
Gyuri’s POV
Aku masih didalam kamar sendirian, sudah malam tapi oppa belum juga pulang, ah kalau begini sama saja membosankannya dengan dirumah. Aku datang kesini untuk mengawasi Donghae oppa, tapi bagaimana bisa aku melakukannya jika hanya dia di dalam kamar seperti ini. Baiklah, aku harus keluar sekarang juga dan mencari keberadaan mereka. Oppa bilang dia mengadakan pertemuan dengan para pengurus hotel Jeju ini, tapi dimana ruang pertemuannya? Em, aku adalah putri dari presiden direktur hotel ini, dan semua staf pasti mengenaliku. Aku tanyakan saja pada mereka, dan memintanya untuk mengantarkanku kesana, tapi apa itu tidak terlihat aneh, apa yang akan mereka pikirkan jika aku benar-benar ikut duduk bersama dalam pertemuan itu? aaaaaah bodoh…. Bodoh…., tentu saja akan sangat memalukan jika tiba-tiba datang dan ikut duduk bersama mereka. Aku bahkan tidak mengerti apapun tentang masalah hotel ini. Aku melipat kedua kakiku dan memeluknya, meletakan daguku di lutut dan menatap kosong ke arah tembok ‘apa yang harus kulakukan sekarang?’. Tiba-tiba ponselku berdering, aku segera mengambilnya yang tergeletak di depanku. Em, oema… ada apa menghubungiku?
“Yoboseo, oema”
“Gyuri-ah? Kau sedang apa sekarang?” Tanya oema dengan sangat antusias
“Aku sedang duduk sendirian didalam kamar, tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang” jawabku dengan nada malas.
“Weyo? Dimana menantuku? Pasti dia sibuk sekali dengan pekerjaannya kan?”
“Keure, menantu kesayangan oema, membiarkanku sendirian disini. Kurasa dia lupa kalau dia datang bersama istrinya”
“Aigoo, bagaimana pre-honneymoon kalian akan berhasil jika dia sibuk seperti itu” aish, pre-honeymoon. Mengapa masih membahas hal itu.
“Oema, apa yang kau bicarakan? Itu terdengar sangat aneh”
“Apanya yang aneh? Kalian kan suami istri. Tidak ada yang salah kan?” kapan oemaku ini akan berhenti membicarakan masalah itu. Perkataannya terdengar sangat menyeramkan.
“Aniyeo, oema putrimu ini bahkan belum genap 20 tahun. Bahkan secara internasional umurku masih 18 tahun. Apakah pantas membicarakan hal itu dengan remaja seusiaku” Aish, itu bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
“Araso, mianhae. Benar juga perkataanmu, bagaiman jika kau hamil dan punya anak? Kau bahkan masih harus melanjutkan kuliahmu”
“OEMA…. Geumanhae…….! Jika kau menghubungiku hanya untuk membicarakan hak itu, sebaiknya aku tutup teleponnya sekarang juga” kini aku sudah tidak bisa menahan emosiku mendengar perkataannya yang membuatku takut.
“Baiklah, aku tidak akan membicarakan hal itu lagi. Tapi apa kau sudah makan malam?”
“Aniyeo, seharian ini aku belum makan” aku baru ingat, seharian ini aku hanya berdiam diri di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Pantas saja perutku terasa sangat lapar.
“Mwo? Kau bahkan belum makan siang? Cepat hubungi pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarmu” ujar oema dengan setengah berteriak. Sepertinya dia benar-benar hawatir denganku. Hmm.
“Ah, seharian didalam kamar benar-benar bosan. Em.. aku akan turun dan makan malam” jawabku
“Baiklah, oema tutup teleponnya ya. Em untuk malam ini, jika Donghae memintamu untuk…..”
“OEMA HENTIKAN….” Aku segera menekan tombol merah dan menutup teleponnya sebelum oema melanjutkan perkataannya dan membicarakan hal yang tidak-tidak.
Aku bangkit dari posisiku dan mengambil cardigan yang tergantung di lemari dan segera mengenakannya, kupandangi cermin di hadapanku dan memastikan penampilanku, ku rapihkan rambutku dengan jari-jariku. Setelah semuanya beres, aku mengambil dopet yang berada di dalam tasku dan segera keluar dari dalam kamar hotel menuju food cort di lantai dasar. Ah perutku sudah sangat perih menahan lapar. Seharian ini aku hanya melamun di dalam kamar, bahkan sampai lupa makan siang.
