
Donghae’s POV
Setelah makan malam, aku dan Gyuri kembali ke kamar. Sebelumnya aku dan abouji mendiskusikan masalah hotel. Aku harus selalu memberitahunya mengenai perkembangan hotel setiap hari. Abouji sudah jarang sekali datang ke kantor karena dia sudah menyerahkan seluruh tanggung jawabnya padaku.
Saat ini Aku sedang duduk di depan meja kerja, sedangkan Gyuri duduk bersandar di atas ranjang dengan majah fashion di tangannya. Selalu seperti ini, aku disibukan dengan pekerjaan kantor yang sengaja aku bawa pulang kerumah. Walaupun aku harus beberapa kali menghubugi Haneul untuk menayakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku tetap bersemangat karena ada Gyuri di dekatku. Setiap saat aku akan merasa senang karena kehadirannya. Istriku benar-benar semakin membuatku tergila-gila sepertinya.
Aku meletakan bolpoint yang sejak tadi berada di genggamanku. Menganalisis data dan mencermatinya dengan teliti sebelum memutuskan untuk membubuhkan tanda tanganku disana. Sejak tadi aku melakukan ini dan sekarang mulai bosan.
Kulirik Gyuri yang sedang asik membolak-balik majalah fashion di tangannya. Dia terlihat sangat cantik karena menggulung semua rambutnya tanpa meninggalkan poni sama sekali. Dan itu membuat dahinya terlihat jelas.
“Gyuri-ah, kemarilah”
“Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang serius. Katakan saja dari situ, aku akan mendengarkannya”
Dia masih saja asik dengan benda di tangannya itu. Bahkan sama sekali tidak memandangku. Keterlaluan.
”Kemarilah. Aku ingin memelukmu. Cepatlah, aku sudah bosan dengan pekerjaanku”
“Jangan bermain-main oppa. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Kau harus menyelesaikannya malam ini juga karena besok sudah harus membawanya ke kantor. Berhenti bermain-main dan seriuslah”
“Hei, aku tidak sedang bermain-main. Cepat kemari, atau aku akan memaksamu di atas ranjang. Huh? Kau mau pilih yang mana?”
Gyuri mengangkat wajahnya dan kini menatapku dengan tatapan tajamnya yang terlihat lucu. Kau itu tidak pantas memasang tampang menyeramkan sayang! Wajahmu terlalu manis.
“Kau ingin memeluku kan? Ayo cepat berdiri, peluk aku sepuasnya”
Akhirnya dia bangkit dari ranjang dan menghampiriku. Kali ini berdiri tepat di samping kursi yang aku duduki. Aku hanya mendongak memperhatikan wajah manisnya yang terlihat kesal.
“Duduklah di sini”
Aku menepuk pahaku dan tersenyum, membuat dia menjadi terlihat malu.
“Jangan bercanda oppa”
“Aku tidak bercanda. Cepat duduk di sini. Aku ingin memelukmu sekarang. Hei, ayolah”
“Shireo, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Cepat selesaikan semuanya, ini sudah malam. Apa kau tidak mengantuk?”
“Sayang. Aku hanya memintamu duduk di pangkuanku,dan hanya ingin memelukmu. Apa tidak boleh? Cepat kemari”
Aku menarik pinggangnya dan mendudukannya di pahaku. Kenapa dia sulit sekali memenuhi permintaanku.
“Oppa, aku ini berat. Lepaskan aku”
“Kau fikir seberapa berat bobot tubuhmu. Aku bahkan tidak merasakannya sama sekali. Kau itu terlalu kurus menurutku”
Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di lehernya. Saat ini Gyuri duduk menyamping di pangkuanku. Tangan kananya melingkar di leherku. Sesekali dia mengusap dahiku yang sedikit berkeringat.
“Apa kau lelah bekerja setiap hari?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja sari mulutnya dan membuatku tersenyum senang. Aku harus sedikit mendongakan wajahku untuk menatap matanya yang berada dalam jarak yang sangat dekat saat ini.
“Ani… aku tidak pernah merasa lelah. Aku bahkan rela memberikan semua uangku jika kau mau menghabiskannya untuk berbelanja”
“Ish. Kau fikir aku ini gadis matre. Lagipula, kau bahkan tidak mau meminjamkan salah satu ATM milikmu padaku”
“Kau mau aku membuatkanmu ATM baru?”
“Apa kau benar-benar akan memberikannya?”
“Tentu saja. Tapi ada syaratnya”
“Menyebalkan. Selalu saja seperti itu. Kau pasti akan mengajukan sebuah syarat yang tidak-tidak. Iya kan?”
