OPPA SARANGHAE

OPPA SARANGHAE
Together 2


__ADS_3

…. Jiyeon’s Café, Seoul….


 


Author’s POV


 


Jiyeon sedang membereskan sebuah meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan. Gadis manis itu tampak sangat bersemangat. Apa lagi alasannya jika buka pria bernama Lee Jinki yang sudah selama 2 bulan ini menjadi satu-satunya pria yang dia fikirkan. Sedari tadi Jiyeon tidak bisa berhenti tersenyum saat memikirkan jika beberapa saat lagi dia akan menemui Jinki.


 


Sebelumnya 2 remaja yang saat ini masih berstatus sebagai sahabat ini sudah membuat sebuah janji. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu teman sekelas mereka yang sedang dirawat karena terlibat kecelakaan.


 


Setiap hal yang akan dilakukan bersama Jinki pasti membuat Jiyeon senang. Bagaimana tidak, gadis ini bahkan tidak pernah bosan untuk mengatakan “Aku menyukaimu” setiap saat. Ini bukan sesuatu yang memalukan, karena Jinki pasti hanya akan tertawa menanggapinya. Pria itu sama sekali tidak merespon dengan sebuah jawaban. Dia hanya akan tertawa kemudian memukul pelan kepala Jiyeon dengan gemas. Entahlah, apa yang ada di dalam fikiran Jinki. Sampai saat ini dia masih merasa, jika Gyuri adalah satu-satunya gadis yang dia sukai.


 


Egois? Munafik? Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sikap calon dokter ini. Dia masih menyimpan bayangan Gyuri dalam hatinya, tapi dia tetap membiarkan gadis lain memuja-mujanya setiap saat. Dia tidak pernah mengatakan penolakan atau suatu keputusan yang membuat Jiyeon bisa menghentikan sikapnya. Mungkin akan sangat sulit untuk Jiyeon bisa melupakan Jinki, tapi setidaknya jika dia tahu mengenai hal ini, maka dia bisa berhenti mempermalukan dirinya sendiri di depan pria yang memang tidak menaggapinya.


 


Entah bagaimana perasaan Jinki pada Jiyeon saat ini. Dia selalu merasa jika Jiyeon itu gadis yang sangat menyenangkan. Dia selalu ceria dan juga bersikap manis pada siapapun. Sama seperti Gyuri. Hanya saja gadis ini tidak memiliki kelemahan seperti Gyuri. Jiyeon lebih dewasa dibanding Gyuri, walaupun sedikit. Jiyeon juga tidak mendapatkan respon negativ dari orang-orang di sekitarnya.


 


Lain halnya dengan Gyuri, sejak SMA Gyuri memang terbiasa mendapatkan pandangan iri dari teman-temannya. Karena hal inilah Jinki membela Gyuri dan melindunginya mati-matian. Sebuah hal yang membuat dia merasa bangga pada dirinya sendiri, karena sudah menjadi pahlawan untuk orang yang disayanginya. Sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan pada Jiyeon. Dia tidak pernah berusaha melindungi Jiyeon dari orang-orang yang bersikap negativ padanya. Jiyeon juga tidak pernah bersikap se-manja Gyuri.


 


Hal yang menurut Jinki menggemaskan adalah saat Gyuri merengek dan merajuk padanya untuk mendapatka sesuatu. Dan itu akan terlihat sangat manis. Gyuri yang polos dan manja. Selalu membuat Jinki tidak pernah bosan melayani setiap hal yang diinginkan oleh gadis itu. Mantan kekasih yang saat ini sudah memiliki seorang suami.


 


Jinki tidak pernah berbohong mengenai keputusannya untuk melepaskan Gyuri. Toh, saat ini dia juga tidak pernah mengungkit perasaannya pada Gyuri. Dia juga belum pernah menceritakan masa lalunya dengan Gyuri pada Jiyeon. Jinki hanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa melupakan bayangan Gyuri dari dalam otaknya.


 


3 tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu dia berada di sisi Gyuri, dan selama itu pula gadis itu berstatus sebagai kekasihnya. Walaupun tidak ada yang tahu mengenai hubungan mereka. Seperti yang semua teman-teman mereka tahu, Gyuri dan Jinki memang bersahabat sejak di tingkat 1. Jinki juga selalu melindungi Gyuri hingga akhirnya semua teman-teman gadis yang disayanginya itu bisa bersikap baik pada Gyuri.


 


Sampai di perguruan tinggi. Orang-orang di sekitar mereka tetap saja menganggap pasangan ini sebagai sahabat. Walaupun sinar cinta itu terlihat sangat jelas dari mata Jinki. Tapi itu semua tidak membuat semua orang menanyakan mengenai hubungan mereka.


