OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
*Mianhae, Jeongmal Mianhae Jinki-ah*


__ADS_3

Gyuri’s POV


“Keure.., ikut aku sekarang. Aku ingin tau bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku, KHAJA….” Jinki mencengkram pergelangan tangan kananku dan menariku dengan sangat kasar. Dia memaksaku untuk mengikuti langkahnya, yang penuh emosi. Jinki yang saat ini sedang di depanku seperti bukan Jinki yang ku kenal, dia benar-benar marah dan memperlakukanku seperti ini. membuatku sangat shock dengan apa yang dilakukannya padaku.


“Appo.., lepaskan, Jinki-ah, sakiiit, lepaskan aku..” aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya. Tapi dia tetap tidak bergeming, dia menariku hingga aku hampir terseret mengikuti langkahnya. Dia menariku ke salah satu sudut hotel yang sepi, tepatnya di samping bangunan yang menghubungkan restorant dan lobby hotel. Jinki mendorong tubuhku, dan menyudutkanku ke dinding, dia mencenkram bahuku dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menapak ke tembok di samping kepalaku, kini aku benar-benar terkunci oleh tubuhnya. Aku benar-benar takut, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, melihat matanya yang menatapku tajam tanpa ampun, dan nafasnya menderu tepat di depan wajahku. Dadanya naik turun menahan emosi. Tidak kuat melihat sikapnya yang seperti ini, aku hanya bisa menunduk dan menatap tanah tempatku berdiri, rasanya seluruh tubuhku membeku di tempat ini. benar-benar tidak bisa bergerak.


“Kau menganggapku ini kekasihmu kan? Iya kan?” ujarnya tepat di wajahku hingga membuatku semakin menundukan wajahku tak mampu menatap matanya. Aku tidak tau apa yang harus ku katakan, aku terlalu takut hingga membuat lidahku bahkan tidak bisa bergerak untuk membalas pertanyaannya.


“KIM GYURI, JAWAB AKU…” Jinki berteriak dengan penuh emosi, tak terasa kini air mataku mulai menetes. Aku benar-benar takut, aku takut dengan apa yang akan dilakukannya padaku selanjutnya, aku takut dia berbuat nekat dan akhirnya menyakitiku.


“Jinki-ah, jangan begini. Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini? Kau bukan Jinki yang aku kenal, kau membuatku takut” aku mencoba berbicara dengan susah payah. Suaraku bergetar bersamaan dengan tangisanku.


“Kau tau aku seperti ini karena siapa? Kau yang membuatku seperti ini. kau yang membuatku sangat menyukaimu, kau yang membuatku semakin hari semakin mencintaimu. Aku tidak bisa hidup jika kau pergi dari sisiku. Aku membiarkanmu menikah dengan Hyungnin, dan tidak melepaskanmu karena aku ingin kau selalu terikat denganku, aku ingin kau tetap berada di sisiku. Aku sudah pernah bilang kan, aku akan mengambilmu dari sisinya dan menjadikanmu miliku selamanya. Menjadikanmu seutuhnya hanya untuku Kim Gyuri. Tidakah kau tau, setiap hari yang selalu aku fikirkan adalah kau, aku bisa melaksanakan aktifitasku jika memikirkanmu. Aku bisa bernafas jika kau ada di dalam fikiranku, kau tau, walaupun kau sedang berada di sampingku tapi aku tetap merindukanmu. Melihatmu tertawa rasanya aku sudah menggenggam dunia ini di tanganku. Karena kau adalah duniaku Kim Gyuri, dunia yang bisa membuatku tetap hidup sampai sekarang” Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tau harus membalasnya seperti apa. Jinki yang selalu membelaku. Yang menjadi pahlawanku dan melindungiku disaat aku benar-benar tidak bisa mempercayai orang lain yang mendekatiku. Menemaniku setiap saat, dan memperlakukanku seperti tuan putri, dan menganggap setiap hal yang aku lakukan adalah benar. Aku tidak tau jika perasaannya padaku begitu dalam. Jinki sahabat yang sangat berarti bagiku, sahabat terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. yah, mendengar pernyataannya, sekarang aku mulai sadar, perasaanku padanya hanya sebagai sahabat. Tapi rasa sayangku padanya benar-benar tulus. Saat dia mengatakan cintanya padaku, aku fikir itu adalah saatnya berterimakasih padanya, membalas setiap kebaikan yang dia lakukan padaku. Yah dengan cara tidak menyakiti hatinya dengan menolak cintanya. Aku berfikir dengan menerima cintanya itu sama dengan membalas perbuatan baiknya padaku. Sebagai ungkapan rasa terimakasihku karena dia telah melindungiku. Tapi aku tidak pernah berfikir sebuah keputusan yang aku lakukan malah mebuatku seperti ini, keputusan yang ku kira yang terbaik malah menjadi boomerang dan menjebaku dalam situasi seperti ini.


