Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Selamat Malam


__ADS_3

Terlihat Lyesti dan Radit sedang mengobrol saling bersenda gurau, penuh tawa dan canda yang sedang mereka lontarkan. Membuat Lyesti lupa akan kemarahannya, kekecewaannya dan semua masalah yang sudah menimpa dirinya.


Ia merasa bahagia, juga senang bahwa rasa sukanya selama ini tidaklah bertepuk sebelah tangan. Melainkan rasanya yang sudah tertinggal lama kini terbalaskan dengan kebersamaan dan hubungan status pacaran dengan Radit yang kini kan di jelaskan olehnya.


"Jadi, kau jangan khawatir. Aku takkan menghianatimu." Kata Radit pada Lyesti seraya memegang tangan Lyesti untuk meyakinkannya. Iapun percaya dengan apa yang di katakan oleh Radit.


"Aku percaya padamu, Radit. Tetapi aku hanya ragu tentang kesetiaanmu saja."


"Itu sama saja tidak percaya dong!"


"Ya aku percaya, tapi di sisi lain aku juga ragu. Aku dengar kau banyak wanita yang sudah menjadi mantan kekasihmu. Aku takut beberapa hari ke depan kau akan bosan denganku, lalu kau meninggalkanku demi wanita lain yang kau sukai selanjutnya." Ujar Lyesti lemas.


"Kau bicara apa? Kau ngelantur ya? Memangnya aku laki-laki seperti itu?"


"Tidak. Hanya saja aku takut. Aku takut merasa trauma jika kau mempermainkanku. Kau tahu bahwa aku menyukaimu semenjak lama, bahkan selama beberapa tahun." Cemasnya.


"Lyesti, jika kau benar-benar mengenalku, kau pasti tahu siapa aku sebenarnya. Jangan dengarkan apa kata orang lain, tapi percayakan apa yang kau rasa dan kau lihat." Ujar Radit.


"Apa aku terdengar egois?" Tanyanya.


"Tentu saja tidak. Kau tidak egois, kau hanya takut." Jawabnya.


"Iya. Karena kau adalah pacar pertamaku, Radit. Aku selalu menutup hati kepada orang-orang yang menyukaiku demi dirimu. Tetapi kau tak pernah melirikku."


"Aku sering melihatmu, aku tahu kau menyukaiku. Maka dari itu aku sering memperhatikanmu dari kejauhan. Walaupun ada banyak wanita yang pernah aku pacari, tetapi mereka tidak sepertimu." Kata Radit panjang lebar.


"Benarkah? Apa kau tidak berbohong?"


"Aku berbohong."


"Tuh kan!!"


"Nggak. Nggak. Aku serius kok. Beneran!" Terkekeh.


"Hmm... Aku juga tak mengerti dengan diriku. Kedengarannya egois sih, tapi jujur aku ingin sekali memilikimu." Jujurnya.


Mendengar apa yang telah di katakan oleh Lyesti seperti itu, membuat Radit langsung memeluk tubuh Lyesti.


Pelukannya yang membuat Lyesti panik dan semakin canggung. Karena ini adalah pertama kalinya bagi Lyesti di peluk oleh seseorang yang sangat ia sukai. Sekilas pelukkan itu Radit lepaskan.

__ADS_1


"Aku milikmu, Lyesti. Akan selalu menjadi milikmu." Kata Radit, lalu ia mencium kening Lyesti.


Spontan Lyesti terdiam tanpa kata akibat ciuman di keningnya  yang di lakukan oleh Radit padanya. Wajahnya menjadi memerah, jantungnya kembali berdegup kencang dan darahnya perlahan naik. Sulit untuk di stabilkan olehnya.


"Kau kenapa? Apa kau gugup karena aku mencium keningmu?" Tanya Radit.


Lyesti hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa bicara, ia masih merasa panik dengan apa yang di lakukan oleh Radit.


"Aku tak sanggup menahannya. Rasanya tak percaya, ini bukanlah mimpi. Semoga selalu seperti ini." Pikir Lyesti dalam bathin merasa tak percaya.


"Haha.. Ekspresimu lucu jika seperti itu." Ujar Radit terkekeh.


"Kau mengejek!" Umpat Lyesti.


"Nggak. Nggak mengejek. Aku seriusan!"


"Jangan buat aku malu." Kata Lyesti menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tak perlu malu, memang begitulah kehidupan ketika berpacaran. Itu hal yang wajar."


Lyesti mulai memperlihatkan wajahnya kembali.


"Ini kali pertamanya. Dan aku tidak tahu harus melakukan apa." Sahutnya.


"Ah, gitu ya. Yaudah, nanti aku akan mencobanya lagi."