—
Aku memesan satu porsi makanan dan segelas orange juice, rasanya memang tidak enak jika makan sendiri. Tapi perutku sudah meraung-raung minta diisi sejak tadi, setelah makanan pesananku datang segera saja aku lahap habis makan malamku. Kusedot orange juice didepanku hingga tak bersisa, ah aku masih merasa lapar karena seharian ini memang belum ada makanan yang masuk ke dalam perutku. Em, kurasa tambahan desert tidak masalah, Aku mengitarkan pandanganku ke sekeliling mencoba mencari seorang waiter untuk memesan makanan penutup untuk malam ini. Aku terus memperhatikan ke sekeliling, Tapi…
“Donghae oppa….” Yes, aku menemukannya. Tanpa harus mencari-cari keberadaan mereka akhirnya ketemu juga.
Aku sudah melupakan masalah perutku. Kini perhatianku tertuju pada mereka yang sedang berdiskusi. Kulihat sekitar 15 atau mungkin 20 orang sedang duduk bersama, wajah mereka terlihat sangat serius. Kurasa masalah hotel kali ini memang sangat berat, bahkan sudah lebih dari 2 minggu tapi masih belum juga terselesaikan. Haneul oenni duduk di samping kanan, dan Eunhyuk oppa duduk di samping kiri Donghae oppa, dan tentu saja yang lainnya adalah para pengurus cabang di Jeju. Perhatianku tak luput sedetikpun dari tiap gerak-gerik mereka. Apa oppa tau aku sedang memperhatikannya dari sini? Jarak kami cukup jauh, kurasa dia tidak akan menyadarinya. Lagipula apa pedulinya padaku, dia bahkan membiarkanku sendirian di dalam kamar hotel.
Dapat kulihat dari sini Haneul oenni memang sangat-sangat bersinar diantara yang lainnya, terlihat bahwa dia memang wanita yang cerdas. Pantas jika dia menjadi asisten Donghae oppa yang juga sangat hebat.
Donghae’s POV
Aku masih duduk bersama pengurus hotel untuk membicarakan masalah yang sudah 2 minggu ini tidak juga terselesaikan. Sejak pagi aku meninggalkan Gyuri sendirian di dalam kamar, aku merasa bersalah karena membiarkannya ikut sedangkan aku bahkan tidak bisa menemaninya. Tapi salah siapa memaksa ikut kesini?
“Sajangnim, konsep kita sudah selesai. Dan kurasa kali ini akan berhasil. Semoga ini bisa menyelesaikan masalah kali ini” ujar salah seorang staf dengan sangat serius. Dapat kulihat wajah dari semuanya yang sudah terlihat sangat lelah. Sejak tadi siang kami duduk di sini menyusun sebuah konsep baru yang akan kami laksanakan untuk memperbaiki pelayanan hotel Jeju ini. Aku bahkan sengaja meminta mereka semua untuk melakukan pertemuan ini di sini, agar kita bisa lebih santai.
“Em… aku hanya perlu menandatanganinya dan semuanya sudah selesai kan?” tanyaku sambil mengambi setumpuk berkas yang diberikannya padaku.
“Keure, anda hanya perlu menandatangani semuanya, tolong lihat dengan teliti jangan sampai ada yang terlewat” ia mengangguk singkat dan tersenyum.
“Baiklah, aku sudahi pertemuan kita untuk kali ini. semua konsep sudah selesai kita kerjakan. Hanya tinggal aku tanda tangani. Aku berharap semoga semua staf bisa melaksanakan konsep ini dengan baik. Dan terimakasih atas kerjasama kalian semuanya” aku berdiri dan berbicara kepada semua anggota rapat, menyampaikan rasa terimakasih karena mereka telah mengerjakan tugasnya dengan baik. Aku membungkukan badanku singkat. semua staf yang sejak sudah terlihat sangat lelah segera bangkit dari posisinya dan membungkukan badan padaku sebelum mereka meninggalkan kursinya masing-masing. Aku, Eunhyuk dan Haneul masih masih sibuk dengan berkas-berkas yang kami susun sejak tadi siang.
