
Ke esokan harinya...
Terlihat Lyesti yang sedang merapikan bajunya di depan cermin di kamarnya, Bersiap untuk pergi ke sekolah dengan David si Ketua Osis itu.
Tak lama kemudian,
Tiiit... Tiiit... Tiiit...
Suara klakson motor berbunyi. Lalu ia melihat ke lantai bawah dari balkon kamarnya. Ia melihat bahwa David sudah berada disana.
"Eh, udah ada di depan ya!" kata Lyesti dengan pelan.
"Titi ... Ada temanmu menunggu di depan. Cepat turun dan berangkat ke sekolah," teriak Harry, kakaknya.
"Iya, kak. Aku berangkat sekarang."
Iapun segera turun ke bawah dan mengambil sandwich yang sudah kakaknya persiapkan di atas meja makan.
"Aku berangkat ya, kak." Kata Lyesti sambil mengunyah sandwich yang ia pegang.
"Sejak kapan kamu punya pacar?" tanya kakaknya.
"Hari kemarin jadiannya," jawabnya singkat. Ia pikir kakaknya bertanya tentang Radit.
"Apa kamu jadian dengannya?" Harry berpikir Lyesti dan David.
"Tentu saja! Siapa lagi?" kata Lyesti.
"Kamu pacaran dengan tetangga baru kita? Cepat sekali!" ujar Kakaknya tak percaya.
"Bukan dia. Tapi pacarku tuh ...," kata Lyesti terpotong dan ia terdiam karena memang ia merasa hubungannya kurang jelas dengan Radit.
"Kenapa bukan dia yang menjemputmu?"
"Aku tidak punya kontak dia. Jika ada, aku akan menyuruhnya, kak. Udah ah. Aku berangkat ya! Bye ...!" pamit Lyesti datar.
"Maksud dia apa sih? Pacaran kok gak punya kontaknya sama sekali. Pacaran sama siapa coba? Kan aneh kalau gak ada nomer ponselnya tapi malah pacaran. Dasar cinta monyet, bocah ngapa ya?" gumam Harry bertanya-tanya.
Setelah Lyesti berada di depan rumah, iapun tersenyum sambil menyapa David.
"Hai! Selamat pagi!"
"Pagi juga, Lyesti. Ayo naik! Kita berangkat sekarang," kata David.
"Ayo."
Mereka berdua pun berangkat ke sekolah bersama. Walaupun saat di perjalanan, Lyesti merasa begitu canggung di bonceng oleh David dan merekapun tak bicara sedikitpun semenjak mereka berada di sepanjang jalan.
Sesampainya di sekolah, tanpa sengaja Lyesti melihat Radit yang sedang memeluk Mela di tempat umum dekat parkiran.
"Radit?" kata Lyesti bicara pelan. Ia merasa terluka, marah dan cemburu ketika melihat kejadian hal itu. Ia pun merasa bahwa dirinya memang telah di bodohi oleh Radit. Dan kata-kata di belakang sekolah ketika hari kemarin adalah hanya sandiwara.
Hal itu pun terus ia pikirkan sepanjang waktu. Sampai ia terdiam dan sering melamun, membuat David bertanya dengan menaikan 1 oktaf nada kepada Lyesti.
"Nanti kamu akan pulang bersamaku?" tanya David kepada Lyesti. Dalam sekejap ia tersadar.
"Mm ... Ya. Aku gak tahu waktunya akan tepat. Tapi kalau waktu pulang kita sama, mungkin aku akan menumpang lagi," jawab Lyesti spontan nyambung begitu saja.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi!" ujar David merasa aneh.
"Iya sampai jumpa." Lyesti pun pergi menuju kelasnya.
Saat ia masuk ke dalam kelas, Lyesti memasang raut wajah yang murung. Ia masih memikirkan tentang Radit dan Mela berpelukan tadi di parkiran. Entah apa yang mereka lakukan dan drama apa yang Radit sandiwarakan kepada Lyesti. Salah satu temannya cemas melihat ia seperti itu, ia pun mencoba bertanya padanya.
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa kok. Hanya lelah," jawab Lyesti. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku di dalam tasnya.
"Apa kamu kurang sehat?" tanya Sarah cemas.
"Bagaimana perasaanmu jika melihat pacarmu berpelukan dengan pria lain?" tanya baliknya.
"Jelas aku marah lah! Udah tahu punya pacar, pake pelukan sama orang lain segala," sahutnya dengan cepat. "Apa Radit melakukan itu di depanmu?" tanyanya curiga.
"Dia melakukannya. Tapi aku tidak boleh cepat marah. Karena bisa saja dia dan Mela menyelesaikan masalah mereka," sahut Lyesti mencoba untuk tidak berburuk sangka. Walaupun ia merasa terluka dengan kejadian yang sudah ia lihat.
"Oh iya ya! Kan dulu pas MOPD katanya Radit tuh punya dia. Ingat gak sih?" tanya Sarah mengingatkan.
"Bener juga sih. Tapi kalau sekarang mereka masih hubungan ...." pikirnya terpotong.
"Sebaiknya kau bicarakan secara pribadi dengannya," kata Sarah.
"Anehnya dia juga tidak memberi nomernya padaku. Jadi aku juga sulit buat hubungi dia," ujar Lyesti.
"Aduh ya ampun! Kau dan dia itu pacaran. Masa nomer ponselnya aja gak punya. Kalian beneran pacaran gak sih?"
