
Ia menyadari bahwa akan ada seorang tamu yang akan bersinggah ke rumahnya. Ia berniat untuk merapikan rumah yang masih belum beres dan terlihat kotor. Setelah itu, ia mencari sedikit cemilan untuk di suguhkan kepada tamu yang akan datang nanti sore.
"Sebenarnya aku tak perlu melakukan hal ini. Tapi ... Yasudahlah."
Terlihat Lyesti yang sudah mempersiapkan banyak cemilan di ruang tamu, lalu ia pun kembali ke kamar untuk bersiap-siap berganti baju menyambut kedatangan Radit, kekasihnya. Walaupun ia merasa banyak kekecewaan, namun ia tetap harus mempercantik dirinya untuk Radit.
Setelah di kamar, ia masih memilih pakaian yang akan ia kenakan pada saat ini. Sampai semua baju miliknya teracak berhamburan di ranjangnya.
"Duh! Yang mana ya pakai bajunya?" tanyanya sendiri kebingungan.
"Apa yang ini? Atau yang ini?" gumamnya sambil memegang baju di kedua tangannya sambil berkaca.
Tak banyak berpikir, ia pun memilih sebuah baju yang seala kadarnya. Karena ia tak ingin banyak mikir yang hanya akan membuang waktu, jadinya ia putuskan untuk memakai baju yang menurutnya cocok dan tidak terlalu wah.
Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil dari arah luar rumah Lyesti. Lalu dengan segera ia berlari menghampiri pintu depan, ia pun melihat Radit yang perlahan keluar dari mobilnya dan berjalan ke arahnya sambil membawakan sebuah kotak kado berwarna merah nan indah.
"Hai, Dit." Sapa Lyesti senang, menutupi kekecewaannya.
"Hey. Ini untukmu," kata Radit sambil memberikan kotak kado yang ia bawa.
"Untukku?"
"Bukan. Ini untuk kakakmu."
"Lho, kok?"
"Ya ini untuk kamu lah, Sayang." Kata Radit.
"Terima kasih ya!" ujar Lyesti sambil tersenyum.
"Ayo masuk! Jangan di luar terus. Aku sudah mempersiapkan banyak cemilan untukmu," kata Lyesti.
"Aku lagi diet, Sayang." Kata Radit.
"Diet apaan? Cuma kue sama cemilan ringan doang kok. Gak bakalan bikin gendut," sahut Lyesti.
"Tapi bikin chubby," umpat Radit.
"Hmm... Sejak kapan kamu pilih-pilih makanan?" tanya Lyesti.
"Sejak kapan kamu tahu semua tentangku?" balik tanya Radit.
"Bisanya membalikan saja," umpat Lyesti.
"Baiklah. Lupakan saja."
"Apa kamu di sekolah tidak mencariku?" tanya Lyesti yang masih penasaran.
"Kenapa bertanya itu lagi?"
"Hanya ingin tahu, karena aku masih ragu bahwa aku benar-benar kekasihmu."
"Ragu kenapa?"
"Ya kamu tahu sendiri kan, bahwa kita secara tidak langsung pacaran gitu aja. Lalu setelah itu, aku bahkan tidak tahu kontakmu, rumahmu, keseharianmu dan juga kabarmu. Tiba-tiba aku sering melihat kamu bersama Mela pegangan tangan, berpelukkan, sampai mungkin kamu lupa padaku. Kamu lupa bahwa aku pacarmu," jelas Lyesti merasa risih dan marah akan hal itu.
"Kamu cemburu?"
"Tentu saja. Eh, mm ... Maksudku bukan begitu. Tapi kan sekarang kita pacaran. Lebih baik jika kita saling terbuka satu sama lain."
"Kamu benar cemburu?" tanya Radit menggoda.
"Radit. Aku serius."
"Aku juga."
"Kamu itu sukanya menggoda. Wajar saja jika yng jadi korban bukan aku saja," umpat Lyesti.
"Aku tidak menggoda."
__ADS_1
"Sudah jelas menggoda, masih mengelak!" kata Lyesti kesal.
"Jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang lho! Kan sudah capek-capek dandan sampe acak-acakin pakaian," kata Radit.
"Hah? Kok kamu tahu?" tanya Lyesti terkejut.
"Aduh, keceplosan deh!" kata Lyesti dalam hati.
"Benerkan? Karena semua wanita emang suka kayak gitu kalo ketemu aku," jawab Radit.
"Semua wanita? OMG! Kayaknya aku pacar Radit yang paling bodoh deh. Jadi minder sendiri. ngapain deh Lyesti!" ujar Lyesti dalam hati merasa sangat malu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi.
Ting... Tong...
Segera Lyesti membukakan pintu rumahnya. Iapun terkejut melihat tamu yang datang ke rumahnya.
"Lyesti, cantik sekali kamu," puji David.
"Ah, David. Aku hampir lupa bahwa kau mau ke rumah hari ini," sahut Lyesti tak sadar akan kedatangan David yang hendak menjenguknya.
"Lupa? Terus kenapa kau berpakaian seperti itu? Bukannya kau sakit?" tanya David heran.
Kemudian, tiba-tiba Radit datang menghampiri Lyesti.
"Siapa, sayang?" tanya Radit. Radit pun terkejut melihat David yang bertamu ke rumah Lyesti.
"Radit? Sedang apa kamu di sini?" tanya David kebingungan dan panik melihat Radit berada di rumah Lyesti.
