OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Tour with you


__ADS_3

“Bath tub?”


Aku membulatkan mataku dengan tatapan kaget. Aku mengalihkan pandaganku ke arah Donghae oppa yang sedang tersenyum dengan tampang aneh. Aigoo akhirnya mimpinya untuk berendam berdua di dalam bath tub denganku menjadi kenyataan. Jangan harap dia akan melakukan yang macam-macam di tempat umum seperti ini.


“Please…”


Kami berdua akhirnya berendam di dalam sebuah bath tub dengan taburan bunga di permukannya. Di sekelilingnya diletakan beberpa lilin aroma teraphy yang sangat nyaman masuk kedalam hidungku. Kami berdua menikmati flower bath selama kurang lebih 15 menit.


Aku melanjutkan treatment dengan fragrant body moisturazing supaya kulit ku lebih sehat dan lebih halus. Sedangkan Donghae Oppa menyudahi treatmennya dan segera memasuki tolilet untuk kembali mengenakan bajunya.


Bali spa diakhiri dengan secangkir teh hangat dengan aroma trasidional yang sangat menyegarkan. Rasanya unik dan sedikit pahit. Aku tidak menghabiskan semuanya karena tidak cocok dengan rasanya, tapi Donghae Oppa sangat menikmatinya sampai habis tak tersisa. Kurasa dia memang sangat menyukai setiap hal yang ada di sini.


***


Donghae’s POV


Setelah menyelesaikan treatment Balinese. Menikmati spa yang sangat nyaman dan menghilanngkan rasa lelah. Walaupun aku hanya menikmati beberapa treatment saja karena tertidur pulas. Tapi kurasa Gyuri menikmatinya dengan sangat baik, baguslah jika dia sudah menyegarkan tubuhnya maka nanti malam dia tidak akan beralasan dengan mengatakan lelah. Haha, Lee Donghae apa yang kau fikirkan?


Kami berdua  dijemput tepat di depan tempat spa untuk mengikuti A Day Fun Ship Cruise menuju Nusa Lembongan, Mengarungi indahnya Selat Badung menggunakan Kapal Island Explorer.  Beberapa saat kami menikmati indahnya lautan dari atas kapal.


Tour guide itu sengaja memberikan privasi kepada kami untuk menikmati waktu berdua di atas kapal. Terik matahari tidak mengurangi antusias kami untuk menikmati semuanya. Melihat lautan luas yang terbentang indah sepanjang mata memandang. Semuanya terasa sangat menyenangkan ketika gadis ini ada di sampingku. Ah, aniyeo. Aku tidak yakin dia masih bisa disebut gadis besok.  Haha. Semoga tidak ada lagi hambatan yang akan menghentikanku malam ini. Walaupun dia memaksaku untuk menghetikannya, aku tidak akan pernah berhenti. Egois? Aku rasa tidak. Jika seperti ini terus aku rasa dia tidak akan pernah bisa bersikap dewasa. Setidaknya dia bisa membuktikan perkataanya.


___


Kami beridiri tepat di samping kapal pesiar ini. Gyuri sedang asik memandangi lautan, sedangkan aku malah tenggelam dengan kecantikannya. Rambut panjangnya yang berterbangan karena terhempas angin, membuat dia terlihat sangat cantik.


Kami berdua sangat menggilai laut, jadi berada diatas kapal yang sedang mengarungi lautan ini rasanya sangat menyenagkan. Aku jadi teringat dengan Mokpo jika seperti ini. Ayahku sangat senang mengajaku pergi ke laut, dan menikmati keindahan sunset. Tapi itu dulu, karena sekarang dia sudah tidak ada.


“Kau menyukainya?”


Ujarku kemudian mengulurkan tangan kananku untuk merapihkan rambut yang berterbangan ke wajahnya. Menghalangi pemandangan indah yang sedang kunikmati saat ini.


“Aku sangat suka laut. Rasanya sangat indah disini. Tapi aku tiba-tiba ingat dengan Korea. Aku merindukan oema”


Ujarnya dengan suara pelan. Aku menggeser posisiku kemudian berbalik ke arahnya. Dia masih menatap lurus ke depan dengan rambut yang terus saja berterbangan. Entah kemana topi yang tadi pagi dikenakannya. Mungkin saja tertinggal di tempat spa tadi.


“Kau sudah besar. Seharusnya bisa bertahan jika jauh dari omamu”


Aku merangkul bahunya dengan erat. Gyuri memiringkan kepalanya dan menjatuhkannya tepat di bahuku.


