OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Complicated


__ADS_3

Donghae POV


Malam ini waktu pulangku kembali harus mengalami kemunduran. Jam 7 malam, kami semua baru mengakhiri obrolan dan pulang kerumah masing-masing. Sudah ditetapkan jika pesta karyawan akan dilaksanakan besok dan untuk itu, kami harus menyelasaikan tugas-tugas hari  ini juga agar bisa bergabung dalam sebuah pesta dengan suasana yang santai, tanpa memikirkan pekerjaan yang masih menumpuk.


***


Dengan tergesa-gesa aku membuka pintu rumah, dan masuk ke dalam. Seperti biasanya, yang aku lihat adalah oemonim, abouji, dan untuk kali ini ada Hyomin yang sedang duduk bersama di meja makan.


“Aku pulang”


Ujarku dengan semangat kemudian menghampiri mereka dan duduk di kursi tepat di samping abouji.


“Kau pulang telat malam ini. Tidak seperti biasanya”


Tanya oemonim sembari mengulurkan sebuah mangkuk yang sudah terisi dengan nasih putih. Aku memang sudah sangat lapar dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mandi dan berganti pakaian.


“Tadi aku harus mengurusi beberapa hal di kantor. Em… oemonim, dimana Gyuri?”


Aku baru menyadari jika istriku tidak ikut bergabung di meja makan. Kemana perginya? Seingatku tadi sore dia sudah pulang kerumah.


“Gyuri  unni pergi dengan terburu-buru. Dia mengatakan akan pergi ke rumah Jiyeon unni”


Jawab Hyomin sembari mengigit sumpitnya. Kebiasaan yang sama. Kedua sepupu ini senang sekali mengingit sumpit disela-sela makan. Gyuri dan Hyomin.


“Ne… Gyuri kerumah Jiyeon dan oemma tidak tahu kapan dia akan kembali. Sejak tadi telponnya bahkan tidak diangkat”


“Ah… gwenchana, aku rasa mereka berdua memang butuh menghabiskan waktu bersama. Akhir-akhir ini Gyuri sibuk. Biarkan saja mereka bermain-main sebentar”


Jawabku kemudian menyendokan nasi putih ke dalam mulutku.


Hemh, sedikit mengecewakan karena aku kembali tidak bertemu dengannya dirumah. Semoga saja dia cepat pulang dan aku bisa mengobrol dengannya walaupun hanya sebentar, sampai Hyomin mengantuk tentunya.


***


Gyuri POV


“Bodoh, aku hampir gila karena memikirkan alasanmu menangis. Dan lagi kau juga mengatakan ini masalah aku, kau dan Jinki. Cish… keterlaluan”


Aku tidak berhenti memakinya sejak tadi. Park Jiyeon memang benar-benar keterlaluan. Dia menelponku sembari terisak dan setelah aku datang kesini dia langsung menghambur kedalam pelukanku sambil menangis keras. Yang membuat aku tak bisa menahan tawa adalah, dia menangis saking bahagianya karena saat ini Jiyeon dan Jinki sudah resmi berpacaran.


“Aku ingin membagi rasa bahagiaku bersamamu. Kaulah alasan kenapa dia memutuskan untuk menjadikanku pacarnya”


“Aku?”


Aku menunjuk diriku sendiri dan menatapnya dengan bingung. Saat ini kami berdua sedang duduk di atas tempat tidur. Jiyeon berada sendiri di dalam rumah karena kedua orang tuanya sedang pergi ke Cina untuk urusan bisnis selama beberapa minggu.


“Aku sudah tau bagaimana hubunganmu dengan Jinki”


“Mwo…. Mworago? Kau… kau…”


“Hyaish, sudahlah. Kau tidak perlu panik. Aku tidak akan marah”


Jiyeon menepuk pundaku pelan mencoba menenangkanku, tapi semuanya sia-sia saja karena aku benar-benar terkejut. Bagaimana bisa dia mengetahui masalah ini, dan bagaimana bisa dia menghadapiku sesantai ini. Dia bahkan menangis dalam pelukanku tanpa merasa marah sedikitpun.


