OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Together 1


__ADS_3

….Kim Family’s House….


 


 


 


Gyuri’s POV


 


Malam ini aku harus sudah berada di atas ranjang di kamar tamu. Yah, sejak 4 hari ini aku tidur bersama Hyomin dan membiarkan Donghae oppa tidur sendirian. Ini adalah malam keempatnya menguasai ranjang di kamar kami seorang diri. Aku tidak bisa merasakan tangan kekarnya memeluk tubuhku saat tertidur, bahkan tidak bisa melihat rambut acak-acakannya lagi ketika bangun tidur.


Hemh, rasanya sangat rindu. Padahal baru beberapa malam kami berpisah. Itupun hanya diatas tempat tidur, karena kami berdua masih bisa bertemu di kantor ketika melaksanakan aktivitas. Kami juga menghabiskan waktu luang di ruang tengah untuk membaca buku.


 


Ah, tapi tetap saja aku merasa jika dekapannya itu memang sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat menyenangkan. Dia akan memeluk tubuhku dari belakang dan membiarkan punggungku merasa hangat karena menempel dengan perutnya. Atau dia akan menariku dalam pelukannya dan membiarkan aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, menghirup nafas disana hingga akhirnya terlelap. Aku juga rindu dia menggodaku ketika keluar dari kamar mandi. Atau merengek meminta aku memberikan ciuman selamat pagi. Aku sudah berulang kali mengatakan jika aku tidak akan memberikan ciuman selamat pagi karena itu menjijikan. Dan sekarang aku malah merasa sangat menginginkannya. Yah, kurasa aku memang sudah tergila-gila dengan pria tampan itu. Tuan Lee.


 


***


 


“Unni, apakah kau tau apa yang terjadi padaku di sekolah hari ini?”


 


Hyomin naik ke atas ranjang setelah sebelumnya mengganti baju. Dia mengenakan dress tidur selutut berwarna merah muda, dengan gambar beruang lucu di depannya. Kurasa gadis ini memang sangat suka dengan binatang besar  itu.


 


Aku mengernyitkan alisku dan mengalihkan perhatianku dari sebuah novel yang sedang aku baca. Kebiasaanku sebelum tidur adalah membaca. Apapun itu, majalah, novel, atau buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliahku. Jika membaca, aku akan jadi cepat mengantuk dan akhirnya tertidur.


 


“Unni, kau tau. Di sekolahku ada seorang siswa baru. Pindahan dari sekolah lain. Dan dia adalah seorang perempuan”


 


“Lalu?”


 


“Tentu saja aku kesal. Sekarang bertambah lagi, satu saingan baru di kelasku. Bagaimana jika nanti dia menyukai pria yang saat ini diam-diam  sedang aku incar?”


 


“Hei, kau ini lucu sekali. Mengapa menunduh sembarangan. Jika kau tidak mengatakannya, mana mungkin pria itu tau. Memangnya bagimana wajahnya? Siswa baru itu? Apakah dia lebih cantik dari aku?”


 


“UNNI…. Kenapa kau malah membandingkannya denganmu? Aish, kau menyebalkan”


 


Hyomin tampak membuang muka dengan tampang kesal. Dia menggembungkan pipinya dan terus saja mencibir , tanpa melihat wajahku. Aigoo, remaja labil ini sangat emosional. Apa aku juga seperti itu ketika melewati usia 17 tahun? Memalukan.


 


“Hei, kau ini kenapa? Aku kan hanya bercanda. Lalu bagaimana dia sekarang? Apa siswa baru itu baik?”


 


“Aku tidak tahu, karena aku juga tidak terlalu dekat dengannya. Semoga saja dia tidak banyak bertingkah di dalam kelas. Karena aku sangat  tidak suka dengan gadis yang seperti itu”


 


“Aigoo. Aku tidak menyangka kau seperti ini. Dan teman sekelas yang kau sukai itu. Apa dia tau kalau kau menyukainya?”


