa saat Davio kehilangan kendali dan berkata sedikit keras dari biasanya maka Wilia langsung merajuk hingga seharian penuh. Alhasil, wanita itu tak mau makan sebelum menuruti permintaan aneh wanita itu.
"Hiks... Hiks... Hiks.. Kau jahat!" Jurus andalan yang tak pernah ketinggalan selama satu bulan terakhir ini ternyata sudah dikeluarkan, itu artinya sebentar lagi Davio akan mendapatkan tugas nyleneh seperti biasanya.
"Hiks... kau itu pria jahat! Tidak mengerti perasaan wanita!"
Dug dug dug.
Dia kepalan tangan Wilia tak berhenti mendaratkan pukulan di dada bidang Davio yang sudah sedikit terbuka akibat baju yang dikenakan Davio ditarik-tarik saat digunakan untuk mengelap ingus.
Tentu saja Davio sudah sangat hafal dengan trik yang selalu Wilia lakukan saat terus-terusan menangis. Davio juga tahu penyebab perkara yang membuat wanita itu menangis juga pasti tidak jauh-jauh dari hal konyol seperti yang sering dia alami, seperti menyuruh nya berjoget tanpa menggunakan pakaian dan direkam oleh Wilia, lalu menyuruh nya memanjat pohon jeruk tetapi saat sudah berada di atas, Wilia meneriakinya seorang maling hingga menimbulkan banyak kegaduhan bahkan beberapa orang yang mendengar teriakannya Wilia berdatangan untuk mengklarifikasi. Dan yang paling menjengkelkan adalah saat mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan, disaat yang bersamaan ada seorang ibu hamil besar datang bersama suami nya, dan tanpa di duga tiba-tiba Wilia menyuruh Davio mengelus perut buncit itu di depan sang suami, jika tidak menuruti permintaan nya maka Wilia akan menangis guling-guling di saat itu pula.
Tentu saja Davio tahu dengan ancaman wanita itu tidak main-main, mengingat Wilia memang berubah menjadi wanita tak tahu malu dan selalu melakukan hal konyol demi mengerjai nya. Dan mau tak mau melakukan nya meski setelah itu dia langsung mendapatkan bogem mentah dari suami ibu hamil itu karena dianggap cabul.
Wilia menyodorkan ponsel nya yang tadi dibanting dan tergeletak di lantai karena merajuk. "Aku ingin ini, hiks ... hiks ... hiks ..," Sudah diduga oleh Davio jika Wilia menangis hanya karena masalah sepele.
__ADS_1
Namun satu detik kemudian, mata Davio melebar sempurna hingga bola matanya hampir keluar dari tempat nya.
"A-apa maksudnya, Wilia. Kenapa kau menunjukkan foto seperti ini?" Wajah Davio memerah. Sungguh demi orea yang bisa diputar dijilat dan dicelup, kali ini dia benar-benar takut jika Wilia menginginkan benda yang ada di foto itu.
(Gambar yang ditunjukkan ke Davio)
"Aku ingin itu, Vio. Aku ingin kau bisa foto dengan nya. Pasti kau akan terlihat semakin tampan dan imut jika dengan hewan itu, lalu aku akan memanjang nya di kamar. Dan ketika aku akan tidur bisa menatap wajahmu yang semakin imut saat bersama dia." Jawab nya dengan satu jarinya diletakkan ke dagu berusaha berpikir kira-kira gambarnya akan sebagus apa jika ada Davio disebelah nya.
Wajah Davio semakin memerah dengan terus menggeleng-gelengkan kepala agar Wilia mau menghentikan ide gilanya itu.
"Tidak, Wilia. Kali ini aku benar-benar tidak akan menuruti keinginan mu." Ya, Davio sudah memutuskan, untuk kali ini dia benar-benar tak akan menuruti kemauan Wilia.
Mata Wilia kembali berkaca-kaca dan siap menangis, namun sebelum Wilia berhasil mengeluarkan tangis, Davio lebih dulu berkata. "Jangan harap aku akan menuruti keinginan gila mu ini, Wilia. Air mata mu tidak akan membuat mu luluh." Davio sangat paham dengan trik istri nya ini. Davio bukan nya tak ingin mengabulkan permintaan bumil ini, hanya saja keinginan Wilia yang super aneh ini sudah tak bisa dibiarkan lagi.
__ADS_1
"Aku tahu kau tidak akan menuruti permintaan ku karena kau memang sebenarnya tak sayang dengan bayi ku." Rupanya Wilia memang benar-benar tak melanjutkan keinginan nya untuk menangis. Wanita itu justru terlihat datar seperti bukan Wilia biasanya. "untuk itu, aku sudah memutuskan mulai saat ini aku tidak akan tinggal disini. Terimakasih sudah menjaga dan merawat ku selama satu bulan ini, tapi sepertinya aku sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Kau jangan khawatir, aku akan membayar penalti sesuai dengan kontrak kita." Wilia bangkit dari duduk nya dan bersiap keluar.