“Kim Gyuri… ehm… ani… Lee Gyuri. Jinki sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Mulai dari pertama kali kalian bertemu, sampai kalian memutuskan untuk berpisah. Aku mengerti semuanya. Mungkin untuk orang lain, pasti akan sangat marah ketika mendengar hal itu. Tapi aku terlalu menyayangimu sampai-sampai aku tidak bisa marah sama sekali. Lagipula tidak ada yang salah dalam kasus ini. Tidak ada yang bisa memaksa perasaan seseorang, dan aku sangat mengerti itu. Makanya aku menangis saking bahagianya”


“Bodoh, kau membuatku takut”


Aku menjitak pelan kepalanya. Membuat dia meringis dan mengusap kepalanya berkali-kali. Park Jiyeon. Dapatkan aku menemukan seorang sahabat sebaik kau. Dan Lee Jinki, adakah seorang pria yang melakukan sesuatu untuk sahabatnya dengan sangat baik seperti mu. Kalian berdua memang sangat cocok untuk disatukan. 2 orang yang sama-sama aku sayangi.


Beberapa saat aku mengobrol bersama Jiyeon sampai akhirnya aku sendiri tidak menyadari jika sekarang sudah jam 9 malam. Aku harus segera pulang kerumah sekarang juga. Aigoo, aku bahkan tidak tau ada puluhan panggilan masuk dari Oemma dan juga Donghae oppa.


“Baiklah, ini sudah malam. Aku harus segera pulang”


“Ne… hati-hati. Dan terimakasih sudah mau menemaniku disini”


“Em, anyeong”


Aku memeluk Jiyeon yang mengantarkanku sampai ke depan pintu. Dia melambaikan tangannya saat aku berjalan menjauh. Baiklah aku rasa aku akan mendapatkan omelan setelah ini.


***


Donghae POV


Aku sudah merebahkan diriku di atas ranjang, tapi Gyuri belum juga pulang. Entah berapa kali aku menghubunginya tapi sama sekali tidak diangkat. Ini sudah jam 10 malam dan dia belum juga sampai kerumah. Apa perlu aku menyusulnya ke sana?


Sebelumnya aku melakukan sebuah obrolan dengan ayah mertuaku. Kami membicarakan masalah kantor seperti biasanya. Aku juga memberitahunya jika aku dan para staf-ku akan mengadakan sebuah pesta kecil di hotel. Sekedar menghilangkan rasa lelah setelah bekerja.


Malamini oemonim yang menemani Hyomin tidur, dan akhirnya aku bisa kembali tidur bersama Gyuri. Oemonim memutuskan untuk menemani Hyomin karena ini malam terakhirnya berada di rumah ini. Besok Hyomin harus sudah kembali ke rumahnya karena kedua orang tuanya sudah kembali. Yah ternyata tidak sampai 1 minggu dia berada disini.


Seharusnya besok aku dan Gyuri mengikuti acara keluarga yang dilaksanakan dirumah Hyomin. Beberapa keluarga Kim akan berkumpul disana dan bisa jadi menginap untuk satu malam. Karena ada acara di kantor jadi aku memutuskan untuk tidak ikut kesana, aku juga sudah mengatakan pada mertuaku jika aku akan mengajak Gyuri juga ke pesta itu. Bagaimana bisa aku membiarkan istriku ikut dan menginap disana? Lalu bagaimana dengan aku?


Sejak tadi aku membolak-balik sebuah majalah fashion yang biasanya dibaca oleh Gyuri. Karena sudah bosan dengan buku bacaan mengenai manajemen dan bisnis. Aku merasa tertarik dengan majalah itu, tapi ternya isinya sama sekali tidak menarik sama sekali. Ah, kenapa Gyuri sangat suka membaca majalah seperti ini?


***


“Aku pulang”


Tiba-tiba Gyuri masuk ke dalam kamar ketika aku baru saja akan keluar dan menjemputnya.


“Kau sudah pulang? Kenapa lama sekali?”


