OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Back to seol


__ADS_3

Donghae’s POV


Aku mengulurkan tangan kananku untuk mengambil berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjaku. Baru saja aku duduk di kursi ku beberapa saat yang lalu tanpa melakukan apapup. Benar-benar bingung darimana aku harus memulai pekerjaanku hari ini karena kurasa terlau banyak hal yang harus dikerjakan.


Ah satu minggu tidak berangkat ke kantor pekerjaanku sudah tertumpuk seperti ini. Harus bekerja ekstra untuk menyelesaikan semuanya. Aku tidak ingin lembur malam ini, jadi aku akan membawanya kerumah jika belum selesai.


Tok… tok… tok


Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu yang sangat nyaring. Pasti Haneul. Aku berpapasan dengannya saat akan memasuki ruangan, dan dia bilang dia akan mengambilkan sebuah kopi untuku.


“Masuk…”


Ujarku dengan setengah berteriak. Kulihat kenop pintu berputar perlahan. Dan beberapa saat kemudian sosoknya muncul dengan wajah yang sangat ceria. Tangan kanany a memegang cup kopi yang kurasa baru saja dia tuangkan dari mesin. Dia berjalan menghampiriku dan menyodorkan kopi panas itu tepat dihadapanku yang masih duduk tenang dikursiku.


“Donghae-ssi, ini kopinya…”


“Kamsahamnida”


Balasku kemudian seger a meraih cup itu dari tangannya. Dia tersenyum ringan masih dengan posisi sebelumnya.


“Hei duduklah, kenapa kau jadi kaku seperti itu”


“Ah, aa.. ani… aniyeo. Hem, Seminggu tidak bertemu denganmu rasanya sedikit kikuk. Bagaimana honeymoon-nya?”


“Menyenangkan. Aku bisa melupakan sejenak pekerjaan kantor. Walaupun setiap hari aku menghubungi eunhyuk dan juga kau untuk menanyakan bagaimana perkembangan hotel”


“Em, baguslah jika menyenangkan. Yah, aku sedikit merindukanmu.  Seminggu tidak bertemu”


“Jinjayo? Hahaha, kau berlebihan sekali”


Aku sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia katakana. Merindukanku? Haha, terdengar sangat lucu ketika Park Haneul yang mengatakannya. Mungkin karena tidak terbiasa karena setiap hari dia itu selalu bersikap formal padaku, walaupun dia menggunakan banmal tapi tetap saja sikapnya kaku.


“Aniyeo, ini serius. Mungkin karena sudah sekitar 4 bulan ini aku selalu menemanimu setiap hari, jadi ketika sehari saja tidak ada kau rasanya berbeda”


“Aish, Park Haneul, kau ini ada-ada saja. Aku tau, pesonaku memang membuat siapapun akan merindukannya, hem”


Aku memberikan sebuah bercandaan ringan untuk membuat obrolan kami sedikit menarik. Yah, dia benar mungkin karena terbiasa bertemu setiap saat maka akan timbul rindu secara tiba-tiba.


“Yah, kurasa kau benar sajangnim”


Balasnya sembari terkekeh pelan mendengar jawabanku barusan.


Kami berdua tenggelam dengan obrolan masalah pekerjaan dan juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan hotel. Sesekali Haneul menanyakan mengenai Gyuri. Dia sering sekali  menanyakan Kabar Gyuri padaku, tapi dia sama sekali tidak mau terbuka mengenai hubungan pribadinya. Aku bahkan tidak tahu apakah dia sudah mempunyai seorang kekasih atau belum. Yang aku tahu, saat ini dia tinggal sendiri di Seoul sedangkan seluruh keluarga besarnya berada di Incheon.


Haneul  adalah tipe wanita yang sangat mandiri, kuliah dengan beasiswa di Seoul University.  Setelah lulus, dia melamar pekerjaan ke kantor  ini. Karena dia adalah gadis yang sangat cerdas dan juga sopan, dengan senang hati aku menerimanya menjadi sekretaris baruku setelah sebelumnya sekretarisku mengundurkan diri karena lebih memilih untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga.


Park Haneul, entahlah. Gadis ini membuatku sedikit penasaran. Aku yakin dia belum menikah, tapi dia tidak pernah mau menceritakan kehidupan pribadinya kepada siapapun. Sekalipun dengan Eunhyuk yang setiap hari bekerja di satu ruangan dengannya.


***


“LEE DONGHAE, AKU DATANG…..”


Tanpa aba-aba. Pintu ruanganku terbuka lebar, mengakibatkan benturan keras terdengar karena permukaannya menghantam tembok.


Lee Hyukjae, aku tau dia akan segera menemuiku hari ini. Dan aku juga sangat tau untuk apa dia masuk ke dalam ruanganku saat ini. Sejak kemarin dia sering sekali menelponku atau mengirimi pesan dan membujukku untuk menceritakan mengenai honeymooh yang baru saja aku lewati.


“Sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Ketuk pintu sebelum masuk ke ruanganku. Aku sudah bosan mengeluarkan kata itu jadi lain kali aku akan langsung melemparkan surat pemecatan ketika kau memasuki ruanganku, tanpa mengetuk pintu”


Aku menggeretaknya yang sedang melangkah mendekat ke arahku dan duduk di samping Haneul. Tidak ada tampang menyesal sama sekali yang dia tunjukan, kurasa bocah ini memang sudah tidak mempunyai rasa hormat lagi terhadap atasannya. Keterlaluan.


