OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
I Wish That You Could Realize My Dream Gyuri-ah


__ADS_3

Pagi ini kami ber empat duduk bersama untuk sarapan. Aku duduk di sebelah Donghae oppa, Eunhyuk oppa didepanku dan Haneul oenni  berhadapan dengan Donghae oppa. Dapat kulihat mereka berdua menatap kami dan tersenyum dengan ekspresi aneh yang membuatku menjadi merasa sangat tidak enak, sehingga aku hanya bisa menundukan kepalaku menahan malu. Aku bahkan tidak bisa menikmati sarapan pagi ini dengan baik. Bagaimana bisa jika mereka berdua tidak berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu.


“Eng.. Donghae-ah, apa yang kau lakukan pada Gyuri sehingga dia seperti itu? bahkan tadi malam aku mendengar teriakan Gyuri sangat keras” Tanya Eunhyuk sambil menunjuk bibirnya sendiri. Dan menatapku dengan tatapan iba yang membuatku menjadi seperti korban kekerasan yang tidak berdaya.


“Aniyeo, tidak apa-apa” jawabku sambil berusaha tersenyum menahan sakit, benar-benar terasa perih ketika aku harus menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum.


Aku tidak mungkin menyalahkannya karena menjatuhkan bolpoint itu di kamarku, karena aku tau dia juga tidak sengaja melakukanyya.


“Aku sarankan, sebaiknya kau  melakukannya dengan hati-hati. Aku tau kalian pengantin baru dan masih memiliki semangat yang menggebu-gebu. Tapi kau seharusnya bersikap lembut, jangan terlalu liar. Lihat akibatnya pada istrimu” Pernyataan konyol terlontar dari mulut Eunhyuk oppa. Aish,tidak pernah puas rasanya dia menggoda kami.


“Hya,, Hya… Lee Hyukjae. Bwosunsuria? Aku tidak melakukan apapun padanya” jawab Donghae oppa dengan tegas dia menatap Eunhyuk oppa dengan tajam seakan ingin meremparkan garpu yang sedang ia pegang ke wajahnya.


“Iya, kami tidak melakukan apapun. Aku tidak bohong” ujarku menimpali pernyataan Donghae oppa.


“Kau tau, dia jatuh karena menginjak bolpoint yang kau jatuhkan. Itu semua salahmu, bukan aku yang melakukannya” Donghae oppa kembali melakukan pembelaan. Sepertinya dia benar-benar sudah tidak tahan terus dipojokan oleh Eunhyuk oppa.


“MWO? Lee Donghae, kau menyalahkanku atas perbuatan yang kau lakukan pada istrimu. Keterlaluan, kau bahkan sudah mengigitnya sampai terluka seperti itu?” Ujar eunhyuk oppa sambil terkekeh geli. Benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin ketika sedang menikmati sarapan malah membuka obrolan dengan tema seperti itu.


“HYA…HYA… LEE HYUK JAE, kalau kau tidak berhenti berbicara. Aku lempar garpu yang kupegang ini ke wajahmu”  Ujar Donghae oppa dengan penuh emosi. Kasihan sekali dia punya sahabat mesum seperti itu. ckckck


“Sudahlah Eunhyuk oppa, jangan membicarakan hal it uterus. Makan saja sarapanmu dengan tenang” ujarku mencoba menghentikan perdebatan kedua sahabat baik ini sebelum garpu yang dipegang Donghae oppa melayang ke wajah Eunhyuk oppa.


“Aish, tidak usah malu-malu. Wajar, kalian kan masih pengantin baru” Balasnya sambil terkekeh geli. Kulihat Haneul  oenni hanya tersenyum mendengar percakapan yang tidak pantas ini.


—


Pagi ini Eunhyuk oppa dan Haeneul oenni akan kembali ke Seoul. Mereka akan pulang dengan pesawat jam 9. Sebenarnya aku dan oppa juga harus segera pulang, tapi Donghae oppa masih harus memastikan tidak terjadi kesalahan dalam penerapan konsep yang telah mereka susun tadi malam. Donghae oppa menyuruhku untuk ikut pulang bersama Eunhyuk oppa dan Haneul oenni, dia bilang jika aku bosan menemaninya disini lebih baik aku kembali ke Seoul. tapi aku menolaknya, bagaimana bisa aku kembali ke Seoul dan meninggalkannya sendirian disini. Kemarin aku belum sempat berjalan-jalan di Jeju, jika sekarang sudah harus pulang sayang sekali rasanya melewatkan kesempatan ini. Jika aku pulang bersama oppa, setidaknya aku bisa berjalan-jalan sebentar hari ini. Karena itulah, kami berdua baru akan kembali ke Seoul sore nanti, dari Jeju ke Seoul tidak membutuhkan waktu yang lama, jadi kurasa aku pasti bisa masuk kuliah di hari seninnya. Ah keterlaluan memang, pasti sangat melelahkan rasanya jika besok aku harus sudah masuk kuliah lagi. Tapi kan aku sudah berjanji pada oema kalau liburan kali ini sama sekali tidak akan menganggu jadwal kuliahku.