“Ahm, mianhae. Aku terlalu menikmati obrolan dengan Jiyeon, sampai-sampai aku lupa waktu”


Gyuri berjalan menuju sofa dan duduk bersandar di sana. Dengan malas dia membuka tas selempangnya dan juga cardigan yang membalut kaos pendeknya.


“Kau kenapa?”


“Ani… hanya lelah saja. Tiba-tiba Jiyeon menelponku dan mengatakan jika dia ingin berbicara masalah dia, aku dan Jinki. Seperti orang gila, aku segera pergi ke rumahnya. Bahkan aku berlari dari shelter bus. Sampai disana, dia menangis dalam pelukanku dan ternyata… dia sudah resmi menjadi pacar Jinki”


Aku berjalan mendekat ke arahnya dan duduk tepat disampingnya. Aku mengulurkan tangan kananku untuk menyeka keringat di dahinya, yang juga membuat poninya terlihat basah.


“Cepat bersihkan dirimu. Ganti baju, dan beristirahatlah”


“Em, aku tau Hyomin pasti sudah menungguku di kamarnya”


“Ani… Hyomin sudah tidur. Dia ditemani oemonim. Dan malam ini, kau sepenuhnya berada di bawah kekuasaanku”


“Jeongmalyo?”


Gyuri tampak terkejut dan menegakan badannya dengan semangat. Aigoo, aku tidak menyangka dia akan sesenang ini.


“Besok Hyomin harus kembali kerumahnya. Dan besok juga, keluargamu akan mengadakan sebuah acara. Sepertinya akan sampai menginap. Tapi aku mengatakan jika kita berdua tidak bisa ikut”


“Hem, padahal baru sebentar Hyomin ada disini. Walaupun menyebalkan, tapi dia selalu membuatku merindukannya. Dan, oppa. Kenapa kau mengatakan kita berdua tidak bisa ikut?”


“Karena besok, ada acara di kantor. Kau dan aku akan hadir disana. Jadi kita tidak ikut di acara keluargamu. Sebenarnya aku merasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur janji kepada semua staf-ku”


“Acara apa?”


“Hanya pesta biasa. Memang sedikit formal, tapi tetap santai. Kami hanya ingin merileks-kan fikiran setelah berkerja keras beberapa waktu ini. kau bisa menemaniku kan?”


“Em, aku akan ikut. Pasti akan sangat menyenangkan”


“Bagus. Sekarang cepat ganti bajumu dan tidurlah”

__ADS_1


“Em…”


Gyuri bangkit dari posisinya dan berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil salah satu dress tidur yang tergantung rapih di dalamnya. Dia memang terbiasa tidur menggunakan dress tidur dengan berbagai motif. Dan tentu saja aku sangat menyukainya. Gyuri akan terlihat sangat manis jika dia sudah ingin tidur.


***


“Masalah pesta untuk besok. Kau bisa bersiap-siap setelah pulang dari kantor. Atau sekalian saja kau tidak usah masuk. Dirumah tidak ada siapapun karena oemonim, abouji dan juga Hyomin akan pergi ke luar. Oh iya, bibi Jung juga akan ikut untuk membantu mempersiapkan acara disana”


Aku menatapnya yang sedang berjalan ke arahku. Gyuri mengenakan dress tidur selutut berwarna biru muda dengan satu tali di bahunya. Astaga. Apa dia sengaja ingin memerkan leher jenjang dan bahu sempurnanya padaku?


“Aku akan tetap masuk kantor, dan pulang seperti biasa. Aku bisa pergi ke salon untuk bersiap-siap. Semoga pestanya menyenangkan”


“Hei, aku baru melihatmu mengenakan dress tidur itu, kau baru membelinya?”


Tanpa basa-basi aku menanyakan apa yang ingin aku tanyakan. Aku bahkan tidak menggubris kalimat sebelumnya yang masih  bertema mengenai pesta kantor. Istriku memang bisa mengalihkan semua perhatianku terhadapnya, dan karena itulah aku selalu berdebar pada saat-saat tertentu.


“Ya, aku baru membelinya kemarin. tidak pantas?”