“Mianhae, jongmal mianhae. Aku tidak pernah tau perasaanmu padaku begitu dalam. Kau adalah orang terbaik yang pernah aku temui, seorang pahlawan yang selalu membelaku dan melindungiku. Dengan menerima cintamu aku berfikir bahwa aku bisa membalas semua kebaikanmu padaku. Maafkan aku karena tidak bisa memiliki perasaan sedalam perasaanmu padaku Jinki-ah” dengan suara tertahan aku mencoba membalas pernyataannya, diselingi dengan isakan tangis yang membuatku sedikit susah bernafas. Aku masih tidak berani menatap kedua matanya, menatap wajahnya yang berada tepat di depan wajahku.


“Maaf? Mengapa kata maaf yang keluar dari mulutmu. Tapi kau mempunyai perasaan yang sama denganku, walaupun hanya sedikit. Walaupun perasaanmu padaku tak sedalam rasa cintaku, tapi kau tetap mencintaiku kan, Kim Gyuri? Iya kan?” tangan kanannya yang mencengkrang bahuku, kini memaksa ku untuk menatap wajahnya. Dia meraih daguku dengan jari telunjuknya, hingga membuatku mendongak dan menatap matanya yang merah, dapat kulihat air matanya hampir terjatuh, tapi aku tetap menatapnya dalam-dalam, merasakan perasaannya yang penuh emosi, hingga akhirnya cairan bening itu mengalir ke pipinya. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku katakan sekarang. Aku mencintainya, apakah aku mencintainya? Sebuah pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu jawabannya. Karena aku menganggap perasaanku padanya hanya rasa sayang sebagai sahabat.  Dan upaya balas budi ku, atas semua kebaikannya. Tapi kenapa malah menjadi seperti ini?


“Mianhae jeongmal mianhae” yah, mulutku hanya bisa mengeluarkan kata itu sejak tadi, tidak tau apa yang salah dengan lidahku, Karena tidak ada kata apapun lagi yang dapat keluar selain permintaan maaf.


“Kau, tidak mencintaiku, hah? Kau tidak pernah punya perasaan itu padaku? Tidak pernah membalas perasaanku padamu, eh?” dia kembali menatap tajam mataku, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir deras dan tidak bisa terbendung lagi. Kenapa harus seperti ini? kenapa semuanya harus terjadi padaku. Aku benar-benar merasa sangat bersalah karena membuatnya mengharapkanku sampai seperti itu. Tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya, dan tidak menyakiti hatinya. Tapi kurasa semuanya itu telah berakhir sekarang, ketika aku menyadari kalau perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Walau sekeras apapun aku mencoba, dan mempertahankannya selama 2 tahun hingga hari ini.


“Kau tidak mencintaiku? hah? jawab aku Kim Gyuri”. Apa yang salah dengan lidahku, mengapa tak bisa digerakan dan mengatakan sesuatu padanya. Menjelaskan perasaanku yang sebenarnya, mengapa semuanya terasa begitu sulit. Ahh…. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengatakan sesuatu padanya, menjelaskan mengenai semua perasaanku selama ini terhadapnya. Tapi tiba-tiba


DEG….


Jinki mencengkram bahuku dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya mengunci jari-jari tanganku dan menekannya ke dinding tepat di samping kepalaku sehingga membuatku tidak bisa bergerak. Dia mendekatkan wajahnya padaku, sedangkan aku hanya bisa menunduk menatap tanah. Rasanya tidak sanggup melihat tatapan mengerikannya yang seakan ingin memangsaku hidup-hidup dan meluapkan semua kekecewaannya padaku.


“Kalau kau mencintaiku, jangan hentikan aku untuk melakukan ini…” Aku hanya bisa membulatlkan mataku dengan sangat shock. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi padaku sekarang. Dia mendekatkan wajahnya padaku, secara perlahan semakin mendekat. Kedua tangannya semakin erat mencengkramku, aku tidak dapat berbuat apapun karena dia menekan tubuhku ke dinding dan mengunci tanganku di samping kepalaku. tapi beberapa centi sebelum berhasil menyentuhku. Aku segera memalingkan wajahku ke samping, menghindarinya yang mencoba menyentuh bibirku dengan bibirnya. Hingga akhirnya dia berhenti dan menatap wajahku dengan ekspresi yang lain dari sebelumnya. Emosi yang sejak tadi memuncak mulai bisa dikendalikannya. Tapi aku masih tidak sanggup melihat wajahnya yang tepat di depan wajahku.