“Hei kau ini istriku. Aku bisa melakukan apapun sesuka hati. Kau tau, akhir-akhir ini aku rasa perhatianmu padaku semakin berkurang”
Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya dan menyadarkan kepalaku di bahu kananya.
“Maafkan aku karena sibuk dan tidak memperhatikanmu. Selama bekerja, aku bahkan sudah tidak pernah membantumu memakai dasi atau sekedar membuatkan sarapan seperti biasanya”
“Gwenchana. Kurasa kau sangat senang dengan pekerjaanmu sekarang. Kau sangat suka bekerja?”
“Yah, aku memang sangat menikmatinya. Tapi rasanya aku sudah mulai bosan”
“Sudah kubilang kan. Kau tidak perlu bekerja. Diamlah dirumah, dan bersikap manislah padaku. Kalau kau bosan, berhenti saja”
“Shireo, aku akan tetap bekerja untuk menghabiskan masa liburanku. Aku lebih bosan dirumah daripada di kantor”
“Baiklah jika itu yang kau inginkan”
Aku kembali mengangkat kepalaku untuk metapnya. Kemudian dibalas dengan sebuah senyuman yang terlihat sangat cantik. Gyuri mengulurkan tangannya untuk mengusap dahiku dan membelai rambutku lagi.
“Gyuri-ah, apa kau mencintaiku?”
“Hei, berhenti menanyakan hal konyol seperti itu”
“Aku serius. Apa kau mencintaiku?”
“Tentu saja oppa. Kau tidak perlu menanyakan hal bodoh seperti itu”
“Kau tahu, semakin hari aku semakin menyukaimu. Entahlah, pengaruhmu terlalu besar untuku”
“Kau fikir aku tidak merasakan hal yang sama? Aku juga sepertimu oppa. Aku bahkan merasa cemburu ketika kau selalu bersama Hanaeul unni di kantor”
Aku mengernyitkan dahiku ketika dia mengatakannya. Haha, ternyata dia tidak suka jika aku terlalu dekat dengan Haneul. Tapi apa yang bisa aku lakukan, kami memang sudah seharusnya seperti itu.
“Gyuri-ah, apa boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Em, katakan saja”
Aku sedikit kesulitan untuk mengatakan hal ini. Apakah dia tidak akan melemparku setelah aku berkata seperti ini? Tapi aku benar-benar ingin mengatakannya.
“Gyuri-ah. Bisakah kita berdua melakukannya lagi?”
“Mworago? Katakan yang jelas oppa, aku tidak mengerti”
“Ayo kita lakukan apa yang pernah kita lakukang di Bali!”
“MWO?”
Yah, aku sudah tau respon ini yang akan dia berikan padaku ketika mendengar aku mengatakannya. Dia menjauhkan wajahnya dariku dan menatapku dengan sebuah tatapan aneh yang aku sendiri tidak mengerti apa artinya.
__ADS_1
“Em…. Apakah aku harus…. Eng….”
“Ah, ani… lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Hahaha”
Bagus. Aku rasa aku sudah mempermalukan diri sendiri dengan mengatakan hal bodoh seperti itu. Aigoo. Apa aku terlihat seperti pria yang tidak memiliki sopan santun sekarang.
“Ani…, aku rasa…. Hem…”
Diluar dugaan. Kali ini dia malah tersenyum menatapku. Sepertinya sebuah sinyal positif. Haha, Lee Donghae. Kau benar-benar hebat.
“Aku mencintaimu”
Sebuah kalimat yang aku ucapkan untuk mengawali ciumanku. Dan beberapa detik kemudian, dia sudah memejamkan mata saat aku menjangkau bibirnya. Gyuri masih berada di pangkuangku yang saat ini sedang duduk di meja kerja. Kedua tangannya melingkar di pundaku, sedangkan tangan kananku kini merengkuh lehernya.
***
Gyuri’s POV
Aku benar-benar tidak bisa bernafas ketika kurasakan bibirnya sudah bergerak fasih menyapu bibirku. Sensasi lain kembali aku rasakan saat tangan kananya dengan lembut mengusap punggungku. Beberapa saat kami tenggelam dalam suasana sebelum akhirnya suara ketukan pintu menyadarkan kami.
Tok tok tok…
Aku melepaskan pelukanku di lehernya dan segera bangkit dari dudukanku. Sebelumnya aku merapihkan penampilanku yang terlihat tidak karuan. Kemudian berjalan menuju pintu dan menariknya terbuka.
“Oemma….”
