OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Honeymoon 2


__ADS_3

“Segala yang terjadi dalam kehidupan kami, mengalir begitu saja. Benar, semuanya memang terasa sangat manis pada waktunya. Malam ini adalah milik kami berdua, yang sedang dimabuk cinta dan tenggelam dalam perasaan. Aku dan istriku”


***


….Bali, Indonesia….


Gyuri’s POV


Aku merasa sedikit sesak dan kesulitan bernafas. Mataku masih terpejam, karena rasanya malas sekali untuk membuka mata pagi ini.


“Khh…”


Kenapa tanganku tidak bisa bergerak sama sekali? Dan kenapa rasanya ada sesuatu yang menindih tubuhku hingga sesak seperti ini?


Kubuka mata secara perlahan, untuk menyesuaikan fokus dengan cahaya matahari yang menelusup dari celah tirai yang menutupi jendela kamar hotel.


Ini adalah hari kedua kami di Bali. Atau lebih tepatnya hari ketiga setelah kami meninggalkan Korea. Masih tersisa beberapa hari kedepan untuk menikmati, ehm… honeymoon kami di sini.


“Emh…”


Aku membuka mataku sepenuhnya dan mengerjapkannya berkali-kali. Mencoba benar-benar bangun dari tidur yang sangat nyenyak ini.


Karena aku tidak bisa bangun dari posisiku, maka aku hanya menggerakan kepalaku yang terasa pegal ke kanan dan kekiri. Tangan dan kakiku benar-benar tidak bisa bergerak karena tertahan oleh sesuatu.


“Huh?”


Akhirnya aku sadar ketika melihat sebuah tangan besar yang menindih tubuhku. Aku menundukan wajahku ke bawah dan melihat sebelah kakinya menindih kakiku. Aigoo, pantas saja aku tidak bisa bergerak sama sekali.


Kulirik Oppa yang masih damai dalam tidurnya. Dia tertelungkup dengan wajah menghadapku, tangan kanannya menindih dadaku, sedangkan kaki kanannya bertumpu pada kakiku. Apa dia mau membunuhku dengan cara seperti ini?


Dengan sekuat tenanga, aku menyingkirkan tangannya yang tepat berada didadaku. Yang membuat aku sesak dan kesulitan bernafas. Aku bangkit dari posisiku kemudian menyingkirkan kakinya yang juga menindih kakiku. Tapi semuanya sia-sia saja karena aku tidak berhasil melakukannya.


“Oppa, bangunlah! Kakiku sakit”


Aku menepuk punggungnya berkali-kali agar dia segera bangun dari tidurnya. Membangunkannya agar segera mengangkat kakinya yang menindihku. Aku bahkan baru menyadari jika tubuhnya itu cukup besar jika dibandingkan dengan tubuh kecilku.


Kembali aku menepuk punggungnya dengan tenaga yang lebih keras. Tapi orang ini sama sekali tidak bergerak dan masih tertelungkup dengan damai. Apa dia mati?


“Oppa, kau masih hidup kan? Palli irona! Ini sudah siang”


Aku terus saja mengguncang tubuh kekarnya agar dia segera sadar dan membuka mata. Tapi matanya tetap terpejam sempurna. Apa dia mati rasa? Aku sudah mencoba dengan sekuat tenaga untuk membuatnya bangun, tapi tidak berhasil sama sekali.


Aku menjulurkan tangan kiriku untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Kulirik jam dari layar ponsel yang ku pegang, Jam 7.38. Bali dan Korea berbeda kurang lebih 2 jam. Berarti sekarang di Seoul sekitar jam setengah 10 pagi.


Hum, apa yang sedang oema lakukan dirumah? apa dia pergi ke salon lagi. Atau bertemu dengan teman-teman ahjuma lainnya. Aku juga merindukan Jiyeon. Dia pasti sedang sibuk dengan café barunya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan Jinki? apa mereka sudah resmi berpacaran?. Jiyeon bersi kukuh mengatakan padaku jika dia dan Jinki masih berstatus sebagai teman, entahlah. Apa Jinki masih belum mau menerima perasaan Jiyeon padanya.


Beberapa hari lagi di Bali. Pasti akan banyak hal baru yang aku temui. Rasanya tidak sabar untuk segera melanjutkan eksplorasiku di sini. Tapi, aku harus membangunkan pria di sampingku, sekarang juga.

__ADS_1


“Oppa, ayolah. Ini sudah siang, Palli irona! Kau ini tidur atau mati?”


Aku kembali memukul-mukul punggungnya. Membuat dia menggeliat pelan dan merubah posisinya tanpa membuka mata. Sebelah kakinya yang menindihku kini sudah berpindah tempat. Dia yang tadinya tidur dalam posisi tertelungkup, kini berbaring dengan damai dan kembali tenggelam dalam alam bawah sadarnya. Aigoo, kenapa dia nyenyak sekali, sampai-sampai sulit untuk dibangunkan seperti ini.


Aku beringsut dari posisi sebelumnya, kemudian menurunkan kedua kakiku dan duduk di samping ranjang. Aku menatap pantulan diriku di cermin, karena memang ditembok  samping tempat tidur kami terdapat sebuah cermin besar.





