
"Kau ...," kata Lyesti terkejut.
"Kamu terluka? Maaf! Aku tidak sengaja menabrakmu. Akan aku antar kamu ke UKS," kata David cemas melihat akan lukanya yang cukup parah.
"Tanggung jawablah. Semua ini gara-gara kau," kata Sarah yang masih marah-marah.
"Iya. Makanya aku akan membawanya ke UKS," sahut David dengan nada dingin.
"Kau pergilah. Biar aku yang pergi ke lapangan," kata Sarah.
"Jaga dia baik-baik," lanjut Sarah kepada David, lalu pergi.
Kemudian David mencoba membantu Lyesti untuk bangkit. Ia pun berdiri dengan bantuannya. Walaupun saat ini Lyesti berjalan dengan kaki sedikit pincang.
Sampailah mereka di ruangan UKS.
"Duduklah!" perintah David.
Lyesti pun duduk di ranjang. Lalu segera David mencari kotak P3K untuk mengobati luka di lutut Lyesti. Dan akhirnya ia mendapatkan kotaknya, segera ia membuka kotak P3K tersebut dan mengobati lutut Lyesti dengan Betadine dan kapas.
"Jadi, Radit siapanya kau?" tanya David tiba-tiba.
"M ... maksud kamu?"
"Kamu marah-marah kan di toilet kemarin. Aku mendengarnya lho!!!" kata David.
"Dia kakak kelas yang menyebalkan," jawab Lyesti.
"Aku sudah lihat rayuanmu padanya. Apakah itu yang membuatmu kesal?" tanyanya kembali.
"Lihat? Kamu melihatku?" kejutnya.
"Tentu saja. Aku ini Ketua Osis. Sudah pasti aku mengawasi semua kegiatannya."
"Gila!!! Malu tingkat dewa!" kata Lyesti dalam hati dan wajahnya mulai memerah.
"Kenapa kamu diam?"
"Tidak, kak. Aku kaget."
"Tak usah kaget. Anggap saja aku bukan Osis. Karena aku juga tidak suka kalau tenar di hadapan adik kelas."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Repot," jawab David singkat.
Lyesti terus memperhatikan wajah David diam-diam. Ia berpikir, ia mulai tertarik dengannya.
"Ini kakak kelas kalau di lihat-lihat ok juga sih. Tapi agak dingin juga cara bicaranya. Kayaknya dia orang yang serius. Tapi dia perhatian banget sama wanita. Kayaknya suka deh." Bicara dalam batin Lyesti. Lalu ia tersenyum sendiri.
"Sudah selesai. Sudah ku obati kau boleh melanjutkan kegiatanmu," kata David.
"Eh, iya. Terima kasih, kak. Tapi luka ini bukan salah kakak kok. Bukan kakak penyebabnya." Kata Lyesti merasa tidak enak.
"Aku sudah tahu," sahut David.
"Maafkan temanku yang sudah menyalahkanmu," ucap Lyesti malu.
"Tidak masalah. Maaf juga sudah menabrakmu."
"Lalu, kenapa kamu terburu-buru?" tanya Lyesti.
"Itu karena kerusuhan di kantin. Aku di panggil kepala sekolah," jawab David.
"Kalau gitu, kenapa tidak segera kesana? Kenapa malah mengantarku?"
"Itu salah satu tanggung jawab yang harus di lakukan. Aku tidak bisa membiarkan murid lain terluka, apalagi itu wanita," kata David.
*Kreeekkk...
Suara pintu UKS terbuka.
Serentak Lyesti dan David menoleh ke arah pintu dan itu adalah Radit.
"Ada apa?" tanya David kepada Radit.
"Kepala sekolah menanyakanmu. Kau tidak datang ke ruangannya. Dan aku mencarimu, ternyata ada salah satu murid yang melihatmu ke UKS. Ternyata kau dengan si perayu ya?" jawab Radit menggoda David.
"Dia terluka. Aku tak bisa meninggalkannya," kata David. "Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Jangan ceroboh lagi dan semoga lekas sembuh ya!" lanjut David, lalu ia pergi meninggalkan.
Lyesti yang menatap wajah Radit, begitupun dengan Radit yang menatap Lyesti, Radit pun menundukkan kepalanya untuk berhenti menatap Lyesti dan segera pergi bersama David.
*Krek....
Suara pintu UKS di tutup.
"Kenapa aku masih suka sama Radit ya?Padahal si Ketua Osis itukan sama gantengnya juga," pikirnya bergumam. "Ih apaan sih. Mikirin apa aku? Gak jelas gini. Inget ya, Ti? Masuk ke sekolah ini tuh udah susah. Jangan mikirin hal yang bisa buat kamu di D.O dari sekolah. Entar urusannya makin susah," lanjutnya lagi.
__ADS_1
--------
Waktu istirahat pun telah usai. Segera Lyesti berjalan ke arah kelasnya dengan lutut kaki yang tertutup kapas. Cara jalannya pun pelan dan agak sedikit pincang, membuatnya kembali menjadi pusat perhatian orang-orang.
Orang-orang pun berbisik-bisi membicarakan tentang dirinya. Kini ia kembali harus menanggung malu menjadi bahan perbincarangan semua murid disana.
"Hey.. Itu kan wanita yang di video itu? Si perayu maut itu lho," bisik orang-orang disana. Lalu menengok ke arah Lyesti.
Keadaan itu tetap ia hiraukan, Namun tetap saja semua perbincangan saat merayu pada hari kemarin membuat diri Lyesti risih. Bahkan saat merayu banyak kakak kelas yang nakal untuk mengabadikan masa itu dengan merekamnya lewat video.
*Di dalam Kelas.
Terlihat Lyesti sedang melamun dengan memasang raut wajah yang datar. Ia tidak fokus pada penjelasan kakak pembina di depan kelas. Yang ia pikirkan hanya rasa malu yang sudah menyebar di seluruh sekolah.
Radit, kakak kelas yang membina di kelasnya bertanya kepada Lyesti. Namun Lyesti tetap melamun dan berbicara kacau.
"Bagaimana aku menjalani kehidupan selanjutnya kalau terus seperti ini?" gumam Lyesti tanpa sadar.
"LYESTI!!!" teriak Mela, kakak kelas yang juga pembina bersama dengan Radit.
"Ah... Iya, kak? Bagaimana?" tanyanya tersadar.
"Ada apa dengan kau? Kau tidak memperhatikan kami ya?" tanya Mela.
"Maaf, kak. Pikiran saya sedikit kabur," jawab Lyesti.
"Baru aja anak baru udah ceroboh kayak gini. Gimana nanti. Kenapa sekolah ini bisa meloloskan murid sepertimu?" kata Mela pedas.
"Mela. Jangan bicara seperti itu," kata Radit.
"Maaf, kak. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Lyesti.
"Kali ini aku maafkan ya! Aku sedang berbaik hati. Tapi lain kali jangan harap," ancam Mela.
"Baik, kak. Terima kasih."
Mela dan Radit pun melanjutkan penjelasan mengenai sekolah di sini.
"Kau kenapa?" tanya Sarah berbisik.
"Aku jadi bahan bincangan di sekolah ini. Gara-gara rayuan itu," jawab Lyesti dengan jujur.
"Duh ya ampun! Biarin aja deh. Nanti juga mereka bakalan lupa kok, Ti." Kata Sarah.
__ADS_1
Lyesti terdiam dan langsung fokus mendengarkan kakak pembina di depan kelas.