“Iya aku sudah dewasa sekarang. Seharusnya aku bisa berlama-lama jauh dari omma. Aku tidak boleh terus seperti ini”


“Em, kau benar. Kau itu tidak boleh selalu tergantung kepada oemamu. Berhenti merengek dan menjadi cengeng”


“Aku tidak suka merengek dan aku tidak cengeng oppa”


“Jinjayo? Tapi kau selalu merengek jika meminta sesuatu pada omamu. Kau juga sangat cengeng”


“Ish…. Itu karena aku belum bisa sepenuhnya meninggalkan kebiasaanku. Aku ini masih seorang gadis belasan tahun. Aku masih belum bisa sepenuhnya menjadi dewasa. Semuanya butuh proses oppa”


“Araseo. Mianhae. Aku tau untuk menjadi dewasa memang tidak mudah. Aku tau kau pasti bisa melakukannya. Jadilah dewasa, istriku sayang”

__ADS_1


“Em, aku akan menjadi gadis mandiri yang bersikap dewasa”


“Yah kau masih gadis saat ini. Tapi aku tidak bisa menjamin besok, kau masih bisa menyebut dirimu sebagai seorang gadis lagi atau tidak. Haha”


Aku terkekeh tanpa melihat ke arahnya. Apa dia mengerti dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku? Entahlah. Aku hanya merasakan angin hangat yang menayapu wajahku.


“Apa maksudmu? Mengapa besok aku tidak bisa menyebut diriku sebagai gadis lagi?”


“Sudahlah jangan dibahas. Nikmati saja pemandangan indah ini”


Aish, ternyata istriku benar-benar masih polos. Aigoo, Dia terlihat innocent ketika memandangku dengan tatapan bodoh seperti itu. Lee Gyuri, kau benar-benar manis. Beruntung aku bisa menjadikanmu sebagai seorang istri, karena kau selalu bisa membuatku tersenyum. Tersenyum setiap melihat tingkahmu dan kepolosanmu.


“Gyuri-ah, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu”


Aku menampakan wajah serius dan mencengkram kedua bahunya agar menghadapku. Kuulurkan tangan kananku untuk menarik rambut panjangnya kemudian menyelipkan kebelakang telinga, agar rambut panjangnya itu tidak berterbangan di depan wajahnya.


“Wheyo? Apa yag ingin kau katakan?”


“Apakah nanti anak kita akan tumbuh dengan baik?”


“Ahm… em.. ke…kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?”


“Ani… Aku hanya ingin tahu saja. Aku kan mengatakanya nanti. Berarti bukan dalam waku dekat ini kan?. Aku khawatir apakah anak kita nanti akan tumbuh dengan baik dan memperoleh gizi yang cukup”


“Tentu saja iya. Aku akan memberikannya yang terbaiknya dan dia akan tumbuh menjadi besar dan sehat”


“Tapi aku tidak yakin. Jika nanti bayi kita lahir, dia akan mendapatakan makanannya dengan maksimum”


“Aku hanya merasa, em… apakah kau bisa memberi cukup ASI untuk bayi kita”


“Mm…mwo… mworago? ASI? apa maksudmu?”


“Kurasa ‘ukurannya’ tidak meyakinkan bisa menampung banyak ASI”


Aku menurunkan tatapanku ke bawah, membuat dia melakukan hal yang sama. Ketika menyadari  kearah mana pandanganku dan apa yang sedang aku lihat saat ini, Gyuri langsung mendongakan kepalanya dengan tatapan tajam.


“YAK… KAU, BODOH. APA YANG KAU LIHAT? KURANGAJAR! LEE DONGAE MATI KAU!”


Dia menjitak kepalaku dengan cukup keras, sedangkan aku hanya terkekeh puas setelah melihat ekspresinya yang sangat lucu itu.


Keributan terhenti ketika seorang tour guide menghampiri kami. Dia mengatakan pada kami untuk segera makan siang.


***


Gyuri’s POV


Rasanya aku ingin sekali mendorong namja bodoh ini hingga terjatuh ke laut sekarang juga. Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu di hadapanku. Dan ketama tatapannya tadi mengarah ke dadaku. Wajah mesumnya itu terlihat sangat menjijikan. Aish, membuatku malu saja. Lagipula atas dasar apa dia mengatakan jika ukuran dadaku tidak meyakinkan. Hum, Tapi dia memang pernah menyentuhnya dan juga melihatnya. Aish, apa yang kau fikirkan Lee Gyuri. Itu hanya akan mebuatmu semakin frustasi.


