
Sinar mentari pagi memaksa masuk ke celah jedela kamarku. Cahayanya menyilaukan mataku yang masih terpejam. Hari ini adalah hari minggu jadi aku bebas bermalas-malasan diatas tempat tidur. Owh.. hari ini sungguh sangat cerah, aku bangkit dan duduk di samping tempat tidurku mencoba benar-benar terbangun dari tidurku, whoaaaaam… aku meregangkan tubuhku yang terasa agak kaku, melirik jam weaker kecil di meja samping tempat tidurku, hem tepat pukul tujuh. Ah… aku tidak tau apa yang harus kulakukan hari ini, aku kembali merebahkan tubuhku diatas tempat tidur sebelum seseorang mengetuk pintu kamarku.
Tok…tok..tok..
“Gyurina, cepat bangun. Kau ini tidur atau mati hah? Palli ironna…” suara Donghae Oppa mengawali minggu pagiku yang cerah ini. aku melirik kearah pintu kamarku
“Ne… aku sudah bangun”. Jawabku dengan suara yang masih agak serak.
Donghae Oppa adalah putra sahabat ayahku dari Mokpo, daerah pantai di timur Korea. Dia sudah tinggal disini sejak 6 tahun yang lalu tepatnya ketika ia mulai menjadi mahasiswa di Myoungji University. Sebenarnya bisa saya ia menyewa sebuah apartement yang nyaman dan tinggal disana sendiri, tetapi ayahku menyarankan agar Donghae Oppa tinggal dirumah kami, karena ayahku sudah menganggap Donghae Oppa sebagai puteranya sendiri. Sekarang Oppa bekerja di perusahaan kami, perusahaan yang didirikan oleh ayahku dan ayah Donghae Oppa. Ayahku dan ayahnya bersahabat sejak mereka menjadi mahasiswa di seoul University, akhirnya mereka merintis bisnis perhotelan hingga menjadi besar seperti sekarang.
Hal terburuk yang terjadi pada keluarga Donghae Oppa adalah ketika ayahnya meninggal, ketika itu keadaan Oppa sangat memburuk, dia sangat terpukul dengan kepergian ayah yang sangat dekat dengannya. Lebih dari dua minggu Donghae Oppa tidak masuk kuliah, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang sangat senang belajar dan tidak pernah menyepelekan pendidikannya. Namun seiring berjalannya waktu, Oppa mulai bangkit kembali sebagai seorang pria yang lebih kuat dari sebelumnya.
Saat ini Oppa menduduki posisi direktur di perusahaan kami, seorang direktur muda yang hebat tentunya. Sebenarnya Donghae Oppa ingin mengurus cabang di Mokpo agar bisa kembali tinggal disana bersama ibu dan saudala laki-lakinya. Tetapi ayahku bilang kemampuan Donghae Oppa dalam berbisnis sangat baik, jadi Oppa harus tetap berkantor di perusahaan induk di Seoul. Ibu dan saudara laki-laki Oppa tidak mau pindah ke Seoul karena mereka bilang rumah yang mereka tinggali saat ini menyimpan banyak kenangan dengan ayah Donghae Oppa yang sudah meninggal sehingga sangat berat untuk meninggalkan rumah itu. Aku mengenal keluarga mereka dengan sangat baik, bahkan sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri. Umurku dan donghae Oppa berbeda 6 tahun, cukup jauh memang tapi aku selalu merasa nyaman dengannya, walaupun sering kali dia sangat menyebalkan.
—
Aku beranjak dari tepat tidurku, segera mandi. Setelah rapih aku turun ke bawah menuju meja makan untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi” sapaku pada oema, appa, dan Donghae oppa yang sudah sejak tadi berada disitu.
Kulihat appaku masih sibuk membaca Koran pagi dengan secangkir kopi di tangan kanannya.
“Gyurina, apa yang akan kau lakukan hari ini?” Tanya oemaku sambil menuangkan susu ke gelas yang ada di depanku.
