
Setelah semuanya selesai. Ayahku kembali naik ke stage mengambil microphone dan mulai berbicara, apalagi yang akan disampaikan ayahku.
“Hadirin sekalian, saya mohon perhatiannya sebentar. Ulang tahun perusahaan kali ini sangat special, karena saya akan mengumumkan sesuatu. Acara hari ini ditambah dengan satu sesi lagi, yaitu acara pertunangan putrid tunggalku Kim Gyuri dan putra dari sahabat terbaiku Lee Donghae”
“MWOooo???” ujarku dan Donghae oppa bersamaan, kami mantap satu sama lain dengan tatapan yang sama-sama bingung. Apa maksud perkataan Ayahku.
“Baiklah Eunhyuk-ssi silahkan bawa kemari” lanjut ayahku.
Enhyuk Oppa berjalan melewati kerumunan orang yang perhatiannya masih tertuju pada ayahku yang sedang berdiri di stage. Kulihat dia membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam, senyumnya tak pernah terhenti sampai ia naik ke stage dan berdiri disamping ayahku.
“Baiklah, Lee Donghae dan Kim Gyuri. Silahkan naik kesini”. Perkataan ayahku menyadarkan kami yang masih mematung karena pernyataannya barusan, aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang. Aku melirik kearah Donghae Oppa, kulihat ia masih belum menutup mulutnya yang masih menganga dengan tatapan bingung.
“Silahkan Donghae-ssi dan Gyuri-ssi” seru Eunhyuk Oppa yang masih berdiri memegang sebuah kotak hitam itu.
Akhirnya aku dan Donghae Oppa naik ke stage dengan ekspresi yang tidak karuan. Aku tahu Donghae Oppa juga tidak dapat menolak, dan tidak dapat mengatakan apapun karena saat ini semua perhatian tamu undangan sedang tertuju kearah kami. Aku masih bingung antar percaya dan tidak, mengapa tiba-tiba Appa ingin aku bertunangan dengan Donghae Oppa, bahkan ia tidak membiarkanku berpacaran dan menyuruhku untuk tetap fokus dengan kuliahku.
“Saat ini aku resmikan pertunangan kalian di depan semua hadirin yang datang. Eunhyuk-ssi, silahkan berikan cincinnya” ujar Appaku. Aku dapat melihat Oema dan Oemonim tersenyum melihat kami, kurasa mereka sudah tau mengenai pertunangan ini. Oh Tuhan mengapa jadi seperti ini, bagaimana dengan Jinki jika aku benar-benar menikah dengan Donghae Oppa.
Eunhyuk Oppa membuka sebuah kotak hitam yang sedari tadi dipegangnya, kulihat sebuah cincin pasangan, motifnya hampir sama tetapi yang satunya terlihat diselipi sebuah permata bening yang sangat indah. Eunhyuk Oppa menyerahkan satu cincin itu ke pada Donghae Oppa.
“Ayo silahkan kau pakaikan di jari manis calon istrimu Donghaeya”
Donghae Oppa mengambil cincin perak itu dari tangan Eunhyuk Oppa. Dia menggenggam tangan kananku dan memasukannya secara perlahan. Omona… cincin ini bahkan sangat pas di jari manisku, bagaimana mungkin cincinnya bisa begitu pas, padahal aku tidak tau ketika mereka mempersiapkan cincin ini sebelumnya.
“Kali ini giliranmu Gyurina, ayo pasangkan di jari calon pendamping hidupmu ini” seru Eunhyuk Oppa sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah cincin satunya yang harus ku pakaikan di jari Donghae Oppa. Aku mengambil cincin itu dan memasangkannya tepat di jari manis tangan kanan Donghae Oppa. Cincin itu terpasang dengan sempurna, bahkan tidak terlalu longgar atau sempit, benar-benar pas.
“Hadirin sekalian, putri tunggalku Kim Gyuri dan putra sahabat terbaiku Lee Donghae hari ini Resmi bertunangan dan pernikahan akan dilaksanakan 2 minggu ke depan” ujar ayahku bersemangat hingga membuatku sesak nafas dan tidak tau bagaimana perasaanku saat ini.