“Aigoo, sadis sekali. Kau ini kenapa sajangnim. Seharusnya kau sedang berbunga-bunga karena baru saja menghabiskan honeymoon dengan istrimu”


Aku menatap tajam kearahnya yang sedang memasang tampang menggelikan yang terlihat mesum. Kulirik Haneul hanya terkekeh geli medengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut bocah ini.


“Baiklah, aku akan memberikan privasi pada kalian berdua untuk mengobrol”


Haneul bangkit dari dudukannya dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


“Donghae-ssi, kerjakan satu-persatu tugas anda. Panggil aku jika membutuhkan bantuan”


“Araseo”


Jawabku singkat sebelum kulihat tubuhnya menghilang di balik pintu ruanganku.  Kembali aku mengalihkan pandanganku pada bocah mesum yang sudah duduk manis di hadapanku. Dia tetap saja menunjukan cengiran lebar yang memperlihatkan deretan gigi dan gusinya dengan sempuna.


“Kenapa kau memasang tampang seperti itu? Menjijikan!”


“Hei ayolah, jangan mengalihkan topik pembicaraan, langsung saja ceritakan. Aku sudah tidak sabar”


“Aish, apa maksudmu? Apa yang mau aku ceritakan padamu? Tidak ada!”


“Lee Donghae, aku tau kau bersenang-senang dengan istrimu disana. Aku hanya ingin tau bagaimana gadis polos itu bisa kau taklukan. Aku sangat menyukai tingkah polosnya. Tidak terbayangkan bagaimana bisa di akhirnya pasrah di tanganmu”


Pletak…


Sebuah bolpoin silver melayang indah tepat menghantam kepala mesumnya itu. Apa yang dia maksud dengan gadis polos itu? Dan apa yang dia maksung dangan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya itu. Dasar bocah kurangajar. Pantaskah kalimat sepeti itu dia keluarkan sebagai pertanyaan.


“Berhenti berbicara hal itu lagi Lee Hyukjae. Aku tidak ingin menceirtakannya padamu”


“Tidakah kau mau berbagi seidkit saja denganku. Kalian disana satu miggu kan? Apa setiap hari menghabiskan waktu berdua di dalam kamar?”


Aku memicingkan mataku dengan tatapan tajam. Seakan-akan aku sudah bersiap untuk mencekik pria dihadapanku ini dengan penuh emosi. Itu pertanyaan yang terlalu pribadi. Bagaimana bisa aku menceritakan padanya.


“Sudah kubilang hilangkan semua fikiran kotor itu dari otakmu Lee Hyukjae-ssi”


“Yah, aku rasa aku sudah tau jawabannya. Gadis polos itu pasti tidak berhasil kau dapatkan”


“Hei, jangan sembarangan bicara. Kau fikir aku tidak berhasil menaklukannya di Bali”


“Jinjayo? Kalian berakhir di atas ranjang?”


“yah, begitulah”


“Lalu?”


“Lalu apa?”


“ Bodoh, lalu bagaimana certanya. Cepat aku ingin dengar!”


Dia terlihat sedikit tidak sabar dan sangat antusias menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulutku. Eunhyuk memajukan tubuhnya agar lebih dekat denganku. Matanya membulat dengan fokus sempurna. Kenapa dia semangat sekali mendengarkan hal ini. Aigoo.


Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara.


“Yah, dia bisa melakukannya dengan sangat baik. Dan aku rasa aku harus mencari situasi yang tepat untuk membujuknya agar mau melakukannya lagi  nanti”


“Jadi hanya satu kali saja?”


“Hei, kau fikir kita berdua pergi kesana untuk apa? Kita berdua sibuk mengeksplorasi keindahan Bali”


“Ah, sayang sekali. Padahal aku berharap akan mendapatkan banyak cerita menarik darimu”


“Aku tidak akan menceritakan apapun padamu. Biarkan aku dan istriku saja yang mengingat kejadian manis itu”


Ekspresinya tiba-tiba berubah setelah mendengar ucapanku barusan. Yah aku tidak salah bicara kan? Hal itu memang tidak untuk menjadi konsumsi orang lain. Biarkan hanya aku dan istriku yang tau. Haha.


Aku kembali mengulurkan tanganku untuk menyesap kopi yang sudah dingin itu. Meneguknya hingga tak tersisa. Kulirik Eunhyuk menghembuskan nafas berat berkali-kali.


“Mendengarmu berbicara seperti itu aku jadi ingin cepat—cepat menkah”


Kalimat itulah yang keluar dari mulutnya. Haha, lucu sekali mendengarnya berbicara seperti itu. Ternyata sahabat baik ku ini sedang merasa kesepian.


“Yah, cepatlah menikah. Rasanya sangat menyenangkan. Ketika bangun tidur kau akan melihat wajah cantik istrimu, kau juga bisa mendapat pelukan sebanyak apapun yang kau mau”


“ Sudahlah, jangan memanas-manasiku seperti itu”


“Aku tidak memanas-manasimu. Kenapa kau tidak mengencani Haneul? Dia gadis yang baik, cantik, pintar dan juga sopan”


“Hei, kau mencoba menjodohkanku dengannya?”


“Siapa bilang? Aku hanya memberikan pilihan yang terbaik untukmu. Dia itu gadis yang sangat meyenagkan”


Aku bangkit dari posisiku kemudian memutar langkahku menuju meja utama. Bola matanya tampak mengikuti posisiku sekarang. Aku menatapnya yang masih duduk di atas sofa, sedangkan aku berdiri tepat di depan jendela yang menampakan pemandangan indah di luar. Dari lantai 18, aku bisa melihat dengan jarak pandang yang cukup jauh. Seoul.


