OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
let's go to office


__ADS_3

Donghae’s POV


“Apa yang akan kau lakukan hari ini?”


Aku serius menatap wajahnya yang tepat berada di bawah daguku. Semua perhatiannya tertuju pada dasi yang melingkar di leherku. Entah sudah berapa lama kami berdua berdiri berhadapan seperti ini. Aku sendiri yakin pasti kakinya pegal karena terus berjinjit untuk menyesuaikan tinggi badannya denganku. Jika seperti ini, kurasa memakaikan dasi sembari duduk di pangkuanku akan lebih nyaman baginya.


Dia membantuku bersiap-siap setelah sebelumnya kami sarapan bersama oemonim dan abouji. Aku berangkat lebih siang hari ini. Yah jam 10 di kantor, itu berarti aku bisa berleha-leha sejenak di rumah.


Aku kembali fokus pada istriku, dan serius menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


“Molayo” Jawabnya lemah.


Gyuri mengangkat kedua bahunya, seluruh perhatiannya masih tertuju pada simpul dasi yang sejak tadi di buka dan pasang tanpa tahu kapan akan selesai.


“Aku benar-benar tidak mempunyai kegiatan apapun selain berdiam diri di ruang tengah. Tenggelam bersama ribuan buku yang tersusun rapih disana. Atau aku harus pergi ke mall dan menghabiskan banyak uang. Hum, aku bosan lama-lama seperti ini” Lanjutnya, diiringi dengan hembusan nafas berat yang terasa hangat mengenai leherku.


Sejenak dia menyempatkan wajahnya untuk mendongak dan mengaragkan tatapannya ke mataku. Membuat aku tersenyum karena wajah cantiknya benar-benar terlihat jelas.


“Apa benar-benar membosankan seperti itu. Bukankah kau sangat senang jika tidak pergi kuliah? Liburanmu masih lebih dari satu bulan kan? Ayolah, nikmati saja semuanya sesuka hati”


“Iya, aku memang tidak masuk kuliah. Tapi terlalu lama libur juga tidak enak rasanya. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku  lakukan untuk menghabiskan waktuku. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Omma sibuk dengan ahjuma glamour yang selalu mengajaknya pergi arisan. Jiyeon, dia juga sedang sibuk di café barunya”


“Apakah kita harus pergi liburan berdua lagi? Huh?”


Aku meraih kedua tanggannya yang sedang sibuk membetulkan kerah bajuku. Dia melangkahkan kakinya mundur. Tersenyum sesaat setelah puas melihat simpul hasil karyanya yang sudah terpasang rapih di kerah bajuku.


“Oppa, jangan bercanda. Kita baru saja kembali dari Bali, kemarin”


“Tidak apa-apa. Ayahmu pasti akan mengizinkannya dengan senang hati. Lagipula, kau juga sangat menikmati kebersamaan kita di Bali kan?”


“Em, tentu saja aku sangat menikmatinya. Salah satu tempat terindah yang pernah aku datangi”


“Lebih menyenangkan karena ada aku, iya kan?”


“Ish, aku rasa tanpamu juga tidak ada bedanya”


“Tapi jika sendirian, namanya bukan Honeymoon sayang….”


Aku menjepit hidungnya dengan gemas, ketika dia memasang tampang menyebalkan yang sangat manis.


Aku berjalan untuk mengambil jas hitamku yang tergantung di dalam lemari, kemudian mengenakannya dengan segera. Sebelumnya aku memastikan penampilanku di depan cermin.


Kulirik Gyuri yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriku dengan serius. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan menahan kedua tangannya ke belakang, menekan kasur.


“Apa aku tampan hari ini?”


Aku berbalik ke arahnya yang berada tak jauh di belakangku. Tapi kemudian dibalas dengan sebuah cibiran darinya.


“Tch, kau ini narsis sekali tuan Lee. Berhenti menyebut dirimu tampan”


“Jadi dimatamu, aku tidak tampan sama sekali? Ish, keterlaluan”


Aku berjalan mendekat ke arahnya sembari mengenakan sebuah jam tangan berwarna hitam di tangan kiriku. Dia tersenyum ketika melihat aku menampakan wajah kesalku.


“Sayaaang. Barusan kau mengatakan ‘Apakah aku tampan hari ini?’. Dan jawabanku tidak salah”


“Maksudmu?”


“Kau itu terlihat tampan setiap hari. Kemarin, hari ini, dan juga besok. Kau adalah pria tertampan di mataku. Jadi berhenti menanyakan hal itu padaku?”


