Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?

Pacaran Sampai Nikah. Inikah Rasanya?
Mencari Kabar


__ADS_3

Ini adalah hari libur sekolah. Entah seperti apa yang Lyesti rasakan, namun ia masih merasa kebingungan dengan hubungannya dengan Radit. Ia ingin sekali lebih dekat dengan David, namun ia berpikir akan perasaan David padanya jika mengetahui bahwa ia mulai merasakan rasa nyaman jika berada di dekat David.


Sampai akhirnya, ia mencoba mencari kabar tentang Radit lewat David. Karena David satu angkatan dengannya dan kelasnyapun tidak jauh dari kelas David.


Ketika ia akan mengirim sebuah pesan / chatting lewat ponselnya, tanpa ia tulis David terlebih dahulu mengirim pesan kepadanya.


"Selamat pagi! Bagaimana kabarmu? Apa kau sakit akibat hujan kemarin?" Sapa David.


Lyesti merasa canggung dan bingung ketika akan menanyakan hal tentang Radit secara tiba-tiba. Karena David tidak mengetahui hubungan antara Radit dan Lyesti. Karena Lyesti tak membalas dengan cepat, David pun mengirimkan pesan lagi.


"Baiklah! Aku anggap kau marah ya!"


Setelah terpikirkan dengan baik, ia pun mencoba untuk mengikuti alurnya dulu. Setelah ada percakapan yang pas, baru ia akan tanyakan kabar Radit padanya.


"Eh, maaf. Aku baru bangun tidur." Jawabnya beralasan.


"Beneran?"


"Iya. Beneran. Ini aku sedikit terkena flu dan pilk. Jadinya seharian ini aku akan berdiam di rumah sampai kondisiku membaik."


"Gara-gara motorku mogok ya? Jadi kau sakit begini. Hujan juga berhentinya lama banget. Jadi kamu kedinginan deh." Cemas David.


"Jangan bodoh, ini hanya flu saja kok. Jangan menyalahkan dirimu, lagian aku suka hujan kok."


"Nanti sore aku datang ke rumahmu ya! Aku akan menjengukmu."


"Kamu gak perlu bilang, orang rumahnya tinggal nyebrang aja kok."


"Kenapa? Gak boleh? Yaudah gak apa-apa. Gak jadi deh."


"Lho, kok? Jangan ngambek. Kan aku bilangnya tinggal nyebrang aja. Kamu sensitifan nih."


"Yaudah entar aku ke rumah ya! Istirahat dulu sekarang. Biar flu nya berkurang."


"Makasih ya, Dav. Kau sangat perhatian. 😊😊"


"Iya. 😊 Tunggu aku ya!"


"Kenapa harus menunggu?"


"Kenapa ya? Gak tahu deh. Pokoknya tunggu aja." David salah tingkah.


"Ih, kamu gak jelas."


"Kamu marah?"


"Nggak kok. Hehe..."

__ADS_1


Selama beberapa kali ia berbalas pesan dengan David, ia tidak menemukan celah untuk membahas tentang Radit atau menanyakan kabar Radit kepada David. Dan akhirnya, ia memberanikan diri untuk menanyakannya langsung kepada David.


"David, apa kau tahu kabar Radit bagaimana?"


Saat David membaca pesan masuk yang baru kepadanya, ia merasa heran dengan Lyesti. Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal tentang Radit, apakah ada sesuatu antara Lyesti dan Radit? Entahah, David hanya mencoba untuk menghargai setiap pertanyaan yang di sebutkan oleh Lyesti. Ia pun mengerti dan tahu diri bahwa ia bukanlah siapa-siapa.


"Radit?" Balasnya bertanya.


"Ya. Radit."


"Kau siapanya Radit? Dari awal aku sudah curiga bahwa kau dan Radit memang ada apa-apa."


Balasan dari David, membuat Lyesti kebingungan untuk menjawab pernyataannya tersebut. Apakah ia harus jujur bahwa dirinya sudah pacaran dengan Radit? Bagaimana jika Radit tidak mengakuinya? Apa yang harus ia lakukan?


"Bukan begitu. Tapi aku butuh nomor ponselnya. Apa kau mempunyai nomornya? Boleh aku memintanya?"


"Boleh kok. Tapi ada apa sampai kau meminta nomornya padaku? Apa kau akan menjadi stalking?"