 


Entahlah, Jinki juga selalu merasa kebingungan bagimana menjelaskan perasaannya saat ini pada Gyuri. Menurutnya memang terlalu rumit.


 


***


 


Selesai dengam pekerjaan singkatnya. Jiyeon meletakan sebuah lap dalam genggamannya dan segera beranjak menuju ruang ganti. Jiyeon adalah sosok gadis yang sangat menarik. Dia  putri dari pemilik Café ini, tapi sama sekali tidak pernah bersikap sok penguasa. Dia tetap rendah hati pada setiap karyawannya. Sosok gadis yang sangat baik.


 


“Nona Super visor. Apakah hari ini anda akan pergi keluar?”


 


Seorang karyawan wanita menghampiri Jiyeon yang sedang membetulkan kuncir rambutnya yang sudah tidak karuan. Dia tampak tersenyum  ramah pada pelayan wanita itu sebelum menjawab pertanyaannya.


 


“Aku akan pergi ke rumah sakit bersama Jinki. Salah satu teman sekelas kami sakit, dan kami ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Tidak apa-apa kan aku pergi hari ini?”


 


“Em, nona tau kah? Aku sangat suka melihat nona bersama tuan Lee Jinki. Jika kalian berdua berjalan berdampingan. Maka aku akan merasa sangat senang melihatnya. Terlihat serasi”


 


“Jinja? Whoaaa, aku senang sekali mendengarnya. Kamsahamnida”


 


Jiyeon tampak sangat sumringah mendapat respon menyenangkan dari salah satu karyawannya. Dia membungkukan badannya berkali-kali sebelum berjalan keluar dari café. Dia membuat janji bersama Jinki untuk menemuinya di rumah sakit. Setelah itu mereka berdua akan pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa peralatan praktek yang dibutuhkan untuk salah satu mata kuliah kedokteran yang mereka ikuti.


 


***


 


Dengan setengah berlari, Jiyeon menuju ke shelter bus yang terletak tidak jauh dari café miliknya. Dia tampak sangat senang karena selama menunggu bus datang, Jiyeon terus saja bersenandung, menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi kesukaannya.


 


Beberapa saat menunggu akhirnya bus hijau itu datang. Tanpa membuang waktu Jiyeon segera naik. Lebih dari 30 menit gadis itu duduk di salah satu kursi yang terletak di paling beakang, hingga akhirnya dia sampai di tempat tujuan.


 


Dengan semangat, Jiyeon berlari memasuki sebuah rumah sakit besar yang berada di Seoul. Jiyeon sudah meminta Jinki untuk menunggunya di lobby dan mereka berdua akan berjalan berbarengan menuju kamar rawat yang digunakan oleh sahabat mereka yang sedang sakit itu.


 


… Hospital, Seoul….


 


“Maaf aku terlambat”


 


Jiyeon tampak sesak nafas dan terus saja membungkuk untuk mengatur oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya. Sedangkan Jinki hanya tersenyum sembari sesekali menepuk punggung Jiyeon yang masih membungkuk di depannya.


 


“Tidak apa-apa. Aku belum lama menunggu di sini. Ayo kita temui Jonghyun. Aku dengar keadaannya jauh lebih baik sekarang”


 


“Jinja? Hum, baiklah”


 


Kedua remaja itu akhirnya berjalan menuju elevator. Mereka menuju sebuah ruang rawat yang terletak di tantai 8. Disana salah satu teman mereka sedang dirawat karena luka-luka yang didapatnya setelah terlibat dalam kecelakaan.


 


Beberapa saat, teman sekelas ini berbincang di dalam ruangan. Sesekali mereka bercanda dan tertawa hingga akhirnya Jonghyun harus melanjutkan istirahatnya. Dengan berat hati, perbincangan mereka harus selesai sampai disini. Sebenarnya mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama-sama, tapi seorang perawat tidak mengizinkan karena Jonghyun harus istirahat.


 


***


 


“Kemana kita harus pergi untuk membeli peralatan praktek itu? apa di sekitar sini ada yang menjualnya? Aku dengar kita harus pergi ke tempat khusus?”


 


Jiyeon tampak kebingungan setelah mereka keluar dari rumah sakit. Keduanya sedang berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobil Jinki yang memang terparkir di sana.


 


“Aku tau dimana tempatnya. Kau ikut saja. Aku rasa tidak jauh dari sini”


 


“Setelah kita membeli alat praktek itu, apa lagi yang akan kita lakukan?”