 


Gadis disampingku ini tiba-tiba menatapku dengan tajam. Raut wajahnya masih menampakan ekspresi kesal sedari tadi. Sejak kemarin sebelum tidur, aku harus mendengarkan ocehannya yang tidak sebentar. Aku juga harus menjawab setiap pertanyaan darinya tentang segala hal. Yah, memang kadang menyebalkan. Tapi Han Hyomin cukup menyenangkan, karena dia mengekspresikan setiap perasaannya. Dan itu membuat dia terlihat lucu.


 


“Unni, jika pria itu tau aku menyukainya. Berarti aku tidak mengincarnya diam-diam. Aish, unni pabo”


 


MWORAGO? PABO? Aish, keterlaluan. Pantaskah ia mengatakan hal itu padaku. Aku ini lebih tua darinya. Dan itu adalah perkataan yang sangat tidak sopan.


 


“YAK! Jangan mengatakan aku bodoh. Han Hyomin sayang”


 


Aku mendorong kepalanya dengan kepalan tanganku, membuat dia merengut kesal.


 


“Unni… jangan menyentuh kepalaku. Itu tidak sopan”


 


Cish. Tadi kau mengataiku bodoh. Dan sekarang kau melarangku menyentuh kepalamu karena tidak sopan. Bagus. Remaja sekarang memang seperti ini ternyata. Keterlaluan.


 


“Han Hyomin. Kau sudah selesai bercerita kan? Baiklah, aku mau tidur”


 


Aku meletakan novel yang masih dalam genggamanku dan segera menarik selimut yang sejak tadi sudah menutupi kakiku. Aku menarik selimut sampai dada kemudian berbaring dengan nyaman dan mulai memejamkan mata.


 


“Unni-ya… Gyuri unni… “


 


Hyomin yang memang masih dalam posisi duduk malah menggoyangkan bahuku berkali-kali dan membuat aku kembali membuka mata. Apa lagi sebenarnya yang diinginkan gadis ini?


 


“Unni-ya… Jangan tidur sebelum aku tidur. Dan sekarang aku belum mengantuk. Jadi kau harus menemaniku sampai aku tidur. Oke?”


 


“Hehm….”


 


Aku hanya menghembuskan nafas berat dan mengagguk pasrah. Aku rasa tidak akan memiliki alasan untuk menolaknya, karena dia pasti akan mengatakan. “Mommy dan Daddy, menyuruh kalian semua untuk menjagaku kan? Jika seperti ini, aku merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Dan aku akan mengatakan itu pada mereka”. Dan aku tidak ingin kata-kata itu kembali keluar dari mulutnya seperti kemarin. Saat dia memintaku untuk menemaninya. Aku memang memenuhi keinginannya dan mengikutinya masuk ke kamar. Tapi sebelum tidur, aku masih membujuknya agar membiarkan aku pergi dan kembali ke kamarku. Dan yang dikatakannya adalah kalimat itu. Tentu saja aku langsung menurut. Bagaimana tidak. Bibi Hwang dan Han Ahjusi, itu paman dan bibiku satu-satunya. Mereka sangat baik dan juga sangat menyayangiku. Tentu saja aku juga harus menyayangi putri mereka satu-satunya ini.


 


“Gyuri unni. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu?”


 


Hyomin tampak tersenyum dan memandangku dengan serius. Dapat aku lihat kilatan di balik matanya. Dan pasti dia akan mengatakan sebuah pertanyaan aneh seperti kemarin. Saat dia menanyakan mengenai mantan pancarku. Dan tentu saja, itu membuat aku jadi kelimpungan untuk mencari jawabannya. Sekarang tatapan itu lagi yang dia tunjukan. Baiklah, mati saja aku sekarang.


 


“Aa… apa… yang ingin… kau tanyakan?”


 


Aku mulai tergagap saat dia mendekatkan wajahnya dengan tampang penasaran yang terlihat sangat mengerikan.


 


“Unni-ya, kau harus menjawabnya dengan jujur. Apa kau… Pernah…”


 


Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku sehingga aku memundurkan kepalaku dengan spontan.


