
Keesokan harinya.
Ini adalah hari kedua Lyesti melaksanakan MOPD di sekolah. Walaupun ia masih merasa malu karena kejadian hari pertama di sekolah kemarin, ia harus tetap mengikuti kegiatan tersebut. Karena itu salah satu point plus untuk menjadi murid teladan.
*Di dalam kelas.
Lyesti tengah duduk di bangku baris ke 3 bersama seorang wanita yang belum ia kenal. Ia pun mulai berkenalan agar segera menjadi teman yang akrab.
"Hai. Aku Lyesti. Panggil aja aku Titi. Karena semua orang manggilnya kek gitu," sapanya terlebih dulu dengan menebar sedikit senyuman.
"Hey. Aku Sarah. Salam kenal ya!" sahut Sarah yang sebangku dengannya.
"Salam kenal juga. Semoga kita bisa menjadi teman baik," kata Lyesti.
"Iya. Hari kemarin kau hebat. Merayu kakak kelas seperti merayu kekasih sendiri," puji Sarah.
"Kau ngejek ya? Kemarin pengalaman buruk," sahut Lyesti malu-malu.
"Tidak apa-apa. Kau menghibur kok. Gak usah malu. Semua orang tahu itu hanya hukuman konyol yang termasuk bullying sih."
"Bener banget. Aku di bully kakak kelas sampe rasa maluku habis pada hari kemarin," serunya.
"Hahahaha ... Tapi kau benar-benar keren. Kau begitu berani saat hari kemarin. Aku salut padamu," puji lagi Sarah kepada Lyesti.
"Terima kasih," ucap Lyesti.
Tak lama setelah itu, datang dua orang pembimbing masuk ke kelas tersebut. Raut wajah mereka terlihat sangat garang, jutek, cuek, dan seperti akan memberikan hukuman lebih terhadap siswa-siswi yang mengikuti MOPD.
"Selamat pagi semua!" sapa salah satu Kakak pembimbing itu.
"Ya ampun! Itu kan kakak panitia yang kamu rayu hari kemarin?" tanya Sarah seraya menatap ke arah si pembimbing itu.
"Kamu benar. Aku akan bunuh diri sekarang juga," jawab Lyesti terengah seakan kehabisan napas.
"Ciieeee ... Ada si perayu maut nih di sini," kata kakak kelas yang bersama dengan Radit, yaitu Mela.
"Mampus kan! Dia lagi!" batinnya.
Radit melirik ke seluruh ruangan, mencari-cari keberadaan Lyesti, dan benar saja. Ia melihat adanya Lyesti di sana. Lalu ia menebar senyuman padanya, senyuman sok manis, sok imut dan sok ganteng.
"Jangan merayu lagi ya! Dia punyaku," kata Mela pada Lyesti.
"Tidak, kak. Tidak akan," sahut Lyesti spontan. Seluruh murid otomatis melirik ke arahnya. Itu membuat Lyesti sangat malu. "Bodoh! Kenapa bicara seperti itu?" lanjutnya dalam batin.
"Baguslah. Mari kita mulai dengan saling berkenalan satu sama lain ya!" kata Mela kepada murid di kelas.
"Radit punya pacar ya? Pacarnya bareng Radit jadi pembina kelas yang sama. OMG!! Nyesek banget sih lihatnya. Gak tahan. Kenapa aku masuk sekolah ini? Rasanya pengen keluar aja," ucap Lyesti di dalam hati.
Satu persatu murid di kelas memperkenalkan diri mereka masing-masing di depan kelas. Dan kini giliran Lyesti yang memperkenalkan diri di depan kelas.
"Ayo, bagian si perayu memperkenalkan diri. Sini cepetan!" kata Mela.
"Baik, kak!" Lantas Lyesti berjalan ke arah depan kelas. "Enak saja memberikan sebuah julukan seperti itu padaku," ketusnya dalam batin. Ia pun mulai memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Hai, namaku Lyesti. Panggil saja Titi, karena semua orang sering memanggilnya dengan sebutan itu. Aku lulusan dari SMP 5. Rumahku juga tidak begitu jauh dari sini, cukup dua kali naik angkutan umum. Salam kenal. Terima kasih."
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Mela pada Lyesti.
Lyesti menoleh kaget. "Tidak. Saya masih sendiri," jawab Lyesti malu.
"Benarkah? Soalnya rayuanmu kemarin bagus lho. Kayak yang beneran ke pacar. Bener kan, Dit?" kata Mela menggodanya.
Radit merangkul Mela di hadapannya. Membuat mata Lyesti terasa sakit melihat pemandangan itu.
"Bener juga sih. Kayaknya kamu masih menyukai seseorang," ujar Radit ikut nimbrung menyindirnya.
"Terima kasih sudah memujinya, kak."
"Apa kamu menyukai Kakak panitia yang ini?" tanya Mela sambil menunjuk ke arah Radit. Spontan Lyesti terdiam sejenak.
