Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Kenalan


__ADS_3

"Lyesti...."


"Ketua Osis?"


Mereka berdua terkejut melihat satu sama lain yang ternyata mereka saling mengenal sejak beberapa hari yang lalu. Lyesti merasa terkejut dengan kedatangannya, ia merasa canggung, malu dan senang akan kedatangannya.


"Si.... Silakan masuk!" kata Lyesti gagap. Lalu David masuk ke dalam rumah Lyesti tanpa keraguan. Ia pun mempersilakan David duduk di sofanya. Setelah ia duduk, ia lekas memberikan buah tangan tersebut kepada Lyesti.


"Ini untuk kamu dan keluargamu. Sebagai sapaan dari tetangga baru," kata David. Dengan malu-malu Lyesti pun mengambil buah mata yang di berikan olehnya.


"Ah, terima kasih. Tadinya aku dan kakakku yang akan menyapa tetangga baru, tapi ternyata kamu yang menyapa duluan. Jadi ...," sahut Lyesti salah tingkah.


"Kamu tahu ada orang pindahan?" simak David.


"Iya, karena aku sering melihat pemandangan dengan teropong," jawab Lyesti keceplosan.


"Apa kamu mengintip orang-orang di sekitar rumahmu dengan teropong?"


"Hah? Tidak. Tidak. Aku tidak pernah mengintip siapa pun," Elaknya dengan pipi yang mulai memerah.


"Haha ... Baiklah. Lupakan, dan kenalkan! Namaku David. Bukan Ketua Osis," ujar David.


"Oh, iya. Maaf. Karena aku lupa nama kakak pas di sekolah. Jadi yang aku ingat hanyalah kamu sebagai Ketua Osis."


"Ah tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu."


"Aku juga, kak. Tidak sangka aku akan bertetangga dengan Kakak sekarang. Rasanya agak canggung dan masih bingung juga, entah kenapa?!" ujar Lyesti gak jelas.


"Jangan panggil aku kakak, Panggil namaku David. Jangan canggung begitu, anggap saja kita sudah kenal lama," kata David.


"Ah, tapi aku tetap canggung," sahut Lyesti dengan mengepal kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya.


"Tak perlu canggung seperti itu."


"Baiklah kalau maunya seperti itu. Akan aku usahakan," kata David.


"Oh iya. Aku tertarik dengan suaramu. Dan aku sering main di sebuah cafe. Aku bermain akustik dan kekurangan vokal. Aku ingin kau menjadi vokalku," ajak David menawarkannya.


"Oh, No! Ini bukan penipuan kan?" tanya Lyesti.


"Apa aku memiliki wajah penipu?"

__ADS_1


"Mm ... Maaf! Tapi aku agak sulit percaya. Karena hari ini banyak hal yang terjadi secara dadakan dan aku masih seperti terus mencari helaan napas saat ini," jujurnya.


"Kamu benar. Ini terlalu cepat. Kita baru saja berkenalan dan aku sudah mengajakmu untuk bergabung denganku. Nanti kamu malah anggap aku psyko," ujar David terkekeh.


"Eh, bukan begitu!" kata Lyesti sambil mengoyangkan tangannya.


"Hehe ... Kalau begitu aku pamit dulu ya!" Lanjut David dan mulai berdiri dari sofa.


"Iya, silakan. Sampai jumpa!" sahutnya melambaikan tangan.


"Oh, iya. Jika kamu tidak keberatan, besok pagi aku akan mulai kembali ke sekolah. Aku menawarkanmu tumpangan," kata David, membuat jantung Lyesti semakin berdebar.


"Ah. Itu terlalu merepotkan. Tapi syukurlah kau manawariku, karena aku bisa hemat uang jajanku," sahut Lyesti dengan polosnya.


"Kamu sangat jujur. Aku menyukainya. Sampai jumpa!" ujar David. Lalu ia pun pergi dari rumah Lyesti dengan senyuman manis.


Setelah David pergi, Lyesti menutup pintu rumahnya. Ia berjalan secara perlahan menuju kamarnya.


"Gak nyangka banget. Ternyata David si ketua osis itu yang baru pindah kesini? Bener-bener hoki banget ya! Gak nyangka kalau hidupku sekarang bisa sehoki ini!" gumamnya senyam-senyum sendiri.


Lalu ia berlari ke arah kamarnya untuk mandi dan setelahnya segera berganti baju.