“Ani, kau selalu terlihat manis dengan pakaian apapun. Hanya saja, aku rasa bagian atasnya terlalu terbuka”


“Cish, Tuan Lee. Ternyata kau memang memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan aku tau sekarang. Kemana pusat perhatianmu? Jangan berfikir macam-macam”


Gyuri menggoyangkan telunjuknya dengan tatapan sadis. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya jadi mengerikan. Karena dia terlalu manis dengan ekspresi seperti itu.


“Kemarinlah, duduk disini. Ranjang ini merindukanmu”


Ujarku sembari menepuk-nepuk kasur tepat di sampingku yang sedang duduk dan meluruskan kaki dengan santai. Dia tersenyum dan berjalan menghampiriku kemudian duduk nyaman dengan posisi yang sama.


“Kau tidak merindukanku?”


“Pertanyaan bodoh”


“Hei, aku serius. Kau tadi mengatakan jika ranjang ini merindukanku. Lalu bagaimana denganmu?”


Aku menjepit ujung hidungnya dengan jariku, membuat ujung hidungnya menjadi merah selama beberapa saat. Dan Gyuri hanya menatapku sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Melihat itu aku segera menariknya agar lebih rapat denganku dan merangkul bahunya erat.


“Padahal tidak sampai seminggu aku tidur sendiri. Tapi rasanya lama sekali. Aku selalu merindukanmu setiap hari, walalupun kenyataannya kita masih bisa bertemu setiap hari”


“Aku tidur bersama Hyomin, tapi aku juga selalu memikirkanmu. Setiap pagi kecewa karena tidak bisa melihat wajahmu ketika bangun tidur. Mata yang bengkak, rambut acak-acakan, dan suara serak ketika mengucapkan selamat pagi”


“Hem, aku rasa setiap pagi menjadi moment yang sangat berharga. Pagi ini melihatmu, besok melihatmu, lusa melihatmu, dan aku ingin setiap pagi yang aku lewati kedepannya, aku akan membuka mata dan yang pertama kali menjadi fokusku adalah kau”


Wajah Gyuri tampak memerah ketika mendengar ucapanku. Dia tersenyum ringan kemudian mengecup pipiku singkat.


“Kau sedang menggodaku huh?”


“Ani… aku hanya senang mendengar narasimu”


“Lalu kenapa kau menciumku?”


“Jadi kau tidak suka aku menciumu”


“Aish, bukan begitu. Tapi jika kau menciumku, aku bisa membalasnya dengan hal yang lebih jauh dari sebuah ciuman”


“Cish, berhenti bercanda”


Dia memukul bahuku dengan kepalan tangannya dan tertawa pelan. Hemh, rasanya sangat menyangkan bisa melakukan sebuah obrolan singkat sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur. Ani… setiap hal yang aku lakukan bersama Lee Gyuri pasti akan sangat menyenangkan.


***


Gyuri POV


Kami berdua berjalan memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan ini memang digunakan untuk acara-acara tententu di hotel, dan untuk malam ini. Semua staf yang bekerja bersama Donghae Oppa akan menghabiskan waktu untuk sekedar bersenang-senang atau mengobrol bersama dan merileks-kan fikiran.


***


“Donghae-ssi”


Haneul unni melambaikan tangannya saat melihatku dan Donghae oppa yang baru saja memasuki ruangan. Semua tamu tampak menjadikan kami berdua sebagai pusat perhatian. Mereka tersenyum dan sesekali membungkuk untuk menunjukan rasa hormat kepada atasannya. Aku mengamit lengan Donghae oppa yang berjalan sejajar denganku.


Aku memang sudah mempersiapkan diri untuk datang ke acara ini. Aku ingin tampil dengan baik agar tidak mengecewakan Donghae oppa. Setidaknya kali ini aku bisa berperan sebagai istri dari CEO hotel ini. sebetulnya Donghae oppa sempat tidak setuju dengan gaunku. Aku memakai dress selutut berwarna merah terang, tidak terlalu mencolok. Simple tapi tetap terkesan mewah. Dia hanya tidak suka karena bagian atasnya terlalu rendah. Tapi aku menyiasatinya dengan tetap membiarkan rambut panjangku terurai dan menutup bahuku yang terbuka.


