
Donghae POV
“Jadi bagaimana menurut kalian?”
Aku mengangkat sebelah alisku untuk merespon tatapan bingung mereka yang tampak sedang berfikir keras. Sejak tadi aku ikut bergabung bersama di sebuah ruangan besar yang tepat berada di depan ruang utamaku. Tepatnya setelah Gyuri memutuskan untuk pulang. Aku beranjak keluar dan mengamati apa yang sedang mereka kerjakan. Melihat tampang serius yang sejak tadi ditunjukan, itu malah membuatku ingin melakukan sesuatu untuk menghilangkan setres yang melanda akibat bekerja terlalu keras akhir-akhir ini.
“Oke, pesta formal dan dilaksanakan di sini. Tidak perlu semua karyawan yang ikut, jika seperti itu bisa-bisa semua pekerjaan hotel jadi kacau. Bagaimana kalau hanya beberapa staf saja yang menghadirinya?”
Ujar Eunhyuk dengan penuh semangat, kemudian disambut dengan anggukan dan senyuman setuju dari semua orang yang sejak tadi memang membutuhkan satu pendapat yang bisa mewakili apa yang mereka inginkan.
“Baiklah, tidak masalah. Silahkan kalian atur kapan waktu yang tepat. Dan yang pasti, tidak juga mengganggu sistem manajemen kantor. Yah, kalau bisa sebaiknya pesta dilakukan malam hari setelah jam kerja. Oete?”
“Yah, ide yang bagus. Pesta formal yang isinya tidak terlalu berat. Kita bisa bersenang-senang dan sedikit melupakan masalah pekerjaan untuk sejenak. Sekalian merayakan keberhasilan kita menyelesaikan masalah hotel yang akhir-akhir ini memang menyita banyak waktu. Malam hari setelah jam kerja habis. Mungkin sekitar jam 9 malam? Kurasa waktunya cukup banyak untuk bersiap-siap”
Kali ini Haneul yang menyampaikan pendapatnya, sejak tadi dia memang diam dan sedikit bersikap aneh padaku. Tapi akhirnya dia bersuara juga, setidaknya membuatku merasa lega. Jangan sampai dia merubah sikapnya terhadapku gara-gara kesalahan yang terjadi tadi sore. Lagipula, mengapa aku begitu bodoh sampai salah orang seperti itu? mengapa aku sangat ceroboh sampai-sampai tidak bisa membedakan yang mana istriku dan yang mana sekretarisku.
Seharusnya ide konyol itu memang tidak harus ada di kepalaku. Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Toh semuanya sudah terjadi, dan Gyuri juga sudah berhasil aku redam amarahnya. Kedepannya aku harus lebih berhati-hati dan memang harus sedikit menjaga jarak dengan Haneul, walaupun aku yakin, aku tidak bisa melakukan itu semua karena setiap hari aku memang membutuhkan Park Haneul untuk membantuku melaksanakan semua tugas.
“Bagaimana kalau besok? Aku rasa semuanya sudah sangat frustasi karena masalah kemarin. Saatnya kita bersenang-senang dan melupakannya sementara”
“Ide yang bagus, kalian bisa mempersiapkan semuanya dan aku hanya tinggal menyetujuinya”
“Baiklah, kita akan menyusun sebuah acara yang pastinya menarik. Walaupun hanya kita yang ikut dalam pesta tersebut, tapi aku mau membuat sebuah konsep yang sangat baik. Yah setidaknya benar-benar menghibur dan membuat kita semua senang”
Kali ini aku dan Eunhyuk yang terlibat dalam sebuah dialog. Yang lainnya sibuk mengangguk dan sesekali bertepuk tangan tanda setuju.
Di dalam ruangan ini, kira-kira terdapat 20 orang yang sedang duduk di kursinya masing-masing. Sedangkan aku dan Eunhyuk berdiri berdampingan di tengah-tengah meja kerja mereka yang berjajar rapih. Tentu saja Haneul juga berada di ruangan ini, tapi dia lebih memilih berdiri di belakang seorang karyawan dan menandarkan punggungnya ke tembok, dibanding berdiri di belakangku seperti biasanya. Yah, aku rasa, aku sudah membuat dia menjadi tidak nyaman berada dalam jarak yang terlalu dekat denganku. Dan itu juga membuatku merasa tidak nyaman Park Haneul-ssi.
