OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Kiss


__ADS_3

Gyuri’s POV


“Kim Gyuri-ssi, tolong antarkan titipan ini ke ruangan sajangnim”


“Ne…”


Aku bergumam pelan ketika Nona Super Visor menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat yang harus aku antarkan kepada Donghae Oppa. Biasanya Haneul Unni yang akan mengambil semua kiriman yang di titipkan di resepsionis. Dia selalu memeriksa setiap hal yang berhubungan dengan Donghae oppa. Baik itu sebuah titipan barang ataupun tamu yang menanyakan Donghae oppa. Benar-benar sangat perhatian.


Sudah seminggu aku menjadi salah satu staf di hotel ini. Beberapa hari sebelumnya aku merasa bekerja itu sangat menyenagkan, aku bahkan menghabiskan waktu di depan komputer dan memeriksa semua data-data tamu yang keluar dan masuk hotel. Aku bahkan mengatakan kepada semua staf dan juga rekan kerjaku agar tidak menganggapku sebagai  istri dari Donghae oppa ataupun sebagai seorang putri tunggal dari Kim Sunghyun ayahku. Aku ingin mereka menggapku sebagai Kim Gyuri, seorang mahasiswa yang sedang mencoba untuk memeahami suatu pekerjaan dan tanggung jawab.


Keterlaluan? Yah mungkin itulah kata yang tepat, karena sekarang aku mulai bosan dengan pekerjaan ini. Benar, apa yang Donghae oppa katakan. Aku ini terlalu manja untuk bekerja. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku tidak mau kalah, dan akan tetap membuktikan semua ucapanku sebelumnya. Aku akan bertanggungjawab dengan pilihanku dan melaksanakan semua pekerjaanku dengan serius.


***


Aku segera melangkahkan kakiku menuju elevator. Sebuah amplop berwarna coklat berada dalam dekapanku saat ini.


Hem, mengantarkan ke ruangan Donghae oppa? Aku bahkan setiap hari bertemu dengannya di rumah. Sebenarnya, di hotel kami berdua jarang bertemu jika sedang bertugas. Mungkin jika bertemu sering, tapi sama sekali tidak sempat untuk bertegur sapa.


Dia itu sangat sibuk di ruangannya dan aku sibuk di lobby. Sesekali aku hanya melihat oppa keluar masuk hotel dengan tergesa-gesa. Hal yang sangat tidak nyaman kulihat adalah, kemanapun dia melangkah, pasti Haneul unni selalu mengekor di belakangnya. Aku tau ini adalah sebuah pekerjaan. Semuanya memang harus bersikap professional, bukan?


Entahlah, aku hanya merasa cemburu jika Haneu unni selalu bersama Donghae oppa. Apa dia juga akan menemani Donghae oppa ke toilet? Aish, keterlaluan. Apa yang aku fikirkan. Tentu saja tidak akan. Bodoh!


Hemh, kenapa aku tidak merengek dan meminta Donghae oppa untuk menjadikan aku sekretaris pribadinya. Tapi jika seperti itu, berarti Haneul unni akan kehilangan pekerjaannya. Aigoo, ayolah Nyonya Lee . Kau harus tetap bersemangat dan melaksanakan semua pekerjaanmu dengan baik. Jika mengeluh seperti ini, bagaimana bisa aku membuktikan pada Donghae oppa jika aku ini benar-benar bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Aish, Jinja…


Ting…


Bunyi elevator terbuka membuyarkan lamunanku seketika. Aku keluar dengan terburu-buru dan segera menuju ke ruangan Donghae oppa.


Tok… tok… tok…


“Masuk”


Aku mendengar suara balasan dari dalam. Kudorong daun pintu itu hingga terbuka. Dan yang pertama kali aku lihat adalah Donghae oppa dan Haneul unni yang sedang duduk berhadapan di sofa. Haneul unni sibuk dengan laptopnya, sedangkan Donghae oppa sedang sibuk mengamati kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Tangan kananya memutar-mutar sebuah bolpoint berwarna hitam. Aku rasa dia tidak menyadari jika yang mengetuk pintu adalah aku. Keterlaluan!