“Maaf mengganggu kalian malam-malam seperti ini. Bisa kalian keluar sebentar? Ada seseorang yang datang. Ayo cepat temui dia di bawah”
“Nugu?”
“Turun saja. Dia pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian berdua”
“Araseo. Aku akan turun sebentar lagi”
Aku kembali menutup pintu setelah oemma pergi. Baiklah, aku rasa ‘pekerjaan’ kami harus ditunda selama beberapa saat. Karena aku juga ingin tahu, siapa yang datang bertamu malam-malam seperti ini.
“Ada apa?”
Oppa menatapku serius ketika aku berjalan menuju cermin dan merapihkan rambutku.
“Ada tamu di bawa. Aku tidak tahu siapa yang datang. Dan oemma menyuruh kita untuk cepat turun”
“Hem, baiklah. Aku rasa ‘pekerjaan’ kita harus ditunda selama beberapa saat. Awas saja kalau setelah ini kau berubah fikiran”
“OPPA….”
Aish, selalu saja seperti itu. kenapa dia suka sekali membuatku menjadi malu?
***
Aku turun dari kamar, menuju ruang tengah. Donghae oppa masih di dalam kamar untuk membereskan beberapa berkas yang masih berantakan. Aku melihat beberapa koper besar tergeletak di lantai. Oemma dan appa sedang berhadapan dengan seorang gadis. Hem? Han Hyomin? Ada apa dia datang kesini? Dan kenapa kopernya banyak sekali?
“Gyuri unni. Anyeong…”
Hyomin melambaikan tangannya saat menyadari keberadaanku dia tampak sumringah saat menyapaku yang baru saja turun. Han Hyomin adalah adik sepupuku, saat ini dia duduk di tingkat 3 SMA. Dia memang tinggal di Seoul, tapi cukup jauh dari kediamanku. Kedua orang tuanya adalah pembisnis. Sama seperti ayahku. Bedanya, ibu Hyomin. Bibi Hwang. Dia juga membantu suaminya. Han ahjusi menjalankan bisnis keluarga yang sudah berjalan beberapa tahun ini.
Bibi Hwang adalah adik kandung ibuku. Mereka berasal dari keluarga Park. Tapi kemudian menikah dengan keluarga dari marga yang berbeda. Oleh karena itu margaku mengikuti ayah menjadi Kim Gyuri, dan Hyomin juga mengikuti marga ayahnya menjadi Han Hyomin. Tapi sekarang nama depanku sudah berganti dengan marga suamiku Lee Gyuri. Dan aku sangat menyukainya.
“Gyuri-ah cepat duduk di sini”
Oemma kini melambai ke arahku dan memerintahkanku untuk segera duduk diantara mereka.
Kulangkahkan kakiku menuju sofa kemudian duduk di samping Hyomin.
“Anyeong…”
“Unni, sudah lama tidak bertemu. Aku sangat senang bisa datang ke sini”
Aku mengacak rambut Hyomin gemas, membuat dia menggembungkan pipinya kesal.
“Unni-ya, jangan mengacak rambutku seperti itu”
Ujarnya sembari merapihkan poninya yang berantakan. Sedangkan aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya. Oemma dan appa menggelengkan kepala melihat kelakuan kami. Aku memang sangat suka membuat dia kesal. Dia itu terlalu kekanak-kanakan untuk ukuran seorang gadis berusia 17 tahun.
Beberapa saat kami mengobrol mengenai Hyomin. Tapi aku masih belum mengerti ada apa dia datang dengan beberapa koper itu.
“Donghae oppa…”
Hyomin tampak sangat senang ketika melihat Donghae oppa yang baru saja turun dari kamar. Dia segera bangkit dari dudukannya dan berlari kemudian memeluknya erat. Aigoo, apa yang dia lakukan pada suamiku?
“YAK! Han Hyomin!!”
Ujarku dengan setengah berteriak. Oemma dan appa tempak terkekeh pelan melihat responku. Tentu saja aku tidak serius melakukannya. Aku sama sekali tidak cemburu karena sikap Hyomin pada Donghae oppa memang selalu seperti itu. Dia bahkan berulang kali mengatakan padaku jika dia menyukai suamiku. Keterlaluan.
“Hei, sudah lama tidak bertemu”
Donghae oppa melepaskan pelukan Hyomin kemudian mengacak rambutnya. Tapi ekspresi yang ditunjukan Hyomin sangat berbeda dari sebelumnya. Dia malah tersenyum sumringah dan membiarkan rambut acak-acakannya begitu saja. Aigoo, berbanding terbalik dengan ekspresi yang dia tunjukan padaku sebelumnya. Aish.