Aku dan Donghae Oppa menatap kearah semua hadirin yang sedang bertepuk tangan bahagia. Sedangkan kami berdua hanya memasang sebuah senyum aneh yang dipaksakan.
Acara pesta ini akhirnya selesai. Aku tidak menyangka yang dikatakan oema mengenai pesta ulang tahun perusahaan yang special itu adalah karena pertunanganku dengan Oppa. Aku juga menyadari ketika kemarin Eunhyuk Oppa datang kerumahku pagi-pagi sekali dan dia bilang akan mempersiapkan sesuatu yang penting dengan ayahku, dan ternyata inilah yang mereka persiapkan. Oh Tuhan kenapa hidupku menjadi seperti ini, apa yang akan terjadi selanjutnya.
—
Aku bangun dari tidurku. Segera bersiap menghampiri semua yang sudah menunggu di meja makan. Hari ini kami masih di Mokpo, dan siang nanti akan kembali ke Seoul. Appa, Oema, Oemonim, Donghae Oppa dan Donghwa Oppa sudah duduk dengan santai.
“Selamat pagi semuanya” sapaku sambil tersenyum. Aku duduk tepat di sebelah Donghae oppa. Mengambil segelas susu dan meminumnya.
“Menantu, apakah tidurmu nyenyak malam ini?” perkataan Oemonim membuat aku tersedak, seketika aku langsung tebatuk dan meletakan gelas susu itu. Aku memukul pelan dadaku dan menyeka bibirku.
“Gyurina, gwencanayo?” ujan Donghwa Oppa sambil memberikan sebuah tisu padaku.
“Ne.. gwencanayo” jawabku masih sedikit sesak
“Chusungeo, sepertinya kau belum benar-benar siap aku panggil menantu” pernyataan Oemonim sontak membuat semua yang sedang duduk di meja makan tertawa sehingga membuat suasana menjadi hangat. Aku melirik keaarah Donghae Oppa yang hanya tersenyum kecil sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Kami segera bersiap untuk kembali ke Seoul, aku merapihkan beberapa barang bawaanku yang lumayan banyak. Saat ini aku duduk di ruang tengah, menunggu Appa,Oema dan Donghae Oppa yang masih bersiap-siap. Aku hanya menatap kosong ke sekeliling ruangan sebelum Oemonim datang menghampiriku sambil membawa sebuah kotak berwarna biru tua yang sudah sedikit usang.
“Gyurina…” sapa Oemonim sambil duduk di sampingku
“Ne.. Oemonim” jawabku sambil beringsut dari posisi duduku semula.
Oemonim memberikan sebuah kotak itu kepadaku
“Ini adalah sebuah kalung pemberian ayah donghae ketika kami menikah dulu. Aku ingin memberikan kalung ini kepada istri Donghae. Dan kau akan segera menjadi istrinya, jadi kumohon jagalah kalung ini dengan baik. Satu pesanku padamu, perlakukanlah Donghae kami dengan baik. Kadang dia memang bersikap tidak peduli atau apapun itu, tapi sebenarnya dia anak yang sangat baik, dan kau tau kan hatinya sangat lembut” ujar Oemonim sambil mengenggam tanganku.
Entah perasaan seperti apa yang sedang ku alami sekarang, tetapi aku merasa sebuah beban tertumpu di bahuku, aku harus berjanji pada Oemonim untuk memperlakukan Oppa dengan baik. Bahkan Oemonim memberikan kalung yang sangat berharga itu kepadaku, pantaskah aku mendapatkan kalung itu. Bisakan aku hidup mendampingi Donghae oppa sebagai seorang istri. Kami bahkan tidak menghendaki pernikahan ini. Oh Tuhan, aku harus bagaimana.
__ADS_1
“Em..Aa…Araso.. Oemonim, aku akan menjaganya dengan baik” jawabku pelan, air mataku hampir menetes karena perkataan Oemonim barusan, rasanya seperti memikul sebuah tanggung jawab besar dalam hidupku.