"T ... tidak kak. Kau salah paham. Kalau begitu saya akan duduk," kejutnya. Lalu ia berjalan menuju bangkunya.
"Tunggu!" tahan Radit.
Lyesti berhenti, "apa lagi sih maunya?" tanyanya dalam hati, dan ia berbalik ke arah Radit.
"Iya?" sahut Lyesti.
"Siapa orang pertama yang kau suka?" tanya Radit secara tiba-tiba.
"Maaf ...," kata Lyesti berhenti. Ia tak menyangka bahwa Radit akan bertanya hal yang tidak perlu ditanyakan. Jantungnya mulai sulit terkontrol akibat bertemu langsung dengan Radit.
"Kamu kenapa, Radit?" tanya Mela berbisik.
"Tidak apa-apa," jawabnya datar.
"Sepertinya kamu kenal dekat dengan dia."
"Tidak," kata Radit. Mela pun menghiraukannya, karena Radit tak kunjung menjawab pertanyaannya dengan serius.
"Maksud dia apa, Ti?" tanya Sarah berbisik pada Lyesti. Rupanya ia mulai penasaran dengan itu. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua.
"Entahlah!" Jawab Lyesti. Padahal dalam hatinya ia tahu maksud dari pertanyaan Radit yang di lontarkan padanya.
Sesi perkenalan pun berakhir. Kini saatnya untuk istirahat bagi seluruh peserta didik MOPD.
Terlihat Lyesti berjalan dengan Sarah di koridor. Mereka mencari sebuah kantin untuk membeli macam-macam jajanan di sana.
"Akhirnya selesai juga. Padahal cuma kenalan, tapi mengabiskan waktu 3 jam cuma berkenalan 25 orang," kata Sarah merasa lega dari kebosanannya menunggu orang-orang memperkenalkan diri.
"Untungnya besok hari terakhir MOPD," kata Lyesti.
"Heem. Tapi besok bagian kemah di sekolah. Rasanya gak nyaman, aku tidak terbiasa," kata Sarah mengingatkan.
" Bawa kasur tipis aja. Hehehe ...."
"Kau pinter. Aku gak kepikiran. Tapi apa itu boleh?"
__ADS_1
"Gak tahu. Mending tanya kakak kelasnya aja dulu."
"Nggak ah. Takut. Nanti malah di kasih ceramah," ujar Sarah.
"Kau ini." Lyesti menggelengkan kepalanya.
*Di kantin
Terlihat Lyesti yang mengantri untuk memesan minuman di sebuah stand toko. Antrian yang begitu panjang, membuat Lyesti lelah dan ingin segera duduk.
"Antriannya panjang banget," keluh Lyesti.
"Heem. Aku nitip aja deh sama kamu ya? Gak tahan lagi buat nahan berdiri," sahut Sarah pada Lyesti.
"Kok gitu? Nggak ah. Pokoknya kamu harus bareng aku," umpat Lyesti.
"Iya deh, iya."
Tak lama setelah itu, tiba-tiba ada seseorang yang mendorong antrian tersebut. Sehingga yang mengantri disana saling berdesakan dan saling dorong mendorong tanpa sengaja.
"Aduh, jangan dorong-dorong dong!" kata Sarah kepada orang yang berada di belakangnya.
Namun dorongan itu semakin kuat dan Membuat Lyesti terjatuh dan mengalami luka pada lututnya yang berdarah.
"Aw ...," kata Lyesti.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sarah cemas.
"Hey kalian berhentilah mendorong, temanku terluka," teriak Sarah.
Mendengar adanya kerusuhan di kantin, membuat para panitia turun tangan menangani masalah tersebut.
"Hey kalian semua ikut denganku ke lapangan. Para panitia semuanya jangan lengah! Siapa tahu ada yang berusaha kabur," teriak salah satu panitia disana kepada semua orang yang berada dalam antrian.
Lyesti di bantu berdiri oleh Sarah. Sialnya mereka juga harus ikut ke lapangan karena kerusuhan saling dorong di kantin tadi.
"Kita gak salah kok malah jadi ikut kena," kata Sarah kesal.
"Sudahlah, Sarah. Tak apa-apa," sahut Lyesti.
Lyesti pun berjalan dengan perlahan karena ada luka di lututnya yang sulit untuk berjalan cepat. Lalu, tak sengaja ada seorang pria yang berlari dan menabrak Lyesti sampai ia kembali terjatuh ke lantai dan membuat luka Lyesti semakin parah.
*Bruuuuuggg....
"Maaf, maaf! Saya terburu-buru. Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu seraya mencoba membangunkan Lyesti.
"Kamu kenapa sih? Tidak lihat dia terluka ya?" kata Sarah marah-marah.
Lyesti menengok ke arah pria yang mendorongnya. Ia pun terkejut mengetahui pria yang menabraknya adalah pria yang berada di toilet pada waktu itu.
"Kamu gadis yang salah toilet itu kan?" tanya David, pria yang berada di toilet pria bersama Lyesti.
"Kau ...?" Spontan Lyesti terkejut.
__ADS_1