Yah sudahlah, apa boleh buat. Lagipula aku yang menginginkan untuk ikut kesini, memantau setiap hal yang Donghae oppa lakukan, tetapi ternyata dia tidak melakukan sesuatu yang aneh didepanku.


“Donghae-ssi, dan Gyuri-ssi. Kami berdua pergi duluan” ujar Haneul oenni sambil menjabat tanganku dan Donghae oppa bergantian, kemudian membungkukan badannya sambil tersenyum.


“Kami pulang duluan, kalian berdua nikmati saja kebersamaan hari ini. Ini masih jam 8 pagi, masih cukup banyak waktu untuk meneruskan yang tertunda tadi malam” ujar Eunhyuk oppa, dia melirik Donghae oppa sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengalihkan pandangannya padaku, kemudian tertawa dengan sangat puas. Aish, apa yang ada di pikiran pria mesum ini.


“Lee Hyukjae, sebaiknya kau cepat pergi dari hadapanku, sebelum sepatu di kakiku melayang ke kepalamu” Balas Donghae oppa dengan memicingkan matanya menatap tajam Eunhyuk oppa dengan tatapan sadis yang seakan-akan ingin membunuh sahabat baiknya itu.


“Mianhae, seharusnya aku tidak membicarakan disini. Tapi ku sarankan pelan-pelan saja Donghae-ssi. Lihat akibatnya pada istrimu itu” jawab Eunhyuk oppa menatapku sambil menunjuk bibirku yang masih terdapat luka karena terjatuh semalam. Benar-benar keterlaluan pria ini, mengapa masih menggoda kami dengan hal itu.


“HYA… LEE HYUK JAE….cepat pergi dari hadapanku sekarang juga sebelum aku berikan kau surat pemecatan” ujar Donghae oppa sambil mengangkat tangannya yang sudah bersiap untuk melayangkan sebuah pukulan di di kepala Eunhyuk oppa. Haneul oenni hanya bisa terkekeh melihat kelakuan kedua temannya yang sama-sama gila ini.


“A…A… Mianhae… mianhae Sajangnim. Aku janji tidak akan mengungkit perbuatan yang kau lakukan pada Gyuri sehingga membuat bibirnya luka seperti itu. Aku memaklumi kalian sebagai pengantin baru” jawab Eunhyuk oppa yang masih belum puas menggoda kami, hingga kini kurasa wajahku menjadi merah menahan malu


“LEE HYUK JAE…. KAU…..!” teriak Donghae Oppa masih mengangkat tangannya dan mengarahkan pada kepala Eunhyuk oppa.


“AAAAAAdwe andwe, mianhae sajangnim” balasnya sambil mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.


“Kami pergi dulu” ujar Haneul sebelum akhirnya mereka segera memasuki terminal keberangkatan. Dan segera bersiap untuk kembali ke Seoul.


Ah kali ini apa lagi yang harus aku lakukan. Donghae oppa masih harus memantau staf hotel, pasti dia akan diam di dalam kantor utama seharian ini.


Kami berdua segera berlalu meninggalkan bandara dan segera kembali ke hotel.


***


Donghae’s POV


Eunhyuk dan Haneul sudah pulang, aku masih harus tetap disini sampai sore untuk memantau para staf mengerjakan semua konsep yang telah kami susun kemarin. Setelah semuanya berjalan dengan baik barulah aku bisa kembali ke Seoul dengan tenang. Sebenarnya bisa saja Gyuri kembali ke Seoul sekarang, tapi dia menolak dan masih ingin tetap disini bersamaku. Baguslah, itu memang sesuatu yang ku harapakan. Kami berdua segera berlalu meninggalkan bandara dan segera kembali ke hotel.