“Aku tau dia itu cantik, pintar dan menyenagkan. Tapi dia itu sangat tertutup dan tidak mau terbuka dengan masalah pribadnya”


Eunhyuk bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiriku, dia meluruskan pandangannya ke depan. Menatap pemandangan di luar kaca yang terlihat sangat menarik. Yah pandangan pria kesepian.


“Hei, itulah kelebihannya dia itu penuh dengan rahasia. Apa kau tidak penasaran dengan hal apa yang tersembunyi darinya?”


Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya yang sedang berdiri tepat di sampingku, tapi tiba-tiba dia berbalik hingga posisi kami berhadapan.


“Hei, Lee Donghae. Kurasa dia menyukaimu!”


Pletak…


Sebuah jitakan mendarat indah di kepalanya. Kurasa bocah ini memang selalu membutuhkan kekerasan fisik untuk membuat otaknya berjalan dengan normal. Apa yang baru saja dikatakannya? Park Haneul menyukaiku? Aish, ada-ada saja. Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Mustahil.


“Yak… ini kedua kalinya kaumelakukan kekerasan padaku. Jika kau berani melakukannya lagi maka aku akan menculik istrimu dan menahannya di kamarku”


“YAK LEE HYUKJAE, awas saja kalau kau berani melakukannya”


Aku sudah bersiap membuka sepatuku untuk menghantam kepalanya. Tapi dia segera berlari menghindar dan membuka pintu ruanganku dengan tergesa-gesa.


Bodoh, apa yang baru saja dikatakannya? Jika berani melakukan itu pada istriku, maka aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Keterlaluan.


Kasihan sekali pria kesepian itu. Aku berharap dia bisa menemukan seseorang yang tepat dan bisa membuatnya merasa nyaman. Dan aku rasa dia harus mempunya istri yang bisa mengawasinya selama 24 jam. Agar dia tidak mencoba untuk meggoda istriku. Aku tau istriku sangat cantik dan polos. Itulah yang menyebabkan tingkahnya terlihat lucu. Pria manapun pasti akan sangat menyukainya. Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi merindukan  Gyuri. Coba saja dia bisa berada di kantor dan menemaniku setiap hari. Jadi sekretaris pribadiku kalau perlu. Hem, tapi itu tidak mungkin terjadi saat ini kan?


***


Gyuri’s POV


Aku duduk dengan santai di sebuah sofa berwarna coklat muda.  Café milik Jiyeon. Tepat di sampingku adalah kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan yang cukup menarik.  Jalan raya yang tidak terlalu padat, lampu lalu lintas yang berubah dari merah, kuning, dan hijau, berulang-ulang. Sesekali aku melihat beberapa pejalan kaki di trotoar. Diwajah mereka terdapat berbagai ekspresi, senang, sedih, bingung, dan bahkan tanpa ekspresi sekalipun. Pemandangan menarik. Hum, sebuah konsep yang sangat baik. Pasti orang tua Jiyeon menyiapkannya dengan sangat matang.


“Gyuri-ah. Maaf lama menunggu”


Aku melihat Jiyeon datang dengan tergesa-gesa menghampiriku.  Keringat terihat bercucuran di dahinya. Dia mengikat sebagian rambutnya dan membiarkan sebagiannya lagi tergerai indah jatuh di kedua bahunya. Cantik.


“Bagaimana kabarmu?”

__ADS_1


Aku memulai pembicaraan saati dia duduk di sofa tepat di hadapanku. Sesekali dia mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk mendapatkan angin  yang menyapu wajahnya yang terlihat sangat kegerahan.


“Sangat baik. Dan aku juga sangat merindukanmu Lee Gyuri”


“Bogoshiphoso, Jiyeon-ah”


Aku mengulurkan tanganku untuk menggenggam tangannya. Dan tersenyum sumringah saat mengatakan aku merindukannya.


“Bagaimana hubunganmu dengan Jinki apa berjalan dengan baik?”


Pertanyaan itu langsung saja terlontar dari mulutku. Aku sangat penasaran bagaimana hubungannya dengan Jinki, karena selama ini dia selalu mengatakan padaku bahwa hubungannya dengan Jinki baik-baik saja. Dia tidak pernah mengatakan bahwa hubungan mereka meningkat dan berstatus menjadi sepasang kekasih. Jiyeon mengatatakan padaku jika mereka berdua masih sebagai sahabat sampai saat ini.


“Tidak ada kemajuan yang berharti. Hubungan kami sampai saat ini masih berjalan dengan baik. Dia sudah sangat tau bagiamana perasanku padanya. Tapi entahlah, dia tidak pernah mengatakan apapun mengenai perasaannya padaku.  Jinki hanya menjelaskan jika dia senang aku menyukainya. Itu saja”


“Hem, kurasa Jinki benar-benar tidak bisa menyadari betapa besar perasaanmu padanya. Kenapa sikapnya seperti itu padamu? Aku fikir kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang kekasih”


“Lee Gyuri, kau pasti sudah sangat tau bagaimana sikapnya kan? kalian berdua berteman dekat sejak kelas satu SMA, benar kan?”


Aku berfikiri sejenak untuk memberikan opini terbaik mengenai Jinki. Aku memang sudah sangat mengenalnya, tapi jangan sampai Jiyeon menganggapku terlalu berlebihan.