“Donghae-ah…, kau meninggalkan istrimu sendirian dikamar?” Eunhyuk memulai pembicaraan. Ia masih sibuk dengan laptop di hadapannya, merapihkan beberapa data hasil rapat kali ini. Ya, seperti biasa jika didepan staf dia akan memanggilku dengan sebutan ‘sajangnim’ tapi itu semua tidak berlaku jika kami sedang bertiga, karena aku juga menyuruh Haneul memanggilku Donghae tanpa harus menggunakan sapaan ‘sajangnim’.
“Ketika aku keluar, dia memang sendirian di dalam kamar. Tapi mana mungkin seharian dia mengurung diri di kamar hotel. Pasti dia berjalan-jalan disekitar sini. Dia bilang ingin ikut ke Jeju untuk liburan karena pusing dengan semua tugas kuliahnya” Aku masih mendatangani beberapa berkas didepanku, dibantu Haneul untuk memeriksanya satu –persatu.
“Pasti dia merasa sangat bosan sendirian. Mengapa kau meninggalkannya sendiri di dalam kamar?” Eunhyuk mengalihkan pandangannya dari layar laptop didepannya.
“Lee Hyukja, aku kesini untuk menyelesaikan masalah hotel Jeju. Kalau aku seharian menemaninya, bagaimana dengan pekerjaanku” aku menghentikan aktifitasku dan menatapnya.
“Yah, aku tau. Bagaimana kalau kalian berdua menghabiskan waktu beberapa hari lagi si Jeju. Ah, kalian belum melakukan honeymoon kan?. Kurasa sekarang waktu yang tepat” Aigooo, kenapa dari kemarin pembicaraannya selalu honeymoon. Bagaimana bisa itu terjadi sedangkan Gyuri bahkan tidak pernah menganggapku sebagai suaminya.
“Lee Hyukjae, kurasa saranmu tidak akan berguna. Gyuri harus pergi kuliah di hari senin, bagaimana kita bisa menghabiskan beberapa hari lagi disini. Lagipula honeymoon untuk kami berdua, terdengar sangat aneh” Jawabku dengan malas. Aku kembali memperhatikan kertas-kertas di hadapanku. Jangan sampai ada yang terlewat, aku harus memastikan semuanya sudah kutandatangani.
“Aish, kasihan sekali kalian. Padahal pengantin baru tapi sepertinya sangat tidak punya banyak waktu untuk bersama. Berarti besok pagi kita harus segera kembali ke Seoul” balas Eunhyuk.
“Yah, kami memang tidak mempunyai banyak waktu untuk bersama. Besok pagi kau dan Haneul pergi duluan, aku masih harus memantau semua staf melaksanakan konsep ini dengan baik. Jadi mungkin aku akan pulang minggu sore” Ya, aku harus memastikan kalau semua konsep yang telah kami susun susah payah seharian ini dilaksanakan dengan baik. Aku juga harus mengawasi semuanya agar tidak terjadi kesalahan.
“Donghae-ssi, aku akan menemanimu untuk memantau semuanya” ujar Haneul, ia menatapku dengan serius.
“Aku juga, sebaiknya kita lakukan bersama” Eunhyuk menimpali jawaban Haneul.
“Aniyeo, kau pulang saja dengan Eunhyuk. Aku bisa melakukannya sendiri, lagipula sebenarnya aku sudah meminta para pengurus untuk mengawasi semuanya. Hanya saja aku merasa bertanggung jawab sebagai direktur” Aku tidak tega membiarkan kedua rekan ku ini bekerja terus, wajah mereka sudah terlihat sangat lelah. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama, ah kepalaku terasa sangat sakit sekali. Tapi yah ini sudah menjadi tanggung jawabku, seperti pesan ayahku sebelum ia meninggal, aku harus mengurusi JK Corporation dengan baik. Karena itu adalah perusahaan yang ia bangun bersama dengan ayah Gyuri dengan susah payah, dan aku harus mempertahankan JK Corporation agar tetap berdiri tegak seperti sekarang.
“Kau yakin? Lalu bagaimana dengan Gyuri, kau bilang dia harus tetap masuk kuliah di hari senin.” Tanya Haneul, dia terlihat sangat simpati padaku. Kurasa ia dapat melihatku yang sudah sangat kelelahan.
