
Keesokan harinya,,
Terlihat Lyesti yang sedang buru-buru menyiapkan persiapan untuk kemah hari ini di sekolah. Karena ia kebablasan tidur lelap pada hari kemarin, sampai lupa bangun untuk bersiap-siap. Akhirnya ia segera buru-buru menyiapkan sisa dari hari kemarin.
"Untungnya kemarin langsung di siapin sebagian, kalau nggak bakalan repot nih sekarang," kata Lyesti bergumam seraya membereskan barang-barangnya.
Kemudian setelah selesai menyiapkan segalanya, iapun langsung segera berangkat ke sekolah.
"Kak! Aku pamit pergi ya! Buru-buru nih soalnya. Soalnya udah siang. Takut angkotnya lama," kata Lyesti kepada kakaknya.
"Hati-hati! Jangan terlalu buru-buru. Kau sudah siapkan semuanya kan? Tidak yang terlewat?" tanya kakaknya.
"Tidak, kak. Semuanya sudah beres. Percaya deh ya!" jawab Lyesti.
"Doain ya, kak. Semoga lolos dalam medan perang di sana," lanjutnya.
"Terserah dirimu saja."
Percakapan itu pun berlalu.
--------
Di sekolah, semua orang berantusias membicarakan perkemahan dan entah membicarakan apalagi karena di telinga Lyesti terdengar sangat bising dengan perbincangan di sekolah.
Lalu ia berjalan ke arah lapangan untuk membantu teman-temannya membuat tenda yang akan ia jadikan tempat berlindung.
"Hey!! Sorry telat. Tadi persiapannya banyak yang lupa," kata Lyesti kepada teman-temannya di sana.
"Tak apa, Titi. Kamu bantu sisanya aja," sahut Sarah.
"Ok. Aku akan simpen barangnya dulu."
Iapun menyimpan barangnya di rumput lapangan. Lalu ia pun mulai membantu temannya membangun tenda.
Tak ia sadari, bahwa dari arah kejauhan, sang Ketua Osis memperhatikan Lyesti yang sedang beraktivitas bersama teman-temannya dengan penuh canda tawa, riang dan gembira. Lalu secara diam-diam David, sang Ketua Osis, tersenyum sendiri melihatnya.
__ADS_1
"Ketua, ini jadwal hari ini sudah di perbaharui," kata Mela secara tiba-tiba. Membuat David terkejut.
"Oh, iya. Sini biar aku cek," sahutnya.
"Kau sedang lihat siapa?" tanya Mela sambil mencari-cari apa yang di lihat oleh David.
"Apanya?"
"Apa kau melihat si perayu itu?" tebak Mela.
"Tidak juga. Tapi kau tahu? Aku sangat pilih-pilih seorang wanita untuk menjadi kekasih. Tidak seperti pacarmu si Radit yang memacari banyak wanita di sini," goda David.
"Loe tuh ya! Paling suka kalau bikin orang lain emosi," umpat Mela.
"Sstttt ... Hindari kata-kata gaul disini. Kau harus ingat aturannya."
"Memang ribet sih ya kalau bahasa di sekolah harus sopan dan baku. Bilang lo sama gue aja kalo ke denger sama guru bakal masuk BP," kata Mela.
"Itu namanya disiplin."
"Nih udah. Kalian urus saja. Aku akan mempersiapkan yang lainnya untuk upacara apel pagi ini," ujar David. Lalu ia pergi.
"Namanya Lyesti," teriak Mela pada David. David terhenti dan berbalik ke arah Mela.
"Udah tahu!!" jawab David santai. Ia pun kembali pergi.
"Si David tuh! Kalau incer cewek pasti di selidiki dulu sebelum di gaet. Bener-bener sangat teliti memilahnya. Padahal banyak yang suka juga, mantan pacar pun bisa di hitung. Kalau Radit? Emang iya sih. Playboy! Tiap kelas pasti ada mantannya," gumam Mela.
"Tapi bodo amat ah! Masih sekolah, jangan mikirin pacaran yang serius," lanjut gumamnya dan ia pergi melanjutkan tugasnya.
Upacara Apel pagi pun akan di laksanakan, semua peserta murid MOPD berbaris dengan rapih. Baris menurut kelasnya masing-masing.
Waktu pun cepat berlalu, upacara apel pagi telah usai. Semua murid kembali ke tendanya masing-masing. Lalu pada saat siang hari mereka menjalankan kerja bakti bersama untuk membersihkan lapangan.
Sampai akhirnya sore tiba, Semua murid mulai memasak untuk persiapan makan malam bersama.
__ADS_1
"Gak terasa udah sore pula," kata Sarah.
"Bener. Cape banget deh. Rasanya pengen pulang dan istirahat aja," sahut Dea, teman 1 tenda dengan Sarah dan Lyesti.
"Tugas hanya tinggal memasak aja. Udah itu mandi deh, malemnya juga kita akan hiburan di tengah lapangan," ucap Lyesti.
"Yup. Bener. Bersabarlah sebentar Dea. Karena orang sabar itu lebih manjur," kata Sarah.
"Ya ... Ya ... Ya ...," kata Dea mengejek dengan nada di goyang-goyang.
Lalu mereka segera mengambil bahan masakan yang akan mereka masak.
"Kau bagian memotong," kata Sarah pada Dea.
"Kau sajalah bagian potong memotong. Aku akan cuci sayurannya dulu. Dan Titi, kau harus nyalakan apinya lebih gede lagi tuh. Biar cepet matang dagingnya," kata Dea sok mengatur.
"What? Kau sekarang menyuruh-nyuruh kami ya?" tanya Sarah tersinggung.
"Tidak. Kau juga barusan gitu ke aku," jawab Dea dengan santainya.
"Sudahlah, Sarah. Jangan berantem. Ayo cepetan lakuin aja. Biar kita bisa cepet beristirahat. Udah lelah nih!" kata Lyesti.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah. Karena emosi itu membuang tenaga," sahut Sarah.
"Nah, itu tahu sendiri kan?" kata Dea. Lalu dia pergi meninggalkan.
"Dasar bedebah," ucap Sarah kesal.
"Ssttt ... Kalau terdengar kakak kelas, kau akan kena hukum." Ingat Lyesti kepada Sarah.
"Huufftt ... Sabar ...," kata Sarah sambil mengusap dadanya.
Lyesti terkekeh melihat Sarah dan Dea sambil menggelengkan kepalanya sendiri.
"Ada ada saja mereka ini," gumam Lyesti pelan.
__ADS_1