“Eemm… Aku mengenalnya dengan sangat baik. Dan aku merasa dia itu pria yang sangat menyenagkan. Jinki selalu bisa membuatku tersenyum saat aku sedang sedih. Dia juga sering sekali membelaku ketika teman-temanku yang lain memperlakukanku dengan tidak baik”


“Ya, dia juga melakukan hal yang sama padaku. Hanya saja tidak seberlebihan sikapnya terhadapmu. Dia tidak pernah sama sekali mengatakan jika dia menyukaiku”


Aku sedikit merasa bersalah dan tidak enak setelah mendengar pernyataannya barusan. Jinki memperlakukanku dengan sangat baik layaknya soerang tuan putri. Mungkin karena aku berstatus sebagai kekasihnya jadi dia bisa melakukan apapun untuku. Ah sudahlah ,aku harus melupakan semuanya. Dan aku berharap  Jinki bisa bahagia bersama Jiyeon.


“Kau kau sudah berteman baik dengannya kan? Berapa tahun?”


“Hem, 4 tahun… kurang lebih”


Dia menjentikan jarinya seakan menemukan pertanyaan baru yang sangat menarik.


“Nah, aku mau bertanya padamu, apa ketika di SMA  Jinki mempunyai seorang kekasih?


“MWO?”


Aku terperangah kaget ketika mendengar kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu. Apa aku harus mengatakan jika gadis yang dikencani Jinki ketika di SMA adalah aku. Kim Gyuri.


“Ah…, em…. mola… molayo aku memang dekat dengannya, tapi aku tidak tahu gadis mana yang dia kencani”


Aku berusaha mengatur ekspresi panikku agar terlhat biasa. Aku tidak mau Jiyeon yau mengenai hubunganku dengan Jinki dulu. Sudah cukup dia menerima kekecewaan karena Jinki belum bisa menerima perasaannya.


“Memangnya kenapa?”


Tanyaku mencoba mencari tahu apa yang sedang berada di dalam pikirannya.


“Aniyeo, aku hanya merasa dia mash tengelam dengan bayangan di fikirannya. Entahlah siapa gadis beruntung yang sampai saat ini masih bisa mempengaruhi hidupnya”


Aku kembali terhenyak karena perkataannya. Kurasa ini adalah obrolan yang sangat tidak enak. Bagaimana jika akhirnya dia tau mengenai masa laluku bersama Jinki.


“Hei, sudahlah.  Yang penting sekarang kau harus berusaha menarik perhatian Jinki, arachi?”


“Em, aku memang harus menarik perhatiannya sekarang dan tidak akan pedui dengan masa lalunya. Aku akan berusaha membuat dia melupakan gadis itu dan menjadikanku sebagai fokus utamanya. Asalkan gadis itu bukan kau. Aku pasti akan brusaha dengan baik. Haha”


Perkataannya diakhiri dengan tertawa puas dengan nada bercanda. Bagaimana bisa tebakannya sangat tepat seperti itu?


“Aish, kau ini. Berhenti berbicara yang tidak-tidak, ahahaha”


Aku berusaha mengeluarkan sebuah tawa yang pasti terdengar sangat aneh. Jantungku berdebar hebat,  aku bahkan tidak bisa mengatur nafasku dngan baik. Aigoo bagaimana jika nanti Jiyeon tau bahwa wanita masa lalu Jinki adalah aku. Dia pasti akan merasa sangat buruk, dia pasti akan membenciku. Yah, benar. Aku harus menyimpan hal ini rapat-rapat.


Hubunganku dan Jinki memang tidak banyak yang tahu. Sejak SMA kami berteman dengan sangat baik. Kemana mana selalu bersama. Sahabat, itulah citra yang selalu kami tunjukan kepada orang lain di sekitar kami. Mereka tidak mengetahui statusku sebagai kekasih Jinki. Itu hal yang sangat bagus, setidaknya Jiyeon tidak akan mengetahui hal itu dari mulut orang lain. Kecuali aku, Jinki dan Donghae oppa.


“Nona super visor. Sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan bersama!”


Seorang pegawai wanita menghampiri kami. Dia mengenakan celana pajang hitam dipadu dengan kaus berwarna merah muda. Aku juga melihat seragam pegawai pria yang terlihat menarik. Celana panjang dipadu dengan kaus berwarna biru muda.


“Ah, ne… kalian makan saja duluan. Aku akan makan disini bersama Gyuri”


“Hem, araseo nona super visor. Kami akan berkumpul didalam untuk makan siang. Jika anda ingin dibawakan makan kesini, akan aku bawakan untuk nona Gyuri juga”


“Gamsahamnida”


Ujarku sembari menunduk sopan. Dia membalas tersenyum kemudian membalikan badannya dan berjalan menuju dapur.


Super visor? Mungkin Jiyeon menjabat posisi itu di café miliknya. Hem, pantas saja setiap hari dia selalu sibuk di café. Aku memang tidak pernah menanyakan mengenai hal ini padanya.


“Nona super visor?”


Aku mengangkat salah satu alisku dengan tatapan menyelidik.


“Em. Sejak café ini dibuka aku menjadi super visor.  Kau tidak tahu?”


“Aku tidak mengetahuinya sama sekali. Lalu ommamu?”


