OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Malam pertama


__ADS_3

Donghae’s POV


Gyuri sedang berada di kamar mandi. Ah apa yang harus aku lakukan disini. Ya, ini adalah kamar Gyuri. Kamar yang digunakan istriku setiap hari. Tidak asing rasanya bagiku, karena aku sudah sering masuk ke sini. Tapi sekarang, kamar ini adalah kamarku juga, kamar kami tepatnya. Meja kerjaku berada di dalam sini, pasti menyenangkan rasanya bisa menyelesaikan tugasku didalam ruangan diamana Gyuri berada. Aku menjadi tambah semangat mengerjakan pekerjaan kantor.


Aku keluar dari kamarku dengan membawa baju ganti dan sebuah handuk kecil. Sebaiknya aku mandi di kamar mandi utama saja, entah sampai kapan Gyuri akan menghabiskan waktunya di kamar mandi.


“Donghaeya, mana Gyuri. Eng… dan kenapa kau masih menggunakan kemeja itu. belum mandi?” Tanya oemonim, yah oema Gyuri dan mulai sekarang aku harus memanggilnya oemonim juga.


“Kamar mandi sedang dipakai Gyuri, hem jadi aku memutuskan untuk mandi di kamar mandi utama saja” jawabku sambil mengangkat handuk yang sedari tadi kupegang.


“Aish, kenapa kalian masih malu-malu. Hari ini sudah resmi menjadi suami istri. Menurut oema, kenapa kalian tidak masuk ke kamar mandi berdua saja, bisa menghemat waktu dan tempat kan” ujar oemonim sambil terkekeh dan menutup mulutnya dengan punggung tangan, geli sekali tertawanya. Ah coba kalau dia tau putri kesayangannya itu bahkan mengusirku ketika dia hendak mengganti baju. Bagaimana mungkin kami masuk ke kamar mandi berdua.


“Anyio, oemonim. Kami.. em” aku tidak dapat meneruskan perkataanku, tidak tahu harus menjawab apa.


“Gwencana, aku tau kalian berdua masih canggung, tapi lama-kelamaan akan mulai terbiasa” lanjutnya sambil menepuk bahuku dan berlalu.


Aish, oemonim membuatku berfikiran yang tidak-tidak saja.


—


Gyuri’s POV


Setelah selesai mandi, aku turun ke bawah, kulihat mereka sedang duduk bersama di ruang makan. Donghae oppa, sudah bergabung bersama mereka, sepertinya dia sudah mandi, karena ia sudah mengganti tuxedo yang tadi ia kenakan. Kami makan malam bersama dengan suasana yang hangat. Setelah makan malam selesai, kami berkumpul di ruang tengah untuk sekedar berbincang-bincang.


“Donghae dan Gyuri, maafkan ayah sepertinya bulan madu kalian harus ditunda dulu, karena Donghae masih harus mengurusi hotel cabang di Jeju yang sedang dalam masalah. Kalian berdua tidak apa-apa kan?” pertanyaan dari ayah sontak membuatku kaget. Huwaa… bulan madu. Aku bahkan tidak pernah terfikirkan hal itu. Yah walaupun hanya sekedar pergi berlibur berdua dengan Donghae oppa, tapi tetap saja sebutannya adalah bulan madu.


“Gwencana sajangnim, aku akan tetap fokus pada masalah perusahaan. Untuk hal itu,eng.. bisa dibicarakan nanti” jawab Donghae oppa agak sedikit bingung


“Mengapa kau memanggilku dengan kata sajangnim, kau adalah menantuku, gunakan sebutan sajangnim hanya untuk di kantor saja. Mulai sekarang panggil aku Abouji, ara??” ujar ayahku


“Em… Araso, Abouji” jawab oppa dengan dengan ekspresi canggung


Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan obrolan mereka. Tidak terasa sekarang sudah larut, sedangkan kami masih asik berbincang di ruang tengah


“Donghaeya, sepertinya Gyuri sudah mengantuk dia pasti sangat kelelahan setelah seharian menyapa para tamu. Cepat pergi tidur” ujar Oemaku. Sambil mengedikan matanya ke arahku, apa maksudnya?


“Anyio, silahkan lanjutkan perbincangan kalian, aku tidak apa-apa” jawabku singkat. Sebenarnya aku sudah sangat lelah, sekujur tubuhku pegal sekali.


“Tapi Donghaeya, jika kalian berdua sama-sama lelah, sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk melakukannya malam ini. Kurasa agak tidak baik juga untuk Gyuri. Lagipula masih ada besok dan malam-malam selanjutnya kan”


Mwo? Perkataan ayahku barusan, membuat kami menjadi salah tingkah. Kulihat wajah Donghae oppa memerah dan aku hanya bisa tertunduk malu.


—


Donghae’s POV


Kami berdua masuk ke dalam kamar. Gyuri masuk mendahuluiku dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kelihatannya di benar-benar lelah. Aku menyusulnya dari belakang, dan menutup pintu kamar kami. Aku masih terdiam di depan pintu memperhatikan gerak-geriknya. Ya tuhan kuatkan aku, jangan sampai malam ini aku kehilangan kendali. Sangat sulit rasanya berada di dekat seorang gadis yang kita cintai, rasanya aku ingin sekali memeluknya saat ini.