“Maaf aku terlambat”


Ujar Donghae oppa saat kami berdua sudah ikut berdiri diantara kerumunan orang-orang yang sedang mengobrol. Masing-masing menggenggam segelas anggur atau menyantap makanan kecil yang tersedia di meja-meja yang tersebar di dalam ruangan ini.


“Aigoo, istrimu cantik sekali”


Tiba-tiba Eunhyuk oppa mendekat ke arahku dan memperhatikan penampilanku dari ujung kaki ke ujung kepala, membuatku tertunduk malu karena sikapnya.


“Hya, apa yang kau perhatikan? Dia miliku”


Balas Donghae oppa sembari menepuk bahu sahabatnya itu dengan gemas, membuat beberapa orang yang melihatnya terekekeh pelan.


“Lee Gyuri-ssi. Senang bisa bertemu denganmu disini”


Kali ini Haneul unni yang menyapaku. Dia tersenyum dengan ramah dan mengangguk singkat. Astaga, dia benar-beanr terlihat cantik hari ini. Sangat berbeda dari biasanya.


“Ne… aku juga senang bisa datang ke acara ini dan bergabung bersama semuanya”


Balasku tak kalah ramah. Beberapa saat kami menikmati persta ini dengan santai, mengikuti berbagai macam acara yang sudah disiapkan sebelumnya. Rasanya sangat senang ketika bisa berbaur bersama orang-orang yang selama ini bekerja untuk hotel ini. Dalam keadaan seperti ini, rasanya tidak ada jarak yang jauh antara staf karyawan dan CEO-nya. Tidak ada strata yang membedakan. Semua terlihat bersenang-senang. Aku rasa acara ini benar-benar bisa merileks-kan fikiran dan membuat mereka semua melupakan pekerjaan yang membuat pusing.


***


Donghae POV


Aku sedang mengobrol bersama beberapa stafku, sedangkan Gyuri mengobrol bersama beberapa karyawan wanita. Aku bisa melihatnya dengan jelas walaupun jarak kami berdiri tidak terlalu dekat. Aku bisa melihatnya diatara keumunan orang-orang karena dialah yang paling bersinar. Bahkan dalam jarak sejauh ini, senyumnya masih bisa membuatku tergila-gila. Astaga, separah itukah perasaanku padanya. Apa yang dia lakukan padaku sampai seperti ini?


“Aku rasa acara ini akan lebih menarik jika dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Benar-benar membuatku melupakan rasa pusing karena pekerjaan yang menumpuk” Ujar Eunhyuk di sela-sela obrolan kami.


Aku mengagguk kemudian menyesap segelas anggur yang sejak tadi aku genggam.


“Yah, ide yang bagus. Aku sudah bilang, kalian tinggal menyodorkan sebuah kertas dan aku tinggal meyetujuinya”


“Whoa… bagus.. bagus…”


Beberapa staf-ku tampak sangat senang mendengar jawaban yang baru saja keluar dari mulutku. Tidak aku sangka tingkat stres yang mereka alami memang sudah cukup tinggi karena pekerjaan. Jika dibiarkan begitu saja malah akan membuat kacau sistem manajemen hotel. Dengan acara sepeti ini, kita semua bisa merileks-kan fikiran untuk sejanak.


***


Kami kembali melanjutkan obrolan dan memberikan pendapat masing-masing mengenai ini dan itu. Tapi kemudian perhatianku tertuju pada seorang wanita yang sedang berdiri di salah satu sudut ruangan. Bahunya tampaak bergetar dengan sebuah ponsel yang masih menempel di telinganya.


Park Haneul.


Apa yang terjadi dengannya?


Beberapa saat aku memperhatikan tingkahnya dari sini. Dan akhirnya Haneul keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa sembari membekap mulutnya sendiri.  Aku rasa tidak ada yang menyadari dan memperhatikan Haneul sejak tadi. Semua staf tampak sibuk mengebrol. Ah, sebaikanya aku menghampiri Haneul dan menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi.