 


“Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Haruskah kita berdua pergi ke bioskop?”


 


“Bioskop? Aku juga ingin menonton film. Itu ide yang bagus”


 


“Baiklah, setelah mendapatkan barang yang kita inginkan. Kita bisa pergi ke bioskop untuk menonton film. Oette?”


 


“Johda, aku mau aku mau”


 


“Oke, khaja…”


 


Jinki menarik tangan Jiyeon dan menggamnya erat. Pria dingin itu menarik Jiyeon agar mempercepat langkahnya menuju tempat parkir.


 


Selalu saja seperti ini. Jinki selalu saja melakukan sesuatu yang bisa membuat Jiyeon merasa jika perasaannya memang tidak bertepuk sebelah tangan. Jiyeon selalu merasa jika Jinki juga membalas perasaannya. Walaupun pria ini tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi Jiyeon yakin, dia tidak akan mendapatkan penolakan jika dia serius mengungkapkan perasaannya dan meminta Jinki menjadi kekasihnya.


 


Tapi sampai saat ini dia masih bingung, apa tidak keterlaluan jika seorang gadis meminta seorang pria untuk menjadi kekasihnya? Tapi Jiyeon selalu merasa semuanya memang sudah terlanjur. Jinki sudah mengetahui dengan jelas, bagaimana perasaan Jiyeon padanya. Hanya saja pria itu selalu bersikap apatis dan menganggap ucapan gadis itu sebagai angin lalu.


 


Dan sepertinya, kali ini Jiyeon mendapatkan seluruh keberanian untuk mengungkapkan kehendaknya. Malam ini stelah mereka selesai menonton film di bioskop. Jiyeon akan meminta Jinki untuk menjelaskan bagimana perasaannya pada Jiyeon, walaupun sebenarnya dia sendiri tahu. Sebenarnya Jinki masih bimbang.


 


Jiyeon sangat tau dia memang tidak sepenuhnya mendapatkan hati Jinki. Dia selalu merasa jika Jinki masih mempunya orang lain dalam fikirannya. Jinki masih dibayangi oleh seorang gadis yang mungkin saja masa lalunya. Dan malam ini juga, Jiyeon akan menanyakan mengenai hal itu. Jiyeon sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Dia akan mendengarkan semua hal yang akan dikatakan Jinki mengenai gadis itu. Dan apabila Jinki tidak mau mengatakannya, maka Jiyeon akan memaksa Jinki hingga ia mau membuka mulut.


 


Setidaknya dengan cara itu, Jiyeon bisa mengetahui bagaimana sebenarnya Jinki menganggap dia selama ini. Jika harus berakhir dengan sebuah penolakan, maka itu akan lebih baik daripada sebuah kebohongan yang dilakukan Jinki. Dia lebih suka Jinki meolaknya tegas, daripada Jinki harus berbohong dan mengatakan jika dia menyukainya. Jiyeon lebih sedang berstatus sebagai teman daripada berstatus sebagai kekasih tapi dia sama sekali tidak memiliki hati Jinki. Apakah itu tidak sangat menyakitkan? Yah, apa yang akan dikatakan Jinki sama sekali tidak diketahui. Dan Jiyeon, berharap akan mengetahui sejelas-jelasnya malam ini juga.


 


***


 


….LK Corporation Building, Seoul….


 


Donghae’s POV


 


Ini sudah jam 3 sore dan aku masih duduk di dalam ruanganku. Seharunya aku sudah pulang bersama Gyuri. Tapi sepertinya hari ini aku harus pulang tepat pukul 6 seperti biasanya. Ah, apa yang sedang dilakukan istriku sekarang? Pasti dia sudah bersiap-siap untuk pulang kerumah.


 


Sebelumnya aku menghubungi Gyuri dan mengatakan padanya Jika aku akan pulang sesuai jadwal hari ini. Dari nada bicaranya dia terlihat sedikit cekewa. Yah, kami terpisah kamar dan di kantorpun aku sangat sulit mengatur waktu untuk menemuinya. Seharusnya jika jam ini aku pulang, aku bisa menghabiskan waktu bersama Gyuri di ruang tengah. Kami biasanya membaca buku atau sekedar berdiskusi masalah hotel.


 


Tidak bisa aku pungkiri jika istriku itu memang sangat cerdas. Dia terlalu cerdas untuk ukuran mahasiswa manajement bisnis semester 3. Hanya saja aku bingung, kenapa dia tidak mau menggunakan ilmu pengetahuan yang dia kuasai untuk membantuku. Gyuri selalu tidak mau jika aku memintanya ke ruanganku untuk membantu menganalisis data. Dia selalu beralasan jika aku sudah ditemani Haneul maka dia akan merasa tidak berguna. Bagaimana istriku bisa berfikiran seperti itu? walaupun ada Haneul yang membantuku disini, tetap saja kehadirannya akan mempengaruhi cara kerja otakku.