__ADS_1


“Oppa, kau tidak berniat melakukan apapun kan malam ini?” Gyuri bangkit dari posisinya dan menatap tajam ke arahku. Yah sebuah pertanyaan yang tepat Lee Gyuri, itu bahkan sesuatu yang sedang dipikiranku saat ini.


“Apa maksudmu?” jawabku berpura-pura tidak mengerti


“Aku ingin mengatakan padamu, kita berdua tidak menghendaki pernikahan ini kan? Jadi aku tidak ingin kita melakukan suatu hal yang benar-benar pasangan suami istri lain lakukan”


“Lee Gyuri, kalau berbicara jangan berbelit-belit seperti itu. Bilang saja kau tidak ingin aku menyentuhmu kan?” yah, kita berdua memang tidak menghendaki pernikahan ini, maksudku kaulah yang tidak menghendakinya.


“Geureyo, awas saja kalau kau melintasi batas ini ketika kau tidur, maka aku tidak segan-segan mencekik lehermu” jawabnya sambil meletakan sebuah boneka besar ditengah tempat tidur kami, untuk memisahkan wilayah tidurku dan dia. Untungnya dia tidak menyuruhku tidur di sofa, seluruh badanku saat ini sudah sakit semua. Tapi apa maksud ancamannya itu, haha kau fikir aku takut padamu gadis manja.


“Mwo? Bwosunmariya? kau fikir aku tertarik dengan tubuhmu yang lurus itu, tch” ujarku sambil berjalan menghampirinya ke tempat tidur. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku tidak akan melakukan apapun padanya, hanya saja aku menyampaikannya dengan kalimat lain yang lebih sesuai dengan gayaku menghadapinya.


“HYA… apa katamu tadi, bagaimana mungkin tubuh seksiku ini kau bilang ‘lurus’. Aish jinja…” haha lucu sekali gadis ini. Kalau aku jujur mengatakan mengenai tubuh undahmu itu, aku yakin kau akan segera melayang terbang ke angkasa jika mendengarnya.


“Sudahlah berhenti mengoceh dan cepatlah tidur, aku sudah sangat lelah” jawabku dengan mata terpejam, aku benar-benar sudah sangat lelah hari ini. Beberapa saat kemudian aku mengernyitkan mataku, mencoba meliriknya yang sedang terbaring di sampingku. Ternyata gadis manis ini sudah tertidur, lucu sekali wajahnya ketika tidur, sangat damai dan polos. Andai saja kau tau bagaimana perasaanku ini padamu Lee Gyuri. Aku tidak usah berpura-pura bersikap acuh padamu. Aku beringsut dari posisi tidurku, mengambil boneka besar yang memisahkan jarak kami berdua, dan meletakannya disamping kanan Gyuri. Dengan seperti ini, aku bisa lebih dekat dengannya.


Whoaam… aku benar-benar mengantuk sekarang. Aku menarik selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Memejamkan mataku dan segera terlelap.


Gyuri’s POV


Ah, sudah jam berapa ini. aku mulai terbangun dari tidurku tetapi masih belum membuka mataku. Rasanya sulit sekali untuk membuka mata pagi ini, aku benar-benar lelah setelah acara kemarin. Ah seluruh badanku semakin sakit jadinya.


Tunggu sebentar, seperti ada yang menindih pinggangku. Omo aku baru ingat, tadi malam aku tidur bersama Donghae oppa. Perlahan aku membuka mataku, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wajah Donghae oppa tepat didepan mataku, hidung kami bahkan saling bersentuhan, dapat kurasakan hembusan nafasnya tepat di hidungku, dan kulihat tangan kanannya melingkar sempurna di pinggangku. Aaaaa…. Apa yang dia lakukan padaku. Reflex aku berteriak keras


“OEMAAAAAAAAAAA…..” aku berteriak sangat keras bangkit dari posisi tidurku, aku menarik selimut dan melingkarkannya metupi tubuhku. Kulihat Donghae oppa menyernyitkan matanya dan terbangun


“HYA…Oppa, apa yang kau lakukan padaku” ujarku setengah berteriak


“Mwo?Bwosun suriya?” katanya sambil bangkit dari tidurnya dan menggaruk kepalanya. Dia masih mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba benar-benar bangun.


“Kemana boneka itu, boneka besar yang kutaruh di tengah, batas wilayah tidur kita berdua, kenapa kau melewati batas itu?” tanyaku masih dengan nada tinggi


“Boneka itu maksudmu?” dia melayangankan telunjuknya ke samping kananku. Omo, mengapa bonekanya bisa berpindah kesitu, huwa aneh sekali. Apa boneka itu berpindah sendiri ke sampingku.


“kenapa bisa ada disitu?” tanyaku bingung


“mana aku tau, aku tidur dan sekarang terbangun gara-gara teriakanmu tepat di depan wajahku Nyonya Lee” jawabnya didepan wajahku.


