Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Sehari Bersamamu


__ADS_3

David berniat untuk pergi ke sebuah Mall setelah dari restoran. Walaupun ia sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa, sedangkan Lyesti masih memakai seragam sekolah, namun Lyesti tidak malu untuk berjalan berdampingan dengannya.


"Apa kau ingin berganti pakaian terlebih dulu?" tanya David kepada Lyesti.


"Kayaknya nggak deh. Gak apa-apa kok pakai seragam juga. Kebetulan kalau aku udah ke rumah, pengennya langsung tidur. Hehehe ...," jawab Lyesti.


"Baiklah! Ayo kita pergi Mall!" ajaknya. Lalu Lyesti dengan senangnya menganggukkan kepala, berkata iya secara tidak langsung.


Mereka pun lekas bergegas pergi menuju Mall.


----------


Setelah 30 menit dalam perjalanan, mereka pun sampai di Mall yang mereka tuju.


"Ayo kita kesana dulu!" kata David mengajak Lyesti ke sebuah toko pakaian.


"Kenapa ke sini?" tanya Lyesti.


"Kamu carilah baju ganti. Jangan memakai seragam sekolah seperti itu," jawab David menarik tangannya.


"Eh, tapi aku kan gak ada uang."


"Biar aku yang bayar," sahut David.


"Eh, nggak. Jangan! Aku gak mau ah," kata Lyesti.


"Gak apa-apa. Ayo sana pilih sendiri. Atau mau di pilihin sama aku?"


"Ih nggak ah. Nggak mau. Jangan beli ah."


"Gak apa-apa, beneran."


"Iya kamu yang nggak apa-apa. Tapi aku yang ada apa-apa," kata Lyesti.


"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu lagi." Ujar David.


"Nah gitu dong! Eh, kita kesana yuk!" Ajak Lyesti saat melihat Photo Box di sana untuk mengalihkan pembicaraan tentang membeli pakaian ganti.


"Apa ini? Kamu akan berphoto?"


"Iya. Ayo kita berfoto!" ajak Lyesti.


"Aku malu, Les."


"Panggil aja Titi. Dan gak usah ngeles ya! Hehe ... Ayo masuk ah!" paksa Lyesti menarik tangannya balik.


"Kalau ingat, aku akan panggil dengan nama itu," sahutnya. Lyesti hanya menatap tajam seraya memasang raut wajah yang cemberut pada David.


Kemudian Lyesti pun masuk ke dalam dengan menarik tangan David secara paksa.


Mereka pun mulai berfoto bersama, dengan gaya yang berbeda-beda.


"Hey! Lihat! Kamu terlihat takut?" kata Lyesti memperhatikan wajah David dari monitor yang ada di depannya.


"Ti ... Tidak begitu. Aku tidak ketakutan," sahut David mengelak. Terlihat sangat jelas David memang canggung dengan dan gugup jika harus berada di samping Lyesti yang benar-benar sangat dekat.


"Masa sih? Kamu jangan grogi seperti itu. Nanti hasilnya jelek lhooo!" ujar Lyesti.


Dengan perasaan canggung, Mereka pun melanjutkan untuk berfoto bersama kembali. Dan setelah selesai, merekapun melihat hasilnya.


"Waaaahh ... Lucu sekali kamu!" kata Lyesti.


"Itu jelek, Ti." Sahut David.


"Gak apa-apa. Kamu tampan lho! Coba lihat!" sambil menunjukkan salah satu potret yang ada di sana.


Lyesti memperlihatkan ekspresi wajah David yang terlihat kaku saat di foto tadi pada dirinya.


"Tuh kan lucu!" kata Lyesti terkekeh.

__ADS_1


"Ah jelek! Sini ah fotonya. Biar aku yang simpan!" kata David sambil merebutnya dari tangan Lyesti.


"Eh, kenapa?" tanya Lyesti.


"Menghindari pembullyan," jawabnya singkat.