 


Sayang, dia terlalu keras kepala untuk dipaksa. Dan sekarang aku sangat merindukannya. Tadi pagi kami hanya berbincang di dalam mobil saat perjalanan menuju kantor. Ketika sarapan, Gyuri masih sibuk berdandan. Dan aku sama sekali tidak duduk bersamanya di meja makan. Oemonin memberikan kotak bekal untuk Gyuri sebelum kami berangkat, karena putri cantiknya itu tidak mempunyai waktu untuk sarapan.


 


“Aku benar-benar merindukannya sekarang”


 


Sejak tadi aku hanya duduk sembari memutar-mutar kursiku sendiri. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena semua pekerjaan sudah aku selesaikan. Sekarang Haneul dan Eunhyuk sedang mengatur ulang semua berkas yang menumpuk. Mereka berdua mengerjakannya di luar ruanganku, bersama dengan staf lain. Aku sengaja tidak mengawasi atau ikut bekerja bersama mereka, karena aku ingin menenangkan diri di sini.


 


Apa aku harus menelpon Gyuri sekarang? Apa dia masih belum pulang? Ini memang sudah jam 3 sore dan jam kerjanya sudah habis. Tapi aku benar-benar ingin menemuinya. Dan aku rasa, dia tidak akan keberatan untuk menemuiku di sini. Baiklah, tidak ada salahnya mencoba.


 


Aku merogoh ponsel di dalam saku celanaku dan menekan tombol panggilan cepat nomor 1.


 


Beberapa saat aku mendengar nada tunggu hingga akhirnya terdengan sebuah jawaban dari Gyuri.


 


“Oppa….”


 


“Sayang, kau sedang apa sekarang?”


 


“Aku baru saja mengganti baju seragam. Bersiap untuk pulang. Setelah ini aku harus menunggu bus di shelter. Kau akan pulang tepat waktu kan? Ah, sayang sekali kita tidak bisa pulang bersama”


 


“Hem, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah terlanjur janji kepada Eunhyuk dan Haneul. Mulai sekarang aku tidak akan pulang sebelum waktunya”


 


“Em, aku mengerti. Kau harus semangat. Oke?”

__ADS_1


 


“Araseo. Tapi aku sangat merindukanmu”


 


“Oppa jangan berlebihan. Tadi pagi kita masih sempat bertemu dan menghabiskan banyak waktu selama perjalanan menuju ke kantor”


 


“Tapi aku masih merindukanmu, sayang. Apa kau sama sekali tidak merasakannya? Setiap malam aku tidur sendiri. Aku ingin memelukmu. Aku bahkan tidak pernah mengecup dahimu lagi sebelum tidur. Padahal itu kegiatan wajib yang harus aku lakukan”


 


“Nado, bogoshipeo”


 


“Gyuri-ah, apa kau sudah keluar dari hotel?”


 


“Ani… aku masih di ruang ganti. Membereskan seragamku dan mengembalikannya ke tempat semula”


 


“Bisa kau menemuiku di sini?”


 


“Mworago? Kau kan sedang bekerja. Lagipula aku sudah melepaskan seragamku dan sekarang aku memakai baju yang tidak formal”


 


“Biarkan saja. Kau ini kan istriku. Ayolah sayang, kemarilah. Aku benar-benar sudah sangat merindukanmu”


 


Aku terus saja merajuk agar dia mau mengabulkan permintaanku. Aku memang sangat ingin bertemu dengannya saat ini. Aku ingin melihat wajah cantiknya, dan mendengar ocehan menyebalkannya yang sangat lucu. Aku tau, nanti malam ketika aku pulang, Gyuri sudah berada di bawah kekuasaan Hyomin. Sepupu kecil yang mulai menyebalkan. Ah aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana bisa aku menolak keinginan Hyomin. Dia itu memang sangat manja, dan hampir mirip dengan Gyuri. Tingkahnya tidak pernah semenyebalkan itu sebelumnya. Tapi Gadis 17 tahun itu memang sangat menggemaskan, dan aku sama sekali tidak bisa membuat dia marah. Hyomin itu sangat manis dan dia selalu bisa membuat siapapun memberikan setiap hal yang dia inginkan. Dan aku dengan lapang dada membiarkan dia mengambil istriku.


