
Keesokan harinya.
Setelah hari kemarin dan beberapa hari yang lalu sudah melaksanakan MOPD sampai kemah di sekolah, membuat Lyesti lelah dan ingin terus beristirahat di rumah sehari lagi. Namun ia tahu bahwa ia tak mungkin di ijinkan oleh kakaknya, dengan terpaksa ia harus kembali berangkat ke sekolah tersebut.
"Kak, izinkan aku bolos sehari ini aja ya?" Pintanya ingin bermalas-malas di rumah.
"Tidak! Kamu harus pergi," tegas sang kakak.
"Tapi hari ini gak mungkin belajar."
"Maka dari itu kau harus tetap ke sekolah," jawab Kakaknya tegas.
"Aiiih ... Kakak nih," kata Lyesti mengumpat.
"Yaudah deh! Aku berangkat aja. Anterin dong!" lanjut Lyesti dengan terpaksa.
"Nggak! Kakak sibuk mau pergi ke kantor buru-buru. Lagian kantor kakak sama sekolah kamu beda jalurnya," kata Kakaknya Lyesti.
Eh, ngomong-ngomong kita belum tahu nama dari kakaknya Lyesti siapa. Dan nama kakaknya Lyesti adalah Harry.
#Lanjut Cerita...
Terpaksa Lyesti berangkat ke sekolah sendirian. Ia mulai melangkah berjalan keluar. Lalu tanpa sengaja ia melihat tetangga barunya yang dari seberang jalan mengendarai kendaraan motor gede itu. Tetapi sayangnya ia tidak melihat wajah seseorang itu secara jelas.
"I ... Itukan ...," kata Lyesti terpotong setelah melihat tanpa sengaja ke arah tetangga baru itu, lalu ia berusaha berjalan cepat mencoba untuk melihatnya lebih jelas lagi.
Dan sayangnya ia tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas. Karena seseorang yang mengendarai motor itu sudah pergi jauh.
"Yah ... Yah ... Yah ... Telat deh!!" gumamnya sendiri terengah-engah.
Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera pergi berangkat ke sekolah dan seketika melupakan rasa penasarannya terhadap tetangga barunya itu.
*Di Sekolah.
Terlihat Lyesti sedang menuliskan jadwal pelajarannya di buku. Lalu, tiba-tiba salah satu temannya datang mengganggu.
"Hey, Ti. Ayo ke kantin!" ajak Sarah.
"Bentar. Aku sedang nulis jadwal dulu," sahut Lyesti yang masih menulis.
"Nanti aku kirimin deh jadwalnya. Kan aku udah punya nomer kamu juga," kata Sarah.
"Gak bisa. Tanggung!" ujarnya sambil menulis.
"Yah! Kalau gitu aku duluan deh. Udah gak tahan laper nih. Gak apa apa kan?"
"Iya. Kamu duluan aja. Sana pergi! Entar pingsan, malah aku yang repot kan?" Goda Lyesti.
"Segitunya amat sih. Yaudah sampai ketemu di kantin ya!" Pamit Sarah. Lalu ia pergi. Lyesti pun tersenyum.
Kemudian, setelah ia selesai menuliskan jadwal pelajarannya ia pun pergi keluar kelas. Berniat untuk menyusul temannya yang sudah ada di kantin terlebih dulu.
"Sarah nih ninggalin, padahal bentar lagi selesai nulis. Dasar!! Gak sabaran," gumam Lyesti kesal.
Dari arah kejauhan, ia melihat Radit sedang mengobrol dengan Mela sambil pegangan tangan di koridor.
"OMG! Pemandangan yang sangat buruk!" Kata Lyesti dalam hati. Membuat hatinya sesak melihat mereka berpegangan mesra.
Lalu Radit melihat Lyesti sedang memperhatikannya. Spontan Lyesti langsung berbalik badan dan ia lekas berjalan cepat ke arah berlawanan, menghindar dari pandangan Radit. Yang tadinya mau ke kantin, setelah ia melihat kejadian itu, tujuannya langsung berubah dan entah mau kemana ia berjalan.
"Mampus! Ketahuan!" ucapnya dalam hati.