“Gyurina, gwencanayo?” aku mendengar suara oema dari luar kamarku


“em.. d..de oema … gwencana” jawabku, aku melirik Donghae oppa yang sedang menguap, dia meregangkan badannya dengan tanpa dosa, setelah dia membuatku syok karena kejadian barusan.


—


Pagi ini aku langsung berangkat ke kampus, aku tidak mau berlama-lama tidak mengikuti kuliah. Donghae oppa seperti biasa mengantarku sampai ke depan pintu gerbang kampus. Semuanya pasti sudah tau statusku saat ini, tapi aku merasa biasa saja karena tidak ada yang berubah dengan hidupku, aku tetap Kim Gyurin yang dulu, tidak maksudku Lee Gyuri.


Aku keluar dari mobil dan memberikan salam kepada Donghae oppa. kulihat mobilnya mulai menjauh. Dan akupun segera berajalan masuk menuju fakultas. Namun tiba-tiba seseorang menghentikanku.

__ADS_1


“Jinki-ah..” sapaku.


Kami berjalan menuju café yang terletak di dalam lingkungan kampus. Pagi ini aku memang tidak ada kelas, jadi masih ada waktu untuk berbincang sebentar dengan Jinki


“Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja bukan?” pertanyaan Jinki mengawali obrolan kami pagi ini


“Ne.. aku baik-baik saja, tidak usah khawatir”


“Tidak terjadi sesuatu kan?” lanjutnya membuatku bingung


“Bwosunmariya? Sesuatu apa?”


“Anyio, lupakan saja. Aku percaya kau tidak mungkin melakukannya dengan Hyungnim”


“Oh.. itu, em.. keure… tentu saja kami tidak mungkin melakukannya. Kau ini ada-ada saja” ujarku dengan sedikit tertawa, dan menepuk pundaknya. Aish, Lee Jinki kau membuatku menjadi salah tingkah dengan pertanyaan anehmu itu.


“Kau tau, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Aku khawatir kalian akan benar-benar…, yah kau tau, seperti itu maksudku”


Anak ini berlebihan sekali, sampai tidak bisa tidur. Aku bahkan tidur sangat nyenyak tadi malam sampai tidak menyadari boneka besar yang kuletakan diantara aku dan oppa sudah berpindah tempat.


“Yah, kau sudah tau sendiri. Kami berdua tidak menghendaki pernikahan itu. Jadi tidak usah khawatir” jawabku.


Aku segera masuk ke kelas untuk mengikuti kuliah hari ini.


Donghae’s POV


Senin pagi aku harus kembali ke kantor. Benar-benar keterlaluan, bahkan baru kemarin aku melaksanakan pernikahanku dan sekarang harus kembali ke kantor. Tapi apa boleh buat, ini sudah tugasku dan aku harus bertanggung jawab dengan semua pekerjaanku ini.


“HYA… Lee Donghae…” Teriak Eunhyuk setengah berlari menghampiriku. Kami berdua berjalan menuju ruang kerja. Walaupun secara strata Eunhyuk adalah bawahanku tapi aku tidak pernah menganggapnya seperti itu, kita bahkan berteman sejak di universitas. Dan sampai saat ini sikapku padanya tidak berubah sama sekali.


“Aish, kau hampir terlambat hari ini. sering sekali kau datang terlambat, ingat aku atasanmu. Kau bisa kuberi surat peringatan. Jangan sampai aku memberikan surat pemecatan padamu Lee Hyukjae” ujarku dengan nada bercanda


“Eits kau ini, mengapa bersikap begitu pada teman sendiri. Oh iya bagaimana semalam, apakah menyenangkan?” Bocah tengik ini selalu saja melontarkan sebuah pertanyaan mengejutkan. Kau membuatku salah tingkah dengan pertanyaan konyolmu itu Lee Hyukjae.


“Bwosunsun suriya. Semalam kami hanya tidur” jawabku tak semangat


“Waeyo? Apa kalian berdua benar-benar lelah sampai tidak sempat untuk em.., yah seperti itu, haha” ujarnya sambil tertawa keras.


“Lee hyuk jae. Singkirkan fikiran kotormu itu aish, jinja..” aku mempercepat langkahku dan meninggalkannya dibelakangku.


“HYA LEE DONGHAE” teriaknya keras hingga membuat orang-orang disekitar kami memperhatikannya dengan tatapan aneh.


“Er…eng…maksudku Sa..sajangnim, hahaha” ujarnya sambil tertawa pahit dan menatap ke sekeliling.


Tch, dasar.., aku segera masuk ke dalam ruanganku. Hari ini kami akan membahas masalah hotel cabang di pulau Jeju yang sedang mengalami masalah. Sepertinya minggu-minggu ini akan sangat melelahkan. Ah Lee Donghae, ayolah semangat, semuanya akan dengan sangat mudah kau selesaikan, batinku.


 

__ADS_1


To Be Continue…


__ADS_2