“Aku masih harus ke kantor utama siang ini, nanti sore setelah selesai aku segera menemuimu. Jika kau bosan pergilan berjalan-jalan di sekitar sini, nanti aku minta salah satu staf untuk menemanimu selama aku tidak ada” ujarku pada Gyuri yang masih duduk di sofa dengan malas, dia memeluk kedua kakinya dan menyadarkan dagu ke lututnya sambil memandangi layar TV yang sedang menampilkan acara berita pagi ini.


“Gwencana, tidak perlu ditemani staf, kau pikir aku anak kecil yang harus dibimbing agar tidak hilang. Aku bisa jalan-jalan sendiri” jawabnya dengan nada malas, tanpa mengalihkan perhatiannya padaku

__ADS_1


“Keure…, baguslah jika kau tidak perlu ditemani. Berarti tidak merepotkan staf hotel ini kan. Kau jangan mengeluh, semalam aku sudah menyarankan padamu untuk ikut pulang dengan Haneul dan Eunhyuk, tapi kau sendiri yang tidak mau dan memilih untuk tetap disini. Jadi nikmatilah beberapa jam di Jeju sebelum kita kembali ke Seoul” aku menghampirinya sambil merapihkan dasi dan memakai jas hitamku dan segera bersiap ke kantor utama. Sebenarnya aku juga tidak ingin meninggalkannya sendirian, kami berdua dari kemarin belum pergi keluar bersama, ah membosankan sekali aku di Jeju benar-benar hanya menghabiskan waktu di kantor.


“Oppa, sampai kapan kau disana?” Gyuri mengalihkan perhatiannya menatapku dan menurunkan kedua kakinya dari sofa.


“Kira-kira jam 3 sore ini, setelah itu kita akan kembali ke Seoul dengan pesawat jam 5 sore. Masih cukup banyak waktu jika kau ingin bermain-main” aku mengambil tas laptopku dan segera bersiap untuk keluar, sebelum itu aku menghampirinya yang masih dalam duduk di sofa dengan nyaman.


“Baiklah aku pergi dulu” ujarku sambil meletakan tanganku di kepalanya, mengelusnya lembut dan tersenyum. Dia memperhatikanku sekilas, kemudian memiringkan kepalanya ke kanan. Dia mengernyitkan matanya dan kini memiringkan kepanya ke kiri.


“Hya, Lee Gyuri, wheyo?” tanyaku sambil memperhatikan penampilanku dan atas ke bawah, apa yang salah? Apa yang dia perhatikan?


“Igo…,ng itu kurasa dasimu miring. Simpulnya juga berantakan” Gyuri menegakan kepalanya dan segera bangkit dari posisi sebelumnya. Dia menghampiriku dan berdiri tepat di hadapanku. Puncak kepalanya berada di bawah daguku, dapat kuhirup wangi strobery dari rambutnya, hem, wangi shamponya manis sekali.


“Eh? Benarkah?” jawabku sambil menundukan kepalaku dan memperhatikan simpul dasi yang ku ikat dengan terburu-buru sebelumnya. Aku sedikit kesulitan untuk membetulkannya, Tangan kananku membawa tas laptop, ketika tangan kiriku hendak membetulkannya, Gyuri segera menahanku.


“Biar aku yang merapihkannya” ujar Gyuri sambil menarik dasiku dan membuka simpulnya. Dia mengikatnya dengan sangat hati-hati. Aku menundukan kepalaku menatap wajahnya. Ya tuhan, wajah ini mengapa begitu cantik, mengapa istriku ini benar-benar terlihat sangat cantik. Dapat kulihat bulu matanya yang lentik, dan garis hidungnya yang indah, bibirnya yang merah tanpa polesan lipstick. Kim Gyuri, em Aniyeo Lee Gyuri, istriku yang cantik, sangat cantik. Kali ini aku benar-benar puas menatap wajahnya lekat-lekat, wajah seorang gadis yang telah menahan hatiku, membuatku tergila-gila dan merindukannya setiap hari. Ya, setiap hari selalu menjadi fokus utamaku, kebutuhanku untuk tetap hidup. Merindukan hatinya yang tidak pernah membalas perasaanku, membalas seluruh rasa cintaku yang benar-benar sudah sangat memuncak. Entah kenapa semakin hari perasaan ini semakin dalam, tapi aku tidak pernah bisa mengatakannya, tidak pernah bisa mengungkapkan di hadapannya, ya Lee Donghae Babo, aku menyadari itu. Dan yang lebih lucunya, yang berhasil mengambil hati istriku adalah seorang mahasiswa kedokteran semester 2 yang bahkan masih sangat labil. Benar-benar menyedihkan nasibmu Lee Donghae.