Oemonim membuka kotak biru itu dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan hiasan sebuah hati yang didalamnya terdapat sebuah permata berwarna sapphire blue. Aku hanya dapat memandang kalung itu dengan takjub, walaupun sederhana tapi terlihat sangat indah. Oemonim memakaikan kalung itu dileherku.
“Kamsahamnida, Oemonim. Aku berjanji akan menjaga Donghae Oppa dan juga akan menjaga kalung ini dengan baik” ujarku sambil tersenyum menatapnya. Oeminim balas tersenyum dan memeluku erat, dapat kurasakan dekapan hangat seorang ibu, rasanya seperti dipeluk oleh oemaku, sangat nyaman.
Akhirnya kami kembali ke Seoul, sudah dua hari aku bahkan tidak pergi kuliah, pasti banyak sekali hal yang aku lewatkan. Apa kabar Jinki, mengapa selama dua hari ini dia tidak menghubungiku, bahkan sekedar mengirim pesanpun tidak.
—
“Gyurina, boleh aku masuk” suara Donghae Oppa mengetuk pintu kamarku. Aku masih sibuk membereskan barang bawaanku dari dalam kopper.
“Ne.. silahkan masuk” ujarku sedikit berteriak.
Donghae Oppa masuk ke kamarku dan duduk di pinggir tempat tidurku, dia memang sudah sering masuk ke kamarku, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk bermain PSP atau kadang dia membantuku mengerjakan tugas kuliahku, yah kuakui dia memang pintar dalam segala hal.
“Gyurina, apa kau tidak mengatakan apapun pada ayahmu setelah kejadian kemarin. Apa kita akan benar-benar menikah?” pertanyaan Donghae Oppa kembali mengingatkannku pada kejadian kemarin malam dan juga tadi pagi ketika Oemonim memberikanku sebuah kalung
“Molla, aku bahkan tidak dapat berfikir hingga saat ini. bagaimana mungkin aku menjadi istrimu Oppa, kau bahkan sudah ku anggap sebagai kakaku sendiri. Lagipula mana bisa aku tahan hidup selamanya bersamamu, kau selalu menyebalkan” jawabku
“Hya, kau fikir aku mau menjadikanmu istriku, kau bahkan tidak bisa memasak dan juga membersihkan rumah, kau terlalu manja Gyuri. Aku ingin ketika menikah nanti istriku akan membenarkan dasi yang kukenakan sebelum aku berangkat ke kantor dan memberikanku ciuman selamat jalan. Tapi kau bahkan tidak bisa mebuat sebuah simpul dasi”
“Mwo? Manja, aku bukan anak manja, aku sudah dewasa sekarang. Jangan anggap aku Kim Gyuri yang pertama kali kau temui 6 tahun lalu Oppa” balasku
“Oya.. kalau begitu apa kau tidak akan menolak pernikahan ini, bagaimana dengan Lee Jinki kekasih yang selama ini kau sembunyikan itu, apa yang akan dia lakukan jika mengetahui kau akan segera menikah”
Pikiranku kembali kacau setelah mendengar pernyataan Oppa barusan, apa yang harus ku lakukan dengan Jinki, apakah harus menghakhiri hubungan kami seperti ini. walaupun aku tidak tau perasaanku padanya adalah cinta atau hanya sebuah perasaan nyaman seperti seorang sahabat. Fiuh… aku menghela nafas panjang dan melirik Donghae Oppa
“Apa yang harus kulakukan pada Jinki. Oppa tolong bantu aku” ujarku sambil mengacak rambutku.
Hari ini aku berangkat ke kampus seperti biasa, setiap hari aku diantar oleh Donghae Oppa karena sekalian dia berangkat ke kantor. Sering kali Oppa bertemu dengan Jinki, dia sudah mengenal Jinki ketika memergoki kami yang sedang makan berdua di kafe. Terpaksa aku mengenalkan Jinki padanya, setelah sebelumnya dia berjanji tidak akan memberitahu siapapun mengenai hubungan kami tentunya. Mereka selalu menyapa satu sama lain, terlihat baik-baik saja sepertinya. Hem, mobil kami berhenti tepat di depan gerbang kampusku.