“Bagus. Aku akan menunggu kalian menyodorkan sebuah kertas yang akan aku pertimbangkan nantinya. Aku harap dengan adanya waktu senggang yang kita gunakan untuk melepas lelah sejenak. Kalian dan kita semua bisa bekerja lebih baik lagi. Setidaknya me-refresh-kan fikiran yang sudah terlalu panas jika dipakai bekerja terus-menerus”
“Araseo, sajangnim. Aku tidak menyangka, kau juga perhatian terhadap karyawanmu”
Seperti biasanya, kalimat-kalimat asal memang selalu saja keluar dari mulut Lee Hyukjae bodoh ini. Memangnya selama ini aku tidak memperhatikan semua karyawanku. Ish, keterlaluan. Aku bukanlah tipe boss yang akan berbuat seenaknya dan memaksa karyawan untuk terus bekerja. Aku juga mengerti apa yang dirasakan oleh mereka, karena aku juga merasakannya.
Bagaimana tidak? Aku bahkan ikut membantu untuk menganalisis beberapa data, walalupun sebagian besar langsung aku tandatangani, tapi aku juga mengerti apa yang harus aku lakukan sebelumnya. Dan si bodoh ini. Dia bahkan mengomel tadi pagi, hanya karena aku belum memisahkan berkas yang sudah aku tanda tangan dan yang belum aku tanda tangani. Berlebihan memang, tapi aku rasa itu semua pengaruh fikiran yang sudah sangat lelah. Makanya aku memutuskan untuk melaksanakan acara ini sebagai hiburan untuk staf-ku yang sudah bekerja dengan sangat keras.
“Kapan aku tidak memperhatikan staf-ku Enhyuk-ssi. Aku rasa aku selalu melakukan yang terbaik. Benar kan?”
Aku mencoba mencari persetujuan dari beberapa karyawan yang sejak tadi asik menonton dan mendengarkan kami berdua yang sedang berdiri di sini. Mereka hanya menjawab pertanyaanku dengan mengangguk dan tersenyum ringan.
Oke, untuk kali ini aku rasa berada di kantor cukup menyenangkan. Walaupun tadinya aku sedang kesal karena tidak bisa pulang kerumah sebelum waktunya, tapi aku bisa mengobrol dengan staf yang memang setiap hari bekerja di ruangan ini. Mereka agak canggung dan selalu bersikap kaku padaku. Kecuali Haneul dan Eunhyuk tentunya. Dengan diadakannya acara ini, semoga aku bisa menghilangkan sikap kaku mereka terhadapku. Hemh, menjadi seorang atasan yang friendly tidak ada salahnya. Dan aku memang ingin dianggap seperti itu. Mereka bekerja tanpa tekanan dan akan melakukan yang terbaik. Sama halnya dengan apa yang akan aku lakukan. Aku akan berusaha untuk menjaga hotel ini agar tetap berdiri tegak dan melaksanakan semua keinginan ayahku. Setidaknya itu bisa membuatku bangga sebagai seorang putra tertua yang diberikan tanggung jawab oleh ayahku tercinta yang kini sudah tidak ada. Bahkan ayah mertuaku juga sudah menyerahkan semua kepercayannya terhadapku. Tidak hanya hotel ini, tapi juga putri cantiknya. Istriku.
***
Author’s POV
Jinki dan Jiyeon masih menikmati kebersamaan mereka di sebuah coffe shop. Keduanya tampak sangat antusias menceritakan berbagai adegan mengesankan yang baru saja mereka tonton. Hari ini Jiyeon begitu bahagia karena menghabiskan banyak waktunya bersama Jinki. Mulai dari menjenguk teman di rumah sakit, mencari peralatan untuk praktik mata kuliah, pergi ke bioskop, sampai akhirnya mereka menghabiskan waktu berdua di tempat ini.
Jiyeon tak berhenti tersenyum saat melihat Jinki dengan seriusnya menyampaikan pendapat mengenai film yang barusan mereka tonton. Bukan karena perkataan yang keluar dari mulut Jinki, tapi karena Jiyeon sangat senang ketika Jinki mau banyak berbicara padanya. Dan dia sangat menyukai berbagai ekspresi wajah yang ditunjukan Jinki, dan terkadang diselingi senyum manis yang membuat matanya menghilang seketika. Lucu.
“Aku tidak akan pernah melupakan film yang baru saja kita tonton. Dan aku rasa aku akan menontonnya lagi, kalau perlu membeli DVD-nya nanti”
“Kurasa kau sangat menyukai film itu. Yah memang sangat menarik. Dan aku juga senang bisa menghabiskan waktu bersamamu”
Balas Jiyeon diiringi dengan senyum lebarnya yang tak pernah henti ia tunjukan.