“Em, permisi. Aku keluar sebentar”


Ujarku dengan sedikit terburu-buru dan tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera keluar dari dalam ruangan dan mencari keberadaan Haneul.


***


Aku melihatnya sedang bersandar di tembok tepat di depan ruangan tempat pesta yang tertutup rapat. Sebuah ponsel masih dalam genggamannya dan dia sedang terisak.

__ADS_1


“Ehm…”


Dehamanku membuat dia terlonjak kaget dan segera enghapus air mata yang membasahi pipinya.


“Sa… sajangnim…”


Dia menatapku dengan ekspresi terkejut kemudian bersiap untuk melangkah menjauhiku. Tapi dengan sigap aku menarik tangannya, membuat dia mengentikan langahnya dengan tiba-tiba.


“Apa yang terjadi?”


Tanyaku dengan serius. Selama ini aku tidak pernah melihat seorang Park Haneul menangis. Aku tau dia memiliki banyak masalah pribadi, tapi dia tidak pernah menunjukannya pada siapapun. Sebagai seorang rekan kerja yang setiap saat bersamanya, aku merasa jika aku memiliki sebuah tanggung jawab untuk membuatnya nyaman bekerja disini. Dan jika dia sedang dalam masalah, maka aku juga yang akan merasa tidak nyaman nantinya.


“Eobsoyo… tidak ada apa-apa. Nan gwenchana”


“Aku tau apa yang terjadi padamu. Jangan sembunyikan dariku, ceritakana saja. Kita ini teman bukan?”


Aku mencoba untuk membujuknya agar mau menceritakan sesuatu padaku, tapi dia masih tetap menundukan wajahnya. Nafasnya terdengar berat. Mungkin karena sesak menahan tangis.


“Pria itu… mantan pacarku… dia…”


“Ne… aku ingat. Kenapa? Ada apa dengannya?”


Aku masih menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Menanti kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulutnya. Saat ini kami berdiri berhadapan di luar ruangan, di depan ruang pesta. Semuanya sedang sibuk di dalam dan aku yakin tidak ada yang akan keluar sebelum pestanya selesai.


“Seminggu yang lalu, dia resmi bercerai dengan istrinya”


“Mwo? Pria kaya yang dijodohkan dengan putri dari seorang pengusaha itu? Aku ingat ceritamu mengenainya. Dia menerima perjodohan itu karena tidak mau membantah orangtuanya kan?”


“Ya, kau betul”


Haneul mengangkat wajahnya dan kembali mengusap pipinya dengan telapak tangan. Aku menahan diri agar tiadak mengulurkan tanganku untuk menghapus air matanya, karena tidak ingin terjadi kesalahfahaman diantara kami.


“Pernikahan mereka berlagsung cukup lama. Hampir satu tahun. Tapi Minwoo, mantan kekasihku. Dia mengatakan jika selama itu hubungan mereka berjalan dengan sangat buruk. Tidak pernah ada rasa bahagia diantara mereka. Setiap hari selalu terlibat dalam sebuah pertengkaran. Dan penyebab itu semua adalah, karena Minwoo selalu bersikap dingin terhadap istrinya”


“Bukankah kau sudah berhenti berhubungan dengan pria itu. Bagaimana kau bisa tau mengenaa semuanya?”


“Kemarin kami bertemu dan mengobrol banyak ketika istirahat makan siang. Setelah mendangar semua ceritanya aku jadi tidak bisa fokus dan berkonsentarasi mengerjakan tugasku. Bahkan ketika kemarin kau melakukan kesalahan dengan memeluku tiba-tiba. Aku tidak bisa merespon apapun karena fikiranku terlalu kalut”


“Apa yang dia katakan padamu?”


“Dia bilang, dia masih mencintaiku dan ingin aku kembali padanya. Dia akan memperjuangkanku di depan keluarga besarnya”


Kali ini Haneul sudah bisa bercerita dengan cukup lancar, walaupun diselingi dengan segukan tercekat karena menahan emosi.