“Ommaku kembali ke China setelah peresmian café ini. Dia memintaku untuk mengawasi pekejaaan para karyawan. Jadi aku menjadi super visor disini. Oema akan kembali 2 minggu kedepan, dia yang akan melakukan penerimaan pegawai baru. Kebetulan aku sedang libur, jadi aku yang melakukannya disini. Rasanya sangat menyenangkan bekerja seperti ini”


“Ah, Kau terliat sibuk setiap hari. Pantas saja tidak ada waktu untuk keluar”


“Aniyeo, aku selalu menyempatkan untuk keluar. Yah maksimal satu minggu dua kali aku pergi bersama Jinki. Kta sedang mengikuti liburan musim panas jadi tidak pergi ke kampus. Satu-satunya cara untuk menemuinya adalah pergi keluar bersama”


“Berbeda sekali denganku. Aku ini tidak punya pekerjaan apapun.  Setiap hari menghabiskan waktu dirumah untuk menonton drama. Aku juga ingin bekerja sepetimu. Maukah kau menerimaku sebagai pegawai?”


“Aniyeo, aku serius. Aku benar-benar bosan setiap hari dirumah. Sudah puluhan buku yang berhasil aku selesaikan. Dan aku mulai bosan dengan kegiatan itu”


“Bagaimana dengan Donghae oppa?”


“Dia juga sibuk bekerja setiap hari. Bahkan kami hanya mempunyai banyak wantu bersama ketika honeymoon saja”


“Kau pasti merasa sangat bosan dirumah. Maafkan aku karena tidak mempunyai banyak waktu untuk bermain main denganmu”


“Gwencana. Aku tau sangat sibuk”


Obrolan kami terus berlanjut. Hanya diselingi dengan makan siang sejenak. Sesekali aku membantunya untuk melayani pelanggan jika sedang sangat ramai. Yah, rasanya sangat menyenangkan menjadi seorang pegawai.


***


Donghae’s pov


“Aku mau pulang sekarang”


“Hei, lihat jarum panjangnya belum menyentuh angka 12. Biasanya kau akan tertib sekali masalah jam kerja”


Aku berdiri tepat di depan meja Eunhyuk. Dia masih serius duduk di depan computer yang masih menyala. Kedua tangannya berhenti bekerja ketika aku berbicara padanya. Yah, ini memang belum waktunya pulang. Seharusnya aku pulang tepat jam 6 petang, tapi sekarang masih jam 17.30 sore. Lebih awal dari biasanya.


“Mengertilah Lee Hyukjae, Ini adalah hal yang dirasakan oleh setiap pria yang sudah menikah. Jika kau sudah menikah, maka kau juga akan merasakah hal yang sama sepertiku. Merindukan istrikmu dan ingin segera memeluknya”


“Ish, berhenti membicarakan itu, kau membuatku iri”


“Cepatlah menikah”


“Sudahlah sajangnim. Kau membuatku semakin frustasi. Cepat puang sana”


Dia mengedikan kepalanya mengisyaratkan padaku untuk segera meninggalkannya di sini.


“Kau tidak mau pulang?”


“Aku akan pulang ketika jarum panjangnya menyentuh angka 12”


“Aigoo, kau benar-benar karyawan terbaik di kantor ini Eunhyukah”


“Yah, aku memang pria sempurna”


“Yah betul, pria sempurna yang tidak kunjung mendapatkan seorang gadis”


“YAK LEE DONGHAE”


Dia berteriak dengan sangat keras saat aku meledeknya seperti itu. Tangan kanannya sudah terkepal sempurna, dan bersiap untuk menghantamkannya ke kepalaku, tapi  aku segera berlari meninggalkannya yang bisa saja berbuat nekat dan menghajarku.


***


“Aku pulang”


Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Kulihat semuanya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Gyuri sedang asik membantu bibi Jung mencuci peralatan masak. Sedangkan oemoni, sedang sibuk dengan rice cooker yang sepertinya baru saja selesai memasak nasi.


“Huh? Oppa….”


Gyuri berlari ke arahku, masih dengan sarung tangan khusus untuk mencuci piring yang dipenuhi dengan busa. Dia terlihat sangat berbinar ketika melihat kedatanganku.


“YAK, Jangan memeluku dengan sarung tangan basahmu itu”


Aku mendorong kedua tangnnya yang sudah terbuka lebar untuk memeluku. Dia terlihat menggembungkan pipinya dengan kesal. Kulirik oemonim yang sedang tersenyum sembari menggelangkan kepala melihat kelakuan putri  kesayanganya itu.


***


Aku naik ke atas untuk mandi dan mengganti baju setelah itu, kembali ke bawah untuk makan malam. Kami menikmati makan malam santai diselingi dengan ceritaku dan Gyuri mengenai Bali. Kedua mertuaku sangat antusias mendengarkan cerita kami. Mereka terlihat sangat menyukainya, bahkan berencana untuk menghabiskan bulan madu untuk kesekian kalinya disana. Selesai makan malam, kami duduk bersama diruang tengah. Membaca beberapa buku, ditemani dengan makanan ringan. Cukup lama kami menghabiskan waktu disana sebelum akhirnya naik ke kamar.


Aku duduk tepat di depan meja kerjaku. Sibuk dengan berbagai berkas yang baru saja aku keluarkan dari dalam tasku. Tadi aku pulang lebih dulu karena berniat untuk megerjakan semua tugas ini dirumah. Setidaknya aku bisa mengerjakan di dekat Gyuri , walaupun aku tidak sempat untuk megobrol dengannya karena sibuk dengankertas-kertas ini.


Gyuri masih duduk bersandar di kepala ranjang. Kedua tangannya sibuk membolak balik sebuah majalah fashion, sesekali dia bergumam untuk memberikan komentar mengenai pakaian yang dia lihat.


“Oppa, aku bosan”


“Kau bosan kenapa sayang?”