__ADS_1
“Aku akan berbicara padanya nanti, dan memintanya untuk pulang bersama kalian berdua ke Seoul. biar nanti aku menyusul” jawabku. Yah, Sedikit mengecewakan sebenarnya. Aku bahkan belum menghabiskan waktu bersamanya di sini.
“Benar-benar kasihan. Pasangan pengantin baru yang tersiksa” guman Eunhyuk dengan putus asa. Kau pikir aku tidak mendengar ucapanmu Lee Hyukjae.
“Donghae-ssi, sebaiknya kau segera menemuinya. Dia mungkin sangat bosan sendirian terus” Ujar Haneul sambil merapihkan berkas-berkas yang sudah selesai aku tandatangani.
“Iya kurasa hari ini kau sudah sangat bekerja keras, sekarang waktunya bersenang-senang dengan istrimu yang sedang menunggu di dalam kamar” Ujar Eunhyuk sambil terkekeh geli. Apa maksud perkataannya itu.
“Lee Hyukjae apa maksudmu?” aku menatap tajam ke arahnya yang masih terkekeh puas, hingga akahirnya ekspresinya berubah setelah melihat tatapan tajam mataku.
“Mmm…mi..mianhae sajangnim” gumamnya tanpa melihat wajahku.
“Kurasa semuanya sudah selesai ditandatangani, biar kami berdua yang merapihkan yang lainnya” Ujar Haneul yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
“Donghae-ssi, jangan dipaksakan jika kau lelah. Itu tidak baik” aish bocah ini sepertinya tidak bisa berhenti berbicara.
“LEE HYUKJAE… KAU…” ucapku dengan nada tinggi sehingga membuatnya terlonjak kaget.
“Mianhae, sajangnim silahkan meninggalkan tempat ini” Eunhyuk bangkit dari posisinya, dia berdiri dan membungkukan badannya padaku. Benar-benar keterlaluan.
Gyuri’s POV
Masih terbayang di pikiranku ketika Haneul oeni duduk di samping Donghae oppa, dia mendampinginya sebagai seorang asisten, dan melayaninya dengan sangat baik. Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Haneul oenni, aku hanya mahasiswi semester 2, bahkan Donghae oppa menyebutku remaja labil. Setelah mandi dan mengganti baju. Aku menyalakan televisi, dan mencari chanel yang bisa menghibur dan menghilangkan rasa kesalku. Ah bagus, acara musik kurasa bisa menghilangkan stress, aku mulai bergumam mengikuti setiap lagu. Tapi, beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu kamarku. Siapa itu? kubuka pintu kamarku sedikit.
“Oppa..” ternyata Donghae oppa yang datang. Kurasa rapat kali ini sudah selesai. Apakah masalahnya bisa ditangani dengan baik?
“Oppa, sudah selesai? Apa masalahnya sudah selesai?” tanyaku sambil membukakan pintu dan menutupnya kembali setelah dia masuk.
“Ye.. semuanya sudah beres. Senang sekali rasanya bisa menyelesaikan masalah hotel cabang Jeju ini. rasanya seperti sebuah beban dipundaku sudah menghilang” Donghae oppa meletakan tasnya di atas meja dan membuka jas yang ia kenakan, dan melonggarkan dasinya.
“Geureyo? Ah, joha.. aku tau kau pasti bisa menyelesaikan setiap masalah dengan mudah apalagi dibantu oleh rekan dan juga asisten pribadimu yang sangat cerdas itu” aku menatapnya dengan sinis
“Tentu saja, aku selalu bisa melakukan apapun. Dan mereka berdua juga sudah bekerja dengan sangat keras hari ini. Keurom, aku sudah sangat lelah seharian bekerja. Aku akan mandi sekarang” jawabnya sambil berlalu melewatiku dan masuk ke kamar mandi.
Aku hanya menatapnya yang melewatiku tanpa memandang wajahku. Lee Donghae, kau bahkan tidak peduli seharian aku sendirian di dalam kamar.
Aku masih asik melanjutkan aktifitasku menyaksikan acara tv malam ini, dan terus mengikuti setiap lagu yang kudengar, sambil sesekali menghentakan kakiku mengikuti irama. Setidaknya ini bisa mengalihkan rasa bosanku.