Aku tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Sebuah ciuman manis yang kami lakukan, tapi semuanya berujung tragis. Hum, hal yang sejujurnya sangat aku nikmati, tapi berantakan karena ulahnya. Kenapa dia tidak bisa melakukannya dengan lembut terlebih dahulu, dan membiarkanku menyesuaikan diri dengan apa yang sedang kami lakukan. Aku ingin dimulai pelan-pelan, hingga aku benar-benar bisa menikmati sepenuhnya dan setelah itu barulah dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


Dasar pria, tidak bisakan dia melakukannya secara perlahan dan menikmati setiap detik yang kami lakukan. Kenapa selalu terburu-buru sampai kehilangan kendali disaat aku masih belum terbawa suasana.


Tapi jika ingat wajah kebingungan dan tampang menyesalnya itu, lucu juga, haha. Dia merasa sangat bersalah karena merusak suasana yang sedang benar-benar kami nikmati berdua. Sebuah hal yang baru kami lakukan lagi selama hampir 3 bulan tidak pernah melakukannya. Yah, malam ini memang tidak terjadi apapun. Tapi aku tidak tahu, hal apa yang akan terjadi di malam-malam kami selanjutnya. Karena jujur, aku juga menantikan moment itu bersamanya.


“Aish, Lee Gyuri, apa yang kau fikirkan? Pabo”


Gumamku sembari memukul-mukul kepalaku sendiri dengan gemas. Aigoo, kenapa aku jadi seperti ini? Pantaskah aku mengharapkan hal itu benar-benar terjadi. Hanya sebuah ciuman saja sudah membuatku gemetar hebat. Apalagi jika dia melakukan hal yang lebih dari itu. Ah sudahlah, yang pasti biarkan semuanya mengalir perlahan.


___


Aku segera bangkit dan berjalalan menuju kamar mandi. Hari ini jadwal kami adalah A Day Fun Ship Cruise. Ah menghabiskan waktu di pantai pasti akan sangat menyenangkan. Kami berdua sangat menggilai pantai. Dan dari apa yang aku lihat di internet, pantai disini memang sangat indah. Sejak kemarin kami sudah melewati beberapa pantai, tapi sama sekali belum menginjakan kaki di sana. Hari ini kami akan pergi dengan kapal pesiar, selanjutnya bermain di pantai. Seharian penuh kami akan melihat laut. Wooah, aku benar-benar sangat menyukainya.


___


Setelah selesai mandi. Aku keluar dengan jubah mandi berwarna putih dan juga sebuah handuk yang menggulung rambutku.


Masih berdiri di depan pintu kamar mandi, aku memandanginya yang belum bangun juga. Wajahnya ketika tertidur itu benar-benar polos dan damai. Mau sampai kapan dia tidur? Kenapa sudah siang seperti ini masih belum bangun juga. Dia masih berbaring dengan posisi seperti sebelumnya.


Aku membuka gulungan handuk di rambutku dan membiarkan rambut basahku tergerai begitu saja. Aku melempar handuk itu ke sofa yang berada beberapa meter dari tempatku berdiri. Mengencangkan ikatan jubah mandiku, memastikannya terikat kuat. Kulangkahkan kakiku mendekat ke arahnya kemudian membungkukan badanku tepat di atasnya.


“Oppa, ironaya”


Aku menepuk pipinya dengan tangan kananku, membuat dia mengernyitkan alisnya sesaat. Mungkin karena dia merasakan dinginnya tanganku karena baru saja selesai mandi.


“Oppa, palli irona. Ayolah, kita akan pergi ke pantai.”


Ujarku sembari menggoyangkan bahunya dengan sekuat tenaga. Tapi tidak berhasil sama sekali, karena pria tampan ini masih saja damai dengan tidurnya tanpa bergerak sedikitpun.


“Donghae oppa…”


Aku menaikan suaraku lebih keras. Lama-lama seperti ini, dia membuatku kesal juga. Ini sudah siang, dan aku tidak mau membuat tour guide itu menunggu kita turun dari kamar. Walaupun sudah satu hari berada disini, tapi tetap saja kita membutuhkan bimbingan seorang tour guide.


“Aish, sudahlah. Aku tidak peduli. Terserah kau mau bangun atau tidak, yang pasti aku tidak mau terlambat dan membuat tour guide kita menunggu. Aku akan tetap pergi sendirian tanpamu. Kau disini saja, nikmati tidurmu sampai puas”


Aku sudah mulai kesal karena dia tidak mau membuka matanya juga. Seperti disengaja, mengacuhkanku begitu saja.


“Aish, jinja….”

__ADS_1


Aku bangkit dari posisiku. Berdiri tegak dan siap untuk melangkahkan kaki menjauhinya. Tapi tiba-tiba dia bangkit dari posisinya dan menarik tanganku dengan sekuat tenanga. Akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuhnya. Aigoo, posisinya sangat…. Ehm, tidak nyaman.


“Mau kemana sayang, huh?”