“Aku bosan setiap hari dirumah. Menghabiskan uang untuk pergi ke pusat perbelanjaan.  Aku ingin melakukan sesuatu yangbermanfaat. Sudah hampir satu bulan aku libur kuliah, dan masih tersisa satu bulan lagi. Tapi aku tidak melakukan hal apapun yang berarti”


“Hei,kau kan sedang liburan.  Sudahlah nikmati saja. Tidak apa-apa kau menghabiskan uang dariku, asalkan kau merasa senang”


“Tadi aku menemui Jiyeon, berniat untuk mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan dan menghabiskan waktu berdua. Tapi dia sangat sibuk”


“Em, ngomong-ngomong bagaimana hubungannya dengan Jinki?”


Aku ingat betul bagaimana Jiyeon cemburu pada Gyuri dan Jinki. Saat itu istriku dibuatnya menjadi sangat frustas. Gyuri juga sering sekali menceritakan mengenai Jinki dan Jiyeon. Ehm, semoga Jinki mendapatkan gadis yang baik sperti Jiyeon. Dia itu pria luar bisa dan harus mendapatkan seorang gadis yang benarbenar mencintainya.


“Jiyeon mengatakan padaku jika mereka berdua tidak mempunyai hubungan apapun. Entahlah aku rasa hubungan mereka berjalan dengan lambat. Aku bingung dengan Jinki, dia sudah sangat tau bagaimana perasaan Jiyeon padanya tapi dia tetap saja tidak mau membalas perasaan Jiyeon dan menjadikannya sebagai kekasih”


“Biarkan saja mereka dekat dangan caranya sendiri. Jika memang takdir, maka Jiyeon pasti akan bersama Jinki. Iya kan?”

__ADS_1


Aku bangkit dari dudukanku, membereskan berkasberkas yang berantakan di atas meja. Dan melangkahkan kakiku mendekat ke arahnya.


Aku menarik selimut yang menutupi kedua kakinya kemudian mengambil posisi yang sama tepat di sampingnya. Menyandarkan punggungku ke kepala ranjang dan meluruskan kedua kakiku sejajar dengannya. Dia beringsut dari posisinya kemudian meletakan majalan fashion itu ke atas meja tepat disamping tempat tidur kami.


“Em, semoga saja begitu. Tapi oppa, yang ingin aku bicarkan bukan masalah Jiyeon dan Jinki”


‘”Lalu?”


Aku merapatkan posisiku ke arahnya, melingkarkan tangan kananku di pinggangnya. Sesaat mencium puncak kepalanya, membuat dia menyandarkan kepalanya tepat di bahuku


“Aku iri pada Jiyeon yang bekerja setiap hari. Dia selalu mengabiskan waktunya café, bahkan dia menjabat sebagai seorang supervisor. Sedangkan aku, bahkan terlihat seperti ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya diumah seharian”


“Jinjayo? Menjabat  sebagai super visor di café milik oragtuanya sendiri, Cukup baik. Padahal dia mahasiswa kedokteran. Kau bosan dirumah? Kau tau, pekerjaan seorang ibu rumah tangga menghabiskan waktu dirumah akan terasa lebih menyenangkan kjika ditemani oleh seorang malaikat kecil yang akan membuatnya selalu tersenyum”


“Maksudmu?”


Dia mendongakan kepalanya untuk melihat wajahku. Aku tersenyum ketika pandangan mata kami bertemu, kemudian mengusap bahunya dengan lembut.


“Masa kau tidak mengerti. Jika kita sudah mempunyai seorang anak, maka kau tidak akan merasa kesepian lagi sayang”


“Oppa, aku merasa kesepian karena menghabiskan waktu liburan dirumah. Kau sibuk, omma, appa, dan juga Jiyeon. Aku bingung, aktifitas apa yang harus aku lakukan. Lagipula, apa yang baru saja kau katakan? anak? Aku ini masih kuliah oppa. Kau tau kan aku mempunyai sebuah cita-cita besar”


“Araseo, aku sangat mengerti bagaimana perasanmu. Lalu mau bagaimana lagi? Kau memang sedang memasuki masa liburan sekarang. Otomatis semua kegiatan kampusmu juga terhenti kan”


Dia beringsut dari posisinya, membuatku melepaskan tangan kananku yang melingkar di pinggangnya. Tatapan matanya terlihat berbeda, dengan senyuman lain yang mengisyaratkan sesuatu. Sebenarnya apa yang ingin dia katakana?


“Oppa aku ingin bekerja”


“MWORAGO?”


Aku terperangah kaget ketika mendengar kalimat itu dari mulutnya. Bekerja? Apa dia serius.


“Aku ingin menjadi pegawai oppa, ayolah izinkan aku”


“ANDWE”


Aku menyilangkan tanganku di dada, dan mentap lurus ke depan. Aku tau saat ini dia pasti sedang menunjukan wajah aegyonya untuk membuku. Itu adalah hal paling ampuh karena dia akan terlihat sangat lucu dan manis jika melakukannya.


“Oppa, ayolah. Berikan aku pekerjaan, em, bagaimana kalau di hotel?”


“Tidak akan”


“Oppa, ayolah kau mau aku mati bosan?”


“Kau jangan berlebihan nyonya Lee. Lagipula untuk apa kau bekerja? Uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup, kan?”


“Aniyeo, aku ini kuliah di jurusan manajemen bisnis. Setidaknya aku sudah belajar terjun ke lapangan mulai dari sekarang. Ayolah oppa biarkan aku bekerja di hotel!”