“Em.. belajar yang benar, jangan berpacaran terus. Ingatlah aku calon suamimu, bagaimana mungkin wanita yang sudah bertunangan masih saja berpacaran dengan pria lain” katanya dengan nada merendahkanku. Sepertinya dia sangat senang menggodaku dengan candaannya itu, padahal aku tau benar kalau dia juga pasti tidak suka dengan perjodohan itu.
“Hya oppa, berhenti mengatakan hal itu di depanku. Aku pusing mendengarnya” jawabku sambil berlalu meninggalkannya. Kulihat Donghae oppa memacu mobilnya dan mulai menjauh.
Seperti biasanya, aku belajar di kelas. Kali ini materi kuliah kami mengenai saham, aku adalah mahasiswi jurusan manajemen bisnis sedangkan Jinki adalah seorang mahasiswa kedokteran. Sangat berbeda jauh bukan, ayahku memang benar-benar mempersiapkanku untuk melanjutkan perusahaan membantu Donghae oppa.
—
Setelah jam kuliah selesai, aku duduk di sebuah kursi didepan pagar kampusku, menunggu Donghae oppa menjemputku sekalian dia pulang ke rumah. Oh iya, dari kemarin Jinki tidak menghubungiku, sebenarnya sedang apa dia. Apakah tugas kuliahnya sangat banyak, entahlah. Akan kucoba menghubungin Jinki sekarang. Kuambil ponsel didalam tasku. Oh ternyata ada satu pesan masuk, em dari Jinki. Baru saja aku akan menghubunginya, ternyata dia sudah mengirimu pesan.
From: Lee Jinki
“Gyurina, aku ingin bertemu denganmu sekarang. Ku tunggu kau di taman samping auditorium”
Hem, bertemu sekarang juga. Baiklah sebelum Donghae oppa datang, sebaiknya aku menemui Jinki dulu. Aku setengah berlari menuju tempat yang diberitahu Jinki. Kulihat dia sedang duduk diatas rumput memandang kearah kolam didepannya sambil sesekali melemparkan sebuah kerikil batu yang ada di sekitarnya. Tangan kirinya memegang sesuatu, seperti sebuah Koran atau mungkin sebuh majalah.
“jinki-ah, anyeong” sapaku sambil duduk disampingnya. Aku mencoba mengatur posisi nyaman dengan meluruskan kedua kakiku, hingga akhirnya Jinki memulai pembicaraan.
“Gyurina, apa maksudnya ini semua?” ujarnya sambil menunjukan sebuah surat kabar yang sedari tadi dipegangnya. Aku dapat melihat dengan jelas foto ku dan Donghae oppa yang sedang memakaikan cincin di jari manisku. Omo… aku bahkan tidak menyangka kejadian kemarin bisa menjadi headline dalam sebuah Koran pagi, kubaca judulnya ‘Pertunangan Putra dan Putri LK Corporation Di Pesta Ulangtahun Perusahaan’. Aku masih tidak berkedip dan terpaku dengan surat kabar yang sedang ku pegang saat ini.
“Aniyo, Jinki-ah, i.. igo.. igo.. em” aku bahkan tidak dapat berkata apapun, aku tidak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana.
“Kau sungguh keterlaluan Kim Gyuri. Kau bahkan memintaku untuk memilihkan sebuah gaun yang akan kau kenakan untuk acara pertunanganmu dengan pria lain. Kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatnya, hah..!”
Jinki berbicara padaku dengan nada tinggi, dapat kulihat matanya merah, ia mengepalkan tangannya, kulihat dia masih menggenggam sebuah kerikil. Jinki beranjak dari posisinya, dia melemparkan kerikil di tangannya itu sambil berteriak keras. Aku hanya bisa diam tertunduk, ingin menangis tetapi mengapa air mataku tak bisa keluar. Aku berdiri di hadapannya dan mencoba menjelaskan semuanya.