 


“Kau dan Donghae oppa… Apa kalian pernah berciuman?”


 


“MWO….  MWORAGO?”


 


Oke, Han Hyomin. Haruskan aku berpura-pura pingsan sekarang? Atau sekalian saja aku berpura-pura mati. Pertanyaan yang keluar dari mulutmu, sukses membuat wajahku tiba-tiba memanas. Dan aku tau kau senang melihat wajahku yang memerah sekarang. Dan lagi. Apakah aku harus menjawab pertanyaan konyol seperti itu? Aigoo… itu terlalu memalukan.


 


“Apakah aku harus menjawab pertanyaamu?”


 


“Tentu saja. Katakan padaku berapa banyak kalian sudah berciuman. Dan katakan juga padaku. Apakah Donghae oppa hebat dalam hal berciuman?”

__ADS_1


 


“Hei, itu privasi. Kenapa kau ingin mengetahuinya. Sejauh apa kami berdua melakukannya. Itu bukan urusanmu”


 


“Unni-ya, kau pelit sekali”


 


“Kau yang keterlaluan. Kenapa menanyakan hal itu. Sudahlah aku mau tidur”


 


Aku kembali berbaring kemudian menarik selimutku tinggi-tinggi dan juga menutup mataku rapat-rapat. Sebenarnya aku ingin sekali menyumpal telingaku dengan earphone agar aku tidak mendengar ocehannya lagi.


 


“Mommy dan Daddy, menyuruh kalian semua untuk menjagaku kan? Jika seperti ini, aku merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Dan aku akan….”


 


“Hyaish…. Baiklah… Baiklah…”


 


Aku segera memotong perkataannya sebelum dia selesai berbicara. Yah, Han Hyomin pintar. Aku rasa kau akan menyiksaku dengan ancaman seperti ini. Kuakui kau sangat hebat, karena aku benar-benar tidak bisa berkutik jika kau mengatakan hal itu.


 


“Cepat katakan padaku. Palli… palli”


 


“Hemh…”


 


Aku menarik nafas sejenak sebelum memulai pembicaraan. Wajahku kembali memanas. Bagaimana bisa aku menceritakan hal ini kepada orang lain.


“Yah, kami berdua tentu saja pernah melakukannya. Kurasa lebih dari lima kali. Dan asal kau tau. Donghae oppa sangat hebat dalam berciuman”


 


“MWOYA? HANYA LIMA KALI?”


 


Hyomin tampak terperangah sesaat kemudian tertawa keras.


 


“HAHAHAHA…. Gyuri unni. Kau berbohong. Aku kira kau akan mengatakan kalian telah melakukannya lebih dari 100 kali. Aku tidak akan heran karena usia pernikahan kalian sudah 4 bulan kan?”


 


Cish… bocah ini. Kenapa dia ingin tahu jika ujung-ujungnya malah meledeku seperti itu. Lagipula, apa yang terjadi pada bibiku jika kami melakukannya lebih dari 100 kali. Dasar gadis bodoh.


 


“Hei, seberapa banyak itu tidak penting. Yang paling penting adalah seberapa dalam cinta yang kami luapkan dalam setiap ciuman yang kami lakukan. Dan kau tidak perlu tertawa karena hal itu”


 


“Aigoo, unni ya. Aku rasa Donghae oppa benar-benar romantis. Aku juga ingin merasakan ciumannya”


 


“YAK… HAN HYOMIN!!!”


 


Aku kembali melayangkan sebuah jitakan di kepala bodohnya. Bocah ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatkan hal itu di depanku. Mendapat ciuman dari seorang kakak ipar? Mau mati?


 


“Unni… JANGAN MENERIAKIKU”


 


Dia balas berteriak tak kalah kencang, membuat aku meringis dengan ekspresi bingung. Aigoo… aku sudah menyangka akan seperti ini. Han Hyomin memang selalu bersikap menyebalkan. Tapi karena dia sangat jarang bertemu denganku, jadi setiap tingkah menyebalkannya ini akan membuat aku sangat merindukannya.