 


Donghae’s POV


Ah hari yang cukup melelahkan. Kemarin aku masih ditemani Eunhyuk dan Haneul, jadi masih bisa membagi pekerjaan. Tapi sekarang aku harus mengerjakannya sendirian, yah walaupun ditemani beberapa staf cabang Jeju, tapi tetap saja berbeda. Tapi dengan seperti ini aku jadi lebih dekat dengan staf dan karyawan hotel. Kurasa akan membawa pengaruh yang baik untuk mereka. Setidaknya mereka merasa kalau CEO nya ini tidak terkesan galak dan menakutkan. Hem, mencoba lebih bersahabat dan membuat mereka nyaman bekerja disini, jika mereka semua nyamah, tentu saja hasil pekerjaan mereka juga akan sangat baik. Ah…, aku menghela nafas dan duduk menyandarkan punggungku yang terasa sangat kaku. Sejak pagi aku mengitari hotel bersama beberapa staf, dan akhirnya selesai juga. Aku menggerakan tangaku ke kanan dan kekiri, meregangkan otot yang rasanya cukup lelah seharian ini. Hemh, bagaimana dengan Gyuri sekarang, apa dia bersenang-senang?. Di pergi sendiri, apa baik-baik saja? Tadi pagi aku sudah menyuruh 2 orang karyawanku untuk menemaninya, tapi mereka bilang Gyuri tidak mau ditemani dan ingin pergi sendirian. Tumben sekali gadis manja itu berani pergi seorang diri. Yah beberapa jam tidak melihat wajahnya, rasanya sudah sangat merindukannya. Istriku, aku akan segera menemuimu sekarang juga.


Kupakai jas hitamku yang tergeletak di atas meja kerjaku,  mengancingkannya, dan memastikan semuanya terlihat sempurna. Segera ku ambil tas laptopku, dan beranjak keluar dari ruangan ini.


Aku melangkahkan kakiku menuju elevator, cukup sepi, hanya aku sendiri di dalamnya. Segera kutekan tombol angka 21. Lantai 21 dimana kamar kami berada. Setelah elevator terbuka, dengan setengah berlari aku menyusuri koridor dan segera berhenti tepat di depan kamar bernomor 2118, aku segera memasukan card, dan membuka pintunya dengan perlahan. Apa Gyuri ada di dalam? Mengapa begitu sepi. Eh? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, yah benar-benar sepi. Aku kan sudah bilang akan kembali tepat jam 3. Apa dia masih bermain-main di luar?. Aish, gadis ini benar-benar merepotkan. Dia bilang tidak ingin bolos kuliah besok, hari ini kami harus kembali ke Seoul dengan pesawat jam 5 sore, dan sekarang dia bahkan belum kembali. Kemana perginya bocah manja itu.


Aku meletakan tas laptopku di atas tempat tidur, dan segera beranjak keluar. Mencoba mencari tahu keberadaan Gyuri dari para staf hotel, siapa tau mereka melihatnya hari ini. dan mengetahui kemana perginya istriku itu. dengan setengah berlari aku kembali keluar, menuju elevator dan turuk ke lobby. Ketika aku keluar dari elevator, semua karyawan langsung membungkukan badannya, sehingga membuatku tidak nyaman, Yah, aku masih memakai jas rapih, dan mungkin mereka kira saat ini aku masih memantau pekerjaan mereka. Aku mengedikan kepalaku, dan mereka segera menegakan tubuhnya lagi. Aku melangkah menuju meja resepsionis untuk mencari informasi. Dan beberapa karyawan yang sedang duduk disana langsung berdiri dan kembali membungkukan badannya ketika melihatku.


“Chogeo… eng.. apa kalian melihat nona Lee Gyuri. Yah kalian tau kan, istriku. Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi keluar?” tanyaku dengan sopan. Aku sudah tidak sabar mendengar jawaban dari mereka.


“Nyonya Lee, tadi pagi aku sudah memberitahu sajangnim kalau Nyonya Lee tidak ingin ditemani. Yah setelah itu dia pergi keluar sendirian. Maafkan saya sajangnim. Saya tidak tahu dimana dia sekarang” Jawabnya dengan sopan, kemudian membungkuk singkat lagi. Ya Tuhan, dimana sebenarnya kau Lee Gyuri?


“oh.. Ne…, gamsahamnida” balasku sambil tersenyum ramah pada resepsonis didepanku.


Aku segera beranjak keluar menuju restorant yang tepat berada di samping lobby hotel. Mungkin dia kelaparan setelah berkeliaran seharian penuh, lalu makan disini. Aku menghampiri salah satu petugas yang sedang berdiri di depan pintu, seperti biasa. Melihat kedatanganku semuanya langsung menghentikan aktifitasnya masing-masing dan segera membungkukan badannya serendah mungkin. Jika aku tidak menghentikannya mungkin mereka akan membungkuk sampai kepalanya menyentuh tanah. Benar-benar membuatku tidak nyaman.


“Eng, aku mau menanyakan sesuatu. Kalian tahu kan istriku? Putri dari Kim sajangnim. Istriku, Lee Gyuri. Apa kalian melihatnya ke sini, untuk makan siang mungkin?” tanyaku pada seorang pria yang berdiri di depanku.