"David, kamu juga kenapa ada di sini?" Malah balik tanya.
"Aku ... Aku tinggal di seberang rumah sana," jawab David.
"Oh, pantesan kau banyak ijin sekolah. Gara-gara pindahan ya!" ujar Radit.
"Iya. Kalau begitu aku akan pulang. Sepertinya aku mengganggu waktu kalian," kata David.
David pun terpaksa masuk ke dalam rumah Lyesti beserta Raditya. Suasana yang canggung ketika Radit, David dan Lyesti duduk saling berhadapan yang membuat mereka merasa begitu canggung dan kaku.
"Ini untukmu. Kelihatannya kau sudah sehat ya!" kata David.
"Aku merepotkanmu lagi. Sekarang udah agak mendingan kok," sahut Lyesti merasa malu.
"Memangnya kau sakit?" yanya Radit.
"Nggak sih, cuma fluenza aja," jawab Lyesti.
"Jadi kalian berdua pacaran?" tanya David.
"Bener banget. Kami sudah pacaran sejak 3 hari yang lalu sih," jawab Radit.
"Maaf aku tidak memberitahumu," sahut Lyesti kepada David merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok. Santai saja. Itu kan hak kalian, semoga kalian langgeng aja. Dan kamu harus hati-hati, Les! Radit itu playboy lho! Banyak ceweknya," kata David menggoda, menahan cemburu.
"Udah kelihatan sih, Dav. Tapi ya bagaimana lagi?" sahut Lyesti.
"Sembarangan. Enak aja. Walaupun aku sering ganti-ganti cewek, tapi kan tetep setia!" sahut Radit.
"Sulit di percaya," kata David sambil menggelengkan kepalanya.
"Yaudah deh! Aku pulang dulu ya! Lain kali aku akan mampir lagi," kata David. Lalu ia pun pergi.
"Eh, makasih lho buahnya," kata Lyesti.
"Jangan khawatir!" sahut David sambil tersenyum dan iapun pergi meninggalkan.
"Dia pindah kesini udah lama?" tanya Radit.
__ADS_1
"Nggak baru 2 atau 3 harian gitu," jawab Lyesti.
"Oh, nanti besok aku jemput ya!"
"Kemana?"
"Kehatimu ...," kata Radit terkekeh.
"Ih, dasar penggoda."
"Gak apa-apa, kamu 'kan udah jadi perayu nya." Sahut Radit.
"Ih, nyebelin deh!" Suasana hati Lyesti mulai kembali membaik, ia merasa bahagia bisa bersenda gurau dengan Radit.
"Haha ... Tapi aku suka puisimu. Aku juga suka suaramu saat bernyanyi," kata Radit.
"Kamu mulai menggodaku lagi ya?"
"Aku seriusan."
"Kalo gitu, makasih deh!" Lyesti tersenyum bahagia.
Radit mulai mendekati Lyesti, lalu ia memegang tangan Lyesti. Lyesti mulai grogi, jantungnya mulai berdetak dengan kencang. Wajahnyapun kini mulai memerah akibat malu.
"Apa kamu suka?" Sambil terus mendekati.
"Radit, ada apa?" tanya Lyesti gugup.
"Kamu sangat cantik," jawab Radit. Lalu secara perlahan Radit mulai mendekatkan dirinya lagi, sampai akhirnya semakin dekat.
"Radit ... Kenapa?" tanya Lyesti mulai takut.
"Jangan takut!" jawabnya.
Pada akhirnya, Radit mulai mencium bibir Lyesti. Dan.....
"Hey!" panggil Radit. Spontan Lyesti terkejut.
"Ah, iya ada apa?"
"Kenapa melamun saja? Aku bertanya padamu lho!" kata Radit yang melihat Lyesti melamun sendiri.
"Bertanya apa? Maaf pikiranku jadi kabur begini," ujar Lyesti semakin mali karena pikirannya jorok.
"Lagi mikirin apa kamu?" tanya Radit.
"Nggak mikir apa-apa kok," jawab Lyesti dengan wajah semakin memerah.
"Ah, jangan-jangan mesum ya?" tanya Radit.
"Ih, apaan sih? Kau ini ya!" umpat Lyesti sambil memukul badan Radit.
"Aduh, aw ... Hentikan ... Hentikan!" kata Radit.
"Nggak mau!"
Tak lama kemudian, Radit menghentikan Lyesti dengan menariknya sampai Lyesti terjatuh di pangkuannya. Mereka saling menatap dengan jarak wajah yang sangat dekat. Seakan-akan mereka ingin berciuman, namun tiba-tiba....
"Wleeee ...." Radit menjulurkan lidahnya ke hidung Lyesti, membuat hidung Lyesti basah karena jilatan lidah dari Radit.
"Ih, jorok!" Spontan Lyesti menghindar sambil mengusap-usap hidungnya.
"Hahahahaha ... Wajahmu lucu!" kata Radit.
"Gak lucu!" Umpat Lyesti kesal.
"Hahaha ...." Radit tak berhenti tertawa.
"Menyebalkan!" gumam Lyesti.
__ADS_1
Akhirnya Radit memperlihatkan batang hidungnya kepada Lyesti. Namun Lyesti masih bingung dan kurang percaya dengan apa yang ia ucapkan padanta. Ia masih merada diambang kebimbangan dengan hubungan itu. Akankah harus melanjutkan? Atau harus berhenti begitu saja?