__ADS_1
Hubungan mereka memang stagnan. Atau bisa juga dikatakan jalan di tempat. Semua mengalir sangat lambat. Untuk pasangan remaja lain, mungkin menghabiskan waktu bersama dan merasa nyaman satu sama lain. Itu semua sudah cukup untuk menghadirkan suatu perasaan tersendiri pada masing-masing yang terlibat. Tapi tidak untuk mereka. Untuk Jinki tepatnya.
Jinki masih tidak bisa mengerti bagaimana perasaaannya terhadap Jiyeon. Dia hanya merasa, ini terlalu sederhana untuk disebut cinta. Tapi dia juga menyadari perasaannya terlalu dalam untuk seorang teman atau sahabat. Sudah beberapa bulan ini mereka dekat. Dan bisa saja itu membuat Jinki benar-benar jatuh cinta pada gadis ini. Dia hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Untuk mengungkapkan perasannya pada Jiyeon, dan meminta gadis itu menjadi kekasihnya. Semuanya tidak mudah karena seorang Lee Jinki hanya pernah mengungkapkan perasaan pada seorang gadis. Kim Gyuri.
***
Hari sudah mulai gelap, dan kedua remaja ini memutuskan untuk berhenti di sebuah taman karena melihat 2 ayunan kosong yang memang terlihat akan sangat menyenangkan jika bermain disana. Sebuah taman yang sepi. Letaknya tidak jauh dari kediaman Jiyeon, bahkan dari taman situ, bisa terlihat jelas rumah Jiyeon yang memang tidak ada siapa-siapa disana. Selama beberapa minggu kedua orang tuanya pergi ke Cina, dan mau tidak mau, Jiyeon itu harus tinggal sendirian di dalam rumah besar itu.
Waktu seharian ini terlalu singkat untuk Jiyeon, dan dia belum ingin mengakhiri pertemuannya dengan Jinki. Dan lagi, hari ini juga Jiyeon akan menegaskan perasaanya pada Jinki. Tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh pria itu. Seorang Park Jiyeon, hanya butuh suatu kepastian agar dia tidak merasa bingung dengan statusnya saat ini.
Semuanya memang sangat berat, bahkan terlalu memalukan. Bagaimana seorang wanita harus menegaskan perasaannya berkali-kali pada seorang pria yang memang hanya dicintainya. Berbagai cara sudah Jiyeon lakukan agar Jinki bisa membalas perasaannya, tapi semuanya sia-sia saja. Karena Jinki selalu bersikap apatis terhadap semua hal yang sudah menjurus kearah sana. Jiyeon mendapatkan sebuah keberanian besar karena dia sudah sangat yakin terhadap perasaannya. Dia ingin Jinki jujur, seperti apa dia menganggap seorang Park Jiyeon. Hanya teman, sahabat, atau memang mempunyai perasaan lain diantara itu semua.
Bukan tidak pernah Jiyeon menanyakan mengenai gadis lain yang dia rasa masih berada di dalam hati pria yang sangat dikaguminya ini. Dia selalu bisa merasa jika Jinki memang masih belum bisa terbebas dari bayangan gadis lain dalam fikirannya. Karena itulah, kadang ia bersikap sangat dingin terhadap semua gadis. Walalupun tidak terhadap Jiyeon.
Untuk kali ini, Jiyeon mengesapingkan semua kehawatirannya mengenai itu. Dia akan menerima semua keputusan yang Jinki katakan. Untuk kesekian kalinya pula, dia mengungkapkan perasaan pada pria tampan itu, sekaligus meminta ketegasan darinya agar Jiyeon tidak banyak berharap. Dengan besar hati, dia bertekad untuk menerima segala keputusan yang Jinki katakan. Dan akan mendengarkan apa alasan dia masih belum bisa menerimanya. Semoga saja, gadis manis itu bisa mengatakan semuanya dengan berani. Dan pria yang dicintainya itu juga bisa menerimanya dengan senang hati.