 


“Gyuri unni. Boleh aku bertanya lagi?”


 


“MWORAGO?”


 


 


“Unni, aku kan sudah bilang. Kau tidak boleh tidur sebelum aku tidur. Dan aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi sebelum tidur. Dan kau harus menjawabnya”


 


“Ah, Baiklah. Apa lagi sekarang?”


 


Jawabku pasrah. Aku sudah tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan remaja labil ini. Karena dia pasti punya banyak alasan agar aku tetap menjawab semua pertanyaan konyol yang ia lontarkan.


 


“Unni-ya… apa kau dan Dongahe oppa. Pernah melakukan hal lain yang lebih jauh dari sebuah ciuman?”


 


“HAM HYOMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…………”


 


Aku berteriak keras tepat di wajahnya, dan membuat Hyomin meringis sembari mengusap-ngusap kedua kupingnya.


 


“AKU TIDAK AKAN MENJAWAB PERTANYAANMU YANG SATU ITU. DAN KAU BOLEH MENGANCAMKU DENGAN APAPUN. KARENA AKU TIDAK TAKUT. AYO KATAKAN SAJA PADA MOMMY-MU DAN AKU JUGA AKAN MENGADUKANMU KEPADA OEMMAKU”


 


Aku mengangkat telunjuku dengan tatapan tajam penuh peringatan. Membuat Hyomin terperangah kaget mendengar kalimat yang baru saja aku lontarkan. Baiklah, aku rasa sudah cukup melayani sesi mengerikan sebelum tidur ini dan sekarang aku harus tidur karena besok harus kembali ke kantor.


 


“Sekarang aku akan tidur. Dan jangan paksa aku untuk bangun dan menjawab pertanyaan konyol darimu lagi. Arachi?”


 


Aku kembali menegaskan perkataanku kemudan segera merubah posisi menjadi berbaring lurus. Sebelumnya aku melirik wajahnya yang terlihat masih shock. Dia hanya memandangku tanpa berkata, hingga akhirnya aku memejamkan mata dan merasakan ranjangnya bergerak. Baiklah, aku rasa dia juga memutuskan untuk tidur sekarang. Bagus. Kenapa tidak dari tadi saja aku meneriakinya seperti itu. Aigoo, tapi aku rasa aku keterlaluan menyikapinya. Padahal dia terlihat sangat antusias. Tapi apa tidak keterlaluan jika aku benar-benar menceritakannya pada seorang gadis berusia 17 tahun. Aish… membuatku frustasi saja.


 


***


 


A day later….


 


…. LK Corporation Building, Seoul….


 


Donghae’s POV


 


Aku masuk ke dalam ruang kerjaku dan mendapati Eunhyuk dan Haneul sedang berdiri di depan meja. Mereka tampak sibuk dengan berkas-berkas di genggamannya dan sama sekali tidak menyadari keberadaanku saat ini. Keduanya sibuk bergumam sendiri, sembari menumpuk kertas-kertas yang tampak bertebaran dimana-mana. Ada apa lagi ini? kenapa masih pagi mereka sudah sibuk di dalam ruanganku.


 


“Ehm…”


 


Dehaman kerasku membuat mereka terlonjak kaget dan akhirnya menyadari keberadaanku di belakangnya. Sejak tadi aku bahkan tidak diperdulikan sama sekali.


 


“Donghae-ssi… sejak kapan berdiri disitu?”


 


Ujar Haneul dengan sumringah. Tapi dari raut wajahnya, dia tampak pusing dengan kertas-kertas dalam genggamannya.


 


“Donghae-ya. Lihat apa yang kau lakukan? Kau membuat kita harus bekerja dua kali”

__ADS_1


 


Kali ini Eunhyuk malah mencibir kesal ke arahku, sedangkan aku hanya menampakan ekspresi tanpa dosa. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan di dalam ruanganku, dan tiba-tiba Eunhyuk malah menegurku seperti itu. Membuatku semakin bingung saja.