"Memangnya siapa yang akan mem-bullymu?"


"Kamu!"


"Excusme? Kamu menuduhku?"


"Tidak. Lupakanlah! Ayo pergi dari sini!" ajak David dengan menarik tangan Lyesti.


"Eh, kamu tidak menjawab pertanyaanku," umpat Lyesti. David pun menghiraukannya seraya menarik tangannya pergi.


Kemudian, mereka pergi ke foodcourt. Lalu mereka mencari kedai ice cream, setelah menemukan kedainya mereka pun memesan dua buah ice cream yang sama.


"Bentar, aku mau foto dulu!" kata Lyesti. Lalu ia memotonya dan langsung update di Instagramnya.


"Kamu update?" tanya David.


"Sebentar kok, Cuma ini aja!" jawab Lyesti.


"Kayaknya foto kita tadi gak akan aku berikan padamu," kata David curiga.


"Kenapa? Kok gitu?"


"Nanti kamu malah upload fotonya. Dan aku gak mau itu terjadi," kata David.


"Yah, ketahuan duluan deh!"


"Tuh kan! Bener firasatku," ujar David. Lyesti hanya tersenyum melihat David.


Sambil berjalan, ia menikmati Ice Cream di tangannya sampai habis. Kemudian, mereka berdua pun pergi keluar dari Mall untuk pergi pulang.


"Apa kita pulang sekarang?" tanya Lyesti.


Mendengar David ingin pulang, Lyesti merasa kecewa. Karena ia masih ingin bersama dengan David seharian ini, namun apalah daya. Karena waktu tidak memungkinkan yang harus memisahkan mereka.


"Yaudah, kayaknya mendung juga," sahut Lyesti melihat ke atas langit.


Mereka pun langsung pergi untuk bergegas pulang.


Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba saja motor yang di kendarai David pun berhenti akibat mogok.


"Kenapa?" tanya Lyesti.


"Kayaknya mogok deh!" jawab David.


Lalu Lyesti turun dari motor David.


"Coba kamu lihat bensinnya. Masih ada apa nggak?"


"Oh iya, hari ini aku belum cek bensinnya," sahut David. Lalu ia melihat isi bensin motornya. Dan ternyata motor David kehabisan bahan bakar.


"Bagaimana?" Tltanya Lyesti.


"Kamu benar, bensinnya habis!" jawab David kebingungan.


"Tuh, kan! aku pikir jalan-jalan ini ide buruk."


"Maafkan aku, Lyesti. Aku yang ceroboh karena tidak melihatnya," kata David.


"Yasudah, harus berbuat apa lagi. Kita jalan kaki saja yuk!"


"Sebentar, aku akan menelepon ke bengkel agar mereka membawa motorku. Menghindari pencurian kendaraan. Karena sekarang banyak sekali pencuri-pencuri yang cerdas," kata David.


"Seperti halnya dirimu. Yang mencuri pandangan dan hatiku," kata Lyesti polos.

__ADS_1


"Hah? Maksud kamu?" tanya David tak sengaja mendengar ucapan Lyesti.


"Ah nggak. Maaf aku bergurau. Hahahaha ...,," kata Lyesti.


"Kamu ini!" David langsung menelepon seseorang yang bekerja di bengkel agar mengambil motornya yang mogok, kemudian iapun mengajak Lyesti untuk berjalan kaki.


"Maaf ya, kamu jadi berjalan kaki begini." Kata David merasa tidak enak.


"Ah, nggak apa-apa. Tenang aja, aku sering jalan kaki kok dari rumah ke jalan raya buat nyari angkutan umum," sahut Lyesti tenang.


"Apa kamu tidak memiliki kendaraan?"


"Darimana aku bisa dapat kendaraan, aku kan anak sekolah. Gak kayak kamu yang punya pekerjaan di restoran," kata Lyesti menyindir.


"Mm ... Maaf aku menyinggungmu. Kayaknya aku terlalu banyak bicara ya hari ini," ujar David.