Tak lama kemudian, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seseorang yang sedang berlari ke arahnya. Lyestipun menambah kecepatan jalannya, sampai akhirnya seseorang yang mengejarnya mendapati tangan Lyesti dan langsung menariknya.
"Titi ...!" panggilnya. Lalu Lyesti berbalik dengan perasaan yang tegang.
__ADS_1
"Iya," sahutnya. Dan ia merasa lega bahwa yang mengejarnya bukanlah Radit. Padahal awalnya ia berpikir itu adalah Radit.
(So? GR banget kan!)
"Kamu menjatuhkan dompetmu," kata Deri, teman sekelasnya.
"Aduh, ceroboh banget ya aku! Hehe ... Tapi kamu tidak mengambil isinya kan?" tanya Lyesti.
"Sayangnya setengah dari dalamnya sudah ada di sakuku," jawab Deri mengerjainya.
"Masa?" Lyesti langsung mengecek isi dompetnya. Dan ternyata isinya masih sama dan tidak ada yang berubah.
"Hahaha ... Nggak kok. Aku bukan pencuri. Aku bercanda," kata Deri terkekeh.
"Toh aku juga cuma bercanda. Haha ...," sahut Lyesti tertawa.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Lyesti yang sedang mengobrol dengan Deri.
"Titi ...!" panggil Radit.
Serentak Deri dan Lyesti terdiam ketika mendengar panggilan namanya. Lalu tiba-tiba Deri mengucap pamit begitu saja dengan kedatangannya.
"Eh, aku duluan ya, Ti. Sampai jumpa di kelas," kata Deri. Lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Lyesti malu-malu. Jantungnya mulai tak terkontrol, ia merasakan debaran yang tak biasa di dadanya. Perlahan ia mulai mengeluarkan keringat dingin di wajahnya.
"Aku ingin bicara denganmu!" jawab Radit.
"Bicaralah!"
"Tidak di sini. Ayo ikut aku!" sahut Radit.
Lalu dengan terpaksa Lyesti mengikuti Radit ke mana ia akan membawanya.
"Ini namanya tempat apa?" tanya Lyesti terkagum-kagum melihatnya.
"Ini belakang sekolah lho!" jawab Radit.
"Indah! Tapi biasanya belakang sekolah tidak begini," kata Lyesti yang masih terkesima.
"Iya. Kamu tahu sendiri sekolah ini penuh kreativitas dan super disiplin. Jadi tak ada suatu hal yang buruk mengenai sekolah ini," ujar Radit.
"Kamu benar. Kayaknya setiap istirahat aku akan mampir dulu ke sini deh. Yaaa ... Walaupun tempatnya agak jauh juga kalau dari kelas dan kantin. Soalnya beda jalur juga sih, saling bertolak belakang," jelas Lyesti.
"Benar. Tapi aku bisa mengantarmu supaya kamu tidak merasa ini jauh. Kamu dapat mengobrol denganku agar tidak terasa jauh juga jaraknya," tawar Radit.
"Maksudnya? Kamu mau menemaniku?" Lyesti penuh tanda tanya. Ia butuh penjelasan mengenai ucapan yang dilontarkannya barusan.
"Iya. Tentu saja."
"Kenapa?"
"Bukankah kamu masih suka padaku?" tanya Radit dengan percaya dirinya.
"A ... Apa? Kamu masih ingat itu?" Lyesti terkejut, membuatnya kembali berdebar setengah mati.
"Tapi benarkan? Aku tidak salah?"
Dugaannya memang benar. Apa selama ini Radit sering memperhatikan dirinya secara diam-diam?
"K ... Kamu tidak salah. Hanya saja pernyataan kamu yang salah," kata Lyesti mencoba mengelak.
"Kenapa? Apanya yang salah?"
"Aku sebenarnya sudah tidak menyukaimu lagi," jawab Lyesti terucap begitu saja. Sebenarnya bukan itu kenyataannya. Hanya saja kalimat itu terucap begitu saja dibibirnya.