 


“Kalian ini sedang apa? Ini masih pagi tapi sudah sangat sibuk dengan berkas-berkas itu. Aku bahkan belum memisahkan mana yang sudah aku analisis dan yang belum aku lihat sama sekali”


 


Aku berjalan menghampiri mereka sembari membuka jas hitam yang ku kenakan dan menyampirkannya di sofa, bersama dengan tas yang sedari tadi aku bawa. Aku berdiri tepat di hadapan mereka yang terlihat masih sibuk.


 


“Ini semua gara-gara kau selalu pulang sebelum waktunya. Kau juga membawa pekerjaanmu ke rumah. Sekarang kami berdua jadi pusing untuk menganalisisnya. Aish, menyusahkan saja”


 


“Hei, mana aku tau jika aku merepotkan kalian. Aku rasa, aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik. Walaupun aku membawa pulang pekerjaan kantor, tapi aku menganalisisnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membubuhkan tanda tanganku disana”


 


“Iya, tapi kau hanya menumpuk berkas di atas meja kerjamu tanpa memisahkan yang mana yang sudah dikerjakan dan yang mana yang belum dikerjakan. Data-data ini harus dikumpulkan hari ini, dan kami berdua harus memeriksanya satu-persatu lagi. Ini semua gara-gara kau”


 


Eunhyuk tampak emosi karena terus meracau tanpa melihat wajahku. Dia masih saja membulak-balik kertas-kertas yang sudah tidak karuan dan bertebaran di atas meja kerjaku. Aku bahkan sedikit sungkan untuk duduk di kursiku. Dan sejak tadi hanya berdiri di belakang mereka berdua.


 


“Sudahlah, kerjakan saja. Sajangnim sudah berusaha untuk menganalisis semuanya. Kau ini berisik sekali”


 


Ujar Haneul mencoba mengentikan racauan Eunhyuk. Aku hanya tersenyum serba salah melihatnya. Dan sepertinya kebiasaanku pulang sebelum waktunya malah menyusahkan orang lain.


 


“Mianhae…, aku kira. Jika aku mengerjakan pekerjaanku dirumah, aku tidak akan merepotkan kalian seperti ini”


 


“Kau fikir aku tidak merasa terganggu? Kau terus saja menelponku dan menanyakan mengenai semuanya. ‘Eunhyuk-ah, aku tidak mengerti yang ini’ ‘Eunhyuk-ah, apa maksud dari perusahaan ini’, dan ‘apa kesepakatan yang telah kita buat dengan perusahaan itu’. Kau fikir aku tidak pusing memikirkan dan menjawab semuanya. Bahkan aku baru saja pulang dari kantor pada jam-jam kau menghubungiku”


 


“Aku kan sudah bilang aku minta maaf. Baiklah, hari ini aku tidak akan pulang sebelum waktunya. Aku tidak akan pulang sebelum jarum panjang menyentuh angka 12. Maafkan aku karena merepotkan kalian berdua”


 


“Hei, sudahlah. Ini sudah hampir selesai dan kita bisa langsung menyerahkan data-datanya. Kau tidak perlu meminta maaf Donghae-ssi” Balas Haneul.


 


Aku terdiam sejenak ketika mereka sedang menyusun berkas-berkas di atas meja kerjaku. Sedangkan aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana membuat bocah itu merubah ekspresi cemberutnya yang sejak tadi sangat tidak nyaman dilihat.


 


“Euhyuk-ah, kau masih kesal? Aku kan sudah minta maaf. Apa yang bisa aku lakukan agar kalian tidak merasa kesal lagi? Bagaimana kalo aku traktir makan siang hari ini?”


 


“Ide yang cukup bagus. Baiklah”


 


Jawab Haneul dengan sumringah. Sembari mengangkat tumpukan kertas itu dan bersiap untuk keluar. Aku tau mereka berdua akan membawa berkas-berkas itu untuk mengumpulkan data-data perusahaan. Dan Lee Hyukjae, kenapa dia tidak merespon perkataanku?


