Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Tetangga Baru


__ADS_3

Bel sudah berbunyi. Waktu istirahat pun telah usai. Semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing.


*Di depan kelas Lyesti.


"Aku pulang jam 2 siang. Kalau kamu?" tanya Radit pada Lyesti.


"Entahlah. Karena hari ini aku baru saja belajar," jawabnya.


"Biasanya suka cepat sih kalau baru masuk. Sebentar lagi juga pulang."


"Jadi?"


"Tadinya ingin mengantarmu pulang. Tapi kau tak perlu menungguku. Pulang saja duluan!" kata Radit.


"Oh, gitu. Yaudah gimana nanti aja," sahut Lyesti masih merasa canggung.


Tiba-tiba Sarah dan Deri datang untuk masuk ke kelasnya. Sebelum masuk ke dalam kelas, mereka melihat Radit dan Lyesti sedang mengobrol. Ia pun bertanya :


"Titi. Kenapa tidak ke kantin? Aku tunggu kamu lho!" kata Sarah pada Lyesti.


"Sorry. Aku tadi ada urusan," ujarnya.


"Permisi, kak. Saya ingin masuk ke kelas," kata Deri. Lalu ia pun berjalan masuk ke kelasnya.


Radit berpindah tempat untuk memberikan jalan kepada Deri, lalu tak lama ia pun pamit pergi menuju kelasnya.


"Kalau begitu aku nitip Lyesti ya! Sampai jumpa nanti," kata Radit sambil mencium tangan Lyesti. Dan ia pergi.


"What? Kak Radit cium tangan kamu?" Terkejutnya Sarah berbisik pada Lyesti.


"Aku juga tidak menyangka. I ... Ini memang terlalu cepat," sahutnya tak percaya.


"Gila!!! Empat hari MOPD di sekolah kau langsung menggaet Kakak Kelas? Wakil Ketua Osis lagi," kata Sarah.


"Hah? Tapi ini beneran kan?" tanya Lyesti pada Sarah seakan masih tak percaya.


"Beneranlah! Eh, tapi aku juga gak percaya lho kamu sekarang pacarnya. Apa mungkin dia cuma main-main sama kamu?"


Mendengar ucapan Sarah seperti itu, membuat Lyesti kembali berpikir lebih dalam tentang hubungan dadakan yang ia jalani bersama Radit.


"Ah ... Aku gak tahu. Pada saat tadi, aku tidak berpikir apapun. Aku langsung jadian gitu sama dia. Dia sendiri yang maksa. Katanya dia gak akan bertanya hal yang sama lagi untuk kedua kalinya. Kurasa aku tak punya pilihan untuk menolaknya," kata Lyesti datar.


"Yasudahlah! Ayo kita masuk kelas!" ajak Sarah.


"Semoga saja ini bukan main-main," harapnya.


"Aku juga berharap begitu, Ti."


Mereka pun masuk ke dalam, namun Lyetsi masih memikirkan tentang Radit. Ia memang tak banyak tahu tentangnya, tapi setidaknya Lyesti merasa bahagia atas hubungannya dengan Radit. Karena itu adalah hal yang terimpikan sedari dulu.


*Di Dalam Kelas.

__ADS_1


"Pulang nanti bareng yuk!" Ajak Deri kepada Lyesti yang sedang membereskan buku-bukunya.


"Mm ... Nggak ah!" tolaknya.


"Kenapa?"


"Takut kamu culik. Hahaha ...," sahut Lyesti bergurau.


"Ya nggak dong! Sekalian lewatlah," kata Deri.


"Awas, Ti. Modus baru!" kata Sarah ikut nimbrung.


"Ssttt ... Jangan di bilangin dong! Udah tahu beneran modus. Eh ...," kata Deri terkekeh.


"Haha ... Kalian ini. Yaudah ayo kita pulang bareng. Kebetulan aku lagi penghematan uang. Jadi gak perlu ngongkos. Hahaha ...," kata Lyesti seperti memanfaatkan keadaan.


"Yaelah!" Mereka pun tertawa satu sama lain.


Waktu telah berlalu. Kini kelas 1 IPA sudah bubar kelas. Satu persatu murid di dalam kelas pun bubar.


"Bagaimana? Mau jadi ikut?" tanya Deri.


