
mutia dan sarah hari ini pergi ke kampus untuk mengambil formulir pendaftaran untuk sarah dan formulir beasisiwa untuk mutia agar mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
"sarah kamu jadi ambil jurusan apa?
"aku mau ambil jurusan management kayak kamu"
" loh.. bukannya kemarin mau ambil kedokteran" tanya mutia heran.
"aku kan gak mau pisah sama kamu" ucapnya nyengir
"gak boleh gitu lah.. ini kan penentu masa depan kita, aku gak mau kamu kuliah cuma buat ikut ikut aja"
"gak mau ahh.... kamu kan tau aku ini suka panikan dan teledor, kalo gak ada kamu aku nanti kelabakan sendiri" ucapnya sambil merengut.
mutia hanya bisa menghela nafas untuk sahabatnya satu ini.
diingat kembali saat pertama bertemu dengan sarah di sebuah club malam, saat dirinya sedang bekerja paruh waktu sebagai pelayan dan disana sarah sedang di jebak oleh temannya dengan memberi minum hingga mabuk.
lalu 1 minggu kemudian tanpa mutia sangka sarah pindah ke sekolahnya dan sejak saat itu mereka menjadi sahabat.
"terserahlah... paling besok udah berubah lagi" ucap mutia pasrah
"kamu yang terbaik" memeluk mutia sambil tertawa menang.
"iiissss, kapan sih dewasanya, bentar lagi udah jadi mahasiswi loo"
__ADS_1
"aku kan begini cuma sama kamu aja"
"kalo sama orang aja galaknya gak ketolongan, semua di hajar sama kamu"
"aku galak sama orang lain, kalo sama kamu mana aku berani. bisa jadi tape aku". ucap sarah sambil menggandeng mutia ke ruang pendaftaran.
tingg.... "ibu"
"pulang kerumah hari ini" isi pesan singkat
"baik ibu" balas mutia.
mutia hanya menghela nafas, untuk gadis lain mungkin pulang kerumah adalah salah satu hal paling membahagiakan, tapi bagi mutia pulang kerumah berarti akan ada masalah yang menanti pasalnya ibu tirinya tidak pernah menganggapnya ada selama ini.
"abis ini kamu mau kemana? yuk kita jalan jalan" ucap sarah memecah lamunan mutia
"ooh, mau apa lagi kali ini nenek sihir itu?apa dia tidak lelah terus mengganggumu "tanya sarah dengan wajah kesalnya
"kita lihat saja nanti, aku juga penasaran, kali ini apa " ucap mutia sambil mengangkat kedua bahunya.
mereka pun pergi ke rumah mutia, lebih tepatnya rumah keluarga PRATAMA
"kenapa lama sekali? buat apa temanmu ini juga ikut" marah ibu mutia,
"ya ampun bi, bibi jangan suka marah marah ntar kena stroke loo, anak pulang bukan di peluk kek, silahin masuk kek. ini liat muka kami langsung bawaannya marah aja kaya singa" ucap sarah sambil berlalu kembali ke mobilnya.
__ADS_1
sarah hanya mengantar mutia saja kerumahnya, ada rasa khawatir di hatinya tapi sarah juga tidak mau ikut campur urusan keluarga sahabatnya itu.
setelah mobil sarah pergi mutia masuk ke rumah itu, di rumah sudah di dapat ayah dan adiknya angga duduk di ruang tamu. mutua duduk di sofa yang menghadap ke orangtua nya.
"ada apa mutia di suruh pulang?"
"kami ingin menikahkan kamu dengan anak teman ayahmu" ibu
"aku tidak mau, aku ingin kuliah dan bekerja sebelum menikah"
"heh.. kamu kira kuliah itu murah, kami tidak ada uang untukmu! apalagi tahun depan adikmu juga akan kuliah. untuk apa kamu kuliah kalau nantinya akan menikah dan mengurus rumah saja" ucap ibu mutia sedikit berteriak
"aku akan usahakan sendiri untuk uang kuliahku, selama ini juga aku berusaha sendiri kan? jadi kalian tidak perlu khawatir". ucapnya sambil berbalik ingin pergi
"dasar anak tidak tau diri, sudah di besarkan dan di beri makan sampai besar, setelah besar begini caramu memperlakukan orangtua"bentak ibu mutia kesal
"ibu cukup... aku juga tidak ada keinginan untuk kuliah, aku ingin langsung bekerja" potong angga.
"kamu jangan ikut ikutan bela dia, dia saja tidak pernah mikirin kita, kamu lihat sendiri kan gimana dia melawan ibu"
"itu karna ibu tidak mau memahami kakak, kakak sudah banyak mengalah untukku ibu"ucapnya sambil memandang ibunya lekat berharap ibu nya mengerti.
"keputusan ibu sudah bulat, mutia harus segera menikah... titik !!! "
ada rasa sakit di hati mutia tapi dia tutupi, wajahnya tenang tapi kedua tangannya terkepal sangat kuat. mutia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang orang dihadapannya,
__ADS_1
mutia berbalik dan segera meninggalkan rumah itu.