 


“Gyuri-ah, ayo temui aku di sini. Aku tidak bisa pergi ke bawah karena di depan ruanganku beberapa staf masih bekerja untuk membereskan data. Aku mengatakan jika aku ingin istirahat sebentar di dalam sini. Jika aku keluar, apa yang akan mereka katakan. Aku tidak enak”


 


“Oppa, aku tidak memakai seragam”


 


“Itu bagus, karena berarti kau bisa menjadi istriku. Kau selalu mengatakan akan bersikap professional jika kau sedang bekerja. Dan sekarang pekerjaanmu sudah selesai, maka bersikaplah professional sebagi seorang istri. Nonya Lee”


 


“Araseo. Aku akan naik ke atas sekarang”


 


“Bagus. Aku akan menunggumu dengan sabar di sini”


 


“Hem…”


 


“Baiklah, sayang. Jangan terlalu lama. Aku mencintaimu”


 


“Araseo. Oppa saranghae….”


 


Aku menekan tombol berwarna merah kemudian meletakan ponselku di atas meja. Bibirku tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengarnya mengatakan dia mencintaiku. Aku selalu senang jika dia mengatakan kalimat itu. Sebuah ungkapan perasaan yang membuat hatiku jadi sangat tenang.


 


Beberapa saat aku duduk dengan tenang di sofa, hingga akhirnya aku tidak sabar dan beranjak menuju pintu. Aku berdiri tepat di depan daun pintu dan ketika dia masuk, aku akan langsung memeluknya erat-erat. Tidakah itu hal yang sangat romantis?


 


 Tok… tok… tok…


 


Akhirnya suara ketukan pintu yang sedari tadi aku tunggu terdengar juga. Aku bersiap di depan pintu dan menunggu pintu ruanganku terbuka.


 


“Masuk”


 


Ujarku dengan semangat. Aku membalikan badanku memunggungi daun pintu ketika kelihat kenop pintu itu mulai berputar. Jika aku mendengar suara pintu terututup maka aku akan segera berbalik dan memeluk Gyuri erat-erat. Dan istriku yang manis itu, tidak akan bisa menolaknya.


 


Trek…


 


Suara pintu tertutup itu terdengar dan aku segera membalikan badanku. Aku menariknya ke dalam dekapanku dan memeluknya erat. Dengan penuh perasaan aku mengusap punggungnya dan merapatkan tubuhnya ke dadaku.


 


Tapi kenapa Gyuri diam saja? Biasanya dia akan mengomel atau mengoceh tak jelas jika aku melakukannya tiba-tiba seperti ini. Tapi kali ini responnya lain sekali. Dia bahkan tidak mengatakan apapun.


 


Tok… tok… tok…


 


“Oppa….”


 


Aku mendengar suara ketukan pintu dan tidak sampai satu detik kemudian, aku melihat Gyuri masuk ke dalam ruanganku. Dia tampak kaget melihatku saat ini. matanya membulat dan kedua tangan menutup mulutnya yang terbuka, menahan sebuah teriakan yang mungkin saja akan terdengar keras. Jika Gyuri di hadapanku. Lalu siapa gadis yang berada dalam dekapanku?


 


“Gyu… Gyu…. Gyuri-ah….”


 


Aku tergagap sembari melepaskan pelukanku dari gadis yang saat ini masih dalam dekapanku. Gyuri masih menatapku dengan tatapan tidak percaya, sedangkan aku memperhatikan gadis yang sejak tadi menunduk. Perlahan dia mengangkat wajahnya dengan tatapan yang juga tidak bisa aku artikan apa maksudnya.


 


“Park… Park… Haneul? kau?”


 


 


Dan apa yang sebenarnya telah aku lakukan? Kenapa aku bisa bersikap ceroboh seperti itu? bagaimana bisa aku menganggap jika orang yang mengetuk pintu sebelumnya adalah Gyuri. Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang.


 


“Maaa… maaf… maafkan aku… Donghae-ssi. Aku terlalu terkejut tadi…. Dan…. Nyonya Lee… harap anda…. Tidak salah faham, dengan…. Kejadian ini”


 


Haneul tampak tergagap ketika mengeluarkan suara. Sedangkan aku hanya bisa terdiam tanpa tau harus mengatakan papapun.


 


“Permisi… aku harus pergi dan…. Memberikan kalian berudua privasi… sekali lagi…. Aku mohon maaf”


 


Haneul membungkukan badannya padaku kemudian berbalik pada Gyuri dan dengan terburu-buru dia segera keluar dari ruanganku. Baiklah, Park Haneul sudah keluar dari ruanganku dan aku sedang menghadapi sesatu yang lebih mengerikan saat ini.