Malam pun tiba. Terlihat Lyesti sedang berada di balkon dengan teropongnya dan ia berniat melihat ke arah seberang secara diam-diam. Bahkan dengan teropongnya ia dapat melihat ke dalam jendela rumah yang sedang ia lihat.


"Uuuhh ... Kayaknya ketua osis itu kekar ya! Jadi pengen pegang lengannya yang besar itu!" gumamnya sendiri.


"Siapa yang ingin kamu pegang lengannya yang besar itu?" tanya kakaknya tiba-tiba yang masuk ke dalam kamar Lyesti tanpa mengetuk pintu, membuat Lyesti kaget setengah mati dan spontan menjauh dari teropongnya.


"Kakak. Kamu tidak sopan masuk ke kamar orang sembarangan," kagetnya.


"Pintu kamarnya terbuka. Salah siapa tidak di tutup."


"Tapi setidaknya kan bisa di ketuk dulu gitu walaupun pintunya terbuka juga. Kakak nih!" umpat Lyesti kesal.


"Kamu jangan mengintip tetangga baru itu. Nanti mereka risih lho di mata-matai bocah bocil sepertimu!" kata Harry, kakaknya.


"Aku tidak mengintipnya. Kamu salah paham. Aku hanya melihat keadaan di sekitar. Ya siapa tahu ada tukang nasi goreng, seblak, atau cilor yang lewat. Soalnya kan aku pengen ngemil juga." Lyesti beralasan.


"Alasanmu masuk akal. Tapi kakak sangat tahu apa yang sekarang ini ada di pikiranmu. Jadi kau jangan mengelak," kata Harry sambil mengacak-acak rambut Lyesti.


"Iya. Iya. Aku sedang melihatnya. Tapi aku susah tahu orang yang tinggal di sana itu siapa."

__ADS_1


"Siapa memangnya?"


"Ketua osis di sekolahku. Kebetulan sekali dia sekarang jadi tetanggaku dan ia menawarkan tumpangan padaku besok."


"Baguslah! Jadi aku tak perlu memberi uang lebih padamu."


"Lho kok seperti itu? Tidak bisa dong! Uang lebih harus kakak kasih ke aku. Jangan pelit kayak gitu, kak." Umpat Lyesti.


"Iya ... Iya ... Kamu jangan bawel. Dan kamu harus fokus untuk belajar, ok! Jangan mikirin pacaran atau hal-hal yang membuat terganggunya pelajaran di sekolah. Kau harus ingat kalau kau sekolah yang elite sekarang. Aku tidak ingin menyia-nyiakan uangku di sekolah sana kalau kau tidak serius belajar." Harry menasehati.


"Iya, kak. Aku tahu. Aku juga sekarang akan berusaha lebih giat lagi."


"Baguslah! Dan sekarang cepatlah tidur. jangan mengintip tetangga baru itu. Nanti kamu malah naksir padanya."


"Kakak ... Sana-sana pergi! Jangan ganggu aku di sini." Kata Lyesti sambil mendorong Harry keluar kamarnya.


"Iya ... Iya ... Tak perlu dorong-dorong kayak gini kan! Malu ya udah ketahuan. Hahahaha ...," goda Harry.


"Bodo amat!" sahut Lyesti.


Kemudian Harry pun keluar dari kamarnya Lyesti. Ia menutup pintu kamarnya dan segera mengunci kamarnya.


"Kakak nih! Bikin malu aja!" gumamnya merasa malu.


"Eh, Sekarang kan aku pacarnya Radit ya? Tapi kok dia gak telepon atau kabari aku ya?" gumamnya bertanya-tanya merasa heran.


"Eh, tapi kan emang belum pernah tukeran nomer ya! Kok kayak yang bodoh gitu ya aku!" Lanjutnya bergumam tak kepikiran.


"Ih, beneran bodoh! Kenapa bisa terjadi hal seperti ini sih? Dasar bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh, super duper bodoh!"


Lalu Lyesti pun tak memikirkannya lagi. Iapun melanjutkan melihat pemandangan dari teropongannya ke arah jendela rumah David.


"Kok gorden kamarnya udah di tutup sih? Yah ... Gara-gara kakak nih ganggu tadi, jadi terlewatkan deh," umpat Lyesti kesal. Kemudian ia pun masuk ke kamar dan menutup pintu balkonnya.


*******


Lho? Kok bisa disebut pacaran tapi gak punya nomor ponselnya? Jangan-jangan Radit modus nih!


Kalian pilih Team mana nih?


Lyesti-David apa Lyesti-Radit?

__ADS_1


Komen ya! 😁😁


__ADS_2