Aku melihat 2 cangkir kopi yang sudah hampir habis, terletak dengan sempurna di samping pekerjaan mereka. Yah, sebuah aktifitas yang aku rasa pasti sangat menyenangkan. Tenggelam dalam sebuah bekerjaan, dan berkonsentrasi penuh sampai tidak menyadari aku yang sudah berdiri di depan pintu dengan sebuah amplop coklat dalam dekapanku.


Jujur aku tidak senang melihat pemandangan yang sedang disajikan di hadapanku saat ini. Kenpa? Lagi-lagi jawabannya karena aku cemburu. Aku hanya sedikit tidak rela jika suamiku berduaan dengan wanita lain di dalam ruangannya. Hanya berdua, tanpa ada siapapun yang menjadi orang ketiga diantara mereka.


Baiklah, berhenti memandangi mereka jika kau tidak suka Kim Gyuri-ssi. Oke, bersikaplah seperti biasa. Saat ini aku adalah seorang karyawan dan tidak boleh mencampuri urusan atasannya.


“Ehm…. sajangnim, ada titipan untuk anda”


Perkataanku membuat kedua manusia yang sedang tenggelam di dunianya sendiri kini mulai sadar dan mengalihkan semua pandangannya ke arahku.


“Eh? Gyuria-ah”


Donghae oppa bangkit dari dudukannya kemudian berjalan menghampiriku. Dia merentangkan kedua tangannya dan bersiap untuk memelukku.


“Whoaa, apa-apaan kau”


Aku segera mendorong kedua tangannya menjauh. Membuat dia merubah ekspresinya secara tiba-tiba. Haha, ekspresi kesal yang sangat lucu. Membuat aku ingin tersenyum melihatnya. Kulirik Haenul unni yang hanya terkekeh melihat tingkah kami.


“Anda tidak boleh melakukan hal ini kepada seorang pegawai wanita, Sajangnim. Itu adalah perbuatan yang tidak sopan”


“Hei hei, apa yang kau katakan. Berhenti bermain-main Kim Gyuri-ssi. Kau istriku, bukan karyawanku. Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dan kau tidak bisa menolaknya sama sekali. Arachi?”


“Ani.., dirumah aku memang istrimu. Tapi di kantor, aku adalah karyawanmu. Dan kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang. Mianhamnida Sajangnim”


Aku membungkuk singkat dan membuat dia menunjukan sebuah ekspresi bingung dan kesal secara bersamaan. Oke, lagi-lagi aku harus menunjukan sikap profesionalku di depannya.


“Aku hanya akan mengantarkan ini”


Aku menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat yang sejak tadi aku pegang. Oppa meraihnya dan melemparkan amplop itu ke atas sofa. Aku langsung menatapnya tajam dengan tatapan tidak terima. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu padaku.


“YAK… Lee Donghae. Bersikaplah yang sopan. Kenapa kau seperti itu?”


“Hahaha. Bagus. Akhirnya kau bisa kembali jadi Lee Gyuri-ku. Ayolah sayang, jangan bersikap seperti orang lain”


“ish, menyebalkan. Sebenarnya apa maumu?”

__ADS_1


“Temani aku disini. Aku dan Haneul sedang memeriksa beberapa data, dan ini sangat memusingkan. Kau kan mahasiswa keuangan. Seharusnya kau mengerti mengenai masalah seperti ini. iya kan? Ayo duduk dulu di sini”


Donghae oppa menarik tanganku, memaksaku untuk duduk dan menuruti perintahnya. Apa dia gila? Apa yang bisa aku bantu? Jika aku bersama mereka disini, maka aku hanya akan diam tanpa bisa melakukan apapun. Haneul unni itu wanita yang sangat pintar. Kenapa dia menyuruhku untuk duduk disini? Mau mempermalukanku di depan Haneul unni?


“Lee Gyuri-ssi, duduklah dulu. Kau bisa menemani kami untuk mengalisis semuanya”


“Ah, ani… aku juga harus melaksanakan pekerjaanku di bawah. Lagipula aku fikir, aku tidak bisa membantu apa-apa. Kalian bisa menyelesaikannya bedua, seperti biasanya kan? Oh, iya sepertinya Eunhyuk oppa juga bisa membantu. Semangat!”