“Ne.., saya melihat Nyonya Lee makan disini, sekitar jam 14.30. dia makan sendirian, dan kemudian ada temannya datang. Mereka berdua langsung pergi keluar” jawabnya dengan tegas. Teman Gyuri, siapa? Apa dia bertemu temannya di sini? Aku bahkan tidak pernah tau kalau Gyuri mempunyai teman dekat, selain….., em….. Lee Jinki?


“Eh? Em… bersama temannya? Pria atau wanita?” aku memiringkan kepalaku tak sabar untuk mendengarkan jawabannya.


“Ne…, Nyonya Lee menarik tangan temannya itu dengan tergesa-gesa keluar dari restorant. Em.. temannya seorang pria, dan kurasa mereka seumuran” jawabnya dengan penuh keyakinan. Yah benar sekali, pasti Lee Jinki. Hebat juga bocah itu, dia bahkan mengejar Gyuri sampai kesini. Mengagumkan.


“Oh.., apa kau tau kemana perginya mereka?” ujarku dengan wajah penuh penasaran.

__ADS_1


“Aniyeo. Nyonya Lee menariknya keluar. Tapi mungkin ke taman samping, karena dia pergi kearah kanan” yah, bagus, mungkin kedua bocah labil itu sedang berkencan. Kurang ngajar sekali, aku sedang bekerja keras. Dia malah berpacaran di sini. Aigoo…


“Araso,,. Keure.. jeongmal gamsahamnida” ucapku sebelum melangkahkan kakiku untuk kembali mencari keberadaan Gyuri.


___


“Di taman samping restorant. Sebelah kanan” aku terus bergumam sambil mencari keberadaannya. Aku lirik jam tanganku, tepat pukul 16.00, dan satu jam lagi pesawat akan berangkat. Aku menatap langit yang mulai gelap. Yah mendung. Kurasa akan turun hujan deras.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, tapi tidak kutemukan juga kedua remaja labil itu. aku melangkahkan kakiku menuju setiap sudut taman, di salah satu lorong antara restorant dan bangunan hotel.  hingga akhirnya sebuah pemandangan jelas di depan mataku. Gyuri dan Jinki. Mereka ada di sana, aku dapat melihat dengan jelas keduanya disana, di sudut lorong yang menghubungkan restoraant dan bangunan hotel. Kulihat jinki menekannya ke tembok, tangan kanannya mencengkram bahu Gyuri, dan tangan kirinya mengunci jari-jari tangan Gyuri dan menahannya ke dinding tepat di samping kepala Gyuri. Apa yang sebenarnya akan dilakukan bocah itu pada istriku? Dengan tergesa-geda, Aku berlari menghampirinya.


“HYA…. LEE JINKI, LEPASKAN ISTRIKU” aku segera mencengkram bahunya, menarik tubuhnya mundur menjauhi Gyruri, meremas kerah bajunya dengan penuh emosi. Tangan kananku sudah terkepal dan siap menghantam wajah tampannya. Kulirik Gyuri sudah menangis kencang dan menutup wajahnya. Aku menatapnya dalam-dalam, apa yang terjadi diantara mereka berdua. Kenapa Gyuri sampai menangis seperti itu.


“Kenapa berhenti Hyung? Ayo pukul aku, kenapa kau tidak melayangkan tinjumu itu ke wajahku. Ayo pukul saja” Jinki mengalihkan pandanganku dari Gyuri, dia mendongakan wajahnya menantangku agar segera mendaratkan kepalan tanganku ini ke wajahnya. Aku kembali melirik Gyuri yang masih terisak, hingga membuatku melepaskan kerah baju Jinki dari cengkramanku. Hingga dia kembali berdiri dengan tegak. Ahh.., menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengontrol emosiku. Jinki kembali melangkahkan kakinya mendekati Gyuri, menyentuh bahunya dengan lembut. Dan berkata ….


“Aku melepaskanmu Kim Gyuri, aku melepaskanmu sekarang. Maafkan aku karena terlalu memaksakan perasaanku padamu. Terimakasih telah membuat hari-hariku menjadi sangat menyenangkan” Jinki menatap Gyuri dalam-dalam, dapat kulihat air mata Gyuri semakin deras mengalir. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam membatu menyaksikan pemandangan di hadapanku ini. Apakah ini sebuah drama? Mengapa terlihat begitu nyata.


“Mianhae jinki-ah, jeongmal mianhae” Akhirnya Gyuri bersuara, walaupun suaranya bergetar dibarengi tangis dan isakannya. Tapi dia mencoba untuk mengatakan sesuatu. Gyuri menatapku dengan mata sembapnya, dan segera berlari meninggalkanku dengan Jinki di sini. Yah, dia meninggalkanku berdua dengan Jinki di tempat ini. apa yang harus kulakukan sekarang. Apa aku harus menginterogasi bocah ini, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?. Jinki menyandarkan punggungnya ke tembok, dan samar-samar kudengar isakan nya, yah kurasa dia sedang menangis sekarang. Aku menlangkahkan kakiku mendekatinya secara perlahan.