Secara otomatis, kedua sudut bibirku tertarik sempurna membentuk sebuah senyuman. Jadi mulai sekarang istriku mulai mengakui ketampananku? Ah, manisnya. Tapi apa tidak terlalu aneh mendengarkannya berbicara seperti itu?. Dia biasanya akan membuang muka atau, meledekku ketika aku mengatakan jika aku ini tampan. Ah, pasti ada maksud tersembunyi dibalik kata-katanya.


“Kau sedang merayuku?”


Dia terkesiap ketika mendengarkan sebuah kalimat yang baru saja keluar dari mulutku. Matanya mulai sulit mendapatkan fokus. Ahaha, benar saja. Aku tau apa yang ada di otakmu. Kau pasti punya maksud terselubung di balik tingkah manismu itu Nyonya Lee.


“Aa….. ani… aniyeo… aku tidak bermaksud apa-apa ketika mengatakan hal ini. Ini serius kau memang sangat tampan, sayang. Percayalah padaku”


Dengan sedikit gugup, dia mengibaskan kedua tangannya di depanku. Sedangkan aku masih berdiri tegak dihadapannya sambil berkacak pinggang. Aku menaikan sebelah alisku dengan tatapan menyelidik, membuat dia menjadi salah tingkah.


“Aku tau, apa yang kau inginkan. Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi. Aku ini bukan suami yang pelit. Aku juga mengerti tanggung jawabku kepada seorang istri. Berapa yang kau butuhkan?”


Dia segera bangkit dari posisinya ketika aku mengeluarkan kalimat terakhir dari mulutku. Matanya berbinar dengan cengiran lebar yang terlihat sangat menggemaskan.


“Aku mau pergi ke pusat perbelanjaan. Berikan aku uang yang banyak”


“Tunai?”


“Terserah kau. Tapi aku lebih suka kau meminjamkan ATM milikmu untuk hari ini. Heem”


Aku terkekeh pelan ketika mendengar dia berbicara seperti itu di depanku. Aigoo, sejak kapan istriku jadi matrealistis seperti ini.


“Kau fikir kau bisa medapatkannya begitu saja”


“Mwo? Maksudmu?”


“Aku tidak akan memberikan ATM ku secara Cuma-Cuma padamu, sayang”

__ADS_1


“Lalu?”


Tanpa aku duga dia melangkahkan kakinya mendekat ke arahku, kemudian menarik kerah bajukuku dengan kedua tangannya. Kakinya berjinjit untuk menyesuaikan tingginya dengan tubuhku. Pandangan matanya terpusat pada bibirku yang tepat berada di hadapannya. Saat ini posisinya benar-benar sangat dekat denganku.


Jadi seperti ini cara dia merayu suami untuk mendapatkan uang. Sebuah cara yang sangat ampuh, karena dengan begini aku tidak dapat mengatur cara kerja otaku secara maksimal. Selalu seperti ini. Apa yang aku rasakan setiap berada terlalu dekat dengannya adalah hal yang berlebihan. Gugup dan berdebar.


“Kau mau menggodaku sekarang?”


“Tuan Lee. Aku tidak berniat menggodamu. Tapi sepertinya kau menginginkanku melakukan cara ini untuk mendapatkan beberapa lembar won dari dompetmu”


“Em, Sudahlah jangan bersikap seperti ini. Aku tau kau sedang berdebar saat ini. Iya kan? Ahaha. Aku bahkan mendengarmu menelan ludah beberapa kali. Kau ini terlalu pemalu untuk melakukan hal ini padaku. Nyonya Lee”


“Ish, kenapa kau selalu saja merusak suasana”


Dia melepaskan cengkramannya di kerah bajuku. Kemudian berjalan mundur dengan tatapan kesal.


“Araseo”


Aku merogoh saku celanaku untuk menemukan dompet yang biasa aku selipkan di dalamnya. Membukanya dengan hati-hati, untuk melihat berapa banyak uang yang aku punya saat ini.


Aku akan memberikannya uang tunai, karena jika aku meminjamkan salah satu ATM-ku bisa saja dia terlalu keenakan dan menghabiskan semua uangku. Aku sangat tau sifat Gyuri. Dia itu gila belanja. Aigoo, dapatkan aku memuaskan kebutuhan hidup istriku yang terlihat sangat berlebihan itu.


“Uang tunai?”


Dia mengangkat alisnya dengan tatapan bingung ketika aku menyodorkan beberapa uang tunai yang aku ambil dari dalam dompetku. Aku memang jarang sekali menyimpan uang tunai dengan jumlah yang besar. Jadi aku memberikan semua yang ada di dompetku untuknya, dan hanya menyisakan beberapa ribu won untuk membeli bahan bakar mobil di perjalanan menuju kantor.