 


Gyuri menatapku dengan tatapan tajam yang membuatku merinding. Dia tampak sangat murka sekarang. Dan aku tidak tahu bagaimana aku memulai untuk mencairkan suasana.


 


“Sa… sayang…. Kau sudah datang? Ah… eng…. Aigoo… neomu bogoshiposoyo”


 


Aku segera melangkahkan kakiku menghampiri Gyuri dan memeluknya erat-erat. aku mengerahkan semua tenagaku karena aku tau dia akan berontak dan mendorong tubuhku.


 


“Aku sangat merindukanmu”


 


“Lepaskan aku”


 


“Sayang, aku ingin memelukmu seperti ini. biarkan aku melakukannya”


 


“LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA. LEE DONGHAE-SSI”


 


Aku segera melepaskan dekapanku saat dia mulai berteriak tegas. Aku tau kemarahannya pasti akan meledak sekarang juga. Dan aku tidak mau mengambil resiko sampai dia mengamuk di dalam ruanganku. Pasti akan sangat mengerikan.


 


“Tadi… aku… aku…. Aku kira yang masuk ke dalam ruanganku adalah kau, tapi… ternyata Haneul…”


 


Gyuri sama sekali tidak menanggapi kalimat yang baru saja keluar dari mulutku. Dia mengacuhkanku begitu saja dan berjalan medekat ke meja kerjaku, kemudian duduk di atasnya. Ekspresi marahnya masih jelas terlihat.


 


“Kau bahkan tidak bisa membedakan yang mana istrimu dan yang mana sekretarismu”


 


“Aku kan sudah bilang. Aku tidak melihat. Aku berencana akan mengejutkanmu ketika masuk. Aku ingin langsung menarikmu ke dalam pelukanku saat pintunya terbuka. Dan tadi, aku kira kau yang masuk. Ternyata bukan”


 


Aku berjalan mendekat ke arahnya kemudian berdiri tepat di hadapannya. Aku meletakan kedua tanganku di atas meja, dan menahannya dalam kurunganku. Saat ini Gyuri sedang duduk di atas meja kerjaku sembari bersedekap angkuh. Dan ekspresinya malah terlihat sangat keren.


 


“Kau tidak mempercayainya, huh? Aku tidak sengaja melakukannya pada Haneul. Dan aku sama sekali tidak pernah melakukan itu padanya”


 


“Aku tidak peduli”


Gyuri membuang muka dan tidak mau menatap wajahku yang berada di hadapannya saat ini. Ternyata istriku benar-benar marah. Apa yang harus aku….? Ah… ya benar…. Kemarin aku baru saja membuatkan sebuah ATM atas namanya. Dan itu pasti akan sangat berguna saat ini.


 


“Gyuri-ah, aku punya sesuatu untukmu. Tolong jangan marah lagi”


 


“Kau fikir aku bisa disogok begitu saja?”


 


“Kau yakin tidak mau menerima hadiah dariku?”


 


“Aku tidak ingin bermain-main Tuan Lee. Suasana hatiku sedang buruk setelah menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakan barusan”


 


Istriku masih tetap pada pendiriannya, dan aku rasa dia akan segera mencair setelah aku menunjukan ATM yang memang sangat dia inginkan. Oke kita lihat saja, sejauh mana kau bisa bertahan dengan suasana kesalmu. Nyonya Lee.


 


“Bagaimana dengan ini?”


 


Aku mengeluarkan sebuah kartu ATM yang aku simpan di dalam dompet. Aku berencana akan memberikannya nanti malam. Tapi aku rasa ini memang sangat dibutuhkan saat ini.


 


“WHOAAAA…. ATM? ATAS NAMAKU? KYAAAAA…..”


 


Gyuri menyambar kartu berwarna biru itu dari tanganku dan dia langsung memeluk tubuhku dengan erat. Saat ini dia sedang duduk di atas meja kerjaku dan itu berarti tingginya hampir sama denganku. Dan aku rasa ini sangat menyenangkan.


 


“Aku tau, kau akan segera merasa lebih baik ketika aku menunjukan won”


 

__ADS_1


“Hei, kau fikir aku gadis matre? Aku hanya senang karena bisa mempunyai ATM lagi.  Kau tau kan, aku sama sekali tidak memegang kartu ATM setelah menikah denganmu”


 


“Apa kau merasa senang sekarang? Tidak kesal lagi? Sudah melupakan masalah tadi?”