Aku mencoba bersikap seperti biasa kepada Haneul unni. Jangan sampai dia merasa jika aku sedang tidak nyaman dengannya. Bagaimanapun, aku rasa Haneul unni adalah orang yang sangat baik. Aku tidak boleh berfikiran macam-macam mengenainya.


“Aku akan mengatakan pada pegawai lain jika kau sedang membantuku di sini. Tenang saja, gajimu selama sebulan tidak akan aku kurangi”


“OPPA”


Aku memukul bahunya pelan. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di depan Haneul unni. Aku terkesan seperti gadis matre yang selalu memperhitungkan masalah uang.


“Aku tidak mau oppa. Aku akan kembali ke bawah. Permisi”


Tanpa menunggu jawabannya aku segera melangkah keluar dan menuntup kembali pintu ruangannya.


Fiuh… Untung saja aku bisa keluar dengan segera dari ruangan itu. Setiap melihat Haneul unni aku selalu merasa tidak enak. Entahlah, sepertinya dia memiliki sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa artinya. Hem, aku rasa itu hanya pemikiran anehku saja. Tidak mungkin dia menyembunyikan sesuatu.


***


Donghae’s POV


Ah sayang sekali. Kenapa dia keluar dengan sangat terburu-buru dari ruanganku. Padahal selama seminggu bekerja di sini, Gyuri tidak pernah menemuiku di ruangan ini. Sebelumnya tentu saja dia pernah beberapa kali datang ke sini. Bahkan sejak ruangan ini masih menjadi milik ayahnya, Gyuri sering datang ke kantor untuk menemui abouji.


Sekarang Gyuri bekerja sebagai resepsionis. Dia selalu berada di lantai dasar dan memeriksa data tamu yang masuk dan keluar hotel. Aku sama sekali tidak sempat untuk menemuinya disana karena pekerjaanku juga sangat banyak. Semenjak bekerja, Gyuri jadi bersikap lain. Dia terasa seperti orang asing jika sedang berada di kantor. Sering sekali dia mengatakan padaku agar aku tidak memperlakukannya dengan istimewa. Dia ingin aku menggapnya seperti pegawai lain di hotel ini. Bagaimana bisa aku bersikap seperti itu pada istriku sendiri. Gila!


Yang paling parah adalah, dia tidak mau dipanggil dengan nama Lee Gyuri seperti biasanya. Dia lebih suka mendengarkan semua karyawan memanggilanya Kim Gyuri. Dianggap apa aku ini sebenarnya? Dia bahkan tidak mau memakai margaku di depan namnya.


Apa keputusanku mengizinkannya bekerja itu salah?Aku memang tidak dapat melakukan apapun jika dia sudah berkehendak. Gyuri itu sedikit keras kepala, dan segala keinginannya itu harus selalu dipenuhi. Aku rasa mertuaku memang terlalu memanjakannya. Dia yang sangat menginginkan untuk bekerja di sini. Apa aku menyuruhnya untuk berhenti saja?


Tapi semua yang aku lakukan adalah agar dia bisa belajar mandiri. Gyuri itu calon sarjana bisnis. Setidaknya dia belajar terjun langsung ke lapangan. Tapi jika seperti ini caranya, aku lebih baik memberikan dia uang yang banyak dan menyuruhnya menghabiskan waktu untuk berbelanja. Aku rasa dia tidak akan bosan liburan seperti itu. Ah, entahlah. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Dia selalu mengatakan jika dia akan bertanggung jawab dengan keputusannya. Dan aku harus menghargai kerja kerasnya.


“Dia semangat sekali bekerja di sini. Bahkan dia tidak mau semua karyawan disini menganggapnya sebagai istrimu. Sangat professional, tapi menurutku sedikit keterlaluan”


“Yah, sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin dia menyuruhku untuk melupakan statusnya sebagai istriku dan memperlakukannya seperti karyawan lain. Kau tau, dia bahkan tidak mempunyai banyak waktu untuku dirumah. Jika seperti ini lama-lama aku akan menghentikannya untuk bekerja disini”


“Hahaha. Aku rasa dia akan menangis jika kau melakukan itu. Gyuri itu gadis yang berbeda dari yang lainnya. Selama aku mengenal Gyuri, dia itu memang gadis polos yang, yah sedikit manja kurasa. Tapi dia itu lucu, dan sangat menyenangkan. Gadis yang sangat ramah dan tidak sungkan untuk tersenyum kepada siapapun. Kau beruntung mempunyai istri sepertinya”