Dia menarik-narik bajuku, persis seperti anak kecil yang meminta uang jajan kepada ommanya. Kalau seperti ini mana bisa aku melarangnya lagi.


“Kau benar-benar keras kepala. Bagaimana kalau kau bermalas-malasan nanti.  Kau ini kan anak manja”


Aku meliriknya yang sedang memandangku dengan tatapan tidak terima. Dia menggembungkan pipinya, terlihat sebal mendengar kalimat terakhir yang aku katakan.


“Aku akan bertanggung jawab dengan pekerjaanku”


“Kau mau bekerja sebagai apa?”


“Apapun, asal aku bisa pergi ke kantor dan menghabiskan liburanku dengan hal lain”


“Kau ini baru mahasiswa semester dua, dan baru akan memasuki semester 3 bulan depan. Lalu hal apa yang dapat kau lakukan?”


“Hem, jangan beirkan aku pekerjaan yag terlalu berat. Yang penting aku berada di kantor. Aku tidak perlu masuk ke jajaran staf keuangan perusahaan sesuai dengan jurusan kuliahku. Terserah kau!”


Aku berfikir sejenak sebelum mejawab perkataannya. Pekerjaan yang tidak terlalu berat. Hem, tidak mau memasuki jajaran staf keuangan? Lagipula aku tidak akan membiarkannya memegang jabatan itu, ish, bisa bisa perusahaan kacau jika dia menjadi salah satu staf keuangan.


“Baiklah, Kalau begitu resepsionis!”


“MWO?”


Dia membulatkan matanya dengan tatapan terkejut. Yah, aku rasa itu pekerjaan yang tidak terlalu sulit.


“Yah, kalau kau tidak mau ya tidak usah”


“aaa… ani… ani….aniyeon, aku mau. Aku mau menjadi seorang resepsionis”


Dia mengibaskan tangannya berkali kali di depan wajahku. Kurasa dia benar benar ingin bekerja, bahkan tidak protes sama sekali ketika aku memutuskan untuk menempatkannya sebagai seorang resepsionis.


“Oke, kau boleh pergi ke kantor dan bekerja sebagai rsepsionis. Kapan kau mau mulai bekerja?”


Aku kembali melingkarkan tangan kananku di pinggangnya dan mendekatkan tubuhnya. Dia tiba tiba berbalik dengan wajah yang berbinar.


“Besok”


“Besok? Hem, baiklah. Kau memang sangat bersemangat ternyata. Oke, karena aku sudah memberikan apa yang kau inginkan, sekarang beri aku hadiah”


“Hadiah? Hadiah apa yang kau inginkan?”


“Kissu!”


“Huh?”


Tiba-tiba Gyuri menjadi salah tingkah setelah mendengar sebuah kata yang baru saja keluar dari mulutku. Haha, ini adalah cara yang tepat untuk medapatkan apa yang aku inginkan. Nyonya Lee, mau tidak mau kau harus tetap melakukannya.


Aku memajukan wajahku ke arahnya yang tepat berapa di sampingku, dia terlihat sedikit kebingungan dan wajahnya mulai memerah. Ekspresi yang sangat manis.


“Op….Oppa…. apa hadiahnya harus seperti ini?”


“Yah, tidak ada tawar menawa. Karena aku sudah memberikan apa yang kau inginkan, sekarang saatnya kau memberikan apa yang aku inginkan. Adil bukan?”


“Aku yang harus memulainya?”


Dia mengangkat dahinya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ekspresi bingugn bercampur malu. Haha, baiklah aku ingin tau bagaimana cara dia memulai sebuah ciuman. Selama ini selalu aku yang melakukannya sedangkan dia hanya menikmatinya dengan mata terpejam.


“Tentu saja sayang, masa harus aku terus yang memulainya”


“Eng… baiklah. Kalau begitu tutup matamu!”


“Oke”


Aku masih melingkarkan tangan kananku di pinggangnya dan satu tangan lagi aku letakan di bahunya. Gyuri merubah posisinya menghadapku, tangan kanannya berada di dadaku sedangkan tangan kirinya bertumpu pada pahaku.


Sesuai perintahnya, aku menutup mataku menunggu bibirnya menyentuh bibirku. Sebelumnya aku melihat ekspresi panic di wajahnya, dia sedikit mendongakan kepalanya untuk mencapai bibirku. Saat ini aku dapat merasakan hangan nafasnya menyapu wajahku. Beberapa saat kemudian aku bisa merasakan bibir manisnya menyentuh bibirku. Gyuri hanya menempelkan bibirnya disana dan menahanya selama beberpa detik. Dan  saat aku merasakan bibirnya mulai menjauh, aku segera merengkuh lehernya dan memutar kepalaku ke kanan, membuat dia benar-benar kaget karena ulahku. Dapat aku rasakan cengkraman tangannya di pahaku, saat aku mulai ******* bibirnya lebih dalam, beberapa kali aku memutar kepalaku mencari posisi yang nyaman untuk ******* bibirnya dan memperdalam ciumanku. Dia hanya bisa terdiam sembari memejamkan matanya rapat-rapat. Aku menekan punggungnya, untuk memperkecil jarak diantara kami.


“Engh… hmp…em….”


Dia mulai mendorong bahuku menjauh dengan kedua tangannya. Nafasnya sedikit terengah-engah, mungkin karena tidak bisa mendapatkan oksigen dan sibuk menikmati lumatanku di bibirnya. Aku masih tersenyum lembut menatapnya. Kuulurkan tangan kananku untuk menyeka bibirnya yang basah.