“Uljima. Kau ini seorang pria. Seorang pria tidak pantas menangis seperti itu”  aku meletakan tanganku ke bahunya dan menepuknya dengan pelan mencoba menangkannya yang masih terisak. Kurasa hal ini benar-benar membuatnya sangat terpukul. Beberapa saat aku hanya berdiri di sampingnya sambil terus mengusap bahunya. Yah bagaimana tidak, yang di hadapanku saat ini adalah Lee Jinki Seorang mahasiswa semester 2 yang umurnya bahkan jauh di bawahku. Dia adalah dongsaeng yang sudah aku kenal, yang aku mengenalnya dengan baik, walaupun tidak sering bertemu atau mengobrol.dan sekarang aku bingung apa yang harus ku lakukan. Akhirnya aku hanya dia berdiri di sampingnya, menunggunya tenang dan mengontrol emosinya.


“Gyuri tidak mencintaiku Hyung, Dia tidak pernah mencintaiku”


DEG….


Kata-kata itu seakan menohok dadaku dengan kencang. Membuatku terperangah secara tiba-tiba. Apa yang barusan keluar dari mulutnya itu? apa yang dia katakan? Eh? Gyuri tidak mencintainya? Lalu selama 2 tahun ini bagaimana hubungan mereka, bukankah mereka adalah sepasang kekasih.


“Em…Bb…Bwosunmariya?” aku sedikit terbata bertanya padanya, mencoba menanyakan hal yang baru saja dia ucapkan di hadapanku. Hingga akhirnya Jinki menegakan tubuhnya, kedua kakinya mencoba menopang tubuhnya yang sedikit bergetar.


“Selama ini Gyuri tidak pernah mencintaiku. Aku tau dia hanya menganggapaku sebagai sahabat. Dengan jelas tadi ia berkata padaku kalau dia menerima cintaku karena ingin membalas semua kebaikanku padanya. Dan setelah ia menikah denganmu, aku semakin yakin kalau dia tidak mencintaiku. Dari cara dia cemburu padamu, dari cara dia menceritakan setiap hal tentangmu, aku bisa melihat dari sinar matanya, dari caranya tertawa dan nada bicaranya. Dia mencintaimu Hyung, dia tidak pernah mencintaiku”


Mendengar kata-katanya membuatku shock, dan hanya membulatkan mataku dengan terperangah. Apa benar Gyuri mencintaiku. Apa benar yang dikatakan Jinki padaku sekarang. Ya Tuhan, walaupun aku tidak mendengarnya dari mulut Gyuri, tapi apa yang kudengan kali ini membuatku sesak nafas.


“Aku mohon jagalah dia dengan baik, perlakukan dia seperti aku mempelakukannya. Jangan buat dia menangis, jangan buat dia cemburu, jangan buat di khawatir. Aku mohon tolong jaga Gyuri dengan baik. Atau aku akan mengambilnya secara paksa dari sisimu. Tidak perduli walaupun dia menolaku, jika kau memperlakukannya dengan buruk, makan aku akan merebutnya, dan membuatnya menjadi miliku” yah sebuah pernyataan yang membuatku sangat terhenyak mendengarnya. Bagaimana bisa seorang remaja labil bersikap sedewasa ini. aku bahkan belum tentu bisa bersikap seperti dia, benar-benar luar biasa. Lee Jinki kau benar-benar seorang pria sejati.


“Em…, kau tau kan Gyuri itu adalah istriku, aku pasti akan memperlakukannya dengan baik. Terimakasih selama ini kau selalu melindunginya, ketika dia tidak mempunyai kepercayaan pada teman-teman di sekitarnya. Gyuri termasuk gadis yang sulit untuk mendapatkan teman baik, banyak diantara mereka justru memanfaatkan uangnya, mereka berteman dengan Gyuri hanya karena Gyuri adalah putri tunggal dari pemilik LK Corporation. Yah kau benar-benar seorang pahlawan yang hebat. Aku mengakui kehebatanmu. Seorang pria sejati yang sangat tangguh. Good Job Lee Jinki”, ucapku sambil menepuk bahunya member semangat. Jinki mengusap wajahnya yang sedikit sembap karena tangisnya tadi. Tapi kemudia dia menegakan tubuhnya menghentakan kakinya, dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku. Sesaat kemudian ia berbalik.


“Hyung, kumohon Cintailah Gyuri dengan baik. Karena dia hanya mencintaimu” sebuah kalimat terbaik yang pernah aku dengar. Sesuatu yang selama ini aku pendam, dan tak pernah aku ungkapkan. Hanya dengan mendengarnya saja, aku bahkan sudah merasa melayang. Kini hal yang paling aku inginkan di dunia ini sudah ada di depan mataku. Lee Gyuri, istriku.