Aku yang mendangarnya juga merasa sangat antusias. Aku tau betul bagaimana perasaan Haneul saat kekasihnya yang bahkan sudah melamarnya pergi untuk menikahi gadis lain yang sudah dijodohkan dengannya. Dan saat itu dia mengatakan jika dia sudah bisa melupakan pria itu. Aku mengerti bagaimana perasaannya sekarang ketika pria itu kembali ke kehidupannya dan memberikan sabuah janji yang sangat manis.


Seperti mengorek luka lama yang sudah hampir sembuh. Mengingat kenangan menyakitkan yang sudah hampir dilupakan. Itu semua yang sedang dirasakan oleh Park Haneul saat ini.


“Lalu kenapa kau menangis?”


“Sejak kemarin. Aku selalu mendapatkan sebuah telpon yang seakan menerorku. Aku tidak tau telepon yang aku terima berasal dari keluarga Minwoo atau keluarga mantan istrinya. Tapi mereka selalu menunduhku sebagai penyebab perceraian Minwoo. Mereka bahkan menghina keluargaku.. dan aku.. hiks…”


Untuk kedua kalinya air mata itu tumpah tak terbendung, Haneul kembali terisak dan tidak sanggup untuk menceritakannya lagi padaku. Kakinya bahkan bergetar seakan tidak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri. Dan untuk kali ini, aku tidak bisa menahan kedua tanganku untuk merangkulnya dalam pelukanku, hanya sekedar menenangkan dan memberinya semangat.


“Kau tidak perlu menangis. Jika kau mencintainya. Maka perjuangkanlah cinta kalian. Jika kau tidak menginginkannya lagi. Maka tolaklah dengan tegas”


Gumamku pelan. Saat ini dia benar-benar dalam keadaan kacau dan aku yakin pasti merasa sangat bingung. Aku mengusap punggungnya saat dia membenamkan wajahnya di dadaku dan menangis keras.


“Aku mencintainya, sangat mencintainya”


Gumamnya ditengah-tengah tangis, dan aku hanya tersenyum mendengarnya. Untuk kali ini aku bisa merasakan bagimana perasaannya pada pria itu. Park Haneul. Bersemangatlah untuk memperjuangkan perasaanmu padanya. Jika kau mencintainya, maka jangan pernah melepaskan pria itu untuk alasan apapun. Kau terlalu sempurna untuk disakiti, dan aku sebagai temanmu akan sangat senang jika nantinya kau bahagia.


***


Gyuri POV


Sejak tadi aku berbincang bersama para staf wanita yang memang sangat menyenagkan, mereka tidak berhenti mengajukan berbagai pertanyaan mengani hubunganku dan Donghae oppa. Pujian tidak berhenti terlontar untuku. Mereka mengatakan jika aku dan Donghae oppa adalah pasangan yang sangat serasi dan membuat iri semuanya. Hem, mendengar hal itu aku hanya bisa tersenyum dengan wajah yang pasti memereah.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari keberadaan Donghae oppa. Tadi dia sedang bebincang bersama Eunhyuk oppa dan beberapa staf lainnya. Tapi kenapa sekarang dia tidak ada diantara mereka?


“Em… aku permisi sebentar”


Ujarku dengan ramah pada beberapa karyawan wanita yang sejak tadi mengerumuniku. Mereka balas mengangguk dan tersenyum mempersilahkanku.


Dengan tergesa-gesa aku meghampiri Eunhyuk oppa yang juga sedang mengobrol bersama rekan-rekannya, mereka tampak sangat akrab satu sama lain. Pasti sangat menyenangkan ketika bisa mempunyai banyak teman yang saling menghargai. Dan itu sangat terlihat jelas diantara orang-orang didalam ruangan ini.


“Oppa, aku mencari suamiku. Bukankah tadi bersamamu?”


Aku bertanya dengan tampang polos, dan membuat dia hampir mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepalaku. Eunhyuk oppa memang sudah terbiasa melakukan itu, tapi saat ini kami berada diatara banyak orang dan dia pasti tidak berani melakukannya.


“Tadi dia keluar dengan tergesa-gesa. Coba saja cari disana. Atau mungkin dia ke toilet”


“Jeongmalyo? Hum, araseo. Aku akan keluar untuk mencarinya. Terimakasih”


Balasku kemudian tersenyum singkat sebelum meninggalkan mereka.


