Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Jurit Malam


__ADS_3

Di perjalanan, seluruh sekolah memang gelap gulita sampai cahaya bulanpun masih kurang untuk menerangi sekolah itu.


"Sungguh-sungguh gelap. Kalian tahu? Aku ini punya masalah mata minus," kata Sarah berniat berbagi cerita.


"Kenapa tidak memakai kacamata?" tanya Lyesti.


"Ini masih MOPD. Jadi aku tidak membawanya. Lagian aku gak tahu kalau aku harus berada di tempat gelap. Jadi, aku akan memegang tangan kalian," jawabnya seraya memegang tangan Lyesti.


"Eh, kayaknya ini kelas yang di maksud oleh kertas misi ini," kata Deri sambil sesekali memeriksa peta misinya.


"Benarkah? Ayo masuk-masuk," kata Dea membuka pintu kelas tersebut.


Mereka masuk ke dalam kelas bersama-sama. Lalu mereka mencari petunjuk yang lainnya. Mereka berpencar ke setiap sudut untuk mencarinya, tak lama setelahnya salah satu dari mereka melihat sebuah kertas baru.


"Eh ini ada kertas lagi," kata Lyesti. Lalu ia membaca kertas itu.


"Temukan aku di ruang lab IPA," kata Deri sambil membaca isi tulisan kertas tersebut.


"Lab IPA nya dimana lagi? Nyusahin banget deh para Osis itu," kata Dea kesal.


"Sabar, De." Kata Lyesti mengusap punggungnya.


"Kalau aku jadi Osis, aku bakalan balas dendam ke adik-adik kelas nanti," kata Dea niat untuk balas dendam.


"Hadeuh ... Kau jangan bicara seperti itu! Sudah fokus saja," ujar Toni.


Segera mereka meninggalkan kelas tersebut dan mencari ruangan Lab IPA yang di maksudkan oleh tulisan baru tersebut.


Kemudian di tengah-tengah perjalanan, Deri melihat seseorang dari arah samping yang berlari kencang ke arah Lyesti. Spontan ia langsung mendorong tubuh Lyesti dengan kuat sampai Lyesti terjatuh.


"Ah ...," rintihnya kesakitan.


Lalu Lyesti dan teman-temannya terkejut melihat seseorang yang akan menyerangnya itu, serentak mereka berteriak dan berlari ketakutan.


"Hey, tunggu!!!" teriak seseorang yang menyerang itu.


Mereka tak menghiraukannya karena mereka semua panik ketakutan melihatnya seseorang memakai topeng badut seram dan penampilannya pun cukup menyeramkan seperti badut pembunuh dengan membawa alat pukul tongkat satpam. Padahal ia hanyalah kakak kelas mereka yang berniat akan menakuti mereka.


"Mereka malah pergi," lanjut kakak kelas yang berpura-pura menjadi badut pembunuh itu sambil membuka topeng badut yang tengah ia kenakan.


Akhirnya jurit malampun berakhir, Karena tim Lyesti yang berlarian sambil teriak-teriak :

__ADS_1


"Ada badut pembunuh. Ada pembunuh di sekolah ini. Semuanya lari ...!" teriaknya.


Dan semua orangpun histeris ketakutan dengan teriakkan mereka. Akhirnya mereka semua berhamburan kemana-mana ikut berlari beserta para panitia yang lainnya.


"Aaaaaaaaa ...," teriak semua orang bergaduh.


"Ada apa ini?" tanya David kebingungan. Lalu Lyesti yang berlaripun menabrak David yang sedang berdiri melihat orang-orang lari tanpa sebab.


*Brugggg....


David dan Lyesti pun terjatuh, akibat tabrakannya.


"Aduh!!" rintih Lyesti.


"KAU ...!!!" sahut David dengan tatapan mata tajam dan nada seram.


Sesi pelarian itu pun berlalu.


----------


Terlihat semua orang kembali berkumpul di tengah lapang yang saling berhadapan ke arah api unggun. Mereka terdiam tanpa kata akibat hal memalukan itu, Ketua Osis terlihat sangat marah, namun ia menahannya karena ia ingin kembali merasa bijaksana dalam sikapnya di hadapan semua murid baru.