“Gyuri-ah taukah kau impianku ketika menjadi seorang suami?” ujarku pelan karena posisinya saat ini yang begitu dekat denganku. Dia masih mengikat simpul dasi dengan perlahan-lahan, membuatnya ikatannya menjadi sesempurna mungkin. Baru kali ini dia melakukan semua ini padaku. Rasanya benar-benar bahagia. Andai saja dia bisa seperti ini setiap hari. pasti aku menjadi seorang suami yang paling beruntung di dunia ini, karena menikahi seorang Kim Gyuri em, Lee Gyuri maksudku. Ya istriku.


“Mwo? Apa impianmu ketika menjadi suami?” tanyanya tanpa mengalihkan seluruh perhatiannya dari dasiku.


“Impianku ketika menjadi seorang suami adalah, saat bangun tidur istriku akan memberikan morning kiss. Setelah pergi mandi, aku akan dibuatkan sandwich yang enak dan kita sarapan bersama. Sebelum pergi ke kantor,  istriku akan membetulkan dasiku dan memberikanku ciuman selamat jalan. Impian yang tidak tau kapan akan menjadi kenyataan. Pasti sangat bahagia rasanya jika istriku kelak akan melakukan semua itu untuku” aku menatap matanya dalam-dalam, menatap mata besarnya yang jernih. Yang selalu membuatku berdebar ketika menatapnya, membuatku kelimpungan ketika dia balas menatap mataku. Tapi dia tidak pernah menyadari tatapanku, tidak menyadari setiap saat aku selalu menatapnya, dan berharap ia akan melihatku di sampingnya. Gyuri melangkah mundur dan merapihkan kerah kemejaku.


“Sudah selesai” ujarnya sambil tersenyum, benar-benar terlihat sangat manis.


“1 Impianmu yaitu istrimu akan membetulkan dasimu sebelum pergi ke kantor kan? Aku telah melakukannya. Tapi aku tidak bisa melakukan yang lainnya. Maaf” Gyuri kembali duduk di sofa dengan posisi sebelumnya. Dia menaikan kedua kakinya ke atas dan memeluknya erat, perhatiannya kembali tertuju pada layar televisi. Yah aku tau, di dalam hatinya tidak ada aku. Walaupun aku suaminya, tapi aku tidak boleh menuntut perannya sebagai seorang istri. Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggumu, menunggu hatimu berubah dan bisa membalas perasaaku Lee Gyuri.


“Gumawo. Itu adalah impianku dengan istriku. Dengan seseorang yang benar-benar menjadi istriku” jawabku sebelum beranjak keluar dan melangkahkan kakiku membuka pintu kamar. Tapi kemudian dia mengalihkan pandangannya melihatku.


“Aku istrimu tuan Lee. Tapi maafkan aku, jika aku belum bisa menjadi istri yang sebenarnya. Aku tidak bisa menebak perasaanku, aku tidak tahu bagaiman dengan hatiku. Aku tidak mengerti tentang semuanya. Dan itu membuatku semakin bingung sekarang” Ucapannya membuatku tersentak. Aku menghentikan langkahku ketika sudah siap membuka pintu kamar. Apa maksudnya dengan perkataanya tadi dia meminta maaf padaku dan dia tidak mengerti dengan perasaanya sendiri. Aku menoleh ke arahnya, menatap matanya yang masih memperhatikan objek lain di hadapannya. Yah dapat kulihat kebingungan disana, tatapan yang kosong. Berbeda dengan Kim Gyuri yang ku kenal dulu seorang siswa SMA, dan kemudian menjadi seorang mahasiwa tingkat satu, sebelum dia menjadi istriku dan menjadi nyonya Lee Gyuri. Apa dia merasa tersiksa dengan pernikahan ini? Apa aku membuat hidupnya menjadi tertekan? ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?


“Aku pergi dulu. Hati-hati jika kau ingin pergi keluar sendirian” ujarku sebelum membuka pintu kamar dan segera pergi meninggalkannya. Aku menarik nafas dalam-dalam ketika kembali menutup pintu kamar dari luar. Lee Donghae.., tenanglah semua akan berjalan sebagaimana mestinya.