“Molla… mungkin hari ini akan dirumah sehari penuh. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan”
“Apa kau tidak pergi berkencan dengan pacarmu?” pertanyaan Donghae oppa membuatku hampir menyemburkan susu yang sedang ku minum. Aish… mengapa dia mengatakan hal ini, ayahku sangat tidak suka jika aku berpacaran, dia selalu mengatakan untuk tidak berpacaran dan tetap fokus dengan kuliahku. Karena hal itulah aku menyembunyikan hubunganku dengan Lee Jinki, seorang pria yang sudah hampir 2 tahun ini menjadi namjacingguku. Kami berpacaran di tingkat 3 high school. Donghae Oppa tau hubungan kami karena ia pernah memergoki aku yang sedang makan berdua di sebuah kafe dengan Jinki, Saat itu Oppa sedang meeting dengan rekan bisnisnya. Sejak saat itulah dia tahu bahwa Jinki adalah pacarku. Sampai saat ini oema dan appa tidak tahu kalau aku memiliki seorang kekasih. Ini salah karena aku tidak menghiraukan ayahku yang melarangku untuk berpacaran. Tetapi Jinki adalah seorang pria yang sangat baik, dia sahabat baiku sejak di tingkat 1 high school. Saat itu aku tidak punya banyak teman karena aku selalu merasa bahwa temanku hanya memanfaatkanku sebagai putri dari seorang pemilik bisnis perhotelan, namun Jinki bisa membuatku nyaman, sebelum akhirnya ia mengungkapkan perasaannya padaku. Sejak saat itulah kita menjadi sepasang kekasih. Sampai saat ini aku tidak tau perasaanku padanya seperti apa, yang pasti dia selalu membuatku merasa nyaman. Dan saat ini kami berdua adalah mahasiswa di Kyunghee University.
Aku sangat kaget mendengar perkataan Donghae Oppa barusan. Aku terbatuk dan meletakan gelas susu yang sedang kuminum.
“Hya.. Oppa apa yang kau katakan, memangnya siapa yang punya pacar?” ujarku sambil menatapnya dengan penuh emosi. Awas saja kalau dia berani mengatakan itu lagi didepan kedua orang tuaku. Oppa masih bersikap santai memasang wajah tak berdosanya sambil mengoles selai stroberi di rotinya.
“Sudah ayah bilang kan Gyurina, kau tidak boleh berpacaran, fokus saja pada kuliahmu. Belajarlah yang rajin agar kau bisa sehebat Donghae. Walaupun kau perempuan, tapi kau juga harus pintar berbisnis. Siapa yang akan meneruskan perusahaan kita jika bukan kau dan Donghae yang melakukannya” ujar ayahku sambil melipat Koran yang tadi dibacanya.
“Tapi kan aku belajar dengan baik, bahkan nilaiku di semester pertama sangat baik” jawabku
“Sudahlah, jangan berdebat sini. Cepat habiskan sarapan kalian. Donghae dan ayah harus segera berangkat ke pertemuan perusahaan kan?”ujar oema berusaha menengahi perdebatan kami.
Hingga sebuah bell menghentikan pembicaraan kami
“Bibi Jung, tolong dilihat siapa yang datang” kata oemaku pada bibi Jung yang sedang membersihkan beberapa peralatan masak.
“Ne…” jawabnya
Bibi Jung pergi membukakan pintu, dan ternyata yang datang adalah Enhyuk Oppa, sahabat Donghae Oppa yang juga salah satu staff di perusahaan kami. Dia adalah sahabat Dongahe Oppa sejak mereka menjadi mahasiswa di Myoungji university. Enhyuk Oppa adalah orang yang sangat lucu, bahkan terkesan konyol dengan tingkahnya. Tapi untuk apa pagi-pagi sekali dia sudah bertamu kesini.
“Anyeonghaseo, maaf aku menggangu di minggu pagi ini” ujarnya sambil membungkukan badan
“Gwencanayo, silahkan duduk” jawab Appaku, kami semua tersenyum menyambutnya.
“Ada apa Enhyuk, tidak biasanya kau datang pagi-pagi seperti ini, apakah untuk menumpang sarapan” canda Donghae oppa hingga membuat kami tertawa, dan menjadikan suasana menjadi hangat.
Ternyata Enhyuk Oppa datang kesini diundang oleh ayahku, katanya ada satu hal yang harus mereka bicarakan, bahkan Donghae Oppa juga tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh Enhyuk Oppa dan ayahku.
