
MOPD hari pertama sudah selesai dengan pengalaman buruk bagi Lyesti. Saat di kelas, ia harus mendapatkan ejekan dari semua teman-temannya karena rayuan yang sudah ia ungkapkan kepada kakak kelas yang di kenalnya, Radit, di depan semua orang. Membuat hari-hari di sekolahnya terasa seperti neraka.
"Cieee ... Keindahan yang sulit untuk berkedip. Perih dong matanya karena gak berkedip mulu. Hahahaha ...," ejek orang-orang di kantin, membuat Lyesti merasa kesal bercampur malu ketika bertemu dengan orang-orang di sana. Namun ia tak menghiraukan hal tersebut. Ia tetap tak mau mendengarkan ucapan itu di telinganya.
Saat pulang sekolah pun, Lyesti yang menunggu Radit karena berniat untuk memarahinya, tiba-tiba ada ada saja orang yang mengejek dirinya.
"Lagi nunggu keindahan ya?" tanya pria yang ia tidak kenal. Lyesti mengabaikan pertanyaannya, ia hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Ciiieeee ... Takut keindahan marah. Kalo marah kan keindahannya pasti punah. Hahahahha ...," lanjut ejekan mereka.
"Pergilah!" umpat Lyesti seakan mulai muak dengan itu.
"Eh dia yang marah. Hahaha ... Jangan lupa kedipkan mata. Hahaha ...," ujar mereka sambil pergi.
"Sial. Mending aku pulang aja. Name tag sobek pembawa sial," gumam Lyesti. Ia pun segera pergi dan pulang.
------
*Di rumah
Terlihat Lyesti sedang mondar-mandir ke sana kemari di balkon dan melihat pemandangan di sekitar rumahnya. Ia mengingat kejadian hari kemarin saat di sekolah, ketika ia merayu Radit dan di tertawakan oleh semua orang.
"Giilaaaa. Gila, gila, gilaaaa ... Malu banget. Gimana dengan besok di sekolah?" pikirnya sendiri. "Kalau gak ikut MOPD gak apa-apa kali ya? Tinggal bilang aja sakit atau kirim surat gitu. Gak tahan sama rasa malunya," lanjutnya bergumam.
Dari seberang jalan, terdengar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Ti ... Titi ...!" teriak seorang tetangga yang merupakan temannya, Aurel.
Lyesti menoleh ke arah sebrang jalan. Ia pun melambaikan tangannya kepada Aurel.
"Sini, rel!" teriak Lyesti dengan lambaian tangannya.
"Aku masuk ya!" balas teriakannya.
"Iya. Masuk aja. Gak di kunci, lagian di bawah ada kakak doang," teriaknya lagi.
Segera Aurel berjalan dan masuk ke dalam rumah Lyesti. Ia bertemu dengan kakaknya dan meminta izin masuk.
"Hai, kak. Aku mau ke Lyesti nih," kata Aurel menebar senyuman.
"Titi ada di kamar. Masuk aja," kata Harry datar, kakaknya Lyesti.
Lalu Aurel pergi ke atas dan masuk ke dalam kamar Lyesti.
"Hai, Ti. Gimana tadi MOS nya? Seru kan?" tanya Aurel tiba-tiba.
__ADS_1
"Kayaknya aku gak mau ke sekolah besok buat ikutan MOS lagi," jawabnya lesu.
"Lho, kenapa?" tanya Aurel penasaran.
"Hal buruk terjadi."
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Aurel tambah penasaran.
"Aku di buat malu sama kakak panitia OSIS disana. Aku di suruh merayu di depan semua orang pake microfon. Malu banget kan, sampe kayak kehilangan setengah nyawa, tahu nggak sih?" jelas Lyesti dengan nada kesal.
"Apa? Gila banget. Terus kenapa bisa sampe gitu?"
"Lupa bawa name tag sama manggil nama si kakak kelas. Katanya gak sopan."
"Memang sekolah yang kamu masuki itu terbilang disiplin. Sampai nama aja di permasalahin," ujar Aurel.
"Kamu tahu nggak?"
"Enggak."
"Kakak kelas yang ku rayu itu Radit."