***


 


Istri yang sebenarnya, mengapa aku tidak bisa melakukannya? Mengapa aku masih tidak mengerti dengan hatiku? Apa arti perasaanku pada Jinki? Apa arti perasaanku pada Oppa?. Semakin hari aku merasa Donghae oppa benar mempengaruhi hidupku, aku bahkan merasa selalu ingin dekat dengannya. Apa ini yang dinamakan cinta? Lalu bagaimana perasaanku terhadap Jinki? Apa itu juga cinta? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku. Aku benar-benar tidak tahu apa jawaban dari semuanya. Membuatku semakin sakit kepala. Kini aku sendirian, sendirian di dalam kamar yang besar ini. Aku menundukan kepalaku dan menatap liontinku, kalung yang diberikan Oemonim setelah pesta pertunanganku dengan Donghae oppa, liontin dengan permata berwarna biru tua yang benar-benar indah. sebuah kalung yang memiliki keistimewaan, kalung yang diberikan Ayah Donghae oppa kepada oemonim dan kini melingkar dengan sempurna di leherku. Kalung yang ku terima dengan janji, janji akan memperlakukan Donghae oppa dengan baik, janji akan menjadi seorang istri yang baik yang menghormati suaminya. Tapi apa yang aku lakukan? Sampai saat ini aku bahkan masih berstatus seorang yoeja cinggu pria lain, aku sebagai seorang istri dan dilain pihak aku adalah seorang kekasih. Ah kepalaku benar-benar sakit, jika sendirian seperti ini aku bisa semakin lelah. Baiklah kurasa pergi keluar akan menyenangkan. Aku segera bangkit dari posisiku dan bersiap untuk pergi keluar, kulirik jam di meja kecil di samping tempat tidurku. Tepat jam 10.00, oppa akan kembali jam 3 sore. Cukup lama untuk berjalan- jalan keluar, setidaknya aku bisa melupakan semua tentang perasaanku yang kacau.


___


“Nyonya Lee, anda yakin akan pergi sendiri? Tadi Sajangnim meminta kami untuk menemanimu berkeliling” ujar dua orang wanita dengan seragam yang sama. Mereka adalah staf di Hotel ini, Donghae oppa yang menyuruh mereka? Sudah kubilang aku bukan anak kecil dan bisa pergi sendiri. Kenapa dia menyuruh dua orang mengikutiku seperti ini, bagaimana aku bisa bersenang-senang.


“Gwencana. Kalian tidak usah menemaniku. Aku ingin pergi sendiri. Ini kan bukan pertama kalinya aku datang ke Jeju, terimakasih atas perhatiannya” ujarku sambil membungkukan badanku kepada dua wanita di depanku ini.


“Maaf, Nyonya Lee. Tapi… Eng… Ada apa dengan… bibir?” salah seorang staf bertanya dengan ragu-ragu. Dia menunjuk bibirnya sendiri, sambil menahan senyum. Tapi sesaat kemudian rekan disebelahnya segera menyenggol pinggangnya, dia bergumam pelan sambil mengedipkan matanya.


“Ah.., ini… em, aku terluka semalam” jawabku dengan senyum pahit yang dipaksakan. Aish luka ini kurasa akan menjadi perbincangan hangat hari ini.


“Em, kurasa Sajangnim terlalu bersemangat tadi malam sehingga hmmmpp…..” perkataannya terputus ketika rekannya dengan sigap membungkap mulutnya.


“Chosungeo, Nyonya Lee” dia tersenyum sambil mengerutkan alisnya sehingga ekspresinya terlihat sangat aneh.


“Em…, aku akan pergi keluar sekarang” ujarku pada kedua staf yang mulai membuatku tidak nyaman ini.


“Algaesimida, Nyonya Lee. Semoga menyenangkan dan berhati-hatilah” balas salah seorang diantara mereka, kurasa umurnya jauh lebih tua dibanding yang satunya. Mungkin dia adalah pengawas karyawan. Hem, mengapa oppa memperhatiku sampai seperti ini.


“Em… kalian berdua bekerjalan kembali. Terima kasih” ujarku sambil membungkukan badan dan segera berlalu keluar.


___


Ah jalan-jalan seorang diri ditengah keramaian. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju beberapa stand barang-barang lucu. Aku masuk ke dalamnya dan melihat-lihat berbagai kerajinan tangan yang sangat bagus. Mencobanya satu per satu dan memotretnya dengan ponselku, kurasa kegiatan ini cukup mengasyikan. Walaupun sendiri tapi tetap saja menyenangkan ketika kita menemukan sesuatu yang indah dan dapat mengalihkan semua perhatianku.