“Hem, aku sangat menyayanginya. Entahlah, semakin hari perasaanku pada Gyuri semakin dalam. Aku tidak bisa berkata tidak dengan apapun yang dia inginkan. Aku rasa itu juga yang kedua orangtuanya rasakan. Maka dari itu, dia selalu diperlakukan seperti tuan putri, sampai sekarang dia tetap menjadi anak manja. Walaupun sudah sedikit berkurang. Tapi aku sangat suka sikapnya yang seperti itu. istriku akan terlihat sangat manis”


“Aku rasa kau benar-benar sangat mencintai istrimu. Aku jadi iri kepada Lee Gyuri. Hem”


Seketika, aku langsung mengalihkan perhatianku dari kertas-kertas yang masih berserakan di atas meja. Tiba-tiba aku jadi ingin tahu, bagaimana kehidupan seorang Park Haneul sebenarnya. Aku rasa dia bisa berbagi denganku. Setidaknya sudah hampir 5 bulan ini dia berada di sekitarku.


“Haneul-ssi. Bolehkan aku menanyakan sesuatu padamu?”


“Eh? Ada apa? Tanyakan saja. Selama aku bisa menjawab, aku akan menjawabnya”


Aku berfikir sejenak, untuk mengatur sebuah pertanyaan yang tidak terlalu membuatnya merasa tidak nyaman.


“Em.., selama ini. Aku tidak pernah tau bagaimana kehidupan pribadimu. Yang aku tahu kau tinggal di Seoul sendirian sedangakan semua keluarga besarmu berada di Incheon. Aku ingin bertanya. Apakah sudah ada seseorang yang membuatmu merasa nyaman di sini? Aku yakin kau belum menikah. Seorang kekasih mungkin?”


Haneul memberikan respon diluar dugaan. Aku kira dia akan merasa tidak enak dan mengalihkan topik permbicaraan, tetapi ini tidak sama sekali. dia malah tersenyum ringan dan tidak merasa terganggu sama sekali.


“Satu tahun yang lalu aku masih mempunyai seorang kekasih, bahkan dia sudah melamarku”


“Jinja? Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian sekarang?”


“Hubungan kami sudah berakhir sekarang. Dan aku masih mencoba melupakan semua hal tentangnya. Dan aku rasa aku sudah berhasil”


Bodoh. Aku rasa aku membuat sebuah pertanyaan bodoh yang hanya akan mambuat dia menjadi sedih dan mengingat masa lalunya. Tapi ini sudah terlanjur. Aku sudah terlanjur mengetahui tentangnya sekarang.


Kulirik Haneul yang ternyata sedang memperhatikanku. Dia kembali tersenyum dan melanjutkan perkataannya.


“Hubungan kami tidak direstui. Pacarku adalah anak tungggal dari keluarga kaya. Ayahnya adalah CEO  perusahaan tekstil di Korea. Bahkan sudah menembus pasar dunia. Hubungan kami berjalan baik hingga 3 tahun kami berpacaran. Dia adalah seniorku di Seoul University. Seperti yang kau tahu, aku tinggal sendirian di Seoul dan seluruh keluarga besarku berada di Incheon. Aku mendapatkan beasiswa di Seoul university. Keluargaku hidup sederhana di Incheon. Ayahku adalah salah satu karyawan di pabrik. Dan ibuku adalah ibu rumah tangga biasa. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak mereka pindah ke Seoul, tapi mereka tidak mau. Yah, seperti biasanya aku selalu mengirimkan uang untuk membantu membiayai sekolah adik-adiku diasana”

__ADS_1


Aku tertegun ketika mendengar ceritanya. Bagaimana bisa seorang Park Haneul yang setiap hari selau terlhat tidak mempunyai masalah sama sekali. Tenyata dia memendam kekecewan besar terhadap seorang pria. Aku tidak pernah tau jika selama ini dia bekerja keras adalah untuk keluarganya. Benar-benar wanita yang mandiri dan sangat hebat.