 


“Eunhyuk-ah,berhenti bersikap seperti ini padaku. Kau akan mendapatkan makan siang gratis hari ini”


 


Aku melangkahkan kakiku di belakang Eunhyuk yang sedang mengekor Haneul yang juga dengan setumpuk berkas di dekapannya.


 


Haneul keluar dari ruanganku terlebih dahulu sedang Eunhyuk tiba-tiba berbalik dan akhirnya menunjukan sebuah senyuman. Tapi aneh, kenapa eksresinya licik seperti itu?


 


“Kau sudah tidak kesal padaku kan? Baiklah, kau akan aku teraktir makan siang hari ini. oette?”


 


Ujarku dengan penuh semangat. Tapi Lee Hyukjae bodoh ini tetap saja tersenyum aneh. Dia tampak sangat bahagia memikirkan sesuatu.


 


“Sajangnim…”


 


“Eh? Kau mau kan?”


 


“Sajangnim…, kau mau membuat aku melupakan rasa kesalku padamu?”


 


“Em…, apa yang bisa aku lakukan?”


 


“Biarkan istrimu berada di dalam kamarku malam ini….”


 


“MWORAGO?”


 


Aku terperangah kaget mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Dia pikir Gyuri itu apa? Kurangajar. Aku sudah tahu arti senyuman menjijikan itu. Cish, bocah gila.


 


“HYA… LEE HYUKJAE-SSi, KAU MAU MATI?”


 


Aku mencengkram kerah bajunya, membuat dia tampak kelimpungan dengan ekspresi yang sangat lucu. Ahahaha, aku rasa di benar-benar ketakutan.


 


“MASIH BERANI MEMINTA HAL  ANEH ITU PADAKU? HUH?”


 


Eunhyuk semakin memundurkan wajahny ketika aku mendekatkan wajahku dengan tatapan tajam. Dia fikir lelucon itu lucu. Aku dan Gyuri sedang sensitiv sekarang. Dan dia malah membuat aku jadi semakin emosi.


 


“Aaa… ani… aniyeo… aku hanya… bercanda, sajangnim. Chosungeo…”


 


Dia membungkukan badannya berkali-kali setelah aku melepaskan cengkramanku di kerahnya. Dan itu terlihat sangat lucu. Entahlah, aku selalu merasa dia memasang tampang merendahkan, bahkan saat dia berusaha sesopan mungkin padaku.


 


“Berhenti membungkukan badanmu dengan ekspresi seperti itu. Aku tau kau sedang meledek aku”


 


“Hahahaha… kau fikir aku mau dengan serius menunjukan rasa hormatku padamu. Tidak akan…. Sajangnim”


 


Sudah kuduga. Isi kepalanya memang seperti itu. Dasar Lee Hyukjae bodoh. Berani sekali dia mengatakan hal itu secara terang-terangan padaku.


 


“Sudahlah, berhenti bermain-main. Cepat kumpulkan berkas-berkasnya. Setelah itu, kita masih punya banyak pekerjaan”


 


“Araseo… SA-JANG-NIM”


 


“Kau…. Berhenti memanggilku dengan ekspresi seperti itu”


 


Aku mengangkat kepalan tanganku dan bersiap untuk menjitak kepalanya. Tapi bocah itu segera keluar dari ruanganku dengan tergesa-geda. Aish, keterlaluan. Lebih baik dia memanggil namaku. Itu lebih baik daripada panggilan Sajangnim tapi dengan ekspresi merendahkan.


 


Dan lagi. Aku paling tidak suka dia menjadikan Gyuri sebagai bahan bercandaan. Apa maksudnya? Membiarkan istriku berada di kamarnya? Aku bahkan tidak bisa tidur bersama Gyuri 4 malam ini. Dan aku sangat-sangat merindukannya sekarang.

__ADS_1


 


__ADS_2