Semua orangpun bubar pergi ke tenda mereka masing-masing. Hanya tersisa para panitia dan tim Lyesti saja. Iapun bertanya :


"Kalian kenapa?" David terlihat masih menyimpan rasa amarah.


"Kami ketakutan, kak. Karena kakak itu memakai pakaian dan topeng badut yang tiba-tiba menyerang kami, kami spontan ketakutan. Lagian kami kan tidak tahu kalau itu adalah kakak panitia juga. Kalau jika benar  yang datang adalah pembunuh, bagaimana?" jelas Lyesti menundukkan kepalanya.


"Dan kenapa kau penampilan seperti itu dan tiba-tiba berlari menyerang mereka?" tanya David kepada Sandi yang memakai topeng badut tersebut.


"Kan katanya harus menakut-nakuti. Gimana sih!" jawabnya santai.


"Tapi tidak seperti itu juga. Kamu tuh ...," kata David terpotong mencoba menahan emosinya.


"Baiklah. Kau minta maaf pada mereka dan segera bubar untuk beristirahat," lanjut David. Lalu ia pergi dengan meninggalkan kesan sikap yang kesal.


"Maafkan aku!" kata Sandi.


"Maafkan kami juga, kak," kata Lyesti mewakili timnya.


Kemudian para panitia pun ikut bubar bersama mereka.

__ADS_1


"Kayaknya kakak Ketua Osis itu marah deh. Aku harus meminta maaf padanya karena telah mengacaukan acara mereka," kata Lyesti dalam hati. Iapun segera pergi ke dalam tenda.


Di dalam tenda, terlihat Lyesti yang masih melamun memikirkan tentang Ketua Osis itu. Entah mengapa hal itu membuat Lyesti sulit untuk memejamkan matanya.


"Kok makin kepikiran ya? Bodo amat lah. Gimana besok aja, sekarang harus paksa tidurin. Biar besok gak ngantuk," gumamnya sendiri.


Beberapa saat kemudian akhirnya Lyesti berhasil memejamkan matanya dan tidur.


*Keesokan harinya.


Waktu menunjukan pukul 04:38 pagi. Semua panitia berkeliling untuk membangunkan para peserta dengan memukul panci yang keras.


*Szreeeengg....


Suara panci ketika di pukul.


"Bangun.. Bangun.. Bangun.."


Para pesertapun terbangun karena kaget mendengar suara berisik dari panci yang di pukul oleh para panitia.


"Kumpul semua di lapangan. Ayo bangun.. Bangun.. Kumpul semuanya. Jangan mengantuk!!" teriak mereka.


Dan semua murid berkumpul di lapangan dengan wajah mereka masih lelah dan sayu karena masih mengantuk.


Lalu, beberapa panitia mengambil selang yang tersambung dengan keran air, dan air keran tersebut smdi semburkan kepada mereka para siswa dan siswi yang sudah berada di lapangan.


"Ini membuat kalian tidak mengantuk lagi." Teriak panitia disana.


"Keterlaluan!" gumam Dea kesal.


"Muak ...!" kata Sarah murka.


"Aku gak tahan, guys!" ujar Lyesti dengan mata yang sulit terbuka.


"Kalian semua segera bereskan barang kalian dengan rapi. Lalu bersihkan lapangan bersama-sama. Setelah itu kita akan melaksanakan apel pulang dan sesudahnya kalian bisa lanjutkan istirahat kalian di rumah masing-masing." Teriak David kepada murid disana.


"Ayo semuanya bangun. Mulai beres-beres cepat! Agar kalian juga bisa cepat pulang ke rumah," kata Radit.


"Akhirnya semua penyiksaan ini berakhir juga," ucap Lyesti dalam batin. Bernapas lega lah kalian semua para anggota MOS.


Kira-kira apa ya yang terjadi selanjutnya? Akankah Lyesti mampu meminta maaf? Yuk baca lagi. 😊

__ADS_1


__ADS_2