__ADS_1
“Kau harus tau Jinki-ah, kemarin aku dan oppa sama sekali tidak tahu apapun mengenai pertunangan itu. Saat itu tiba-tiba ayahku mengumumkan pertunanganku kami, dan bahkan mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Aku dan Donghae oppa tidak dapat menolak sama sekali karena saat itu pesta dihadiri oleh banyak orang penting rekan bisnis ayahku. Hal itu terjadi begitu saja, dan sekarang aku harus tetap menuruti semua keinginan ayahku. Aku tidak mau menyakitinya. Aku akan melakukan apapun yang diinginkan orang tuaku jika memang menurut mereka itulah yang terbaik untuku” jawabku dengan emosi yang meledak-ledak.
“Apa kau mencintainya, hah? Apa kau mencintai Donghae hyung yang akan segera menjadi suamimu itu, hah? Ayo jawab aku, apakah kau masih menganggapku ini sebagai kekasihmu, Kim Gyuri jawab aku” ujarnya sambil mencengkram bahuku erat.
“Donghae oppa sudah tinggal bersama kami lebih dari 6 tahun. Aku menganggapnya sebagai kakaku sendiri. Tidak masalah jika aku harus menikah dengannya jika itu akan membuat kedua orang tuaku bahagia. Iya aku tahu betul kau adalah pacarku. Tapi mungkin hubungan kita harus berakhir sampai disini. Kau adalah sahabat terbaiku, kau memperlakukanku nyaris sempurna. Sangat beruntung bisa bertemu dengan pria sepertimu. Mulai sekarang lebih baik kau lupakan aku, kita akhiri sampai disini saja”. Aku melepaskan tangannya dari bahuku sambil menattap tajam matanya. Aku membalikan badanku dan segera berlalu untuk pergi. Tetapi kemudian Jinki memeluku dari belakang.
“Jangan tinggalkan aku Gyuriah, jangan bilang hubungan kita berakhir. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu Kim Gyuri. Tidak masalah jika kau harus menikah dengan pria lain, aku akan tetap berada disampingmu. Beri aku kesempatan sekali lagi. Hanbonman, jebal”
Akau tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini, Jinki membuatku semakin bingung. Bagaimana mungkin aku menikah sedangkan aku memiliki seorang pacar. Tidakah aku terlihat seperti perempuan jahat yang sangat buruk karena memiliki kekasih padahal aku sudah bersuami. Tapi apakah Donghae oppa mencintaiku. Dia hanya menganggapku sebagai adik, lagipula siapa yang tahu kalau ternyata dia juga mempunyai seorang kekasih. Dia tidak mungkin menceritakannya kepada kami kan. Baiklah aku akan tetap mempertahankan Jinki sebagai pacarku, walaupun sampai saat ini aku tidak tahu sebenarnya perasannku padanya adalah cinta atau atau hanya rasa sayang kepada seorang sahabat.
“Geurom, mianhae Jinki-ah. Maafkan aku karena perkataanku barusan. Jika kau ingin tetap disampingku, maka tetaplah disampingku” jawabku sambil melepaskan tangan jinki dan berbalik menghadapnya.
“Gumawo Gyurina, na joengmal saranghae” ujarnya sambil menatap mataku lembut
“em…” jawabku sambil tersenyum. Tidak tau kenapa aku tidak pernah bisa membalas pernyatannya jika dia bilang dia mencintaiku, aku pasti hanya dapat bergumam pelan. Baiklah biarkan saja semua ini mengalir seiring berjalannya waktu. Jinki memelukku sangat erat hingga aku sulit bernafas, sepertinya dia memang benar-benar tidak mau berpisah denganku. Aku mencoba melepaskan pelukannya sebelum kulihat Donghae oppa sedang memandang kami dari sebrang sana, aku tidak bisa melihat ekspresinya kali ini, tapi aku yakin itu adalah Donghae oppa dan dia masih berdiri mematung memandang kami berdua yang masih berpelukan. Sekali lagi aku mencoba melepas pelukan Jinki.