“Ini uang tunai yang ada di dompetku, maaf jika jumlahnya tidak terlalu banyak. Kau kan sudah aku berikan uang belanja setiap bulannya. Anggap saja ini bonus karena kau sudah membantuku mengenakan dasi pagi ini. Aku memberikan uang tunai, karena jika aku meminjamkan salah satu ATM-ku bisa saja kau terlalu keenakan dan menghabiskan semua uangku. Aku sangat tau sifatmu sayang. Kau ini gila belanja”


Dia terlihat tidak terima ketika aku menjelaskan kenapa aku tidak mau meminjamkan ATM-ku padanya. Yah, Gyuri saat ini tidak memegang ATM pribadi yang sebelumnya berjejer rapih di dompetnya. Aku yang memintanya untuk mengembalikan ATM itu pada ayah mertuaku. Sebagai suaminya aku harus bertanggung jawab dengan kehidupan istriku. Mencoba memenuhi setiap keinginannya dengan uang hasil keringatku sendiri. Setidaknya hal membuat ibu mertuaku menjadi sangat membanggakanku. Dan rasanya sangat menyenangkan.


“Kau tidak mau ini? Jika  100.ooo tidak cukup, kau bisa menghubungiku. Biar aku meminta karyawan untuk mengantarkan uang padamu. Tapi ingat, aku hanya akan memberikan uang tunai”


Aku kembali menyodorkan uang itu kepadanya. Dan dengan sedikit enggan dia mengagkat tangan kananya untuk mengambil lembaran won itu dari tanganku. Aku tak bisa menahan senyum ketika melihat ekspresinya saat ini. Ekspresi kesal dan terdesak. Dia benar-benar tidak punya pilihan lain sekarang.


“Kamsahamnida…. Oppa”


Balasnya kemudian menaruh uang itu di atas meja samping tempat tidur kami. Aku melihatnya yang berbalik masih dengan ekspresi sebelumnya.


“Pantaskah kau menunjukan wajah seperti itu, ketika suamimu baru saja memberikan 100.000 untuk kau habiskan, huh?”


Aku menghampirinya kemudian mengulurkan tangan kananku meraih dagunya, membuat dia mendongkan kepalanya tepat di depan wajahku.


“Aniyeo. Aku senang kau memberikan uang sebanyak ini. Aku hanya sedang psimis sekarang. Setelah mendapatkan uangnya, aku malah bingung akan dipergunakan untuk apa”


Gyuri menghembuskan nafas berat ketika mengucapkan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Yah, ku kira dia akan sangat senang dengan libur panjangnya. Ternyata tidak sama sekali. Jauh berbeda dengan liburan musim panas yang dilewatinya di tahun-tahun kemarin. Setiap hari dia selalu mempunyai acara menyenangkan. Bahkan dia mengatakan padaku, jika liburan musim panas terasa sangat pendek. Aku tau dengan jelas, apa alasan dia menikmati setiap hari liburannya. Hum, siapa lagi kalau bukan Lee Jinki. Dia memang selalu bisa membuat Gyuri merasa senang. Berbeda denganku yang bahkan sulit sekali mendapatkan waktu yang leluasa bersamanya.


“Ayolah, semangat. Temui Jiyeon di café-nya. Siapa tau dia juga sedang bosan melayani pelanggan dan akhirnya mau menemanimu pergi ke pusat perbelanjaan”


“Yasudah, kau main saja disana. Kalau perlu, bantulah dia melayani pelanggan. Setidaknya kau bisa mengelap meja kan?”


“Pasti menyenangkan bisa bekerja dan berguna untuk orang lain?”


Ekspresinya berubah ketika dia mengatakan kalimat itu dari mulutnya. Mungkin dia merasa bosan dengan hidupnya yang datar setiap hari. Menjadi pekerja? Apakah uang yang aku berikan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belanjanya setiap hari?


“Hei, sudahlah. Kenapa jadi memikirkan hal itu. Mandilah, kau belum mandi kan? Setelah itu kau bisa bermain kemanapun kau mau. Tapi ingat, jangan pernah menunjukan senyuman berlebihan pada pria lain. Karena yang pasti mereka akan langsung terkesima ketika melihatnya. Dan aku tidak mau pria lain melirik wajah cantik istriku dengan tatapan seperti itu. Arachi?”