“Kau hebat. Berjuang sendiri di Seoul, dengan segala cobaan yang kau hadapi. Lalu bagaimana dengan pria itu. Apa kalian masih berhubungan baik sampai sekarang?”


“Tidak sama sekali. Dia sudah menikah sekarang. Kekasihku dijodohkan dengan putri yang juga berasal dari keluarga kaya. Mereka mengatakan jika aku sama sekali tidak pantas masuk kedalam lingkungan keluarga mereka. Keterlaluan bukan?”


“Lalu apa yang dilakukan oleh pacarmu? Apa dia menerimanya begitu saja?”


“Dia hanya menuruti keinginan kedua orang tuanya. Aku sangat tau, dia bukan pribadi yang suka memberontak. Dia pria yang sangat baik dan menurut kepada kedua orang tuanya. Tapi aku sedikit kesal dengan sikapnya itu. Dia sama sekali tidak mempertahankan posisiku sebagai kekasihnya, yang saat itu dia sudah melamarku dan berencana untuk mengenalkanku pada kedua orang tuanya. Aku menerima semuanya. Aku tidak pernah berkomentar karena dia memberikan sebuah alasan yang sangat jelas. Mantan pacarku mengatakan jika dia akan tetap menuruti semua kemauan orang tuanya dan akan melepaskanku begitu saja. Aku bisa menerima alasan itu dan melepaskannya dengan ikhlas. Aku sempat terpuruk karena hal itu. Beberapa bulan berlalu hingga akhirnya aku bisa melupakan semuanya. Aku harus berjuang untuk keluargaku juga.  Aku melamar ke hotel ini dan sekarang menadi aisten pribadimu. Aku sangat senang bertemu banyak sekali orang-orang baik di kantor. Kau dan Eunhyuk, dalah kedua sahabat yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik setiap hari. Setidaknya saat ini aku bisa melupakan semuanya dan kembali hidup normal seperti dulu. Sebelum aku bertemu dengannya. Kau sangat berpengaruh Donghae-ssi. Bahkan aku menceritakan semuanya dengan nyaman kepadamu”


“Kau benar-benar sangat mengagumkan. Tidak ada yang tau masalah pribadimu tapi semuanya merasa kau baik-baik saja. Kau ini sangat baik, cantik, dan pintar. Aku yakin, banyak pria yang sedang menunggumu. Park Haneul, lupakan semuanya dan kembali bangkit dan menjadi kuat”


“Araso sajangnim”


Sebuah cerita yang sangat mengagumkan. Aku tidak pernah menyangka seorang Park Haneul akan bercerita panjang lebar seperti ini. Baguslah jika dia sudah bisa melupakan semuanya dan kembali bangkit. Seorang wanita mandiri yang sangat kuat. Kapan istriku bisa bersikap dewasa seperti itu?


***


Gyuri’s POV


Aku berjalan keluar dari ruang ganti setelah mengganti seragam kerjaku. Saat  ini sudah jam 3 sore dan saatnya aku pulang. Yah, jam kerjaku memang berbeda dari karyawan lainnya. Seharusnya aku pulang jam 5 atau jam 6 sore, tapi oemma tidak mengizinkanku pulang di waktu yang sama dengan karyawan lainnya. Oemma memaksaku agar tetap pulang sebelum Donghae oppa pulang kerumah. Dan selama 1 minggu ini aku selalu pulang tepat pukul 3 sore.


Hari ini Donghae oppa juga pulang sebelum waktunya. Entahlah, akhir-akhir ini dia sering sekali pulang lebih awal bersamaan denganku. Padahal biasanya dia pulang jam 6 tepat.  Oppa mengatakan jika dia tidak mau aku pulang sendiri.


Donghae oppa lebih suka melanjutkan pekerjaannya di rumah dan menghabiskan waktu di meja kerja sampai mengantuk. Dia mengatakan jika mengerjakan tugas di kamar lebih menyenangkan karena ditemani olehku. Padahal aku sama sekali tidak bisa membantu apapun. Aku hanya menemaninya mengerjakan tugas sampai aku sendiri mengantuk dan tertidur pulas saat dia masih duduk dengan sibuk di meja kerjanya.  Sebelumnya dia mengatakan jika aku tertidur maka dia akan membangunkanku. Tapi selama ini jika aku ketiduran saat menemaninya mengerjakan tugas, dia tidak pernah sama sekali membangunkanku. Oppa malah membenarkan posisi tidurku dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku, dia juga selalu member kecupan di dahi sebelum melanjutkan pekerjaannya. Aku selalu sadar jika dia melakukan itu, tapi mataku sudah terlalu mengantuk dan hanya tidur begitu saja. Sikapnya sangat manis padaku. Hem, semakin hari perasaanku pada Donghae oppa semakin dalam. Dan aku sangat menikmati semuanya.