__ADS_1


Em tidak terasa cukup lama aku berjalan-jalan. Dan sekarang tepat pukul 14.00, ah pantas saja perutku terasa sangat lapar, aku bahkan belum makan siang hari ini. Owh, aku memegangi perutku yang mulai terasa perih, dapat kudengar suaranya yang nyaring. Benar-benar memalukan. kurasa lebih baik aku kembali ke hotel saja, ini sudah jam 2 sore, jam 3 nanti Donghae oppa sudah selesai dengan tugasnya. Aku segera kembali menuju hotel, hem, kurasa aku benar-benar harus mengisi perutku sebelum pingsan. Ketika aku memasuki hotel, aku segera menuju ke restoran di lantai dasar. Hem benar-benar sangat lapar. Aku duduk di salah satu sofa si pojok ruangan, meletakan tas selempangku di samping sofa yang ku duduki, dan memutar pandanganku ke sekeliling mencari keberadaan seorang waiter yang sedang tidak sibuk tentunya. Aku mengangkat tangan kananku, dan salah satu waiter segera menghampiriku


“Nyonya Lee. Anyeonghaseo” ujarnya sambil mebungkukan badannya sangat rendah, kurasa hampir 45⁰ dia membungkukan badannya. Tapi bagaimana dia tau aku?


“Eh? Anyeonghaseo” balasku sambil menundukan kepalaku singkat


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya Lee” ujarnya dengan nada yang sangat sopan. Benar-benar aneh diperlakukan seperti ini, mungkin karena aku memang jarang berkunjung ke Hotel. Padahal ini hotel keluargaku, tapi ini benar-benar membuatku tidak nyaman.


“Em, apa menu makan siang special hari ini? aku ingin mencobanya” tanyaku dengan nada sopan dan tersenyum ke arahnya.


“Algaesimida, mohon tunggu sebentar. Kami akan segera menyajikannya” dia mencatat di sebuah buku kecil yang dipegangnya dan segera berlalu. Sekitar 15 menit kemudian dia menyajikan hidangan yang sangat menggoda. Em aku sedang kelapan sekarang. Segera ku habiskan 1 porsi makanan di hadapanku sampai habis tak tersisa.


“Ah… benar-benar kenyang” gumamku sambil menyandarkan punggungku ke sofa yang sedang ku duduki dengan nyaman. Aku mengambil segelas air putih dan meminumnya. Tiba-tiba kudengar seseoang memanggilku.


“Lee Gyuri….” Ujarnya setengah berteriak. Aku meliriknya dengan ujung mataku tanpa melepaskan gelas yang masih menempel di mulutku. MWO?? LEE JINKI??… aku menyemburkan air putih di dalam mulutku hingga semuanya keluar membasahi meja didepanku.


“Lee Gyuri…” Jinki menghampiriku dengan langkah yang sangat cepat dan melambaikan tangannya ke arahku. Sedangkan aku hanya menganga dan membulatkan mataku ketika melihatnya semakin mendekat. Mungkin aku hanya berhalusinasi karena masalah perutku yang tadinya kosong dan tiba-tiba terisi penuh oleh makan siang hari ini, mungkin karena kelapar, cara kerja otak ku jadi berantakan seperti ini. Aku mengesek mataku dengan punggung tanganku mencoba benar-benar fokus. Kemudian aku menepuk-nepuk kedua pipiku yang memang terasa sakit. Ini nyata, ini benar-benar nyata, aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. LEE JINKI? Kini ada di hadapanku… Ya Tuhan, yang dia bicarakan kemarin ketika dia bilang akan menghampiriku ke Jeju benar-benar ia lakukan. Bocah ini benar-benar datang dan menemuiku di sini, Aigoo… apa yang harus kulakukan sekarang?


“Hya…. Gyuri-ah… Lee Gyuri… Kim Gyuri….” Jinki mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajahku, aku mencoba benar-benar fokus dan memandangnya lekat-lekat. Ya Lee Jinki, benar-benar Lee Jinki.


“Jinki-ah….” Gumamku dengan suara yang sangat pelan tanpa mengalihkan pandanganku dari wajahnya.


“Gyuri-ah bogosipho…” Jinki melebarkan kedua tangannya dan bersiap untuk memeluku.