"Aku juga ragu, Sar. Soalnya kejadian itu begitu cepat. Dan aku tidak mengerti apapun tentang hari kemarin. Aku tidak ingin bertanya padanya."
"Kenapa, Ti? Kamu berhak menanyakannya."
"Gila! Emangnya dia Oppa? Heuh, Jadi sekarang kau akan gimana?" tanya Sarah.
"Aku akan menunggu dia sampai dia menghampiriku sendiri. Dan bukan aku yang menghampirinya," jawab Lyesti.
"Baiklah. Kalau begitu istirahat nanti kita cari cara untuk bertemu dengannya tanpa terlihat sengaja. Kita akan buat pertemuan tanpa di sengaja. Kamu mengerti kan?"
"Iya. Aku mengerti. Walaupun kau menjelaskannya agak berbelit sih."
Teeeeeetttt.....
Bel pun berbunyi. Tanda pelajaran sudah di mulai.
----------
*Jam istirahat
Terlihat Sarah dan Lyesti sedang berjalan-jalan di sekitar koridor. Mereka mencuri-curi kesempatan untuk mencari keberadaan Radit. Namun mereka tidak menemukannya di sepanjang koridor sekolah. Ia mencari ke seluruh koridor dan ke kantinpun tetap tidak menemukan keberadaan Radit.
"Kita lewat kelasnya aja," kata Sarah.
"Kamu gila ya? Gak mau ah! Ngapain. Nanti di tanya sama para kakak kelas kita mau jawab apa?"
"Ya bilang aja ada urusan sama Radit gitu."
"Yang ada image aku malah tambah hancur, tahu nggak? Udah tahu kan aku di sebut-sebut sebagai wanita perayu sama kakak kelas? Apa kamu sengaja mau buat aku dipanggil si genit atau wanita murahan?" umpat Lyesti.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih? Kejauhan! Tapi kamu benar juga sih. Maafkan aku!"
"Ok. Tidak apa-apa, Sarah." Kata Lyesti sambil tersenyum kecil.
Mereka melanjutkannya kembali mencari Radit di seluruh sekolah yang amat besar itu, namun tetap saja nihil.
Sampai akhirnya pulang sekolahpun ia mencari-cari kembali tetap saja ia tidak menemukan batang hidung Radit.
*Di bawah pohon dekat parkiran.
Waktu sekolah sudah usai. Terlihat Sarah dan Lyesti sedang duduk di sana, saling berbagi cerita satu sama lain.
"Sepertinya kamu benar. Dia hanya mempermainkanku!" kata Lyesti seraya mata berkaca-kaca.
"Titi! Kau jangan menangis. Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak begitu percaya dengan hubungan kalian."
"Aku benci padanya, Sarah." Kata Lyesti sambil menangis.
"Ssttt ... Jangan menangis!" Kata Sarah sambil memeluk Lyesti.
"Aku benar-benar terbawa perasaan, kau tahu? Aku ... Aku dulu sangat suka padanya dari sejak aku duduk di bangku SD. Aku sulit melupakannya, sampai akhirnya aku berhasil lupa dan moveon. Tapi tiba-tiba saja dia datang kembali ke kehidupanku, lalu dia mencoba menghidupkan perasaanku kembali seperti saat ini. Dan dia berniat untuk menipuku. Dia mempermainkanku. Aku gak bisa begini, Sarah." Ceritanya panjang lebar sambil menangis tersedu-sedu.
"Ssttt ... Kamu jangan menangis, Lyesti. Nanti banyak orang yang lihat. Aku juga bingung menutupi wajahmu itu, kamu bukan bayi yang bisa aku tutupi secara keseluruhan," ujar Sarah menghapus air matanya.
"Aku menyesal percaya padanya."
Tak lama kemudian, tiba-tiba David datang menghampiri Lyesti dan Sarah.
"Hai!" Sapa David dengan ramah, ia melihat Lyesti dengan mata yang kendut dan memerah.
"H ... Hai ...!" balas Sarah terbata-bata.
"Lyesti kau kenapa?" tanya David yang mendengar isak tangisnya.
"D ... Dia sedang menangis karena ada masalah, kak." Jawab Sarah.
"Ada masalah apa?"
"Tidak, kok. Lupakan saja. Aku baik-baik saja," kata Lyesti sambil tersenyum seraya menghapus air mata yang tersisa.
"Apa kamu ingin ikut denganku?" Tanya David kepada Lyesti.
"Tidak, kak. Terima kasih," jawab Sarah.
"Aku bertanya kepada Lyesti," kata David. Sarah pun malu.
"Oh, maaf. Aku kira padaku. Hehe ...," ujar Sarah.
"Kalau begitu, aku titipkan Lyesti pada kakak saja ya! Kebetulan aku juga ada suatu urusan. Sampai jumpa, Ti. Jangan tangisi dia lagi, ok!" Lanjut Sarah. Lalu ia pun pergi.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya David. Lyesti pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu naiklah! Kita akan pergi," lanjut David daan Lyesti pun bangkit, lalu ia langsung menaiki motor David, mereka berdua pun lekas pergi.
*****
Jadi kasihan sama Lyesti ya! Di permainkan oleh pria yang sudah lama ia sukai. Mending pilih David aja deh ya kalau kek gitu mah.. Hihihi.. 😁😁
__ADS_1
Kalian pilih siapa nih?