
MOPD ( Masa Orientasi Peserta Didik) di laksanakan di SMA NEGERI 2. Lyesti yang sering di kenal dengan nama Titi sedang mengikuti kegiatan itu. Ia baru saja lulus dari SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan ia lanjutkan untuk bersekolah di sekolah yang ia impi-impikan selama masa SMP, yaitu SMA NEGERI 2.
Yang katanya sekolah Favorit, teladan, menarik, juga terbilang keren, bahkan katanya sekolah SMA NEGERI 2 itu sekolah paling susah untuk bisa masuk dan di terima seorang murid di sekolah itu, karena itu syang bersekolah disana adalah siswa siswi yang tak biasa.
Kalau ada orang biasa yang berhasil masuk, bukan karena nyogok atau suap. Tapi memang karena dia beruntung aja bisa masuk di sekolah sana. Karena sekolah yang terbilang paling Elite dari seluruh sekolah itu tak pernah menerima uang haram sogokan/suapan apapun dari orangtua murid yang tidak di terima di sekolah tersebut. Keren bukan? Betapa bersihnya sekolah itu.
Dan hal itulah membuat Titi tertarik dari sekolah lainnya di kota yang ia tinggali. Bahkan IQ Titi tidak begitu tinggi untuk menembus nilai di sekolah itu. Bahkan saat ia masih belajar di bangku SD atau di bangku SMP, tak pernah rankingnya masuk ke dalam 5 besar di kelas. Ia sering mendapatkan ranking 6, 7 atau bahkan ke 10. (tidak begitu pintar)
"Ayo ... Ayo ... Semuanya baris. Jangan lelet!" teriak panitia Osis kepada para siswa siswi MOPD.
Siswa siswi MOPD pun segera berbaris dengan rapi. Penampilan siswa siswi MOPD pun beragam dari mulai wanita yang di haruskan dengan rambut kuncir 2, memakai kacamata sebelah hitam dan sebelah putih, lalu tas yang terbuat dari karung, Name Tag dari daun dan tali sepatu yang berbeda warma. Berlaku juga untuk laki-laki. Namun bedanya wanita harus kuncir 2 , sedangkan laki-laki tidak.
"Rapihkan seragam kalian. Kami akan memeriksa kalian semua. Jika ada yang tertinggal atau tidak rapih, aku akan menyeret kalian ke depan sini bersama kami. Mengerti?" Jelas bicara panitia OSIS.
"MENGERTIIII ...!" teriak para siswa siswi.
Para kakak kelas yang menjadi panitia OSISpun mulai mengecek satu persatu para siswa MOPD tersebut. Siswa Siswi di SMA tersebut tidak begitu banyak memasukan murid. 1 kelas terdapat 25 orang dan untuk setiap angkatan terdapat 5 kelas, jadi 25x5 \= 125 murid yang masuk ke sekolah sana.
"Mana Name Tagmu?" tanya salah satu kakak OSIS itu kepada Lyesti yang sedang menundukan kepala.
"Tadi jatuh dan daunnya robek," jawabnya.
"Kenapa menundukan kepala?" Tanya kakak OSISnya lagi.
"Maaf, kak. Tapi a-ku ...," jawab Lyesti terpotong ketika ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah kakak OSIS yang mengajarnya.
"Titi ...." panggil seorang laki-laki berbadan tinggi, memiliki alis tebal, mata yang berwarna hazel, dan bibirnya yang tipis. Ia sang kakak ketua OSIS yang sempat memarahinya.
"Iya. Aku," sahut Lyesti.
"Kamu lolos masuk ke sekolah sini?"
"Begitulah, Dit. Lagi hoki mungkin," kata Lyesti terkekeh. Ia belum menyadari bahwa pria itu kenal satu sama lain dengannya. Sampai akhirnya ia sadar dan menatap kembali ke arahnya, bahwa pria itu memang ia kenal. "Oh, Tuhan! Dia Radit," ucapnya dalam batin.
"Tapi kamu harus ke depan sekarang," perintahnya.
"Lho kok? Tapi aku beneran bawa name tag aku. Tapi robek gara-gara desak-desakan sama orang-orang sini," jelasnya.
__ADS_1
"Pokoknya ayo ke depan. Atau ku seret?" kata Radit.
Tak dapat ia duga. Bisa-bisa Radit melakukan hal itu kepada Lyesti. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan dipertemukan kembali dengan sosok Radit.
"Aku malu," kata Lyesti berbisik.
"Bodo amat!" sahut Radit sambil menarik tangan Lyesti ke luar barisan.
"Radit, jangan!" kata Lyesti sambil menarik tangannya dari genggaman Radit.
Perkataan Lyesti pun terdengar oleh kakak OSIS yang lainnya, dan itu membuat Lyesti dalam masalah besar.