—
Ayahku, Donghae dan Enhyuk oppa sudah berangkat ke pertemuan seluruh pengurus cabang perhotelan kami. Mereka sedang mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan yang akan dilaksanakan di Mokpo, pasti Donghae Oppa sangat senang, karena ia bisa bertemu keluarganya disana. Oema sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan teman-temannya, tepatnya istri dari para petinggi dan staff di perusahaan kami. Sedangkan aku hanya duduk di sofa di depan televisi menatap bibi Jung yang sedang mengelap dan membersihkan berbagai macam keramik yang tersusun rapih disekitar ruang tamu.
“Agaesi… kau tidak pergi kemanapun hari ini?” Tanya bibi Jung.
__ADS_1
“Molla… aku tidak tahu akan melakukan apa hari ini. mungkin pergi nonton film ke bioskop akan menyenangkan” jawabku.
Kulihat oema turun dari kamarnya. Dia sudah rapih dan akan segera berangkat.
“Gyurina, kau benar-benar tidak akan pergi kemanapun?” tanyanya sambil merapihkan kalung mutiara yang melingkar indah di lehernya, oemaku ini memang sangat senang menggunakan perhiasan.
“Aku ingin pergi menonton film ke bioskop, aku bosan jika hanya berada dirumah” jawabku
“Jika kau pergi berbelanja, carilan gaun yang bagus untuk dipakai ke acara ulang tahun perusahaan. Belilah gaun terbaik, gunakan saja kartu ATM mu tidak masalah walaupun itu mahal, yang penting terlihat indah, dan kau harus tampil dengan memukau nanti. Araso?”
“Oema … itu hanya acara ulang tahun perusahaan kan, tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Aku pakai gaun dilemari bajuku saja ya” ujarku sambil beranjak dari sofa dan menghampiri oemaku yang sedang berjalan keluar.
“Kali ini berbeda, pokonya kau harus tampil sempurna. Baiklah oema pergi dulu” ujar oemaku sambil memasuki mobil yang sudah siap mengantarnya ke tempat tujuan.
“Ne… araso” jawabku malas. Sebenarnya apa yang special di acara ulang tahun perusahaan, biasanya hanya acara pesta biasa yang dihadiri oleh beberapa rekan bisnis Appaku. Hem aku menjadi semakin penasaran, apa yang akan terjadi disana.
***
Aku segera masuk ke dalam rumah, menuju kamarku dan mengambil ponselku. Aku mengirim pesan kepada Jinki
To : Lee Jinki
Jinki-ah, hari ini semua orang pergi. Aku bosan sendiri dirumah. Bisakah kita pergi ke bioskop?
Oh iya tapi tadi oema menyuruhku membeli sebuah gaun. Mungkin Jinki bisa membantuku memilih gaun yang cocok.
Ponselku bergetar, 1 pesan diterima
From : Lee Jinki
“Baiklah, ayo kita pergi nonton film. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa hari ini. Kau selalu ada di pikiranku hingga aku tidak bisa melakukan apapun. Dirumahmu tidak ada siapapun, berarti aku bisa menjemputmu kesana kan?”
Balasan pesan darinya membuatku tersenyum sendiri. Hem hubungan kami memang tidak diketahui, kecuali oleh Donghae Oppa. Bukan karena Jinki pengecut sehingga ia tidak berani mengakui didepan keluargaku bahwa dia adalah pacarku. Tapi akulah yang melarangnya, aku belum siap mengatakan pada oema dan appa. Karena sering sekali appa mengatakan padaku untuk tidak berpacaran. Aku selalu merasa jinki lebih seperti teman terbaiku, sahabat tepatnya. Istilah pacaran hanya karena dia mengungkapkan perasannya padaku. Saat itu aku hanya bisa menjawab iya, karena dia memang selalu memperlakukanku dengan sangat baik.
To : Lee Jinki
Aku segera bersiap-siap. Kuambil cardigan berwarna coklat muda, kupakai kalung dengan motif lucu dan juga gelang dengan warna senada. Aku turun kebawah, berpamitan kepada bibi Jung dan segera menuju garasi dan meminta Pak Han untuk mengantarkanku.
Sesampainya disana aku mencoba mencari Jinki di tempat yang telah kita sepakati, kuputar pandanganku ke sekeliling mecoba mencari keberadaan Jinki.