“Baiklah, kurasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kan. Sebaiknya kau kembali ke kelasmu, lihat kamu masih menggunakan seragam laboratorium, apa yang akan teman-temanmu pikirkan jika mereka melihatmu disini denganku dan tidak mengikuti perkuliahan” ujarku
“Baiklah, aku pergi dulu. Kau akan pulang kan, mau aku antar?”
“Anyio, aku naik bis saja” jawabku sambil melirik kea rah Donghae oppa yang masih berdiri disebrang sana. Sepertinya Jinki sama sekali tidak menyadari keberadaan Donghae oppa.
“Jalgayo, chagiya” ujar Jinki sebelum berlalu meninggalkanku
“Ne..” balasku sambil melambaikan tangan
Setelah Jinki kembali aku, menatap ke sebrang. Kulihat Donghae oppa sudah tidak ada disana. Aku segera berlari mencari keberadaannya. Ternyata dia sudah berada di dalam mobil, aku membuka pintu mobil dan duduk disampingnya.
“Melihat adegan tadi seperti menonton sebuah drama” ujar Donghae oppa sambil memakai seatbeltnya
“Mo? Hem, begitulah jika sedang jatuh cinta, dunia adalah milik kami berdua” jawabku. Aku mencoba bersikap wajar sebagaimana seorang kekasih yang baru saja berbaikan dengan pacarku, walaupun sebenarnya perasannku sangat tidak nyaman melihat ekspresi Donghae oppa saat ini. mobil kami mulai berjalan menyusuri jalanan yang sedikit lengang sore ini.
“Kau tahu mengapa ayahmu tidak membiarkanmu berpacaran?”
Pertanyaan oppa mengalihkanku, apa dia tahu sesuatu
“Mengapa? Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” tanyaku
“Aniyo. Eunhyuk yang memberitahuku”
Eunhyuk oppa, apa maksudnya.
“Bagaimana Eunhyuk oppa memberitahukannya padamu, apa yang dia katakan?” tanyaku penasaran
“Ternyata sejak kecil kau memang telah dipersiapkan untuk menjadi istriku Gyurina” jawab oppa santai
“Apa maksudnya? Kita dijodohkan dari kecil?”
“Ya, benar sekali. Ayahku dan ayahmu sudah membuat perjanjian ketika kita masih kecil. Saat itu ayahku bilang akan mendidiku menjadi seorang pria sejati agar bisa menjagamu Gyurina. Dia sangat menyayangimu seperti putrinya sendiri, mungkin karena Ayahku tidak punya anak perempuan, begitu pula ayahmu, ayahmu tidak punya anak laki-laki karena itu dia sangat menyayangiku dan juga Donghwa. Enhyuklah yang menceritakannya padaku, ayahmu memeberitahukan semua itu ketika ayahmu dan Enhyuk mempersiapkan acara pertunangan kita kemarin”
“Pantas saja ayah melarangku untuk berpacaran. Ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya”
“Bersyukurlah kau mempunyai calon suami sepertiku, aku bahkan tidak menghentikanmu saat kau berpelukan dengan pria lain. Aku hanya memandangmu dari jauh, sebenarnya hal yang ada di pikiranku ketika melihat adegan itu adalah, ‘sepertinya ayahku keliru memilihmu sebagai calon istriku’ makanya aku hanya bisa mengelus dada”
“Apa kau cemburu, hah? Bukankah kau selalu mengejeku kekanak kanakan, kau bilang aku hanya seorang anak kecil yang manja. Apa oppa mulai menyukaiku setelah berstatus sebagai tunanganku?” pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari mulutku
“Mwo? Cemburu, pada seorang Lee Jinki mahasiswa kedokteran semester 2 yang bahkan menangis didepan seorang perempuan. Kau ini kalau melucu jangan keterlaluan Kim Gyuri”
__ADS_1
Aku hanya bisa terkekeh mendengar jawabannya. Oppaku ini memang benar-benar lucu.
To be Continue…