__ADS_1
(Kejujuran terSAVAGE)
Mendengar kenyataan itu dari Lyesti, membuat Radit merasa sangat malu. Namun ia tidak menyerah begitu saja, ia pun kembali mencoba menanyakan suatu hal padanya.
"Aku masih mengingatnya dengan benar. Pada saat rayuan itu, bukankah itu adalah rayuanmu terdahulu yang kamu tuliskan untukku pada saat SD dulu? Kenapa kamu utarakan di depan semua orang? Berarti secara tidak langsung kau mengutarakan perasaanmu padaku di depan semua orang?" Skak Radit.
(Pernyataan terSAVAGE)
"Wa ... waktu itu aku sungguh kebingungan. Dan kebetulan kamu adalah orang yang pernah aku sukai, jadi aku ingat kejadian hal itu," kata Lyesti beralasan.
"Tapi aku sudah melihat bahwa kamu memang masih suka padaku. Jika kamu ungkapkan hari ini, aku akan menerimamu," kata Radit.
"What? Tidak! Apa yang harus aku lakukan? Sejujurnya aku masih suka dia. Tapi dia kan dengan Kak Mela, bagaimana bisa?" kata Lyesti dalam hati.
"Bagaimana, Ti?"
"Mm ... Kak Mela bagaimana?" tanya Lyesti.
"Aku sudah lama putus. Tapi dia ingin kembali padaku. Namun aku tidak mau, kenapa?" Jawab Radit santai.
"Oh. Terus kejadian tadi saat pegangan tangan apa?" tanya Lyesti memastikan.
"Oh itu, dia memohon padaku."
"Gila! Apa dia berkata jujur atau cuma kepedean aja? Astaga! Ternyata lelaki yang kusukai sejak lama mempunyai sifat yang membuatku bisa berpikir berulang kali untuk menyukainya," pikir Lyesti dalam hati bertanya-tanya.
"Oh gitu ya! Hebat jadi kamu. Pasti susah ya jalani masa-masa sekolah kalau di kejar-kejar kayak gitu," kata Lyesti terkekeh.
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan." Ujar Radit tegas.
"Tapi apa nggak terlalu cepat?"
"Lebih cepat lebih baik. Kamu tidak mau? Yasudah tidak apa-apa. Aku sekali lirik, jika di tolak tak akan pernah melirik lagi walaupun kamu memaksa dan memintanya terus menerus," kata Radit.
"Buju bussyet ... Ini orang kayak yang maksa gitu ya? Apa dia selalu begini? Pacaran dengan sesuai kehendak dia?" umpat Lyesti dalam hati lagi.
"Gimana? Mau coba dulu?" tanya Radit.
Sejenak ia terdiam, ia berpikir harus mengambil keputusan apa. Ini benar-benar membuatnya mati kebingungan.
"Baiklah! Kuanggap jawabannya ditolak. Aku akan pergi!" kata Radit yang mulai melangkahkan kakinya.
"Baiklah! Kita coba jalani aja," jawab Lyesti tak berpikir panjang lagi. Membuat Radit berbalik dan tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih, Titi. Eh, maksudnya terima kasih, sayang," kata Radit dengan senyuman gantengnya.
"Kok jadi canggung gini ya?" kata Lyesti dalam hati.
"Iya sama-sama, Radit." Sahut Lyesti malu-malu.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Radit, Ok! Cinta, Sayang, Love, Sweety juga boleh," saran Radit kepada Lyesti.
"Hehehehe ... Kamu bercanda ya?" tanya Lyesti.
"Tentu saja tidak. Aku seriusan! Kapan aku bercanda denganmu?" Jawabnya. Sejenak aku terdiam kembali.
"Hehehe ... Akan aku usahakan," sahut Lyesti yang masih merasa canggung.
Hebat ya Lyesti? Suka semenjak SD, lalu dapetnya pas masuk SMA. Dengan paksaan lagi! Yang maksa bukannya Lyesti yang menyukainya, tapi malah Radit yang di sukainya. Kok bisa ya? 😂
**Seandainya semua lelaki yang disukai seperti itu, in shaAllah amanah. 😍😂
Lalu nasib David gimana, Thor**?
*seketika author pergi untuk menghilang!
__ADS_1