Beberapa saat kemudian Donghae oppa keluar dari kamar mandi dia memakai kaos putih lengan panjang dan celana panjang yang selalu dia pakai untuk tidur dengan handuk kecil di bahunya, sesekali dia mengusapkan handuk itu untuk mengeringkan rambutnya yang masih agak basah.
“Apa yang kau tonton?” Tanyanya sambil duduk di sebelahku hingga membuatku beringsut dari posisiku sebelumnya, aish… mengapa dia terlihat sangat tampan dengan baju itu. Rambutnya yang basah membuatku menjadi sedikit merinding melihatnya. Lee Gyuri ada apa denganmu sebenarnya?
“Acara music kesukaanku” jawabku yang masih fokus dengan layar di depan mataku tanpa mengalihkan pandanganku ke arahnya, karena itu membuatku menjadi salah tingkah.
“Aish, acara apa itu. cepat ganti chanelnya, cari tontonan yang lebih bermanfaat” ujarnya dengan tatapan sinis padaku. Lee Donghae,, baru saja kau terlihat baik didepanku sekarang sudah mengangguku yang sedang asik.
“Ini bermanfaat, setidaknya bisa menghiburku yang sedang kesal” jawabku.
“Mwo? Kau kesal kenapa? Bukankah kau sendiri yang ingin ikut kesini. Seharian ini kau pergi berjalan-jalan kan?” Aku seharian di dalam kamar, tanpa melihat dunia luar sedetikpun. Setelah itu aku melihatmu sedang rapat bersama pengurus hotel, aku betambah kesal karena Haneul oeni yang duduk di sampingmu dan melayanimu dengan sangat baik.
“Aku tidak pergi kemanapun, hanya berdiam diri di dalam kamar. Untung aku tidak mati karena bosan didalam sini” jawabku masih dengan nada kesal. Aku menaikan kedua kakiku ke sofa dan duduk dengan lebih santai.
“Hya, Lee Donghae. Aku seharian didalam sini dan tidak tahu harus melakukan apapun”
“Bwosunsuriya? Lee Donghae, berani sekali kau memanggilku seperti itu. aku lebih tua 7 tahun darimu nona Lee Gyuri” balasnya dengan nada kesal, dia membalikan badannya dan menaikan kedua kakinya sehingga kini dia menghadap ke arahku yang masih tidak mengalihkan perhatianku dari layar televisi.
“Terserah padamu Tuan Lee Donghae” balasku tanpa melihat wajahnya
“cepat ganti chanelnya Nyonya Lee” ujarnya setengah berteriak di telingaku
“ANDWE” jawabku sambil merubah posisiku menghadapnya sehingga posisi kami berdua berhadapan saat ini.
“GANTI” balasnya didepan wajahku. Aish benar-benar pria keras kepala, dia bilang umurnya lebih tua 7 tahun di atasku. Tapi kelakuannya bahkan seperti remaja labil, dia tidak mau mengalah padaku rupanya.
“Andwe, ini acara favorite ku. aku harus menontonnya sampai selesai” timpalku, dan kembali mengalihkan perhatianku pada layar televisi.
“Aku ingin melihat acara yang lebih bermanfaat, cepat ganti. Aku ingin melihat berita malam ini” Balasnya sambil menatapku dengan tajam.
“Shiro, aku tidak suka ” Aku berteriak tepat di depan wajahnya.
—
Author’s POV
Eunhyuk dan Haneul masih berada di tempat pertemuan, mereka membereskan beberapa berkas yang dibahas saat pertemuan beberapa saat yang lalu. Karena mereka yang menyuruh Donghae untuk segera kembali dan menemui Gyuri, akhirnya Haneul dan Eunhyuk yang membereskan beberapa data yang masih tergelak di meja pertemuan.
“Eunhyuk-ssi. Sepertinya yang ini ketinggalan” ujar Haneul menghampiri Eunhyuk sambil memberikan satu lembar kertas di tangannya
“Ige mwoya?” jawab Eunhyuk sambil mengambil kertas di tangan Haeneul dan memperhatikannya dengan seksama.
“Ini surat yang harusnya ditanda tangani oleh Sajangnim tadi. Sepertinya tadi terselip” ujar haneul tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas yang dipegang Eunhyuk.
“Baiklah, aku akan mengantarkan ini ke kamarnya dan meminta Donghae untuk menandatanganinya” ujar Eunhyuk sambil berlalu meninggalkan haeneul.