“Em, aku berjanji. Dan kau, temuliah seorang gadis yang benar-benar bisa mencintaimu dan mengerti perasaanmu dengan baik” balasku dengan setengah berteriak sambil menatapnya yang mulai menjauh, aku melihatnya mengayunkan tangan kanannya padaku, sebagai tanda bahwa ia mendengar teriakanku.


Ya Tuhan, hari yang benar-benar melelahkan. Ah, aku harus segera menemui Gyuri. Kurasa dia sudah kembali ke hotel. Kulirik jam tanganku.


“MWO? JAM 17.00” aku berteriak karena kaget melihat waktu berputar dengan sangat cepat. Kami harus kembali ke Seoul dengan pesawat yam 5 sore ini. aish, bagaimana sekarang?. Dan tiba-tiba air mulai menetes dari langit, menetes tepat di atas kepalaku. Yah bagus sekali, hujan…..


***


 


Gyuri’s POV


Dengan langkah gontai, aku segera menuju ke kamarku. Sepanjang jalan hanya menundukan kepalaku, hingga sebagian wajahku tertutup oleh rambutku yang ter urai. Aku benar-benar tidak ingin karyawan dan staf hotel melihat keadaanku yang kacau. Aku melangkah memasuki elevator dan segera menekan tombol 21. Lantai dimana kamarku berada.


Aku segera masuk ke dalam, membaringkan tubuhku sesaat di tempat tidur dan kembali bangkit untuk melangkah ke kamar mandi. Aku isi penuh bath tub dengan air hangat, kuberi bubble bath dengan esence strobery kesukaanku. Melepaskan seluruh pakaianku yang sudah tidak karuan dan segera membenam diriku kedalamnya. Ah rasanya benar-benar nyaman. Berendam di air hangat setelah gejolak emosi yang kualami barusan. Semua bayangan kejadian beberapa menit yang lalu kembali berputar di otaku. Ahhhh… aku menghela nafas panjang kemudia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menahan sesak di dadaku yang membuatku semakin tersiksa. Yah kali ini aku benar-benar sadar. Aku menyadari perasaanku pada Jinki memang bukan cinta, bukan cinta seorang yeoja kepada namja. Melaikan hanya perasaan sayang sebagai seorang sahabat. Dan ketika Jinki mengatakan satu hal yang membuatku sangat terkejut adalah ketika dia berkata kalau aku mencintai Donghae oppa, benarkah itu? apakah aku mencintainya? semenjak kedatangannya ke rumahku 6 tahun lalu. Aku memang sudah sangat penasaran padanya, seorang yang bahkan umurnya jauh diatasku, tapi kadang kelakuannya seperti dongsaengku, menyebalkan. Tapi entah kenapa ketika dia tidak ada, aku selalu merasa ada yang berbeda padaku. Ketika melihatnya bersama wanita lain, aku bahkan merasa sangat sakit, walaupun itu hanya sebuah obrolan biasa. Tapi aku benar-benar tidak suka jika dia berinteraksi dengan wanita lain selain aku. Perasaan bahwa yang aku inginkan dia hanya melihatku dan tidak melihat wanita lain, hanya menatapku dan memperhatikanku. Apa begini rasanya? Apa ini yang dnamakan cinta? Ah aku benar-benar pusing memikirkannya. Ah bodoh, aku bahkan tidak bisa mengetahui dan membedakan perasaan cinta dan kasih sayang. ‘Lee Gyuri babo’ gumamku sambil memukul kepalaku sendiri,  kemudian membenamkan seluruh tubuhku kedalam bath tub. Menahan nafas di dalam air selama beberapa detik, dan kembali menegakan kepaku. Ku usap wajah dan rambutku yang basah, menyeka air dan busa yang menempel. Tapi tiba-tiba.


Tok… tok… tok…


Seseorang mengetuk pintu kamar mandi, aku menatap tepat kearah pintu dan mengernyitkan alisku.  ‘eh? Donghae oppa’ gumamku.


“Gyuri-ah, gwencana? Kau ada di dalam kan? Jangan berbuat nekat, cepat buka pintunya” Yah betul, Donghae oppa. Aish, dia fikir aku seperti apa, mengakhiri hidup seperti ini, memangnya otaku sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Membuka pintu? babo, dia menyuruhku membuka pintu. Aku sedang mandi sekarang.

__ADS_1


“Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya sedang mandi. Berfikirlah sewajarnya, kau fikir aku gadis labil yang tidak bisa berfikir rasional” balasku dengan setengah berteriak dari dalam kamar mandi.