***


Aku mendorong pintu ruangan itu terbuka dan membelokan langkahku kearah samping. Sebuah pemandangan yang sangat tidak enak untuk dilihat. Tiba-tiba dadaku sakit dan nafasku menjadi sesak.


Donghae oppa, dia sedang memeluk seorang wanita…


“Oppa…”


Gumamku dengan suara tercekat. Donghae oppa sedang memeluk seorang wanita dengan sangat erat, tangannya tampak mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Sebuah hal yang membuatku merasa sangat buruk sekarang.


“Gyu… Gyuri… Gyuri-ah…”


Donghae oppa tampak melonggarkan pelukannya ketika mellihatku berdiri tepat di hadapannya. Kedua kakiku terasa lemas secara tiba-tiba, bahkan rasanya aku sudah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku sendiri.


Wanita dalam pelukannya itu berbalik menghadapku, dan aku bisa melihat jelas wajahnya. Air mata yang membasahi pipinya, ujung hidungnya yang memerah dan matanya yang terlihat bengkak. Wanita itu menangis.


Dia ada Haneul unni.


Ya tuhan, apa yang mereka lakukan di tempat ini? Apa yang terjadi sampai Haneul unni menangis dalam pelukan suamiku. Setelah kemarin aku memergokinya berpelukan di kantor, dia memang memberikan sebuah alasan yang dengan bodohnya aku percaya begitu saja. Dan sekarang kejadian itu terulang lagi. Aku melihatnya dengan mataku sendiri.  Kenapa mereka bisa melakukan hal ini? Kenapa Donghae oppa tega melakukan ini dibelakangku.


“Sayang… aku… aku bisa… aku bisa menjelaskannya… padamu…”


Donghae oppa tergagap saat dia mencoba untuk mengatakan sesuatu padaku. Pandanganku masih tertuju pada Haneul unni yang hanya menundukan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Bagus Lee Dongahe-ssi, kau tertangkap basah berselingkuh dengan asisten pribadimu sendiri, dan kecurigaanku selama ini benar. Dasar pria kurangajar.


“Gyuri-ah, ayo… aku bisa menjelaskan semuanya padamu…. Tapi tidak disini, ayo kita berbicara di tempat lain…”


Donghae oppa menggenggam tangan kananku mencoba membujukku. Tapi aku sama sekali tidak melihat wajahnya. Aku tidak ingin melihat wajahnya saat ini karena terlalu kesal. Aku tidak mau melihat matanya yang sayu, karena ternyata dia menyimpan sebuah kebohongan besar. Penghianat.


“Lepaskan tangaku”


“Sayang, aku mohon dengarkan aku ingi….”


“LEPASKAN AKU” Jeritku dengan penuh emosi.


Aku menghempaskan tangannya dengan kasar dan sekuat tenaga mengayun kakiku untuk berlari dan menjauhinya. Aku tidak ingin melihat wajahnya untuk saat ini. Kejadian tadi terlalu menyakitkan untuku. Lee Donghae berengsek. Kau bahkan berani melakukan ini padaku setelah semuanya kau dapatkan. Kau berani menyakiti hatiku.


Apa kau sedang balas dendam karena aku pernah melakukan itu dulu? Apa kau sengaja membuatku sakit karena aku pernah menyakitimu? Kau mengatakan jika kau hanya mencintaiku. Dengan mudah kau memaafkanku saat kau tau aku masih berhubungan dengan Jinki ketika kita sudah resmi menikah. Ternyata ini pembalasanmu. Ternyata ini bentuk balas dendamu padaku.


Seperti orang gila, aku berlari keluar dari hotel dan menghentikan taksi. Aku tau dia memang mengejarku, tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku terus saja menangis di dalam taksi yang sedang melaju kencang, aku bahkan menjerit keras sampai supir itu tampak kebingungan. Terlalu emosi saat ini untuk mendengarkan penjelasannya. Dan aku tidak tahu apa aku bisa memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2