"No. Aku bukan stalking. Aku hanya ada urusan dengannya yang belum selesai. Karena aku tidak bertemu beberapa hari ini di sekolah."


"Oh, begitu. Masa di sekolah tidak bertemu?"


"Mungkin dia sering bersama Mela. Jadinya aku tidak bertemu dengannya."


"Mela? Mereka sudah lama putus. Dan sekarang aku belum mendengar kabar tentangnya, karena dia sering gunta-ganti pacar. Jadi aku gak tahu."


Membaca chatting dari David seperti itu, membuat Lyesti berpikir keras dengan semua kecurigaannya kepada Radit yang tak berujung. Ia mencurigai bahwa Radit memang benar mempermainkan perasaan dirinya yang sudah ia pendam semenjak lama. Ia pun mulai kecewa, sakit hati dan merasa di bohongi.


"Tentu saja. Memangnya kenapa? Kau berharap padanya?"


"Bukan begitu. Hanya saja aku ingin menyelesaikan urusanku secepat mungkin dengannya. Jadi aku mohon bantuanmu, Dav."


David merasa heran dengan Lyesti. Urusan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Ia mencurigai bahwa Radit memang mendekati Lyesti dan ia pun mencurigai bahwa Lyesti akan menjadi korban selanjutnya dari PlayBoy macam Radit.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Semoga kau cepat-cepat menyelesaikan urusanmu dengannya."


"Terimakasih ya, Dav."


"Iya sama-sama. Kita kan teman, bertetangga. Sudah seharusnya saling membantu."


"Kau sangat baik. Lalu nomor ponselnya berapa?"


"Oh, iya. Hampir saja lupa. Ini no ponselnya 08522xxxxxxx"


"Sekali lagi terimakasih sebanyak-banyaknya."


"Iya, Les."

__ADS_1


Chattingan antara David dan Lyestipun berakhir. Lyesti merasa lega bahwa dirinya sudah mendapatkan nomor ponsel Radit dari David. Lalu tanpa berpikir panjang, ia pun langsung menghubungi Radit tanpa merasa ragu.


"Hai. Kau ingat aku?"


Tanpa di tunggu dengan lama, Radit segera membalas. Itu artinya, ia sedang bermain ponsel miliknya saat itu juga.


"Siapa?"


"Tak ingat aku?"


"Siapa?"


"Aku pacarmu."


"Lyesti?"


"Ya. Ingatanmu sangatlah baik."


"Kamu tahu nomorku dari siapa?"


"Kamu tak perlu tahu, yang harus kamu tahu bahwa aku sekarang bukanlah pacarmu lagi."


"Eh, kok gitu? Kita baru beberapa hari ini jadian, kenapa putus?"


"Karena selama beberapa hari itu juga aku tak mendengarkan kabar darimu. Apa itu adil?"


"Maafkan aku. Tetapi aku ada urusan yang mendadak. Jadi aku tak bisa mengabarimu."


"Sepenting apa urusanmu itu?"


"Kamu akan tahu nanti jika aku sudah siap dengan waktu yang tepat juga."


"Apa kamu tak ada waktu untuk memberiku kabar? Sehari? Sejam? Semenit? Atau bahkan sedetikpun kau tak punya waktu untuk itu."


"Bukan seperti itu, tapi memang aku benar-benar sibuk. Mengertilah, Lyesti. Dan kau harus percaya padaku."


"Ok, fix."


"Apanya?"


"Putus. Sebaiknya kamu jangan hubungi aku. Kamu juga tak serius kan denganku?"


"Titi, jangan begitu. Ayo sebutkan alamat rumahmu. Nanti sore aku akan menemuimu."


"Jalan mawar, No 14, daerah Perindahan Bumi."


"Baiklah. Aku akan menemuimu nanti sore."

__ADS_1


Setelah terakhir chatting yang di kirimkan Lyesti menyebutkan alamat rumahnya, ia tak membalas pesan dari Radit lagi setelahnya. Ia kembali merenung dan memikirkan tentang urusan apa yang membuat Radit tak ada waktu untuk memberi kabar padanya. Ia berpikir bahwa ia memiliki pasangan lain dan mencoba untuk di putus hubungan oleh Radit. Begitulah pikirnya.


"Antara nyesek dan kecewa. Greget ih! Sumpah!" umpatnya.


__ADS_2