“Kyaaaaa, andwe…” aku memundurkan tubuhku dan menahan kedua tangannya agar segera menjauh. Gila…, bagaimana mungkin dia memeluku di tempat seperti ini. seluruh staf hotel ini mengenalku sebagai putri dari pemilik hotel ini dan juga sebagai Istri dari direktur utamanya. Apa yang akan mereka fikirkan mengenaiku, habislah sudah riwayatku.


“Gyuri-ah, wheyo?” Jinki menurunkan kedua tangannya dengan sangat kecewa.


“Khaza…” ujarku sambil menarik tangannya agar segera pergi mengikutiku. Dengan setengah berlari aku melewati hotel ini dan pergi menuju ke taman di sekitar hotel yang terlihat sepi. Aku mengitarkan pandanganku ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat kamu berdua di sini. Aku menarik nafas dalam-dalam.


“Babo…” ujarku dengan setengah berteriak di depan wajahnya.


“Kau mau aku mati hah?” lanjutku. Aku benar-benar emosi menghadapi pria di hadapanku ini. bagaimana mungkin dia datang dengan sangat damai menghampiriku di tempat ini dan berkata “Gyuri-ah bogosipho” benar-benar gila..,


“Mianhae.., aku benar-benar panik ketika tau kau pergi ke pulau Jeju dengan Hyungnim. Aku tidak bisa memikirkan apapun selain dirimu. Karena itulah aku segera pergi ke sini tadi malam” ya Tuhan, bocah ini ternyata nekat juga. Dia bahkan langsung datang menghampiriku ke sini. Ckckck…, cinta memang membutakan segalanya.


Jinki mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga membuatku dengan sigap memundurkan wajahku dan mengernyitkan alisku karena sikap anehnya yang tiba-tiba. Dia memiringkan kepalanya ke kiri, menatapku lekat-lekat kemudian memiringkan kepanya lagi ke kanan. Ada apa dengan bocah ini.


“Igo…, bibirmu…” Aish, bibir lagi. Mengapa hari ini tema perbincangan orang-orang denganku adalah ‘bibir’.  apa tidak ada hal lain?


“Aniyo, gwencana. Hanya terluka sedikit” jawabku dengan malas. Harus berapa kali aku menjelaskan pada orang-orang yang bertemu denganku hari ini.


“Tapi kenapa bisa terluka? Hyungnim mengigit bibirmu? Aish, kasar sekali dia. Beraninya menyakiti pacarku.” Jinki meraih daguku dengan telunjuknya dan memperhatikan luka di bibirku. Dia meringis sambil terus menggerutu tidak jelas.


‘PLETAK’ aku menjitak kepalanya dengan keras, hingga akhirnya dia melangkah mundur dan mengusap kepalanya sambil menringis kesakitan.


“Gyuri-ah,, wheyo?” ujarnya dengan wajah tanpa dosa yang benar-benar terlihat seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa.


“Bwosunsuria? Kau fikir apa yang akan kami lakukan? Ada –ada saja. Lagi pula kalau dia berani mengigit bibirku sampai seperti ini. Aku akan melaporkannya pada komisi nasional perlindungan anak, dan aku adukan perbuatannya pada komisi nasional perlindungan perempuan atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga, cih” ujarku dengan nada emosi. Kenapa tadi aku tidak memakai masker, biar tidak ada orang yang melihatnya. Atau aku plester mulutku sekalian, agar tidak bisa bicara sama sekali. Keterlaluan.


“Siapa yang tahu, apa kau tidak berfikir, Hyungnim itu laki-laki dan kau adalah perempuan. Bagaimana bisa seorang laki-laki bisa tidur dengan tenang jika disampingnya ada seorang gadis yang bahkan berstatus sebagai istri sah nya. Walaupun dia tidak memiliki perasaan apapun padamu, tapi tetap saja Hyungnim adalah seorang pria. Tidak pernahkah kau memikirkan semua itu? Kau ini kenapa polos sekali Kim Gyuri. Bamsae hansumdo jalsu eobseo, aku selalu memikirkan hal itu setiap malam, kau tau?” Kali ini emosi Jinki sudah mulai naik. Kurasa bocah ini memang selalu emosi jika membicarakan hubunganku dengan Donghae oppa. tapi apa yang bisa ku perbuat, ini sudah menjadi konsekuensinya jika dia masih ingin menjadi kekasihku.