“Eunhyuk-ssi” teriak Haneul sebelum Eunhyuk menjauh. Dengan setengah berlari, ia menghampiri Eunhyuk.
“Ini, bawa bolpoint nya. Ini punya sajangnim, sepertinya tadi tertinggal” ujar Haneul sambil menyerahkan bolpoit yang dipegangnya.
“Em, iya” jawab Eunhyuk dan segera pergi menuju kamar Donghae.
—
Gyuri’s POV
__ADS_1
Dongahe Oppa menarik remote yang sedari tadi kupegang. Dan kini sudah berpindah ke tangannya.
“Kembalikan…” ujarku sambil menarik kembali remote itu dari tangannya
“Shiro..” aku ingin mengganti chanelnya, jawabnya sambil menarik kembali remote itu dari tangaku dan kini sudah berpindah kembali ke tangannya. Ahhh, keras kepala sekali pria ini.
“Andwe.. jangan diaganti. Ini acar favoritku. Lepaskan” kami berdua saling tarilk menarik remote tv, dia tetap tidak mau mengalah terhadapku, benar-benar tidak tahu malu, merebut sebuah remote tv seperti merebut sebuah lollipop dari seorang anak TK. Aku mengerahkan seluruh tenagaku dan menariknya dengan sangat kuat. Tapi tiba-tiba…….
“BUKKK……”
Donghae oppa kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh tepat diatas tubuhku. Kini remote tv itu sudah terlempar entah kemana. Wajah Donghae oppa benar-benar berada di atas wajahku, ujung hidungnya bahkan menyentuh hidungku, dapat kurasakan nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Dia menatap mataku dengan sangat lembut, tatapan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah tatapan yang penuh dengan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Ya Tuhan, pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang, Tuan Lee Donghae, kumohon jangan tatap aku seperti itu, itu bisa membuatku kehilangan kesadaran saat ini juga. Beberapa detik kami berdua membatu dalam posisi seperti ini. aish, kenapa jantungku berdetak sangat cepat. Aaaaaah tubuhku merinding, aku tidak bisa bergerak dan mengatakan apapun sekarang. Kurasa dia juga merasakan hal yang sama karena dia masih tetap membatu diatas tubuhku tanpa berkedip menatap tajam mataku dan tidak mengatakan apapun.
Tapi sedetik kemudian ……
“Hya.. Lee Donghae, ada satu berkas yang belum kau tandatangani, sepertinya tadi kau…”
Kulihat Eunhyuk oppa masuk ke kamar kami tanpa mengetuk pintu, dia membawa kertas dan sebuah bolpoint ditangannya yang tiba-tiba jatuh menggelinding ke bawah. Eunhyuk oppa menghentikan perkataannya setelah melihat kami dalam posisi seperti ini. matanya tampak membulat dengan mulut mengaga lebar. Sepertinya dia sangat syok dengan pemandangan dihadapannya saat ini. melihat kami dalam posisi yang benar-benar tidak enak untuk dilihat.
“ah..em.. mm.. mianhae, sepertinya aku datang di saat yang sangat tidak tepat. Silahkan dilanjutkan” ujarnya sambil menutup kembali pintu kamar kami dengan sangat kencang. Karena kedatangannya barusan, akhirnya aku dan Donghae oppa sepenuhnya sadar dengan keadaan kami saat ini. Donghae oppa mengangkat wajahnya menjauh dari wajahku, dia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba benar-benar tersadar, dia mengernyitkan alisnya dan perlahan melirik kearah bawah. Aku yang heran dengan ekspresinya yang aneh itu segera melakukan hal yang sama, aku menundukan wajahku dan….
“KYAAAAAAAAAAAAAAAA…..” teriak kami bersamaan setelah melihat Kedua tangan Donghae oppa sukses mendarat di dadaku. Aish apa yang dia lakukan, dia bahkan menyentuh daerah yang tidak seharusnya. Aaaah oema, anakmu yang polos kini telah terkonataminasi Lee Donghae. Kami berdua langsung terlonjak dari posisi sebelumnya, dan duduk dengan kaku.
PLETAKK…..