***


Saat ini aku sedang berada di dalam mobil, dan menempuh perjalanan pulang ke rumah. Seperti biasanya, Donghae oppa pulang lebih awal bersamaku. Untunglah, karena aku tidak perlu repot-repot naik bus.


“Oppa, ayo kita mampir ke café Jiyeon”


Aku melempar pandang ke arahnya yang saat ini sedang serius memperhatikan jalan raya. Selama seminggu ini aku tidak pernah menemui Jiyeon karena sibuk di hotel. Kami berdua memang tidak pernah berhenti untuk saling mengirim pesan atau bertelepon ria, tapi tetap saja rasanya tidak puas. Aku selalu merindukan Jiyeon jika berlama-lama tidak melihat wajahnya.


“Oke. Aku juga belum pernah bertemu dengnnya. Terakhir bertemu mungkin sekitar  5 tahun yang lalu, benarkan?”


“Ne… ketika kami masih di SMP. Kau ingat kan dia sangat menyukaimu”


“Ya, Dia bahkan secara terang-terangan memintaku untuk menikahinya”


“Pasti Jiyeon akan sangat malu jika kau mengatakan itu di depannya”


“Sepertinya begitu, haha”


***


Aku mendorong sebuah pintu kaca besar dan melangkah masuk ke dalam café diikuti Donghae oppa dibelakangku. Kulihat Jiyeon sedang sibuk dengan pelanggan, dia tampak sedikit kusut. Mungkin karena kelelahan karena keadaan café saat ini memang sangat ramai.


Aku dan Dongha oppa duduk di salah satu sofa yang menempel ke tembok.  Oppa sibuk mengamati keadaan café, sedangkan aku mengamati Jiyeon yang akhirnya sadar keberadaan kami di sini. Aku melambaikan tangan dan saat itu juga dia langsung menghampiriku.


“Gyuri-ah, bogoshipeo…”


Aku bangkit dari dudukanku saat Jiyeon menghampiriku dan memeluku erat. kulihat Donghae oppa hanya tersenyum mengamati kami. Kurasa Jiyeon belum menyadari jika aku datang kesini bersama oppa.


“Aku juga merindukanmu. Lihat, aku datang bersama siapa”


Aku melepaskan pelukannya. Kini Jiyeon mengalihkan pandangannya kea rah Donghae oppa yang sedang mengangkat tangannya sambil tersenyum.


“Anyeonghaseo Park Jiyeon-ssi lama kita tidak bertemu”


“Oppa…. Donghae oppa”


Jiyeon tampak kaget ketika menyadari keberadaan Donghae oppa diantara kami. Wajahnya berubah menjadi merah menahan malu. Haha lucu sekali


Beberapa saat kami menikmati kebersamaan kami di sana. Menghabiskan waktu untuk mengenang masa lalu yang sangat manis. Jiyeon akan mengalihkan topik pembicaraan jika Donghae oppa menyinggung tingkah lucunya dulu.


Jiyeon juga menceritakan mengenai hubungannya dengan Jinki. Dia mengatakan, sampai sekarang mereka berdua belum resmi menjadi sepasang kekasih. Walapun hubungan mereka semakin dekat, Jinki sama sekali belum pernah mengungkapkan perasaannya pada Jiyeon. Donghae oppa juga memberikan motivasi agar Jiyeon tetap semangat dan mempertahankan semuanya, yah membuatku seidikit lega karena Donghae oppa sama sekali tidak menyinggung masa laluku dengan Jinki.


Setelah hari hampir malam, kami berdua memutuskan untuk pulang kerumah. Pasti omma dan appa sudah menunggu kami, karena sebelumnya kami berdua tidak memberitahu akan pulang terlambat malam ini.

__ADS_1


***


__ADS_2