“Kenapa sampai tidak bisa tidur setiap malam? Berlebihan sekali kau ini. Kau pasti sudah mengerti dengan baik kan? aku dan oppa tidak mungkin melakukan apa-apa. Dia pria dan aku seorang wanita, lalu kenapa? Kami berdua memang tidak meiliki perasaan apapun. Mengapa fikiranmu begitu dangkal. Kau datang kesini sama saja ingin membunuhku. Semua staf disini mengenalku sebagai istri dari pimpinan mereka. Jika kau bersikap seperti ini, apa yang akan mereka fikirkan terhadapku. Gunakan otakmu yang cerdas itu untuk berfikir Jinki-ssi. Kurasa cara kerja otakmu mulai berantakan karena harus menghafal nama-nama virus dan bakteri. Aigooo ” aku benar-benar sudah tidak bisa menahan emosiku menghadapi Jinki. Aku hanya bisa menggeleng sambil mengibas-ngibaskan tangan kananku untuk mendapatkan sedikit angin, ah emosi membuat suhu tubuhku naik saja.


“Tapi kau tidak tau bagaimana perasaanku, kau tidak tau bagaimana paniknya aku saat itu. kau tidak tau aku benar-beanr takut jika kau jatuh ke tangan Donghae hyung. kau hanya Miliku Kim Gyuri. Kau miliku, hanya untuku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dari sisiku. Termasuk hyungnim sekalipun” emosi jinki mulai memuncak, dia membalas perkataanku dengan sangat kasar. Kulihat matanya merah karena menahan emosi. Kedua tangannya mengepal dengan erat, membuatku menjadi sangat takut melihatnya. Jinki yang selalu bersikap manis padaku, Jinki yang tidak pernah berbicara dengan nada tinggi padaku, yang selalu memperlakukanku seperti tuan putri. Kini baru kulihat sisi lain dari dirinya, Jinki benar-benar sedang marah sekarang.


“Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu disini. Kau ini sulit sekali diberi penjelasan. Mengertilah sedikit, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan. Aku bahkan sudah bersuami sekarang. Aku pernah memberikan pilihan padamu, aku sudah memintamu untuk melepaskanku sebelumnya. Tapi kau menolaknya, kau yang menolak semuanya, kau yang memilih untuk tetap mempertahankanku di sisimu. Tapi jika sikapmu seperti ini, bagaimana bisa aku tetap bertahan di sisimu. Aku ini bingung, aku ini dalam keadaan yang sama sekali tidak pernah aku fikirkan sebelumnya. Kau tau aku selalu merasa berdosa jika mengingat keluargaku. Ayah dan ibuku, dan tentu saja orang tua Donghae oppa juga. Apa kau tau perasaanku yang tersiksa karena situasi ini, aku berada di antara kau dan oppa. aku berada diantara 2 orang yang sama-sama aku sayangi. Kau kekasihku dan dia suamiku, ini sungguh tidak masuk akal bukan? Hidupku benar-benar tidak masuk akal, iya kan? Coba kau bayangkan jika menjadi aku, apa yang akan kau lakukan, hah? Jawab aku…” tanpa sadar aku berbicara panjang lebar, hingga rasanya nafasku habis karena emosiku yang meluap-luap. Kini aku keluarkan semua isi hatiku, aku sampaikan semua kegalauanku yang selama ini kupendam sendiri. Yang selama ini menyiksa batinku. Membuatku berubah dari Kim Gyuri yang sebelumnya, membuaku menjadi Lee Gyuri yang selalu dihantui rasa ketakutan dan rasa bersalah yang sangat besar.


“Keure.., ikut aku sekarang. Aku ingin tau bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku, KHAZA….” Jinki mencengkram pergelangan tangan kananku dan menariku dengan sangat kasar. Dia memaksaku untuk mengikuti langkahnya, yang penuh emosi. Jinki yang saat ini sedang didepanku seperti bukan Jinki yang ku kenal, dia benar-benar marah dan memperlakukanku seperti ini. membuatku sangat shock dengan apa yang dilakukannya padaku.


“Appo.., lepaskan, Jinki-ah, sakiiit, lepaskan aku..” aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya. Tapi dia tetap tidak bergeming, dia menariku hingga aku hampir terseret mengikuti langkahnya. Apa sebenarnya yang diinginkan Jinki. Mau dibawa kemana aku sekarang? Ya Tuhan, aku bahkan tidak dapat melakukan apapun.

__ADS_1


To Be Continue…


__ADS_2