Aku menjitak kepala Donghae oppa dengan sekuat tenaga, tidak peduli walaupun dia lebih tua dariku
“HYA.. Kim Gyuri, apa yang kau lakukan” teriaknya tepat di depan wajahku sambil mengusap kepalanya yang kurasa pasti sangat sakit.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Kau telah menyentuh daerah yang seharusnya tidak kau sentuh” balasku tak kalah keras
“Aku tidak sengaja, kedua tanganku mendarat begitu saja disana. Lagipula kau yang menarik remote tv itu dari tanganku sehingga aku terjatuh diatasmu” ujarnya masih terus meringis dan mengusap-usap kepalanya.
Donghae’s POV
Gyuri menarik remote Tv digenggamanku dengan sekuat tenanga hingga menyebabkanku kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat diatas tubuhnya. Wajah ku benar-benar berada di atas wajahnya, ujung hidungku bahkan menyentuh hidungnya, dapat kurasakan nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Kutatap matanya dalam-dalam, Ya Tuhan mengapa gadis ini terlihat sangat cantik, mengapa istriku terlihat sangat manis jika aku menatapnya dengan jarak sedekat ini. Aku masih menatap matanya, mengagumi keindahan ciptaan tuhan yang kini sudah menjadi miliku, Aniyeo, saat ini dia belum menjadi miliku. Tapi pasti akan segera menjadi miliku. Dapat kulihat wajahnya mulai merona merah. Aish, kurasa wajahku juga sudah seperti kepiting rebus saat ini. Jantungku berdetak dengan sangat hebat, tidak pernah aku dan Gyuri sedekat ini sebelumnya. Aku benar-benar tidak bisa bergerak dari posisiku saat ini, rasanya seluruh tubuhku menjadi kaku. Gadis ini benar-benar membuatku terhipnotis dengan kejernihan matanya.
Tapi sedetik kemudian ……
“Hya.. Lee Donghae, ada satu berkas yang belum kau tandatangani, sepertinya tadi kau…”
Kulihat Eunhyuk masuk ke kamar kami tanpa mengetuk pintu, dia membawa kertas dan sebuah bolpoint ditangannya yang tiba-tiba jatuh menggelinding ke bawah. Eunhyuk menghentikan perkataannya setelah melihat kami dalam posisi seperti ini. matanya tampak membulat dengan mulut mengaga lebar. Sepertinya dia sangat syok dengan pemandangan dihadapannya saat ini. melihat kami dalam posisi yang benar-benar tidak enak untuk dilihat.
“ah..em.. mm.. mianhae, sepertinya aku datang di saat yang sangat tidak tepat. Silahkan dilanjutkan” ujarnya sambil menutup kembali pintu kamar kami dengan sangat kencang. Karena kedatangannya barusan, akhirnya kami sepenuhnya sadar dengan keadaan saat ini. Aku mengangkat wajahku menjauh dari wajahnya, dan mengerjap-ngerjapkan mataku mencoba benar-benar tersadar sepenuhnya, aku merasakan sesuatu dari tanganku yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya. aku mengernyitkan alisku dan perlahan melirik kearah bawah. Dia yang heran dengan ekspresiku ini segera melakukan hal yang sama, aku menundukan wajahku dan….
“KYAAAAAAAAAAAAAAAA…..” teriak kami bersamaan setelah melihat Kedua tanganku sukses mendarat di dadanya. Ya Tuhan apa yang kulakukan, argh….. ini membuat suasana malam ini menjadi semakin panas. Aku benar-benar merasa seperti ada api yang berkobar di dalam tubuhku dan membuatku menjadi tidak bisa berfikir dengan baik. Akhirnya aku segera bangkit dari posisiku yang menindih tubuhnya, dan segera duduk dengan kaku. Aku mengalihkan pandanganku kea rah lain, mencoba mengumpulkan akal sehatku yang berantakan karena kejadian barusan. Tapi tiba-tiba
PLETAKK…..
Gyuri menjitak kepalaku dengan sangat kencang. Owch… benar-benar sakit. Apa dia tidak tahu saat ini aku sedang sakit kepala karena seharian ini merancang sebuah Konsep Perhotelan. Aish bocah ini, keterlaluan…
“HYA.. Kim Gyuri, apa yang kau lakukan” teriaku tepat di depan wajahnya sambil mengusap kepalaku yang terasa sangat sakit.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Kau telah menyentuh daerah yang seharusnya tidak kau sentuh” teriaknya di depan wajahku.