 


Aku melepaskan pelukannya dan melingkarkan kedua tanganku di pingganya. Gyuri masih meletakan kedua tangannya di bahuku saat ini. kartu ATM itu masih dalam genggamannya dan matanya terlihat sangat berbinar. Mudah sekali membuat istriku ini merubah emosinya.


 


“Oppa, aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Haneul unni”


 


“Araseo. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kan asisten pribadiku. Kau sendiri yang mengatakan agar aku bersikap professional. Iya kan?”


“Tapi aku tidak mau melihatmu memeluknya seperti tadi”


 


“Kan, sudah aku jelaskan. Aku salah orang. Aku mengira dia itu adalah kau”


 


“Cish, sudahlah. Aku tidak mau membahasnya lagi”


 


Gyuri kembali menunjukan wajah kesalnya. Dia menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya, dan itu membuat aku jadi gemas melihatnya.


 


“Sayang… jangan menampakan eksresi seperti itu di depanku”


 


“Aku tidak peduli”


 


“Kau tau. melihatnya aku malah ingin menciumu”


 


“OPPA….”


 


Dia menepuk pelan bahuku dan akhirnya tersenyum malu. Haha. Akhirnya dia tersenyum lagi, dan aku sangat-sangat suka melihatnya.


 


“Ssssttt… jangan berisik dan diam saja. Oke?”


 


“Aaa…apa… yang… akan kau lakukan?”


 


Gyuri tergagap ketika aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Baiklah, aku rasa untuk sebuah ciuman tidak masalah. Sudah lama sekali aku tidak menyentuh dan merasakan lembut bibirnya. Dan kali ini semoga saja tidak ada yang mengganggu. Semua staf sedang sibuk di balik pintu sana. Dan kaca ruanganku juga tertutup rapat. Setidaknya aku bisa meluapkan hasratku yang sudah tertahan selama beberapa hari ini.


 


“Oppa… tapi… diluar…”


 


“Ssssst…”


 


Aku meletakan telunjuku di bibirnya dan kembali mendekatkan wajahku untuk menjangkau bibirnya. Dia yang sedang duduk di atas meja, mempermudah aku untuk melakukannya karena wajah kami yang sejajar. Dan aku rasa ini posisi yang sangat menyenangkan.


 


Perlahan, aku mulai menyentuh bibirnya. Kedua tanganku melingkar erat di pinggangnya sedangkan tangan Gyuri mencengkram kedua bahuku saat bibirku bergerak fasih menyapu bibirnya. Beberapa saat kami menikmati ciuman ini tiba-tiba dikejutkan oleh suara pintu terbuka….


 


Bukk….


“Donghae-ya, aku haru…. Ups… sorry”


 


Ah, bocah itu. kenapa dia masuk di saat yang sangat tidak tepat. Baru beberapa saat aku merasakannya tiba-tiba harus berhenti karena kedatangan Lee Hyukjae. Menyebalkan.


 


“Whae?Ada apa kau masuk ke dalam ruanganku. Dan lagi. Kau harus menghilangkan kebiasaanmu masuk ke dalam ruanganku tanpa mengetuk pintu sama sekali”


 


“Apa… yang…. Sedang kalian…?” Eunhyuk tampak menunjuk kami berdua yang masih terdiam dalam posisi sebelumnya. Tubuhku persis di depan Gyuri dan menghalangi pandangan Euhyuk, tapi dia bisa melihat Gyuri yang melongokan wajahnya di bahuku..


 


“Kenapa Gyuri duduk di atas meja…. Dan… Kenapa tanganmu terletak disitu. Apa kalian melakukan sesuatu di tempat ini? Dengan posisi seperti itu? Aigo, Donghae-ya. kau tidak seharusnya melakukan hal itu di kantor”


 


Aku baru menyadari kedua tanganku yang masih melingkar sempurna di pinggang Gyuri, dan segera melepaskannya. Aku melangkah ke samping dan membiarkan Gyuri turun dari dudukannya di atas meja. Dia tampak merapihkan pakaiannya yang memang sedikit berantakan.


 


“Ckckckc… aku tidak habis fikir kau ini memang tidak bisa menahannya, Donghae-ssi”


 


“Yak, apa maksudmu?”


 


“Kau bisa menahannya sampai ke rumah dan melakukannya di dalam kamar. Bukan di dalam kantor seperti ini?”


 


“Kau fikir apa yang kami lakukan. Aku dan Gyuri tidak melakukan apapun”


 


Ujarku coba membela diri, sedangkan Gyuri mengangguk berkali-kali menandakan persetujuannya dengan alibi yang baru saja aku ucapkan.