"Ayolah! Mana bisa aku menolak suatu hal dengan gratisan. Haha ...," jawab Lyesti.


"Sialan lu, Ti." Kata Sarah.


"Kayaknya Sarah pengen gratisan juga ya! Tapi sayang, motorku tuh cukup buat dua orang," kata Deri.


"Yasudah. Kita duluan aja yuk!" kata Lyesti.


"Bye, Sarah!" pamit Deri.


"Awas lu, Der!" ancam Sarah.


"Lain kali cari gebetan yang cepet. Si Toni juga lagi nganggur tuh," bisik Deri pada Sarah.


"Sueee banget!" umpat Sarah kesal.


Dan berlalu....


Akhirnya Deri mengantarkan Lyesti untuk pulang ke rumah dengan motornya.


Di perjalanan terlihat Lyesti masih merasa canggung di antarkan oleh Deri, karena memang ia tidak begitu kenal lama dengannya. Untuk memperbaiki situasi yang masih terasa canggung, Deripun mengawali perbincangan baru dengan Lyesti.


"Rumahmu ke arah mana lagi?" tanya Deri.


"Lurus aja, nanti belok ke kanan. Ikuti arah jalanan, nanti pas udah mau nyampe aku kasih tahu letak rumahnya di mana," jawab Lyesti.


"Oh, ok! Tapi jangan kasih rute ke tempat sepi ya! Takut kamu culik," sindirnya.


"Ngapain culik kamu? Gila aja!" sahut Lyesti. Deri hanya tersenyum

__ADS_1


Setelah menuruti peta jalanan yang sudah di jelaskan oleh Lyesti, tak lama mereka berkendara, mereka pun sampai di depan rumah Lyesti.


"Oh, jadi ini rumahmu ya?" ujarnya sambil melihat penampakan rumah Lyesti.


"Sebenarnya bukan sih. Tapi ini lebih tepatnya ke rumahnya kakakku. Aku kan Yatim Piatu. Jadi hidup bersama kakakku saja," kata Lyesti.


"Oh. Sorry, Perihal itu. Pasti kau tersinggung ya?" Merasa tidak enak.


"Nggak. Biasa aja kok. Udah ah aku mau masuk duluan. Terima kasih atas tumpangannya ya!!" kata Lyesti tersenyum.


"Gak di izinin masuk nih?"


"Yaelah. Besok-besok aja deh ya. Hahaha ... Pulang sana gih!" usir Lyesti sambil bercanda.


"Di usir deh jadinya," sahut Deri.


"Ya salah lu ngarep kek gitu," ejek Lyesti.


"Yasudah deh kalau gitu aku pamit ya! Sampai jumpa besok," kata Deri. Lalu ia pun pergi.


Lyesti masih tersenyum melihat Deri. Padahal Deri sudah pergi jauh dari pandangannya. Iapun masuk ke dalam rumah.


"Ah lelahnya," kata Lyesti sambil membuka sepatunya. Lalu ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan meminumnya.


Setelah ia sudah meminumnya, ia pun duduk di meja makan untuk sejenak beristirahat. Iapun masih berpikir tentang hubungannya yang masih belum jelas bagaimana mereka bisa jadian tanpa pendekatan terlebih dulu.


"Kejadian di sekolah, Aku benar-benar tak percaya. Apakah aku benar pacaran dengan Radit?" gumamnya sendiri.


----------


Terlihat seseorang dari seberang rumah Lyesti sedang berjalan ke arah rumahnya dengan membawa sebuah parcel buah.


"Semoga tetangga baru kali ini tidak seperti tetanggaku yang lama. Semoga saja." Ucapnya.


Lalu ia mulai memencet bel rumahnya.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Lyesti yang masih berada di dapur sedang minum dengan masih memakai seragam sekolahpun langsung menyimpan gelas tersebut. Dan segera berjalan untuk membuka pintunya.


"Iya tunggu sebentar!" teriak Lyesti.


"Duh, ada tamu siang-siang gini. Siapa ya? Belum sempat ganti baju pula!" gumamnya.


Lalu ia pun langsung membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya ia melihat orang yang sedang bertamu ke rumahnya itu.


"Lyesti..."


"Ketua Osis?"


Mereka berdua menganga tanpa berkedip. Tak ia sangka bahwa yang menjadi tetangga barunya adalah David, si Ketua Osis di sekolahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2