“Aku tidak sengaja, kedua tanganku mendarat begitu saja disana. Lagipula kau yang menarik remote tv itu dari tanganku sehingga aku terjatuh diatasmu” jawabku mencoba mengatakan pembelaan. Lagipula siapa yang menarik remote tv itu dengan sekuat tenanga sampai aku jatuh menimpanya. Itu bukan salahku kan?
“Aish, jinja… sudahlah aku mau tidur. Silahkan kau tonton acara sesukamu” ujarnya dengan kesal. Dia segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur, tapi tiba-tiba
BUKKK….
“AAAAAAAAAAAAW…” terianya kencang….
Gyuri menginjak bolpoit yang tadi Eunhyuk jatuhkan, dia jatuh tertelungkup di lantai. Aish Lee Hyukjae kau menyakiti istriku. Dia masih mematung dengan posisinya, dan mengerang kesakitan. Benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
“Gyuri-ah, gwencana?” Tanya ku dan segera beranjak dan membangunkannya dari posisi yang sangat tidak indah ini. kulihat ada darah mengalir dari bibirnya, ya Tuhan bibirnya benar-benar berdarah. Dia segera bangun dan menyeka bibirnya dengan unjung jarinya, owh pasti perih sekali rasanya.
“HUWAAAAAA… darah, ah bibirku berdarah.. aaaaaah sakit sekali” teriakannya sangat keras ketika melihat darah di ujung jarinya.
“Aish, Lee Gyuri kenapa kau tidak hati-hati, coba kulihat” ujar ku sambil meraih dagunya dengan tanganku dan memperhatikan luka di bibirnya. Ah benar-benar luka, tapi untungnya tidak terlalu serius. Sedetik kemudian aku mendengar suara teriakan dari luar.
“Donghaeya, gwencana?.. aku mendengar teriakan Gyuri sangat keras. Apa kalian baik-baik saja?” Eunhyuk berteriak dari luar kamar kami. Mungkin dia mendengar teriakan Gyuri barusan. Aish, ini semua gara-gara dia, dia yang menjatuhkan bolpoint itu hingga Gyuri menginjaknya dan terjatuh.
“Ne.., gwencana. Gyuri hanya sedikit terluka” teriaku dari dalam kamar.
“Donghae-ah, pelan-pelan saja melakukannya. Gyuri masih sangat polos, kau harus berhati-hati jangan sampai menyakitinya” aish, apa maksud bocah ini. Lee Hyukjae, awas kau.
Aku segera membangunkan Gyuri dan mendudukannya di samping tempat tidur. Aku mengambil kotak obat dan segera mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengoles lukanya. Segera menghampirinya yang masih duduk meringis di tempat tidur.
“Aw…aw…aaah….. aaah, perih” teriaknya saat aku mengoleskan obat di bibirnya.
“Jangan berisik” balasku. Sebenarnya tidak tega melihatnya kesakitan seperti ini. Ah Kasihan sekali istriku.
“aaaah…. Aaaah… oppa pelan-pelan. Kau membuatku semakin sakit” timpalnya lagi. Benar-benar manja, baru seperti ini saja sudah teriak-teriak kencang seperti itu.
“Hya….Lee Donghae… sudah kubilang pelan-pelan. Mengapa kau kasar sekali…” suara Eunhyuk kembali terdengar dari balik pintu kamarku, dapat kudengar dia tertawa dengan sangat puas disana. bocah itu? apa masih berdiri dibalik pintu kamarku? Benar-benar kurang ngajar.
“LEE HYUK JAE, cepat pergi sebelum aku mengahampirimu dan melemparkanmu dari lantai 21”
Teriaku dengan penuh emosi, awas saja kalau dia bersuara lagi.
“Pastikan pintunya terkunci dengan baik, Sajangnim” Aish…, bocah ini benar-benar. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada Gyuri dan kembali mengoleskan obat pada lukanya.
“aw… oppa…. aw aaaa…..“ Gyuri masih terus meringis di depanku, membuatku semakin tidak bisa berkonsentrasi .
__ADS_1
”Kau juga…., Diamlah, jika kau tidak menutup mulutmu. Aku akan memasukan obat ini ke dalam mulutmu saja agar kau berhenti berteriak” ujarku mencoba menghentikan teriakannya yang sangat menggangguku.
To Be Continue….