 


“Sudahlah. Toh kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan karena status kalian sebagai suami istri”


 


“Baiklah-baiklah. Ada pa kau masuk ke sini?”


 


“ Aku datang kesini untuk mengambil sebuah dokumen. Tadi Haneul sempat masuk kesini. Tapi setelah Gyuri masuk, dia langsung keluar dengan wajah pucat. Apa yang terjadi?”


 


“Oebsoyo. Hanya kesalahan kecil. Ambil dokumen yang kau cari dan segera keluar dari ruanganku”


 


Uajarku dengan tegas membuat Gyuri tiba-tiba menatapku dengan bingung. Aku tau dia pasti sedang mencoba untuk mencari tahu apa isi fikiranku saat ini.


 


“Kau ini pelit sekali”


 


Eunhyuk melangkahkan kakinya mendekat ke meja kerjaku dan mengambil sebuah map berwarna coklat yang tergeletak begitu saja di atas meja.


 


“Baiklah, aku keluar. Silahkan lanjutkan aktivitas kalian”


 


Ujar Euhyuk sembari  mengangkat map coklat  dalam genggamannya kemudian berjalan keluar dari ruanganku. Ketika melihat pintu terututup. Aku segera melempar pandang kea rah Gyuri, dan diapun melakukan hal yang sama. Aku tersenyum ketika dia membalas tatapanku, tapi akhirnya dia menggelengkan kepalanya dengan tegas. Apa masudnya?


 


“Maaf, sajangnim. Aku rasa aku harus pulang sekarang”


 


“Hei, kenapa harus sudah pulang. Temani aku disini, setidaknya sampai jam 6 sore”


 


“Ani.. aku harus pulang sekarang. Dirumah aku harus menyiapkan makan malam. Dan itu untukmu juga Tuan Lee”


 


“Tapi aku masih ingin bersamamu”


 


“Sudahlah, jangan berlebihan. Aku pulang sekarang. Oke?”


 


Tanpa menunggu balasan dariku, Gyuri langsung berjalan keluar dan membuka pintu ruanganku. Sedangkan aku hanya bisa menatap kepergiannya dengan putus asa.


 


Hemh… jika kau sudah pulang kerumah. Maka kau mejadi hak milik Hyomin sepenuhnya. Tidakah kau tau, karena itulah aku sangat merindukanmu. Nyonya Lee.


 


***


 


….Kim Familly’s House….


 


Gyuri’s POV


 


Aku mengeringkan rambutku setelah selesai mandi. Sepulang kerja, aku langsung membantu oemma untuk menyiapkan makan malam. Dan sekarang baru sempat mandi. Hemh, Hyomin tampak sangat antusias di dapur. Dia tidak berhenti menceritakan ini dan itu kepada oemaku. Bahkan bibi Jung harus berkali-kali mengatakan bahwa sebenarnya cerita itu pernah diceritakan Hyomin sebelumnya. Tapi gadis labil itu terus saja menceritakannya berulang kali.


 


Ini sudah jam 6 sore dan pasti Donghae oppa sudah akan pulang. Kira-kira dia sampai ke rumah jam 7 atau jam 8 malam jika terjebak macet. Yah, aku sudah merindukannya padahal baru saja beberapa jam yang lalu aku menatap wajah tampannya.


 


Aku meletakan handuk yang tadi aku pakai untuk mengeringkan rambut. Kemudian berjalan menuju kasur dan mengambil ponsel berwarna putihku yang terletak di sana.


 


2 panggilan tidak terjawab


 


“Jiyeon”


 


Aku bergumam pelan, membaca sebuah nama yang tertera di layar ponseku. Ada apa Jiyeon menghubungiku? Biasanya dia akan mengirim pesan terlebih dahulu sebelum menelponku. Sejak kemarin aku memang tidak menghubunginya karena terlalu sibuk. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Hem, baiklah coba aku hubungi saja.


 


Dengan lihai aku memainkan jariku di layar ponsel dalam genggamanku. Setelah menekan tombol panggilan, aku segera mendekatkan ponsel ke telingaku. Tidak lama aku mendengar nada tunggu dan akhirnya Jiyeon mengangkatnya.


 


“Yeobseo, Jiyeon-ah. ada apa menghubungiku?’


 


“Gyuri-ah, hiks… datanglah ke rumahku sekarang juga, hiks…”


 


“Jiyeon-ah, apa yang teerjadi kenapa kau menangis?”


 


“Kau harus datang ke rumahku sekarang juga. Ini masalah Aku, kau dan juga Jinki”


 


“Mworago?”


 


********


 


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2