paman rey

paman rey
pacaran


__ADS_3

mutia menggeliat saat sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden kamar itu, matanya sangat sulit di buka dan kepalanya juga terasa masih pusing akibat pengaruh minuman alkohol yang masuk ke tubuhnya tadi malam.


mutia menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku namun terasa nyaman juga berada di tempat tidur yang entah sejak kapan terasa begitu empuk, hingga membuatnya makin malas untuk beranjak bahkan ingin terus tertidur disana, kemudian mutia merasa berat di daerah perutnya spontan tangannya menyentuh bagian yang berat itu dan melihat ada sebuah tangan besar dan kekar memeluk erat pinggangnya.


mutia menoleh ke belakang dengan mata yang membulat sempurna "Aaa.. paamaannn" teriaknya


"mmm..."


" ppaaman bangun" ucapnya sambil menggoyang tubuh reyhan, rey malah mengeratkan pelukannya di pinggang mutia seakan mutia bantal gulingnya


"ppamaann ttoloong leppaskan "ucapnya gugup


mutia memang ahli beladiri hanya saja akibat terlalu gugup dia malah lupa akan keahliannya itu, saat ini dia benar-benar takut memikirkan apa yang terjadi sehingga mutia mulai menangis


rey yang mendengar tangisan gadis itu pun duduk menghadap mutia " ada apa? "


melihat reyhan yang terbangun hanya menggunakan piyama mutia semakin menangis kencang "hiks hiks paman, apa yang harus ku lakukan"


reyhan mulai menyadari maksud gadisnya dan tersenyum jahil " inilah yang terjadi, seperti yang kau lihat"

__ADS_1


mutia menghapus air matanya sambil terisak "paman kenapa kau jahat padaku?, aku masih muda dan kau..."ucapnya menggantung


"jangan coba menyalahkan ku nona, ini semua akibatnya jika gadis kecil sepertimu bersikap ceroboh dan mabuk, bahkan tidak sadar saat di bawa pergi orang lain" bela reyhan


"kau bahkan yang mulai menggodaku lebih dulu hingga kita bisa ada disini sekarang"lanjutnya


wajah mutia kian memucat ketakutan dengan membantah "tidak mungkin paman, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menggodamu"


"benarkah? apa perlu aku tunjukkan buktinya, tidakkan kau yang jahat hingga menggitku disaat kita berciuman semalam, bibirku bahkan masi sakit pagi ini" ucapnya sambil menunjukkan luka di bibirnya


wajah mutia memerah akibat malu hingga kepalanya tertunduk merutuki kebodohannya semalam, dia benar-benar takut jika nanti dia hamil bagaimana dia bisa menanggungnya "bagaiman jika aku hamil?" tanya mutia seolah pada dirinya sendiri


reyhan mengulum bibirnya menahan agar tidak tertawa di depan mutia, dia ingin menghukum gadis ini agar tidak akan berani mabuk seperti ini lagi "tenanglah aku akan bertanggung jawab, aku akan menemui orangtua"


"wah, kau merasa masih muda tapi sangat ahli mengumpat" ucapnya pura-pura terkejut


"diamlah paman, kau hanya membuatku makin sakit kepala, bagaimana bisa menikah pacaran saja aku tidak pernah, masa mudaku terbuang sia-sia" ucapnya memegang kepalanya


reyhan menangkup wajah kecil mutia dengan kedua tangan kekarnya , kali ini matanya menatap ke dalam mata mutia " kita bisa mulai berpacaran jika kau mau, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, aku yang akan melindungimu dan memastikan hidup akan selalu adil untukmu mulai saat ini"

__ADS_1


mutia berfikir sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui reyhan, gimanapun akan lebih baik berpacaran dengan paman ini dari pada nantinya harus dinikahkan dengan teman ayahnya yang sama sekali belum di kenalnya, apalagi dia sudah melakukan sesuatu dengan rey, setidaknya reyhan akan bertanggung jawab jika dia hamil kan?


" baik paman, aku setuju pacaran denganmu, tapi jika aku hamil kau harus tanggung jawab ya" katanya dengan wajah polos


reyhan puas mendengar jawaban mutia lalu memeluk gadisnya dengan erat, sesaat ciuman singkat diberikan reyhan di bibir mutia, mutia yang tidak siap lagi-lagi membeku saat menerima bibir hangat reyhan di bibirnya "sekarang pergilah mandi, agar kau terlihat lebih segar, aku akan memesan makanan untuk kita"


mutia menyelesaikan aktifitas mandinya seperti biasa, mutia memang polos tapi tidak bodoh. sambil terus berfikir mutia berjalan kesana kemari berusaha merasakan hal yang berbeda di tubuhnya tapi dia tidak merasakan apapun, selesai mandi mutia keluar dari kamar dan mendapati reyhan sedang menghidangkan beberapa makanan di meja makan,


"paman, bukankah gadis jika melakukan itu rasanya sangat sakit?" tanyanya malu


"memangnya apa yang kau lakukan sayang? tanya reyhan sambil menahan senyumnya lagi


"tentu saja yang terjadi tadi malam" jelasnya sambil cemberut


"aku bahkan tidak merasa hal aneh di tubuhku padahal aku akan hamil kan?"lanjutnya


reyhan menghentikan kegiatannya di meja makan, menghampiri gadisnya yang kebingungan sambil tertawa "ciuman tidak akan membuatmu segera hamil sayang, tapi jika kau mau kita bisa membuatnya pagi ini"


mutia terdiam beberapa saat sebelum mengerti sesuatu "maksudmu, kau berbohong padaku paman?? kita tidak melakukan itu? " muka nya memerah menahan marah dengan tangan terkepal

__ADS_1


"aku tidak pernah berbohong sayang, kau yang berfikir terlalu jauh, aku tidak pernah mengatakan kalau kita melakukannya, tapi kau yang mengatakannya "ucapnya sambil mencubit gemas hidung mutia


mutia meledak marah dan mengejar reyhan yang sudah berlari menjauh " paman, aku akan membunuhmu kali ini dasar penipu tua.. kau hampir membuatku mati berdiri tadi"


__ADS_2