“Kau tau sekarang jam berapa? Sudah jam 17.30. kita sudah tertinggal pesawat” dia balas meneriakiku dari luar. MWO? Aigoo, aku bahkan lupa hari ini harus segera kembali ke seoul.


“Lalu bagaimana sekarang? Masih bisa naik pesawat selanjutnya kan? Cepat cari informasi penerbangan selanjutnya” balasku.


“Kau tau di luar sedang hujan lebat. Aku sudah menelepon stafku, dia bilang malam ini tidak akan ada penerbangan karena cuaca buruk. Jadi penerbangannya besok pagi” jawabnya dari balik pintu.


“Oh, araso, baguslah, besok aku tidak usah pergi ke kampus kalau begitu” ah bagus sekali, aku memang sedang sangat malas untuk kuliah. Suasana hatiku sedang tidak karuan, bagaimana bisa aku belajar dengan baik.


“Cepatlah keluar, aku juga mau mandi. Kenapa kau lama sekali. Lama-lama berendam kau bisa keriput” Donghae oppa berteriak di balik pintu. Aish, mengganggu saja. aku segera mengakhiri aktifitasku dan bangkit dari bath tub kemudian membilas seluruh tubuhku di bawah shower. Setelah selesai, aku ingin mengambil handuk dan baju gantiku. Tapi,,, omo omo.., aku bahkan lupa membawa handuk dan baju gantiku. Bagaimana ini? aku tadi langsung masuk ke kamar mandi, membuka seluruh pakaianku dan masuk ke dalam bath tub. Aku mengitarkan pandanganku ke sekeliling dan akhirnya menemukan sebuah handuk berwarna putih tergantung di sudut kamar mandi, aku segera mengambilnya dan melilitkan ke tubuhku. Aigoo… kurasa handuk ini tidak begitu berguna. Mengapa kecil sekali, kurasa 30 centi di atas lututku. Bagaimana aku bisa keluar dengan keadaan seperti ini.


“Ah.. oetokhe, oetokhe?” aku hanya bergumam sambil terus mondar mandir di dalam kamar mandi.


___


“Nyonya Lee cepatlah keluar, aku mau mandi. Atau kau mau aku masuk kesana sekarang? hah?”. Lee Donghae, apa yang ada di fikiranmu, kalau kau berani masuk, maka kau akan mati seketika itu juga.


“Iya, aku keluar, tapi tolong tutup matamu. Dan segera masuk setelah aku keluar. Ara?” aku berbicara di tepat di balik pintu. Menempelkan telingaku untuk mendengar jawabannya.


“Apa maksudmu? Mengapa aku harus menutup mata. Kau mau keluar tanpa busana? Sepertinya menarik. Cepatlah keluar sekarang juga” dasar pria mesum, kurasa otaknya sudah terkontaminasi Lee Hyukjae sekarang.


“Lee Donghae, jangan berfikir macam-macam. Pokoknya ketika aku membuka pintu, kau harus menutup matamu dan segera masuk ke dalam kamar mandi, ara?” aku kembali menegaskan pernyataanku sejela-jelasnya.


“Kau ini repot sekali. Ne, araso. Cepatlah keluar” balasnya. Ahh…. Aku menarik nafas dalam-dalam mengumpulkan semua konsentrasiku agar bisa segera keluar dari sini. Tangan kananku perlahan memutar knop pintu dan tangan kiriku menahan handuk yang melingkar di tubuhku agar tidak terjatuh.


“Oke, sudah siap. Kuhitung sampai 3. Hana.. dul.. set…” aku membuka pintu dan segera melangkah keluar, namun tidak berhasil. Aku malah menabrak tubuhnya yang tepat di hadapanku, Hingga membuatku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Untungnya Donghae oppa dengan cepat menahan tubuhku agar tidak jatuh. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menahan tengkukku dengan sebelah tangannya. Wajahnya tepat di depan wajahku sekarang, aigoo apa yang harus kulakukan? Oema, tolong aku!


Donghae’s POV


Dengan setengah berlari aku segera menuju ke kamar. Mencoba mencari tahu bagaimana keadaannya sekarang. Ketika terakhir melihatnya yang menangis sambil berlari melewatiku benar-benar mengkhawatirkan. Segera kubuka pintu kamar, dan mencari keberdaannya. Tapi tidak ada. Ah mungkinkah dia sedang mandi. Aku mengetuk pintunya untuk memastikan. Yah benar dia ada di dalam sana, dan untungnya dalam keadaan baik-baik saja. Bagus, tepat jam 17.30. diluar sedang hujan lebat, apakah masih akan dilakukan penerbangan?, aku menekan tombol di telepon yang ada di meja kecil di samping tempat tidur. Meminta tolong seorang staf untuk memesankanku tiket penerbangan ke seoul malam ini, tapi hasilnya nihil. Semua penerbangan malam ini harus ditunda karena hujan lebat dan angin kencang.  Hari yang sangat melelahkan, dari pagi sampai sore aku benar-benar tidak berhenti melakukan sesuatu yang membuatku sangat lelah sekarang. Aku membuka bajuku satu persatu kurasa berendam di air hangat akan terasa nyaman. Kemudian mengambil baju handuk yang tergantung dan segera mengenakannya, mengikat kedua talinya.