Aku menepuk pelan puncak kepalnya, dan dibalas dengan anggukan berkali-kali diiringi dengan sebuah senyuman lebar yang terlihat sangat manis


“Araseo, Tuan Lee. Kau juga bekerjalah dengan baik. Jangan menggoda karyawan wanita”


“Aish, kau fikir aku pria seperti apa?”


Dia terkekeh geli ketika melihat ekspresi kesalku karena mendengar ucapannya.


“Baiklah, aku pergi”


“Em, hati-hati”


“Semoga harimu menyenangkan”


“Kau juga, semangat”


Dia mengepalkan tangannya dengan erat kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi untuk menyemangatiku. Yah, saatnya berangkat ke kantor.


***


Gyuri’s POV


Setelah selesai mandi. Aku bersiap untuk keluar dan menemui Jiyeon. Kulirik jam digital yang terletak di atas meja di samping ranjang. Tepat jam 10. Kira-kira aku sampai ke sana pukul 11.30. Ah, pasti di café-nya sedang sangat ramai. Para karyawan berdatangan untuk menghabiskan waktu istirahat makan siang mereka disana.


Ah sudhlah. Daripada aku mengahabiskan waktu dirumah saja, lebih baik aku menemuinya. Sejak kemarin dia tak berhenti mengirimiku pesan dan menelponku untuk menanyakan kapan aku bisa bertemu dengannya.


Sebenarnya sejak kemarin dia sudah menyuruhku untuk menemuinya, tapi aku dan Donghae oppa bahkan baru saja kembali dari Bali. Perjalanan yang cukup melelahkan karena memakan waktu yang sangat panjang. Pasti Donghae oppa juga merasa kelelahan sekarang. Dia tidak mengambil waktu libur sekedar mengistirahatkan tubuhnya sebentar.


Oppa beralasan libur satu minggu itu sudah terlalu lama, dan dia tidak ingin pekerjaannya menumpuk nanti, itu akan mambuat dia semakin lelah karena mengerjakan tugas yang sedemikian banyak tersebut. Aneh, bagaimana mungkin seorang CEO mempunyai pekerjaan yang sangat banyak, kurasa bisa melebihi pekerjaan seorang karyawan sekalipun. Dia itu terlalu rajin untuk seorang atasan. Donghae oppa bahkan pulang lebih telat daripada karyawan yang lainnya. Kasihan sekali suamiku. Dia benar-benar memegang janjinya dan melaksanakan tanggung jawab untuk mejaga perusahaan. Sesuai dengan apa yang dikatakan abouji sebelum dia meninggal.


Membuat konsep, memerikasa keuangan. Menaggapi keluhan. Itulah yang selalu dia lakukan. Semuanya dia lakukan sendiri. Ketika beberapa orang sudah membuat sebuah berkas dengan ketebalan yang maksimal, dia harus memeriksanya dengan teliti sebelum memutuskan untuk mebubuhkan tanda tangannya disana. Seornag CEO yang benar-benar seurna. Suamiku.

__ADS_1


***


“Kau mau pergi menemi Jiyeon?”


“Em, dari kemarin dia sudah memintaku untuk menemuinya, tapi kemarin aku masih sangat lelah omma. Jadi hari ini aku baru sempat pergi ke café-nya”


Aku duduk di samping umma yang sedang sibuk menonton sebuah tayangan drama di televisi. Aku merapihkan tali sepatu yang aku kenakan, sembari sesekali melirik ke layar televisi untuk melihat drama yang sedang ditayangkan disana. Yah, kurasa duduk sebentar untuk menemani omma menonton drama tidak masalah, lagipula kurasa Jiyeon pasti sedang sibuk sekarang.


Aku masih serius menyaksikan tayangan di hadapanku, tiba-tiba oppa membalikan badannya menatapku, kemudian tersenyum dengan tatapan aneh dan terlihat sedikit mencurigakan.


“Whae?”


Aku mengangkat aisku dengan tatapan bingung. Sedangkan omma tetap menatapku dengan tatapan sama.


“Gyuri-ah…”


Omma kembali tersenyum aneh. Mulutnya sudah mulai terbuka dengan tatapan menyelidik.


“Gyuri-ah, Ayo ceritakan”


“Huh?”


Aku sedikit kaget ketika mendengar kalimat itu kembali di katakannya. Yah, sudah berapa kali dia memintaku untuk menceritakannya.


Hemh…, Aku menghembuskan nafas berat ketika harus mendengar perintah itu lagi darinya.