“Donghae-ah, Hyomin-ah. Cepat duduk di sini”
Ayah melambaikan tangan kepada Donghae oppa dan Hyomin yang masih berdiri di sana. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa melakukan apapun.
Mereka berdua akhirnya duduk di sofa. Dan kami serius mendengarkan setiap hal yang disampaikan oleh ayah dan ibuku.
“Han Ahjusi dan bibi Hwang sedang pergi ke luar kota. Jadi mereka menitipkan Hyomin disini. Kalian berdua bisa membantu untuk menjaga Hyomin kan?”
“Em, kau akan tinggal di sini? Selamat datang”
Donghae oppa melempar pandang kea rah Hyomin dan tersenyum padanya. Sedangkan aku hanya mengangguk meng-iya-kan. Tinggal di sini? Pastinya aku akan sangat senang karena bisa membuat dia kesal. Semoga saja gadis manja itu tidak bersikap menyebalkan.
“Mulai hari ini Hyomin akan tinggal di sini sampai ayah dan ibunya kembali. Jarak dari sini ke sekolahnya tidak begitu jauh, jadi paman dan bibimu menitipkannya di sini”
“Hem, baguslah. Aku jadi mempunyai teman dirumah sekarang”
Beberapa saat kami mengobrol di ruang tengah tapi kemudian Hyomin mulai mengantuk dan menuju ke kamarnya. Dia tidur di kamar tamu yang memang disediakan untuk kerabat yang akan menginap di sini. Karena sudah larut malam, aku dan Donghae oppa juga memutuskan untuk kembali ke kamar.
***
Donghae’s POV
Aku menutup pintu kamar dan memastikannya terkunci dengan sempurna. Gyuri melangkah di depanku dan kurasa dia sudah sangat mengantuk. Sesekali dia memijat bahu dan lehernya yang mungkin terasa kaku. Hem, bagaimana aku bisa memulainya lagi jika seperti ini.
__ADS_1
“Apa kau mau tidur sekarang?”
Ujarku ketika melihatnya naik ke atas ranjang dan bersiap untuk berbaring.
“Ini sudah malam, oppa. Dan Kurasa kau juga harus segera tidur”
“Tapi aku belum mengantuk sama sekali. Kau tidak boleh tidur, sayang”
Aku menahan tanganannya, membuat dia kembali bangkit dan duduk di atas ranjang.
“Ayo kita lakukan hal yang menyenangkan”
“Mwo?”
“Teruskan ‘pekerjaan’ kita yang sebelumnya tertunda. Oette?”
“Engh? Hem… tapi….ya, baiklah…”
Aku melihat wajahnya memerah dan matanya jadi tidak bisa fokus. Haha, sebuah espresi yang selalu dia tunjukan ketika aku menggodanya dengan cara seperti itu. Lucu sekali.
“Boleh aku naik ke ranjang?”
Aku mengedipkan sebelah mataku dan tersenyum lebar menatapnya. Sedangkan Gyuri menjadi semakin salah tingkah sekarang.
“Ah… ya….”
Aku segera naik ke atas ranjang dan duduk tepat di sampingnya. Aku menarik tangannya hingga kini kami berdua duduk berhadapan. Aku mengecup dahinya singkat dan membuat dia tersenyum lembut. Kuulurkan tangan kananku untuk membuka gulungan rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya itu tergerai sempurna, jatuh ke bahunya.
Perlahan aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan menjangkau bibirnya. Belum sampai satu detik aku menyentuhnya, tiba-tiba suara ketukan pintu kembali merusak semua konsentrasiku.
Tok tok tok…
Aish, siapa lagi sekarang? Jangan sampai aku harus kembali menghentikan ini. Aigoo, kenapa sulit sekali mendapatkan privasi dirumah ini.
“Nuguseo?”
Ujar Gyuri dengan sedikit berteriak. Dia sudah bersiap bangkit dari posisinya. Tapi aku menahannya dengan tanganku.
“Biar aku saja yang membuka pintu”
Balasku kemudian segera turun dan ranjang dan berjalan menuju pintu. Dan yang pertama kali aku lihat adalah seorang gadis dengan boneka beruang besar di pelukannya.
“Hyomin-ah? Ada apa?”
“Oppa, aku tidak bisa tidur”
Mwo? Apa maksud gadis ini sebenarnya? Kenapa dia malah datang ke kamarku jika tidak bisa tidur.
“Hyomin-ah…”
Gyuri akhirnya turun dari ranjang dan kini berdiri di sampingku, berhadapan dengan Han Hyomin yang sedang menampakan wajah memelasnya yang terlihat sangat putus asa.