"Haha.. Kau ini sangat lucu."


Setelah banyaknya percakapan yang sudah ia bahas bersama Radit selama berjam-jam, tak bosan mereka berbicara, tak lelah mereka bicara, mereka tetap lupa waktu jika bersama. Sampai akhirnya, tak terasa waktu telah berlalu dan malampun tiba.


"Sudah malam nih."


"Kau benar. Ini sudah malam." Kata Lyesti.


"Aku pulang dulu ya, Sayang." Kata Radit sambil mengusap pipinya Lyesti.


"Tadinya sih masih pengen sama kamu." Kata Lyesti.


"Yaudah kita nikah aja yuk! Biar kita tinggal serumah." Ajaknya.

__ADS_1


"Eh, eh. Kita kan masih sekolah. Batmru masuk malahan. Aku tidak siap jika harus putus sekolah dan berumah tangga di usia sedini ini." Jelas Lyesti.


"Hahahaha... Apa kau percaya dengan kata-kataku itu?" Tanya Radit menertawakan.


"Aku pikir kau memang serius dengan perkataanmu itu." Jawab Lyesti.


"Kau ini. Dasar ya! Sudah ah. Aku akan pulang sekarang ya! Pamit Radit sambil berdiri.


"Yasudah, aku akan antar kau sampai depan pintu."


"Baiklah. Ayo!"


Segera Lyesti terbangun dan berjalan bersampingan dengannya. Ia berjalan pelan sambil sesekali memperhatikan wajah Radit. Entah apa yang Lyesti lihat dan ia rasakan, ia merasakan kebahagiaan tak terduga sampai semua rasa menjadi campur aduk tak terbayangkan dan tak bisa di ucapkan dengan kata-kata.


Sampi akhirnya Radit memasuki mobil miliknya dan tak lupa untuk melambaikan tangan lewat jendela mobil sambil tersenyum. Lyestipun membalas senyumannya. Lalu setelah Radit pergi dari pandangannya, iapun mulai memasuki rumahnya dan mengunci pintu rumahnya. Segera ia pergi ke kamarnya dan bergegas pergi tidur.


"Tak percaya! Aku benar-benar mengobrol begitu lama dengan Radit di rumahku? Selama beberapa tahun aku mengenalnya, baru kali ini aku mampu berbicara sambil tertawa lepas dengannya! Aaaaaahh... Bahagianya rasanya! Apa ini yang di namakan jatuh cinta? Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?" Gumamnya berkhayal.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tanda pesan masuk ke ponsel milik Lyesti.


"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah ya! Jangan berkhayal yang macam-macam. Ok!" isi pesan dari Radit kepada Lyesti.


Saat membacanya, ia merasa bahagia yang begitu luar biasa. Sudah tak berbendung lagi, karena bahagianya sudah melewati batas wajar.


"Benar-benar sulit di percaya. Aku benar-benar pacaran dengan Radit. Aku di cium kening oleh Radit dan di peluk Radit pula? Aaahh... Indahnya perasaan ini, indahnya hidupku ini. Ternyata aku tak sia-sia masuk ke sekolah itu, benar-benar hoki. Ini bukan hoki yang di atas kesialan. Tapi ini benar-benar hoki kehidupanku." Gumamnya panjang lebar dan mengabaikan pesan dari Radit.


"Sudah tidur ya? Kalau begitu sampai jumpa besok. Nanti besok pagi aku akan menjemputmu untuk ke sekolah bersama." Pesan masuk dari Radit karena Lyesti tak kunjung membalas.


"Baiklah! Ku tunggu besok ya!" Balasnya.


"Aku kira kau sudah tidur lelap, ternyata masih terjaga ya! Kau susah tidur karena aku?"


"Jangan GR. Sekarang aku mau tidur kok."


"Beneran?"


"Beneran. Aku gak bohong. Kau juga segera tidur, hari sudah malam. Besok kita kan bertemu, nanti kita bisa bicara sepuasnya."


"Ya. Karena aku memang milikmu."

__ADS_1


Membaca balasannya seperti itu, membuat Lyesti semakin merasa melayang. Kebahagiaan yang tak berujung pada dirinya, membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Akhirnya terus memikirkan kejadian yang sudah ia alami selama seharian ini sambil senyam-senyum sendiri seperti orang yang hilang akal.


Akhirnya, Lyesti dan Radit baikan. Mereka tetap pacaran, tetapi entah apa yang sedang di rahasiakan oleh Radit dari Lyesti. Dan bagaimana dengan perasaan David terhadap Lyesti ya? Baca lagi yuk!! 😁😁


__ADS_2