Dia berbicara di depan wajahku yang tepat berada di atas tubuhnya. Suara seraknya mengalun indah masuk kedalam telingaku. Membuat jantungku tiba-tiba bergetar hebat karena perlakuannya.


“Em… aa…aku…aku…”


Aish, selalu saja seperti ini. Kenapa aku selalu merasa gugup setiap berada dalam jarak yang terlalu dekat dengannya. Ayolah Lee Gyuri, kendalikan dirimu. Jika aku bersikap seperti ini malah akan membuat dia berfikir macam-macam.


“Kenapa sayang? Kau selalu gugup setiap dekat denganku?”


Oppa mengulurkan tangan kirinya untuk meraih rambutku, kemudian menelusupkannya ke belakang kupingku. Mungkin dia merasa tidak nyaman karena rambut panjangku yang masih basah, jatuh tepat di lehernya.


“Oppa, jangan seperti ini. kumohon!”


Aku mencoba mengeluarkan suara pelan dari mulutku. Namun dia tidak menanggapinya sama sekali, dan malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Kini tangan lembutnya mulai mengusap pipiku dan menyusuri garis rahangku. Aku menatap matanya yang sayu karena baru saja bangun tidur, rambutnya yang berantakan malah membuat dia semakin terlihat tampan. Aigoo, kenapa suamiku bisa terlihat sangat tampan seperti ini ketika bangun tidur.


“Give me morning kiss, please…”


Bisiknya tepat di telingaku. Udara hangat yang keluar dari mulutnya, terasa menggelitik leherku dan membuatku merinding sesaat. Morning kiss? Aigoo, kenapa suamiku ini genit sekali.


“I’m sorry sir. But I don’t wanna do that” Aku hanya tersenyum menatapnya yang terlihat kecewa.


“Tapi aku akan tetap melakukannya sayang”


Tanpa aba-aba, dia memutar tubuhku ke samping hingga kini posisi kami berbalik. Dia mencengkram kedua tanganku di samping kepala. Tubuh kekarnya menindih tubuhku, membuat aku sama sekali tidak bisa melawan. Sebelah lututnya berada di sela-sela kakiku. Menekan ranjang untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak terlalu menindihku. Tapi sia-sia saja, karena tubuh besarnya tetap saja menempel dengan tubuhku.


“Oppa, apa yang kau lakukan. Ini pemaksaan namanya”


Ujarku dengan suara yang cukup keras, hingga membuat dia menjauh kan wajahnya dari wajahku.


“Sayangnya kau adalah istriku Nyonya Lee. Jadi aku bisa melakukan apapun padamu”


Dia tersenyum kemudian mengerlingkan sebelah matanya. Aku hanya bisa terbengong tanpa berkedip ketika melihatnya melakukan itu. Aku rasa aku benar-benar terhipnotis dengan pesonanya kali ini. Mata yang masih bengkak dan rambut yang berantakan. Dia benar-benar terlihat kacau pagi ini, tapi pesonanya masih tetap terasa dengan jelas.


“Tapi, kau….mmppph”


Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku dia sudah membekap mulutku dengan bibirnya. Aku sama sekali tidak bisa melawan karena kedua tanganku dicengkramnya erat. Bibirnya bergerak dengan fasih menyapu bibirku. Jujur, aku memang tidak bisa menolaknya jika sudah seperti ini. Aku hanya bisa tenggelam dalam perasaan yang tidak bisa aku gambarkan. Saat melakukan ini dengannya rasanya kami benar-benar mabuk dan tenggelam didalamnya.


Aku menggerakan kepalaku saat mulai kehabisan nafas. Tapi Oppa tidak menghiraukannya sama sekali. Dia malah ******* bibirku lebih dalam dari sebelumnya, membuat aku kembali menikmati ciuman manisnya pagi ini.


Kurasa ini sangat tidak pantas disebut sebagai morning kiss. Karena dia terlalu menikmatinya sampai ******* bibirku berkali-kali dan memperdalam ciumannya. Membuat aku benar-benar kehabisan nafas. Aku tidak bisa memeluk tubuhnya atau melingkarkan kedua tanganku di bahunya, karena dia masih mencengkram erat kedua tanganku dan menekannya ke ranjang. Aku hanya bisa terlentang dibawah kekuasaannya. Berharap tali  jubah mandiku tidak terbuka karena posisinya diatas tubuhku saat ini.


Beberapa saat kami tenggelam dalam suasana menyenangkan itu. Menikmati morning kiss, yang sedikit berlebihan.  Akhirnya dia menghentikan kegiatannya. Oppa mengangkat wajahnya kemudian tersenyum lembut. Dia melepaskan cengkraman di tangan kiriku, kemudian mengulurkan jari-jarinya untuk menyeka bibirku yang basah.


“Maaf sayang, ehm…. Aku lupa belum menggosok gigi”

__ADS_1


Ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Mendengar hal itu, spontan aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku, sehingga kini dia duduk bertumpu pada lututnya di atas ranjang.


“YAK… iyuks… Argh MENJIJIKAN!”


__ADS_2