“Omma, sudah berapa kali aku katakan. Aku tidak akan menceritakan hal itu padamu”


Ini sudah kesekian kainya dia mneyuruhku untuk menceritakannya sejak kemarik ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, Dia sudah menyeret tubuhku dan membawaku ke dalam kamarnya. Dia menutup kunci rapat-rapat dan tiba-tiba mengeluarkan sebuah pertanyaan yang membuatku mejadi salah tingkah mendengarnya,


“Gyuri-ah, apakah dia hebat ketika melakukannya?”


pertanyaan itu masih aku ingat dengan jelas. Apa sebenarnya maksud dari omma-ku ini. Kenapa dia menanyakan hal paling pribadi seperti itu. Hal yang tidak pantas untuk ditanyakan langsung kepadaku. Keterlaluan.


“Ayolah sayang. Disini tidak ada siapa-siapa. Bibi Jung sedang di taman belakang. Appa-mu pergi bermain golf bersama teman-temannya. Dan yang paling penting suamimu juga sudah berangkat ke kantor satu jam yang lau. Ayolah, kau tidak perlu malu pada omma”


“Omma…, mengapa kau suka sekali dengan pertanyaan seperti itu?”


“Hei, omma hanya ingin tau. Sudah hampir 6 tahun Donghae tinggal di rumah ini. Dia sudah omma anggap seperti putra omma sendiri. Dan mata sayunya itu membuat omma penasaran. Dia pasti sangat romantis kan?”


Aku melihat mata omma berbinar penuh keceriaan saat mengatakannya. Mata sayu yang membuatnya penasaran? Yah, aku akui mata Donghae oppa memang terlihat sangat berbeda. Rasanya sangat teduh dan damai hanya dengan melihat matanya. Hem, sebuah komposisi menarik yang tersusun menjadi pemandangan indah yang tidak pernah bosan untuk dipandangi, ya, wajah tampannya.


Omma menyentuh lenganku dnegan telunjuknya. Kurasa dia benar-benar penasaran dengan pengalaman pertamaku itu. Tapi aku tidak mungkin menceritakan hal pribadi seperti itu. Argh, pasti akan sangat memalukan.


“Shireo, aku tidak ingin menceritakannya pada omma, aku tidak mau mengatakan apapun”


“Aish, kau ini. Harus berapa kali omma tegaskan. Omma hanya ingin tau apakah dia hebat ketika melakukannya? “


“Omma berhenti mengatakan hal itu. Kau tidak perlu menanyakan pasti sudah tau apa jawabanku”


“Aigoo, jadi dia melakukannya dengan sangat baik?’


“ Eng…, hem… ya… Yah begitulah”


“Berarti dia sangat hebat kan?”


“Ahm, yah, ku…. kurasa begitu”


Aku tau saat ini pasti wajahku berubah menjadi seperti tomat. Bagaimana bisa aku nenjawab pertanyaan konyol seperti itu. Lagi pula untuk apa menanyakan mengenai itu padaku. Apakah orang dewasa memang sudah terbisa untuk membicarakan hal ini. Aigoo, memalukan.


“Omoo,  putri omma sudah besar sekarang”


“Ish, omma….”


Aku tidak bisa menahan senyuman ketika mendengar hal yang baru saja dikatakannya. Wajahku sudah terasa sangat panas menahan malu.


“Setidaknya kau sudah berani melakukannya. Kau juga mengatakan pada omma bahwa Donghae itu sangat hebat. Ahahaha, aku sangat antusias mendengarnya. Bagaimana dia melakukan itu pada putri keclku?”


Omma terus saja mengeluarkan kata-kata yang membuatku menjadi kebingungan sendiri untuk mejawabnya. Aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa menghentikannya yang terlihat sangat antusias dengan hal itu.


“Sudahlah omma jangan dibahas lagi. Aku malu….”


“Aigoo, kenapa harus malu. Lain kali ketika kalian melakukannya lagi. Ceritakan semuanya pada omma, oke?”


“OMMA…..”


Aku berteriak keras ketika mendengar pernyataan yang baru saja dikatakannya. Apa-apaan itu, ish, mana bisa aku menceritakannya pada omma. Apa aku ini sudah gila.


“Ah, sudahlah aku mau pergi”


Aku bangkit dari posisiku, membenarkan tas selempang yang aku kenakan kemudian berjalan menuju pintu.


“Gyuri-ah kau mau kenama?”


“Aku akan pergi menemui Jiyeon. Mungkin akan sampai malam karena kami ingin bermain di pusat perbelanjaan  dan menghabiskan waktu berdua disana”


“Kau harus pulang sebelum suamimu sampai ke rumah”

__ADS_1


Ujar omma dengan setengah berteriak karena aku sudah membuka pintu keluar.


***


__ADS_2