"Hey kau! Kenapa memanggil nama kakak kelas seperti itu? Tidak sopan tahu," umpat seorang wanita yang menjadi salah satu anggota OSIS di sekolah.
"Maafkan saya, kak!" kata Lyesti menundukkan kepalanya.
"Kau harus meminta maaf pada kakak kelas yang kau sudah sebutkan namanya itu dengan menangis. Kau harus menangis sekarang," ujar kakak OSIS wanita itu.
"Tapi aku tidak bisa, kak," kata Lyesti.
"Berusahalah. Aku akan menunggu," sahutnya.
Semua orang pun diam dan melihat ke arah Lyesti yang sedang berada di depan semua orang. Ia merasa sangat malu dengan hal yang yang di buat oleh kakak panitia OSIS itu. Para senior memang sering melakukan hal yang seenaknya terhadap junior. Itu sudah lumrah terjadi.
"Hukumannya aku ganti. Kau harus merayuku, lalu akan kumaafkan," kata Radit kepada Lyesti.
"Kau ...," gumam Lyesti dengan kesal.
"Ayo ... Ayo ... Ayo ...," kata Radit memberi semangat seraya bertepuk tangan dan mengajak yang lain untuk ikut berteriak.
"Ayo, jangan malu!" kata kakak panitia lainnya.
Lyesti pun memberanikan diri untuk memulai rayuannya. Walaupun ia harus menanggung malu yang sangat luar biasa.
"Ini mic nya. Bicaralah!" kata Radit sambil memberikan microfon di tangannya.
Lalu Lyesti perlahan mengambil mic tersebut dengan tangan bergetar. Ini benar-benar membuatnya sangat malu.
__ADS_1
"Hai! Maaf jika rayuanku tidak bagus. Aku tidak pandai merayu," kata Lyesti.
"Hahahahahaha ...."
Semua orang tertawa mendengar itu, membuat Lyesti semakin merasa malu. Namun ia mengumpulkan keberaniannya untuk dapat menyelesaikan hukuman yang menyebalkan itu.
"Tak ada hal yang indah melebihi hembusan nafasmu saat kau berada disini, di dekatku. Kau hiasan mataku yang bahkan akupun tak ingin berkedip untuk selalu melihatmu karena kau terlalu indah," kata Lyesti terpaksa merayu.
"Wuuuuuuu ...," teriak murid-murid.
"Witwiiiiww ...!" Beberapa orang bersiul.
"Keindahanmu akan musnah ketika kau marah dan tak memberi maaf padaku," lanjut rayuannya. Ia menatap mata Radit dalam-dalam. Pandangan mereka saling mengunci. Radit tak berkutik saat mendengar rayuannya. Tak dapat ia tahan, Lyesti langsung mengakhiri rayuannya begitu saja. "Jadi kumohon maafkan aku!" lanjutnya kembali.
"Cciiiiieeee ...!" teriak semua orang.
Mereka kembali bersiul dan tertawa senang, terhibur dengan rayuan Lyesti pada Radit di depan seluruh siswa siswi MOPD.
Lyesti memberikan microfon nya pada Radit. Lalu ia pun pergi berlari entah kemana. Karena ia tidak tahu daerah sekolah tersebut, maka ia lari tanpa tujuannya. Para senior mereka mungkin sudah keterlaluan memperlakukan hal itu padanya.
"Sang perayu pergi. Mungkin dia malu. Hahahaha," kata salah satu panitia OSIS disana.
Tak lama ia berlari, ia menemukan sebuah toilet, dan ia pun langsung membasuh wajahnya yang merah karena malu.
"Radit sialan! Dia bikin aku malu setengah nyawa. Awas saja nanti kalau sudah selesai MOPD, akan kubalas dia," gumam Lyesti pada cermin.
Seseorang keluar dari pintu kamar mandi, Lyesti terkejut karena ada seorang laki-laki yang keluar dari sana.
"Kenapa kau disini?" tanya Lyesti spontan.
"Kau yang kenapa? Ini kan toilet pria," jawabnya.
"OMG!!! Benarkah?" kata Lyesti kembali malu. Ia tiba-tiba mendadak linglung dengan kejadian yang sudah dialaminya.
"Kau tidak lihat ya tulisannya di depan? Apa kau rabun?" tanya pria itu.
"Maaf, saya salah masuk," Ia pun segera keluar dari toilet tersebut.
__ADS_1
"Bukan hoki namanya kalau kayak gini. Ini namanya hoki di atas kesialan," gumam Lyesti sambil berjalan mencari arah tempat saat dia MOS (Masa Orientasi Siswa). Rasa kesal yang ia rasakan semakin memuncak dan ia mulai muak dengan hari pertama sekolahnya itu.