"Radit? Radit mana?" tanya Aurel. Ia masih belum sadar sambil mengingat-ingat siapa sosok Radit yang sudah Lyesti sebutkan.
"Serius? Bukannya Radit pergi ke luar kota ya? Sekolah di luar kota?" kejut Aurel.
"Justru itu. Aku juga gak tahu kalau dia sekolah disana. Bahkan waktu SMP pun aku jarang ketemu, tapi tetep aja masih suka. Sampe aku mulai lupa sama dia, eh malah ketemu dan 1 sekolah lagi. Kan sukanya dateng lagi," kata Lyesti bercerita.
"Ya ampun! Itu yang di namakan jodoh," seru Aurel.
"Sebenarnya aku harap aku harus bisa move on. Karena dia kan udah tahu kalau aku suka sama dia, makanya dia nyuruh aku buat rayu dia depan semua orang, terus sekarang satu sekolah lagi bakalan ketemu tiap hari sama dia. Bakalan sulit nih," cemas Lyesti.
"Duh, kamu jangan di ambil pusing deh. Kalau ketemu dia, langsung menghindar aja," usul Aurel.
"Kau benar. Aku harus menghindar."
"Lagian kan kau sama dia beda angkatan. Jadi beda kompleks juga kelasnya."
"Bener, bener. Tumben pinter!"
"Kan aku lebih pinter di banding kamu. Aku ranking dua di kelas. Kau kan ke tujuh," goda Aurel.
"Ih, kamu segitunya amat sih."
"Kenyataan takan bisa berubah," kata Aurel.
__ADS_1
"Iya. Iya. Aku emang noob," ujar Lyesti. Memasang raut wajah cemberut.
"Jangan kek gitu mukanya. Geli tahu," kata Aurel.
"Hehehe ..." Lyesti terkekeh.
"Lagian aku bercanda doang."
"Aku juga sama kok bercanda. Hahahaha ...," kata Lyesti.
"Huh dasar!" sahut Aurel. "Oh, iya. Lalu kamu bakalan sekolah besok?" lanjutnya bertanya.
"Kayaknya nggak deh. Malu banget soalnya," jawab Titi seraya menundukkan sedikit kepalanya.
"Gak kebayang deh kalau aku yang di posisi kamu tadi."
"Terus aku juga salah masuk toilet. Malah masuk ke toilet cowok. Tambah malu lagi kan!" kata Lyesti melengkapi ceritanya.
"Seriusan? Emang gak lihat ada tulisan toilet buat cewek sama cowoknya?"
"Kayaknya sih ada. Tapi aku gak lihat-lihat sih. Langsung masuk ke dalam toilet aja," ucap Lyesti.
"Ya ampun. Kau memang selalu ceroboh ya! Gak pernah berubah," sahut Aurel menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ini yang namanya hoki di atas kesialan. Hoki masuk SMA favorit dan terpandang, sialnya ya kayak gitu," kata Lyesti.
"Mending aku dong ya! MOPD tadi gak ada masalah apapun. Hahahaha ...," ceritanya Aurel pada Lyesti.
"Tadinya juga kalau gak ke terima disana, mau masuk ke sekolah bareng kamu. Tapi kan untungnya ke terima dengan keadaan IQ yang standar ini. Hehehe ...," kata Lyesti.
"Harusnya tuh bersyukur. Jangan di sia-siain sekolah disana. Ok!"
"Ok! Siap!"
"Jadi besok, kamu juga harus ikut MOPD lagi. Jangan sia-siain masa pengalaman itu," nasehat dari Aurel.
"Tapi gimana ya? Malunya itu masih membekas sih. Pasti sulit lupanya."
"Entar juga mereka bakalan lupa sama kejadian masa MOPD itu. Udahlah. Jangan di bikin ribet. Jalani aja dengan santai. ok!"
"Ok lah kalau begitu. Akan ku usahakan yang terbaik," sahut Lyesti.
"Nah gitu dong!! Itu baru Lyesti yang kukenal."
Nah, tu Lyesti udah mulai khawatir dengan perasaannya. Gimana ceritanya ya kalau Lyesti ketemu sama Radit lagi? Yuk lanjut! 😊
__ADS_1