
Bel pun berbunyi. Masa MOPD sudah selesai dan semua murid bersiap untuk pulang.
"Periksa lagi barang-barang kalian. Harus teliti ya! Jangan sampai ada yang tertinggal." Kata Radit kepada murid di kelasnya.
"Sampai jumpa besok di perkemahan ya! Ambil makanan secukupnya, bawa baju ganti juga ya. Jangan lupa peralatan mandi wajib di bawa," tambah Mela sembari membereskan barang-barang miliknya.
"Kamu akan keluar sekarang, Mel?" Tanya Radit.
"Ya. Aku keluar duluan ya, Dit. Ada janji sama Guru BP di kantornya. Katanya ada kasus penting, jadi harus buru-buru gitu," ucap Mela bicara pada Radit.
"Iya silakan. Aku tunggu kau nanti di parkiran." Kata Radit.
"Thanks ya!" Mela pun pergi dari kelas meninggalkan.
Secara perlahan, murid keluar dari kelas. Tersisa Sarah dan Lyesti yang masih merapikan barang-barangnya di atas meja.
"Aku duluan ya, Ti. Udah beres nih. Lagian aku lagi di tunggu seseorang di parkiran," kata Sarah melangkah pergi.
"Oh iya. Kau duluan saja," sahut Lyesti tersenyum.
"Bye, Ti ... Sampai jumpa besok." Sarah melambaikan tangan. Lalu Lyesti membalasnya dengan senyuman.
Tinggal Radit dan Lyesti yang tersisa di kelas. Raditpun mendekatkan diri kepada Lyesti.
"Apakah masih ada yang tertinggal?" tanya Radit kepada Lyesti.
Membuat hati Lyesti kembali berdebar dengan kencang dan ia mulai salah tingkah.
"T ... tidak," jawabnya gagap.
Lyesti sudah selesai membereskan barangnya. Ia menatap ke arah Radit dengan tajam.
"Apa kau masih menunggu sesuatu?" Kembalinya ia bertanya.
"Kamu ingin tahu?" tanya balik.
"Tentu saja." Jawab Radit.
__ADS_1
"Hanya sekeping rasa yang tertinggal," kata Lyesti. Kemudian Lyesti pergi tanpa pamit apapun kepada Radit. Radit hanya melihat Lyesti yang pergi begitu saja meninggalkannya di kelas.
"Lyesti bodoh! Kenapa harus bicara seperti itu kepadanya? Bisa bisa harga diriku bubar jalan nantinya," gerutunya di jalan.
Saat berjalan menuju gerbang, Lyesti bertemu dengan David yang sedang mengobrol dengan Pak Satpam yang terlihat begitu antusias.
"Ketua Osis? Ngapain sih ada disana? Kan canggung kalo mau lewat gerbang. Gimana pulang nih? Masa balik lagi," gumamnya sendiri merasa canggung akan bertemu.
Perlahan Lyesti berjalan dan pura-pura tidak melihat mereka, iapun berusaha untuk lolos melewati gerbang itu.
"Jangan melihatku ... Jangan melihatku ... Jangan melihatku ...," ucapnya dalam hati berharap tidak terlihat. Namun sayang, ternyata David melihat Lyesti yang sedang berjalan.
"Hei, sang perayu!" sapa David tiba-tiba. Membuat Lyesti terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ooppss ... Sialnya!" ucapnya dalam hati. Lalu Lyesti hanya menebar senyuman yang tanggung kepada David. Membuat senyumannya terlihat aneh.
"Kau telat keluar ya? Semua murid sudah pada pulang," kata David.
"Ini nona yang di video itu kan?" tanya Pak Satpam mengingat-ingat.
"Lebih cantikan aslinya ya di bandingkan di video. Tapi rayuannya bagus juga," kata Pak Satpam.
"Hehe ... Terima kasih," kata Lyesti sambil tersenyum malu.
"Bagaimana kakimu?" tanya David.
"Mendingan kok, kak." Jawab Lyesti berharap untuk di antar pulang oleh sang Ketua Osisnya.
"Lain kali kalau ada kerusuhan ngehindar aja."
"Baik, kak"
"Kalau gitu saya duluan ya, Pak." Kata David pada Pak Satpam.
"Aku duluan ya!" lanjut David pada Lyesti.
Davidpun pergi dengan motornya meninggalkan Lyesti dan Pak Satpam disana.
__ADS_1
"Saya juga, Pak. Permisi ...," pamit Lyesti.
"Iya silakan. Hati-hati!" ujar Pak Satpam.
Ia kembali melangkah.
"Aku kira bakalan di ajak pulang bareng sama si Ketua Osis itu. Ternyata cuma nanya gitu doang." Gumam Lyesti kesal sendiri.
"Haduuuh ... Mikir apa sih? Berharap banget deh di anterin cogan (cowok ganteng) pake motor gede kaya si Ketua Osis itu. Apalagi dia murid paling teladan dan terpandang. Ngekhayal jauh banget sih," gumamnya lagi.
"Bodo ah!! Gak mau pikirin. Kayaknya bahaya juga kalau ketemu sama dia. Kayak langsung tersihir gitu mata dan bathinku sama wajahnya," kata Lyesti bicara sendiri sambil berjalan.
Angkutan umumpun tiba. Lalu iapun naik ke dalam angkutan umum tersebut.
Setelah ia menaiki 2 angkutan umum, iapun sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, ia masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatu terlebih dahulu. Ia langsung berlari menuju arah kamarnya.
"Hey! Buka dulu sepatumu," teriak kakak Lyesti.
Namun Lyesti terus berlari ke lantai atas.
"Nanti saja, Kak. Aku sangat lelah dan frustasi," sahut Lyesti.
"Banyak alasan sekali kau ya!" umpat Kakaknya. Lyesti tak menghiraukannya.
*Di dalam kamar Lyesti tercinta.
Ia langsung berbaring di tempat tidurnya, melepaskan rasa lelah dan penat di hatinya.
"Ini adalah hal yang terburuk yang harus di lewati. Tiba-tiba aku plin-plan sama rasaku. Ketemu cinta pertama lagi di sekolah tiap hari. Terus ada penggatinya, namun tak peka. Bukan gak peka sih, tepatnya emang aku gak kenal dia aja," gumam Lyesti. (Doeng!!)
"Tidur dulu aja lah! Nanti beres-beres buat kemah," lanjutnya bergumam. Ia pun memejamkan matanya.
"Eh, tunggu! Mending mandi aja dulu deh. Terus nyiapin dikit buat besok. Setelah itu tidur," gumamnya lagi.
Lalu ia pun langsung bergegas pergi mandi.
__ADS_1