“Chagiya… aku disini” tiba-tiba jinki mengampiriku setengah berlari, dia sudah membawa sekotak pop corn dan 2 cup cola ditangannya.
“kau sudah lama disini?aku telat, mianhae” ujarku sambil tersenyum
“Aniyo, aku belum lama disini. Ayo kita masuk. Ini ambil” jawabnya sambil menyodorkan cup cola kepadaku.
Kami berdua menonton dengan sangat serius, film yang selama 2 minggu ini menjadi box office di Korea ‘My Black Mini Dress’. Filmnya bagus. Aku dan jinki bahkan tidak mengobrol sama sekali, kami sangat memperhatikan film itu dari awal sampai akhir.
Setelah keluar dari bioskop, aku mengajak Jinki untuk berkeliling sebentar. Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa oema menyuruhku mebeli sebuah gaun untuk pesta ulangtahun perusahaan.
“Em.. Jinki-ah, tadi oema menyuruhku membeli sebuah gaun untuk pesta ulang tahun perusahaan. Aku tidak tahu harus membeli yang seperti apa, bisakah kau memberi pendapat ketika aku mencoba gaun-gaun itu” ujarku mencoba memulai pembicaraan.
“Geureyo? Aku tidak bisa memilih gaun seperti apa, tapi aku akan mencoba memberi pendapatku saat kau mencobanya. Baiklah ayo kita cari, khaja” jawabnya sambil menarik tanganku menuju beberapa boutique yang berjajar di samping kanan dan kiri kami.
Aku mecoba beberapa gaun yang direkomendasikan oleh seorang penjaga disitu. Jinki hanya duduk di sebuah sofa menungguku mengganti baju satu persatu.
Gaun pertama, aku keluar dengan dress selutut berwarna toska dengan bahu rendah dan hiasan pita dengan warna sedanda di bagian dada. Jinki menatapku sambil mengernyitkan matanya.
“Hem, kurasa ini terlalu sederhana, bisa kau mencoba yang diujung sana” ujar Jinki sambil menunjuk sebuah gaun yang terpajang rapih di ujung kanan.
__ADS_1
“Ne.. agaesi sebagaiknya anda mencoba gaun yang dipilihkan oleh kekasih anda” jawab seorang nona yang membantuku memakai gaun-gaun ini.
Dia mengambil gaun yang digantung rapih itu, aku segera masuk kembali ke fiting room mencoba gaun yang dipilihkan jinki. Setelah selesai, aku keluar dan menampakan diriku didepan Jinki. Saat ini aku memakai long dress berwarna sapphire blue dengan beberapa taburan batu-batu rubi disekitar pinggangku dan dengan tali kecil sehingga memperlihatkan bahuku dengan sempurna, sebelumnya aku tidak pernah memakai gaun sebagus ini. Sedikit canggung rasanya memakai baju seperti ini didepan seorang yang bahkan statusnya adalah pacarku.
“Awesome… You’re so gorgeous Gyurina” ujar jinki yang sambil menatapku, dia bahkan tidak dapat menutup mulutnya yang masih menganga. Itu membuatku tersipu malu.
Akhirnya aku mendapatkan sebuah gaun yang indah, semoga oema juga suka gaun yang aku beli ini. pernyataan oema semakin membuatku penasaran, sebenarnya apa yang special dengan ulang tahun perusahaan kali ini.
Jinki tidak mengantarku pulang, karena aku meminta Pak Han untuk menjemputku disini.
—
Aku duduk di sofa di ruang tengah sambil memegang sebuah buku bacaan. Ini adalah ruang favorite ku, ruang tengah yang sengaja disusun yang sekitar dinding semuanya adalah lemari buku. Buku-buku itu tertata rapih hingga membuatku betah berada disini. Donghae Oppa menghampiriku yang sedang asik membaca sebuah novel roman.