“Sudah selesai mengambil oksigen? Kita lanjutkan lagi oke?”


Aku mengerlingkan sebelah mataku ditambah dengan senyuman tampan untuk merayunya. Tapi saat aku mendekatkan kembali wajahku. Tiba-tiba dia menahan dadaku dengan kedua tangannya.


“Stop…. Stop…”


“Waeyo?”


Aku memundurkan kepalaku dan menatapnya dengan bingung. Kenapa menghentikanku lagi?


“Oppa aku harus tidur sekarang. Karena besok aku harus bangun pagi dan berangkat  ke kantor, oke!”


Gyuri beringsut dari posisinya, kemudian berbaring dengan nyaman. Dia segera menarik selimutnya tinggi-tinggi kemudian memejamkan mata tanpa rasa bersalah sama sekali. Oke, harus berhenti hanya sampai sebuah ciuman. Ah sangat disayangkan. Padahal aku menginginkan yang lebih dari itu. Ayolah Lee Gyuri, kau tidak boleh tidur begitu saja dan membiarkan aku kecewa seperti ini.


“Nyonya Lee. Hadiahku hanya sebuah ciuman? Ayo kita lakukan sesuatu yang lebih dari sebuah ciuman. Hem?”


“Shireo oppa, aku lelah dan sangat mengantuk”


Dia berbicara dengan mata terpejam, walaupun aku sangat tau dia belum mengantuk sama sekali.


“Hei, ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Kita hanya perlu melanjutkan ke tahap selanjutnya. Bagaimana?”


Aku menyentuh hidungnya dengan telunjuku, membuat dia kembali membuka mata dan menatap wajahku yang tepat berada di atasnya.


“Tapi aku lelah oppa”


“Ah, baiklah. Kurasa kau memang harus segera tidur sekarang”


Aku beringsut dari posisiku kemudian mengecup dahinya singkat sebelum akhirnya ikut terlelap tepat disampingnya.


Gyuri’s POV


Dengan sedkit terburu-buru aku mengenakan sepatuku. Hari ini aku harus berangkat ke kantor pagi-pagi agar aku bisa melakukan persiapan terlebih dahulu.


Kami berdua sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor. Omma dan appa terlihat bingung ketika aku turun dengan rapih bersama Donghae oppa dibelakangku. Kami berdua menjelaskan semuanya sejelas-jelasnya dan mereka berdua tidak keberatan sama sekali. Appa mengatakan jika aku harus mengerti mengenai perhotelan. Mulai dari sekarang aku harus membiasakan diri berada di tempat itu.  Omma memang sedikit tidak rela, tapi akhirnya dia mengizinkanku setelah aku merengek di meja makan. Yah kebiasaan merengek memang sangat sulit dihilangkan. Mungkin karena itulah senjata paling ampuh untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.


***


Kami berdua memasuki lobbi hotel dengan sedikit tergesa-gesa. Aku melihat setiap orang yang kami lewati pasti akan membungkuk sopan sebagai tanda hormat. Sikap yang berlebihan seperti ini membuatku merasa sangat tidak enak.


Donghae oppa mengantarkanku ke bagian kepegawaian, dia mempertemukanku dengan seorang super visor yang menjadi ketua dari resepsionis dan beberpa pegawai yang bekerja di lobi. Beberapa orang dengan seragam lengkap sudah berbaris rapih. Aku rasa mereka sedang menerima pengarahan atau semacam rapat evaluasi. Hem, entahlah aku tidak begitu mengerti.


“Nona Han. Mulai saat ini istriku akan bekerja menjadi seorang resepsionis”


Donghae oppa memulai pembicaraan setelah kami berdua menjadi fokus utama diantara kumpulan pegawai ini. Mereka semua terlihat kaget mendengar perkataan Donghae oppa barusan.


“Bekerja sebagai resepsionis?”


“Ya, perlakukan dia seperti pegawai lain. Dia memang istriku, tapi dia mengatakan jika dia ingin serius dan akan bertanggung jawab dengan pekerjaannya”


“Aigoo, Nyonya Lee benar-benar sangat mengagumkan”


Ujar salah seorang gadis dengan seragam lengkap. Aku rasa dia juga salah satu staf di sini. Ucapannya dibalas dengan anggukan oleh pergawai lain, membuat aku menjadi tersenyum senang melihatnya.


“Aku akan bekerja sebagai seorang pegawai disini dan kalian tidak perlu menganggaku sebagai istri dari tuan Lee Donghae ataupun putri dari tuan Kim Senghyun ayahku. Anggaplah aku seperti karyawan yang lain. Oke?”


Aku melihat Donghae oppa melayangkan sebuah tatapan kaget, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku akan bersikap professional dan bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Walaupun aku bekerja disini untuk mengisi waktu luangku, tapi aku serius melakukannya”


“Baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Ehm… Anyeonghaeso. Kim Gyuri imnida. Mulai hari ini aku akan menjadi salah satu pegawai di hotel ini. Mohon bantuannya”

__ADS_1


Aku membungkukan badanku untuk memberi hormat kepada yang lainnya. Kulihat Donghae oppa menatapku dengan mulut yang sedikit menganga. Kurasa dia bernar-benar terkejut sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata sekarang.


Yah, hari pertama menjadi seorang karyawan pasti akan sangat menyenangkan. Dan tentu saja, hari-hari selanjutnya pasti akan lebih menyenangkan. Baiklah, Nyonya Lee, Fighting!!!!


__ADS_2