"Kamu jangan sensitif gitu. Aku gak apa-apa kok, gak tersinggung juga. Jadi kau tenang saja," kata Lyesti.


Tak lama kemudian, tiba-tiba hujan pun turun. Dan hujan turun begitu sangat derasnya.


"Hujan! Ayo lari!" jata David sambil menarik tangannya Lyesti seraya berlari mencari tempat untuk berteduh.


"Ini udah basah, percuma lari juga. Aku suka hujan lho! Ayo main hujan sebentar!" kata Lyesti.


"Sebentar lagi nyampe, Les. Itu ada rumah, kita akan berteduh di luarnya. Jangan main hujan ah!" teriak David karena hujan yang deras sulit untuk Lyesti bisa dengarkan.


"Baiklah! Tunggu!" balasnya.


Kemudian, mereka pun sampai di rumah itu untuk berteduh sejenak. Sesampainya di sana Lyesti malah tertawa terbahak-bahak sendirian.


"Hahahaha ...."


"Kamu kenapa tertawa?" tanya David.


"Lucu aja! Padahal kan kita udah basah kuyup gini, kenapa harus terus lari gitu? Kan lucu! Haha ...."


"Euh, kamu ini aneh!" Sahut David.


"Kau yang aneh. Hahaha ...." Lyesti masih belum bisa berhenti tertawa. Sampai akhirnya, ia merasa kedinginan dan tubuhnya mulai menggigil.


David yang melihat tubuh Lyesti menggigilpun mendekatkan dirinya. Lalu David memberanikan dirinya untuk memegang tangan Lyesti.


"Maaf, aku pegang tanganmu sebentar. Agar kamu merasa hangat," kata David pada Lyesti. Lalu Lyesti memberikan tangannya.


Lyesti pun terdiam menatap wajah David. Ia merasakan debaran jantungnya meningkat dan wajahnya pun mulai memerah. Lalu David yang sedang memegang tangan Lyesti pun menampar telapak tangannya dengan keras sampai telapak tangannya memerah.


*Plaaaakk...


"Ah ... Kenapa tanganku di tampar?" tanya Lyesti kesakitan


"Agar tanganmu hangat. Aku lihat kau menggigil. Karena saat aku di Osis, jika kita mereasa kedinginan maka kita wajib menampar telapak tangan dengan teman yang berada di dekat kita," jawab David. Lyestipun memasang wajah cemberut.


"Aku pikir dia akan memegang tanganku dengan lama, lalu setelah itu memeluk tubuhku agar tubuhku tetap hangat. Tapi ternyata ...." Harap Lyesti di dalam hati merasa kecewa.


"Oh, gitu ya. Aku baru saja tahu," kata Lyesti kepada David tersenyum malas.


(Zonk!)


David masih menatap wajah Lyesti, terlihat tubuhnya tetap menggigil kedinginan. Ia merasa bahwa dirinya memang benar-benar kedinginan. Kemudian ia kembali memegangi tangan Lyesti dan perlahan kedua tangannya di dekat kan ke arah bibir David. David pun mencium kedua tangan Lyesti seraya meniupnya, memberikan udara hangat dari sisa suhu di badannya.


"Apa masih dingin?" tanya David.


"Hangat," jawabnya singat.


Sejenak David menatap. Rasanya ia ingin memeluk Lyesti begitu saja, namun ia merasa bahwa sebuah pelukan akan memperlihatkan sikap kurang ajar dirinya kepada seorang wanita. Sampai akhirnya, ia hanya terus menatap Lyesti dalam dan memberikan udara kehangatan dari mulutnya lewat tangan Lyesti.


******


Raditnya kemana ya? Kok belum muncul juga! 😁 Nanti keburu di ambil David nih.

__ADS_1


Apa jangan-jangan Lyesti bakalan jadian sama David ya? Soalnya udah nyaman tuh!


Baca lagi aja yuk!


__ADS_2