“Gyurina, apa yang kau baca?” Tanya nya sambil duduk disampingku dan melirik sebuah buku yang sedang kupegang
“Aku membaca novel. Oh iya Oppa, dipertemuan tadi apa yang dibahas?” tanyaku sambil menutup buku dan meletakan di meja kecil disampingku
“Kami hanya membicarakan mengenai ulang tahun perusahaan yang akan dilaksanakan besok. Di acara itu juga kita akan meresmikan sebuah cabang ke dua di Mokpo. Makanya ulang tahun kali ini dilaksanakan di Mokpo, sangat menyenangkan karena aku juga bisa sekalian pulang ke rumah, sudah sebulan lebih aku tidak mengunjungi rumahku karena sibuk dengan pekerjaan kantor” jawabnya.
“Oema bilang akan ada acara special di ulang tahun perusahaan kali ini, apa yang special?” tanyaku lagi
“Mo? Special? Em, mungkin itu peresmian cabang ke 2 kita di Mokpo”
“Yah, mungkin itu yang dimaksud oema, baiklah Oppa sudah malam, aku akan pergi tidur. Johen kkum kweo” ujarku sebelum beranjak meninggalkan Donghae Oppa yang masih duduk di sofa
“Baiklah, mimpi indah Gyurina” jawabnya sambil tersenyum.
—
Hari ini kami semua berangkat ke Mokpo untuk menghadiri ulang tahun perusahaan. Kami berangkat pagi setelah sarapan, karena Donghae Oppa sangat bersemangat untuk pergi kesana. Sesampainya disana kami ke rumah Donghae Oppa menemui Oema dan saudara laku-lakinya. Aku dapat melihat Donghae Oppa sangat berbinar, dia sangat senang bisa bertemu dengan keluarganya.
“Gyurina, sudah lama tidak bertemu, kau semakin cantik” perkataan ibu Donghae Oppa sukses membuat wajahku memerah.
“Ehm.. iya oemonim sudah lama sekali tidak bertemu, terakhir kali bertemu saat Donghae Oppa wisuda. oemonim sehat kan?” tanyaku sambil tersenyum menatap oemonim.
—
Kami mengahabiskan waktu disini hingga malam hari pesta dimulai. Aku datang dengan gaun yang kubeli kemarin. Aku memasuki ruangan dan menatap ke sekeliling, dapat kurasakan tatapan seisi ruangan yang melihat ke arahku. Aku menghampiri, appa, oema, dan Donghae Oppa yang sedang berada di depan, disini juga ada oemonim dan juga Donghwa Oppa.
“Ehm, maaf aku telat” sapaku kepada mereka yang sedang asik mengobrol, mereka semua langsung menatap ke arahku, Donghae Oppa menatapku dengan tatapan yang sangat tidak enak, hingga membuatku tertunduk malu.
“Kau.. kauu .. terlihat sangat cantik Gyurina”
Perkataan Donghae Oppa membuatku tambah malu dan semakin membenamkan wajahku.
“Ooo… Yeppoda” seru Oema dan oemonim bersamaan.
“Kamsahamnida” jawabku singkat sambil tersenyum
Pesta malam ini dimulai dengan pidato singkat dari ayahku yang menceritakan mengenai awal mula pembentukan perusahaan ini. Selanjutnya ditambahkan oleh Donghae Oppa sebagai direktur muda yang memegang kendali di perusahaan induk.
Selanjutnya adalah peresmian cabang kedua hotel kami di Mokpo, tempatnya didekat pantai yang indah. Dengan seperti ini maka pengunjung dapat melihat laut dari jendela kamar mereka. Suatu konsep yang sangat baik yang dibuat oleh Donghae Oppa, dia memang sangat hebat.
Setelah semuanya selesai. Ayahku kembali naik ke stage mengambil microphone dan mulai berbicara, apalagi yang akan disampaikan ayahku.
“Hadirin sekalian, saya mohon perhatiannya sebentar. Ulang tahun perusahaan kali ini sangat special, karena saya akan mengumumkan sesuatu. Acara hari ini ditambah dengan satu sesi lagi, yaitu acara pertunangan Kim Gyuri putri tunggalku dan putra dari sahabat terbaiku Lee Donghae”
“MWOooo???” ujarku dan Donghae oppa bersamaan, kami mantap satu sama lain dengan tatapan yang sama-sama bingung. Apa maksud perkataan ayahku.
__ADS_1
To Be Continue …
Part 2, hayo hayo hayo… ada yang mau lanjut kah?. Komentar kalian menentukan semuanya loh. Oke deh, selamat membaca ☺️