“Jinki-ya, apa kau merasa bosan seharian ini bersamaku? Kita bahkan sudah lebih dari 8 jam menghabiskan waktu bersama”
“Ani… aku sama sekali tidak bosan bersamamu. Kau itu sangat menyenangkan. Bagaimana aku bisa bosan. Jarang sekali aku bisa sedekat ini dengan seorang gadis. Kau jauh lebih tau bagaimana aku memperlakukan teman-teman wanita. Mungkin agak dingin, karena aku memang tidak mudah nyaman untuk mengobrol banyak dengan seorang gadis. Tapi aku… aku merasa dekat denganmu. Hem, hampir sama seperti Gyuri”
“Jinja? Hem. Baguslah”
Jiyeon menghentakan kakinya ke tanah dan membuat ayunan itu kembali bergoyang. Beberapa saat dia menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan membiarkan rambut panjangnya terhempas dan jadi berantakan. Gadis itu kembali menghentakan kakinya ke tanah dan ayunan itu berhenti bergerak seketika. Jiyeon, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, kemudian merapihkan poninya dan kembali menengok Jinki yang sedang tersenyum memperhatikannya.
“Jinki-ya. Apa kau ingat, sudah berapa kali aku mengatakan jika aku menyukaimu?”
Ujarnya tanpa basa-basi.
“Huh? Eng… aku rasa lebih dari 10 kali. Tapi aku tidak bosan mendengarnya”
Kali ini ekspresi Jiyeon berubah jadi serius dan membuat Jinki mengerutkan alisnya dengan tatapan bingung.
“Kau sudah tidak suka lagi padaku?”
“Em, mungkin bisa jadi seperti itu” Jiyeon mengangguk singkat sebelum melanjutkan perkataannya
“Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tepatnya di dalam kelas. Terang-terangan aku mengatakan semuanya tanpa sungkan atau canggung. Mungkin kau menganggapku sebagai gadis yang tidak tahu malu…”
“Eiy, apa yang kau katakan” sela Jinki diantara kalimat yang diucapkan Jiyeon.
“Aku tidak peduli dengan semuanya. Aku memang seperti ini. Park Jiyeon, akan mengungkapkan semua hal yang ada dihatinya. Jika aku kesal maka aku akan marah, jika aku sedih maka aku akan menangis, jika aku senang maka aku akan tertawa. Dan jika aku jatuh cinta, maka aku akan meluapkan semua perasaan cintaku. Itu terasa sangat lega bagiku, karena aku tidak memendam perasaan apapun yang hanya membuat dadaku sakit. Meluapkan semua emosi itu sangat menyenangkan”
“Kau benar-benar gadis yang berbeda. Aku suka opinimu barusan”
“Dan kali ini, aku mulai bosan dengan itu semua”
Jiyeon tampak diam sejenak. Dia kembali menghentakan kakinya ke tanah dan menggoyangkan ayunannya, tapi baru beberapa kali mengayun. Dia langsung mengehentikannya lagi.
“Aku bosan mengatakan aku menyukaimu. Karena kau sama sekali tidak merespon apapun. Kau hanya tersenyum dan mengatakan.’Araseo’ …” Jinki terkekeh pelan ketika mendengar Jiyeon mengikuti nada bicaranya. Dan selanjutnya Jiyeon kembali memaparkan kalimatnya.
“Aku benci jawaban itu. Awalnya aku bisa menerima dengan senang hati. Tapi lama-kelamaan, aku mulai merasa jika aku ini benar-benar seperti gadis bodoh yang tidak tahu malu. Bagaimana aku bisa sangat menyukai seorang pria, sedangkan dia sendiri sama sekali tidak pernah mempunyai perasaan apapun padaku”
Pembicaraan mereka mulai berubah menjadi serius. Suasana terasa berbeda ketika Jiyeon bahkan tidak mau menatap mata Jinki ketika dia berbicara.
“Park Jiyeon, maafkan aku jika sudah membuatmu merasa tidak nyaman”
__ADS_1
“Tidak ada yang salah. Kau tidak perlu meminta maaf” ujar Jiyeon dengan tegas
“Kau hanya perlu memberiku kepastian. Dan aku bisa memutuskan untuk melakukan apa kedepannya”
“Apa maksudmu?”
Tanya Jinki dengan pandangan tidak mengerti. Sebenarnya terlalu bodoh jika dia tidak mengerti. Hanya saja, Jinki masih mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Karena dia yakin, jika seperti ini maka dia harus menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya. Jinki tidak mau jika Jiyeon menjadi sakit hati karena mendengar narasinya.
“Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Aku meminta kejelasan bagaimana perasaanmu padaku. Aku tau, kau sepertinya masih dbayangi oleh sosok lain yang entah siapa. Tapi aku ingin kau menjelaskannya dengan kalimatmu sendiri. Aku ingin kau tegas mengambil keputusan dan aku juga bisa memutuskan bagaimana aku harus bersikap terhadapmu. Semuanya akan lebih terasa lega bukan?”
“Ahm… aku… tapi…” Jinki mulai kehilangan konsentrasi untuk mengeluarkan sebuah kalimat. Fikirannya berkecamuk dan mulai tidak karuan. Apa dia harus menceritakan semua yang dia rasakan? Apa harus berbohong? Tapi apa tidak pengecut seorang pria yang membohongi seorang gadis. Apa tidak memalukan melakukan hal itu?
“Kau yakin ingin mengetahui jawabanku?”
Tanya Jinki coba memastikan. Dia sudah mengumpulkan semua keberaniannya dan akan mengungkapkan segala hal yang mengganjal di hatinya. Gadis ini benar. Tidak baik baginya jika terus saja diperlakukan seperti ini.
“Saat ini aku sendiri tidak mengerti bagaimana sebenarnya perasaanku terhadapmu. Kau ini sangat manis, cantik, dan juga baik. Kau hampir mirip dengan Gyuri, karena kalian sama-sama banyak berbicara. Satu-satunya alasanku tidak mengatakan hal ini adalah. Karena seseorang yang belum bisa aku lupakan sepenuhnya”
Tiba-tiba Jiyeon mengarahkan pandangannya kearah Jinki. Dia menatap mata pria itu dalam-dalam. Ternyata semua dugaannya selama ini benar. Ternyata Jinki memang masih mempunyai perasaan terhadap gadis lain.
“Kim Gyuri… satu-satunya wanita yang pernah berada di dalam hatiku dalam waktu yang cukup lama”
Perkataan itu sukses membuat Jiyeon terbengong hebat. Dadanya tiba-tiba terasa sakit dan nafasnya mulai sesak. Bagaimana bisa gadis itu adalah Kim Gyuri. Sahabatnya sejak kecil yang sangat dia sayangi. Apakah dunia ini begitu sempit, sampai-sampai harus menyatukan 3 orang sahabat dalam sebuah kisah yang sama.
Diam. Itulah yang dilakukan Jiyeon saat ini. Terlalu sulit baginya untuk mengartikulasikan kata-kata dan mengeluarkan suara yang mungkin bisa membuatnya berbicara sedikit. Matanya bahkan sudah terasa panas, dan ingin sekali ia tumpahkan tangisnya saat itu juga. Tapi semuanya sangat sulit.
“Aku dan Gyuri memang bersahabat sejak kami duduk di tingkat satu SMA. Saat itu Gyuri dipelakukan tidak baik oleh beberapa temannya. Seperti yang kita tau, dia putri satu-satunya dari keluarga kaya. Bukan tidak mungkin teman-temannya mempunyai rasa iri. Dia juga sering sekali dimanfaatkan oleh teman-teman yang hanya menginginkan uangnya. Hanya aku satu-satunya teman yang dia percayai. Lama-lama perasaanku padanya berubah. Dari perasaan sayang sebagai sahabat, selanjutnya berubah menjadi rasa cinta. Aku melindunginya mati-matian, dan menjaganya setiap saat. Aku senang ketika dia akhirnya bersedia menjadi pacarku, walaupun hubungan kami memang disembunyikan. Gyuri dilarang berpacaran oleh ayahnya dengan alasan agar dia fokus belajar. Tapi setelah dia menikah, aku rasa aku tau apa alasan ayahnya melarang dia untuk berpacaran. Karena Gyuri memang sudah dijodohkan sejak dia kecil. Aku harus menerima sakit hati ketika Gyuri menikah dengan Donghae Hyung. Pria yang memang sudah ditakdirkan untuknya. Asal kau tau, walaupun dia sudah menikah, tapi kami berdua tetap berstatus sebagai sepasang kekasih”
Seperti memutar sebuah film lama dalam memorinya. Jinki begitu fasih mengungkapkan segala hal mengenai Gyuri. Mulutnya seakan sudah hafal mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, dari yang menyenangkan sampai yang menyakitkan.
Sedangkan Jiyeon. Dia hanya menundukan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Tapi isak tangis itu mulai terdengar beberapa saat kemudian. Jinki mencoba untuk menyentuh pundaknya atau sekedar mengusap punggungnya untuk menenangkan. Tapi ketika dia mengulurkan tangan, dia kembali menariknya dan mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. Dia memutuskan untuk meneruskan narasinya sebelum menghentikan tangis Jiyeon.