“Nyonya Lee cepatlah keluar, aku mau mandi. Atau kau mau aku masuk kesana sekarang? hah?”. Aku mengetuk pintunya dengan tidak sabar karena dia masih belum juga keluar dari kamar mandi. Menggodanya cukup menyenangkan, haha.


“Iya, aku keluar, tapi tolong tutup matamu. Dan segera masuk setelah aku keluar. Ara?” aku bisa mendengar suaranya tepat di balik pintu.


“Apa maksudmu? Mengapa aku harus menutup mata. Kau mau keluar tanpa busana? Sepertinya menarik. Cepatlah keluar sekarang juga” Haha, dia pasti sangat kesal mendengar pernyataanku ini. Tapi aku selalu suka dengan tampang kesalnya itu, pasti terlihat sangat menggemaskan.


“Lee Donghae, jangan berfikir macam-macam. Pokonya ketika aku membuka pintu, kau harus menutup matamu dan segera masuk ke dalam, ara?” dia kembali menegaskan pernyataannya.


“Kau ini repot sekali. Ne, araso. Cepatlah keluar” balasku yang sudah sangat tidak sabar menunggunya keluar


“Oke, sudah siap. Kuhitung sampai 3. Hana.. dul.. set…” tiba-tiba pintu di hadapanku terbuka, membuatku terlonjak kaget. dia keluar dengan sangat terburu-buru dan menabrak tubuhku yang berdiri tepat dihadapannya. Dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun aku segera menahan pinggangnya dan juga tengkuknya, mencoba menyelamatkannya untuk kali ini, aku tidak mau dia kembali terjatuh dan terluka seperti malam kemarin. Dia melingkarkan kedua tangannya di leherku dan membulatkan matanya menatap wajahku yang tepat didepan wajahnya. Sesaat kemudian aku merasakan sesuatu terjatuh mengenai kakiku,sesuatu yang  lembut, dan sepersekian detik kemudian, aku menyadari yang terjatuh adalah handuk yang dikenakannya,


“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….” Dia berteriak dengan sangat kencang ketika menyadari handuk yang melilit tubuhnya kini jatuh ke lantai. Dia segera bangkit dari posisinya, mendorong tubuhku masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.


Aku masih sangat shock dengan kejadian barusan. Dengan setengah sadar aku berdiri di balik pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Ya Tuhan, pemandangan itu terlihat sangat jelas di depan mataku.  Apa yang baru saja kulihat? Tubuhnya, yah aku mlihat semuanya.


Huuuuh…..aku menghembuskan nafasku mencoba kembali menjernihkan fikiranku yang mulai berfikir yang tidak-tidak. Aku bahkan sudah melihat semuanya. Dari ujung kepala sampai unjung kaki, semuanya Nampak sangat jelas terlihat, benar-benar jelas. Baru pertama kali ini aku melihatnya seperti itu, dan semuanya sukses membuat dadaku berdetak hebat dan membuat darahku mengalir dengan deras.


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA………….ANDWE,,, AAAAAAAAAAA OEMA…….”


Aku mendengar teriakan Gyuri dari luar, benar-beanr lucu. Karena kejadian tadi, dia malah berteriak-teriak sendiri. Pasti merasa sangat malu karena aku sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa ada benang sehelaipun yang menempel. Dan aku akui tubuhnya benar-benar, hem… menggoda. Aku selalu meledeknya dengan berkata bahwa badannya itu lurus. Dan ternyata salah besar, yaaa… bisa dikatakan cukup… yah… eng… seksi…, haha aku memukul-mukul kepalaku sendiri agar segera menghilangkan fikiran-fikiran kotor itu dari otaku ‘Lee Donghae babo, ayo sadarlah, jangan berfikir yamg tidak-tidak’. Hemh…. Aku menarik nafas dalam-dalam, mengatur semua fikiranku yang kacau balau setelah keadian barusan.


“Gyuri-ah gwencana?” tanyaku dari balik pintu kamar mandi. Pasti perasaannya juga sedang tidak baik sekarang.


“OEMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, AAAAAAAAAAAAAAh OETOKHE?? AAAAAAAAAAH LEE DONG HAE, KAU KETERLALUAN” dia balas berteriak dengan sangat kencang, kurasa teriakannya bisa terdengar sampai ke lobby hotel. Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya yang terus meracau tak jelas, gadis ini benar-benar menggemaskan. Ah Lee Gyuri, kau akan akan segera menjadi miliku seutuhnya.


To Be Continue…..

__ADS_1


__ADS_2