___


Makan siang disajikan di atas Kapal Island Explorer . terasa sangat menyenangkan karena angin hangat pantai dapat memberikan kami rasa nyaman tersendiri. Aku rasa setiap hal yang kami lalui disini akan berkesan. Setiap hal yang kami lakukan terasa sangat meyenangkan. Sangat menyenangkan karena ada Oppa bersamaku.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang. Kapal yang kami naiki kembali berlabuh. Kami berdua diantar menuju pantai kuta. Kembali ke tempat dimana hotel kami berdua berada.


Aku menggengam tangannya erat sepanjang perjalanan. Tapi lama-kelamaan aku menjadi mengantuk hingga akhirnya tidur bertumpu pada bahu kekarnya. Beberapa saat aku tenggelam dalam alam bawah sadarku hingga akhirnya oppa membangunkanku dengan menggoyangkan bahuku. Dia mengatakan jika kami berdua sudah kembali ke Kuta.


Kami berdua memutuskan untuk tidak memakai seorang tour guide dan memintanya meninggalkan kami disini. Daerah ini sangat dekat dengah hotel. Jadi kami juga cukup hafal dengan daerah ini.


“Oke. I leave you. Please enjoy” Ujarnya sebelum meninggalkan kami berdua di tempat ini.


“Ah, Thank you for this wonderful day” Balasku kemuidian mengangkat tangan kananku untuk memberi salam.


___


Beberapa saat kami berjalan menyusuri pantai. Oppa menggulung celana jeansnya dan melepaskan sepatu yang dia pakai. Aku juga melakukan hal yang sama. Kami tidak ingin berbasah –basahan karena ini masih siang. Kami ingin menghabiskan waktu sampai matahari terbenam di pantai. Menyaksikan sunset sambil duduk di pasir pantai pasti akan sangat menyenangkan.


“Gyuri-ah, aku ingin mencoba itu?”


Tiba-tiba Donghae oppa menarik tanganku menjauhi pantai. Dia menunjuk sesuatu dia atas sana. Sepertinya dia sangat senang ketika tiba-tiba fokus perhatiannya tertuju pada hal tersebut.


“MWO? Bungy Jumping? Andwe!”


Jawabku tegas. Aku tidak mau dia mencoba hal itu. Karena kurasa permainan itu terlalu berbahaya.


“Ayolah itu pasti aman. Kau mau mencobanya juga kan? Atau jika kau tidak mau, biarkan aku saja yang mencobanya”


“Andwe, aku tidak mau menjadi janda saat usia pernikahanku baru saja 3 bulan”


“Aigoo… Ayolah, Pasti aman. Mereka pasti menjamin dengan baik. Oke”


Tanpa menunggu jawaban dariku. Oppa langsung menarik tanganku agar berlari mengikuti langkahnya. Aku hanya bisa menyeret langkahku lebih kencang saat dia mengeratkan pegangannya di tangaku.


Kami berjalan mendekat kearah menara yang sangat tinggi. Aku benar-benar gemetar ketika melihat olahraga ekstream itu dari dekat. Apa mereka sudah gila? mengapa menjatuhkan diri dari ketinggian seperti itu. Apa mereka tidak berfikir bagaimana jika tali bertupu itu putus dan membuat mereka jatuh begitu saja ke atas kolam renang. Aku rasa jatuh dari sana pasti mati. Aku tidak mau mencoba hal konyol seperti itu.


Apa yang bisa kulakukan sekarang, karena Donghae oppa bersi kukuh untuk tetap mencobanya. Aku tidak bisa menok  jika dia sudah berkehendak, dia itu sedikit keras kepala.


“Kau juga akan mencobanya kan?”


“Apa kau sudah gila. Andwe. Aku hanya akan menemanimu”


“Ayolah, ini pasti akan sangat menyenangkan”


“TIDAK”


Tegasku dengan suara yang lebih keras. Aku tidak mau dia menarik paksa aku untuk menjatuhkan diri dari ketinggian yang tidak lazim itu.


***


Donghae’s POV


Kami berjalan menuju sebuah tempat yang kurasa menjadi pusat dari olahraga ekstreme di sekitar sini.


AJ Hackett Bungy di Club Double Six adalah nama tempat dimana kami berada saat ini. Aku melihat Gyuri yang gemetar, kurasa dia memang sangat ketakutan.

__ADS_1


Yah, sudah sejak lama aku ingin mencoba lagi hal yang memacu adrenalin seperti ini. Kalau tidak salah, terakhir kali aku melakukannya tahun 2005. Bersama teman-temanku, dan rasanya sangat menyenagkan. Sayang sekali Gyuri tidak mau mencobanya. Padahal jika dia berani mencoba pasti akan terlihat sangat hebat.


__ADS_2