“Oppa. Bolehkan aku meminta Gyuri unni untuk menemaniku tidur?”
“MWO?”
Aku benar-benar terkejut mendengar sebuah pernyataan yang baru saja keluar dari mulut gadis manja ini. Kenap seperti ini? Jika dia membawa Gyuri, berarti aku akan tidur sendirian di sini. Han Hyomin, kau tau unni-mu sedang berada di bawah kekuasaanku sekarang. Dan kenapa kau malah akan menariknya pergi? Aigoo.
“Kau tidak berani tidur sendiri?”
Ujar Gyuri dengan suara pelan. Aku rasa dia juga merasa bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.
“Ini pertama kalinya aku menginap di sini. Ayolah unni temani aku aku tidur”
Aku hanya menghembuskan nafas berat ketika melihat Hyomin menangkupkan kedua tangannya dengan tatapan memohon. Ya Tuhan, jika seperti ini mana mungkin aku mencegah Gyuri untuk pergi.
“Apakah harus aku? Hem, bagaimana jika Bibi Jung saja. Aku tidak bisa tidur bersamamu Hyomin-ah”
“Unni, Mommy-ku bilang kalian harus menjagaku degan baik kan? Jika itu yang kalian lakukan, berarti kalian tidak menjagaku dengan baik”
“Ah, ani… ani… bukan itu maksudku. Tapi apa tidak ada pilihan lain? Apa harus aku yang menemanimu tidur di sana. Hem, bagaimna kalau aku temani sebentar, setelah itu aku kembali ke sini. Oette?”
“Shireo, aku ingin ditemani tidur”
Aku hanya terdiam menyaksikan percakapan kedua gadis yang menurutku memang terlihat mirip. Keduanya sama-sama keras kepala dan manja. Tapi untuk kali ini aku bisa melihat dengan jelas, Hyomin memang jauh lebih manja dari istriku.
“Ayolah,Han Hyomin. Jangan manja seperti ini”
Hyomin mulai terlihat kesal. Sejenak dia tampak berpikir kemudian tersenyum aneh. Aku rasa dia sudah punya jalan lain agar istriku tidak harus menemaninya tidur di sana. Baguslah, dengan seperti itu malam ini aku bisa memiliki istriku di kamar ini.
“Hem… kalau begitu, Donghae oppa saja yang menemaniku mala mini. Oette?”
“MWORAGO?”
Aku dan Gyuri beteriak bersamaan ketika mendengar kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Hyomin hanya meringis sembari mengusap kupingnya yang mungkin terasa pengang.
“Andwe. Kau tidak boleh meminta Donghae oppa untuk menemanimu. Apa kau sudah gila?”
“Aku kan sudah bilang, tidak ada pilihan lain unni. Hanya kau yang bisa menemaniku tidur”
“Aish,baiklah… baiklah… aku akan menemanimu”
Akhirnya kau menang Han Hyomin-ssi. Kau berhasil mendapatkan istriku sekarang. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku juga harus merengek agar Hyomin tidak mengambil Gyuri dari sisiku. Apa tidak terlihat seperti pria gila? Aigoo, oemonim ayo bantu menantu kesayanganmu ini.
“Kau akan tidur bersama Hyomin?”
Tanyaku coba memastikan. Dan sebenarnya aku tau jawaban apa yang akan dia katakan. Hemh, kecewa lagi untuk malam ini.
“Oppa, kau tidak keberatan kan?”
Hyomin menarik-narik tanganku dengan manja dan menunjukan aegyo-nya yang memang terlihat manis. Mana bisa eku menolah permintaannya. Walaupun aku sangat menginginkan istriku, tapi apa boleh buat.
“Ahm… yah, kurasa Gyuri unni juga baik-baik saja jika harus tidur bersamamu”
“Kalau begitu, mulai malam ini dan seterusnya. Gyuri unni akan tidur bersamaku. Oke?”
“MWO?”
Han Hyomin, bunuh saja aku sekarang. Apa masudmu dengan hal itu. malam ini dan seterusnya. Itu berarti kau sengaja mau mengambil unni-mu dari sisiku? Argh…, bagaimana bisa aku… Aish…
Yah, aku hanya bisa pasrah di depan pintu kamar yang masih terbuka. Melihat Gyuri yang melangkah di belakang Hyomin, dia tampak berbalik sesaat menghadapku sebelum kembali melangkahkan kakinya mengikuti Hyomin. Oke, aku rasa aku memang tidak bisa melakukannya lagi dalam waktu dekat ini. Hemh…
__ADS_1