“Keadaan itu tidak bertahan lama. Setelah Gyuri menikah, aku mulai menyadari bagaimana sebenarnya perasaan dia terhadapku. Semua perhatianku, pembelaanku, rasa sayangku. Semua yang aku berikan padanya, bisa dia balas dengan baik. Gyuri memperlakukanku sebagai kekasih dengan sangat baik. Tapi itu semua bukan berarti dia juga membalas perasaanku. Setelah dia menikah, aku semakin mengerti seperti apa dia menganggapku sebenarnya. Kim Gyuri… ahm… ani… Lee Gyuri. Dia tidak pernah mencintaiku sama sekali. Gadis itu hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Dan semua yang dia lakukan padaku, hanyalah bentuk balas budi terhadap seorang teman yang sudah membelanya setiap saat. Tidakah nasibku juga begitu menyedihkan? Huh?”
Jinki kembali menatap Jiyeon yang saat ini sudah mulai mengangkat wajahnya. Dapat dilihat dengan jelas, air mata itu mengalir deras di pipi gadis cantik yang sedang duduk di sampingnya. Ujung hidungnya terlihat merah dan matanya bengkak. Tapi itu malah membuat Jiyeon semakin terlihat manis.
“Kau tau. Saat ini aku sedang melupakan bayangan gadis itu. Walaupun belum lenyap seluruhnya, tapi aku rasa sudah mulai bisa menghilang. Lee Gyuri, aku benar-benar ingin melupakan perasaanku padanya yang terlalu dalam. Aku ingin menghapus semua kenangan manis bersamanya sebagai seorang kekasih. Aku ingin mengingat kenangan itu sebagai persahabatan yang sangat baik. Aku ingin merubah hidupku dan melepaskan semua ikatannya yang terlalu kuat. Dan untuk itu, aku membutuhkan bantuan seseorang”
Jinki bangkit dari posisinya dan berdiri tepat di hadapan Jiyeon. Gadis itu masih diam tanpa berbicara, dan hanya air mata yang terus saja keluar dan membasahi pipinya. Jiyeon tampak mendongakan wajahnya untuk menatap Jinki yang saat ini sedang menunduk dan menarik kedua tangannya untuk bangkit.
“Apa… maksudmu? Apa… yang… kau maksud dengan… membutuhkan…. Bantuan seseorang?”
Jiyeon mencoba untuk mengucapkan sebuah kalimat walaupun bibirnya masih bergetar dan diselingi dengan isakan pelan. Sedangkan Jinki hanya tersenyum sembari terus saja menggenggam kedua tangan Jiyeon yang kini berdiri sejajar dengannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu untuk melupakannya. Aku membutuhkan bantuanmu untuk melepas ikatannya yang terlalu kuat”
Jinki melepaskan genggamannya di kedua tangan Jiyeon dan menjulurkan kedua tangannya untuk merapihkan rambut panjang Jiyeon dan menyelipkannya ke belakang telinga.
“Bantu aku melupakannya. Dan buatlah aku menggilaimu mulai saat ini. Park Jiyeon-ssi, jadilah kekasihku”
Sebuah kalimat yang tanpa diduga sama sekali. Kalimat yang terasa seperti salju yang tiba-tiba turun di tengah musim panas. Semuanya sangat mengejutkan, terlalu mengejutkan sampai-sampai Jiyeon tidak bisa mengucapkan kalimat apapun selain diam. Dia menatap mata Jinki dalam-dalam, mencoba mencari ketulusan disana, hingga akhirnya dia tersenyum dan mengangguk ringan.
“Berhenti menangis. Dan jadilah satu-satunya gadis yang akan menjadi pusat perhatianku. Jiyeon-ah”
Jinki mengulurkan kedua tangan dan menangkupkannya di pipi Jiyeon. Dengan lembut, dia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis cantik itu. Jinki merasakan hangat saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Jiyeon, hingga kemudian ia menggerakan bibirnya untuk merasakan kehangatan yang lebih dalam.
__ADS_1
Semuanya terasa sangat manis, karena saat ini sudah tidak ada yang ditutupi. Tidak ada lagi keraguan diantara keduanya, mereka sama-sama yakin dengan perasaan masing-masing. Dan seiring berjalanannya waktu. Maka keduanya akan saling mencintai satu sama lain.