paman rey

paman rey
tidak ada bantahan


__ADS_3

reyhan mengantar mutia kerumah sarah, tidak ada percakapan di antara mereka. reyhan sesekali melirik mutia yang menatap keluar jendela di sampingnya tampak memikirkan sesuatu tapi reyhan tidak ingin ikut campur jika gadis itu tidak bersedia memberitahunya


mobil reyhan sudah sampai di depan rumah sarah tapi mutia tampak masih melamun, reyhan terbatuk pelan "kita sudah sampai"


mutia tersadar dari lamunannya dan menoleh ke reyhan "ternyata sudah sampai, terimakasih paman sudah mengantarkanku"


reyhan masih menatap mutia dan berkata "lain kali jika pulang larut kau bisa memintaku mengantarkan"


mutia menatap malas ke arah reyhan " paman aku bukan anak kecil dan aku bisa menjaga diriku sendiri


reyhan tampak tidak senang mendengar jawaban mutia dan mendengus kesal "tadi hanya kelompok kecil yang masi bisa kau tangani, bagaimana jika ada yang lebih hebat, ini saja sudah membuatmu terluka


mutia menyadari reyhan yang tidak senang " baik paman, lain kali aku akan minta di jemput saat pulang bekerja "


"baiklah, besok aku yang jemput" ucap reyhan mantap


"eh.. maksudku bukan paman, tapi aku bisa minta temanku yang jemput"


ekspresi reyhan kembali menggelap " tidak ada bantahan"


mutia hanya merutuki nasibnya yang harus berurusan dengan paman satu ini, dia sebenarnya sekarang sangat takut melihat ekspresi dingin reyhan. mutia lebih suka berdebat dengannya


setelah memikirkan sejenak akhirnya mutia menurut sambil menganggukkan kepalanya "baiklah paman, kau boleh menjemputku, tapi hanya saat aku pulang larut malam"


raut wajah reyham melembut tapi tetap tegas "ok"


mutia pun turun dari mobil sambil memikirkan apakah keputusannya kali ini benar atau tidak, pasalnya mutia tidak ingin reyhan terlibat jika kecurigaannya terbukti terhadap 2 pria yang menyerangnya tadi.


mutia membuka pintu rumah sarah dan berjalan menuju kamar sarah, sarah biasa tinggal sendiri si rumah mewahnya bersaman beberapa pelayan saat ayah dan ibu nya pergi ke luar negeri


mutia merebahkan badannya di tempat tidur sarah yang terasa nyaman dan menunggu sarah yang sepertinya sedang di kamar mandi


"ceh, aku kira kau menipuku" ucap sarah kesal setelah keluar dari kamar mandi


" kapan aku menipumu, aku hanya terlambat sedikit" balas mutia sambil bangkit dari tempat tidur menuju sofa tempat mereka akan nonton


"sekarang duduk lah, dan mulai filmnya"


sarah yang sudah terlanjur kesal oleh mutia berjalan menuju sofa tempat mutia duduk dam memukul lengannya "dasar teman gak ada akhlak"


"aww... sakitt... kau mau membunuhku ya" pekik mutia sambil memegang lengannya di balik jaket yang dia gunakan


sarah kanget dan cemas dengan reaksi mutia, padahal dia tidak memukul mutia dengan kuat

__ADS_1


"ada apa denganmu? apa kau terluka"


mutia akhirnya melepaskan jaket yang di pakainya sedari tadi sehingga lukanya yang awalnya sudah di perban baik oleh reyhan kembali mengeluarkan darah akibat pukulan tidak sengaja sarah


mata sarah melotot saat melihat luka yang ada di lengan mutia "apa... apa yang terjadi denganmu ? ,siapa yang melakukan ini?


sebenarnya mutia ingin menyembunyikan lukanya agar sarah tidak heboh tapi apalah daya ketika keadaan tidak memihak mutia


mutia menghela nafas berat " ini hanya luka ringan, tadi ada 2 pria yang menyerang di halte"


wajah sarah tampak memerah akibat marah "sialan, berani sekali mereka"


"kau tau aku melihat lambang naga di tangan mereka"ucap mutia serius


sarah terkejut mendengar mutia " apa mereka sudah bergerak sejauh ini? dasar pecundang, ingin rasanya ku patahkan tulang-tulang mereka


mutia mengangkat bahunya " kita jangan terlibat lagi, lebih baik hanya melapor ke kak roy agar lebih aman


sarah menganggukkan kepala "tentu, aku akan secepatnya mengabarkan kejadian hari ini"


sarah melihat ke arah luka mutia lalu berkata "tapi bagaimana dengan lukamu, sepertinya sudah di bersihkan?"


mutia terlihat ragu sebelum menjawab " tadi ketemu bos ku, dia yang mengobati dan mengantarku kemari"


"mmm"


mutia enggan meladeni sarah tapi tentu sarah tidak akan melepaskannya dengan mudah, sepanjang malam mereka menonton drama korea sarah tetap mengambil kesempatan untuk bertanya tentang reyhan, yang membuat kepala mutia pusing menghadapi sahabatnya itu.


keesokan harinya,


mutia dan sarah masih bermalasan ditempat tidur karena mereka tertidur baru jam 06.00wib, saat ini sudah pukul 11.00wib karena melewatkan sarapan pagi mutia dan sarah terbangun setelah mencium aroma makanan yang sangat lezat,


mutia mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah sarah "hei tukang tidur, ayo bangun.. apa kau tidak lapar?"


sarah yang merasa terganggu malah mempererat selimut di tubuhnya mebutupi sampai kepala


mutia kembali menarik selimut sarah sehingga menampakkan raut kesal sarah "cacingku sudah tidak bisa menunggu"


"huh, kau ini taunya makan saja. tidak tau apa kalau tidur itu mebih nikmat"ucap sarah sambil duduk di ranjang qweensize nya


mutia beranjak dari tempaylt tidur menuju pintu kamar sarah "aku lebih baik tidak tidur daripada harus tidak makan, aku juga sudah mencium aroma lezat dari bawah "


sarah akhirnya hanya mengikuti mutia turun ke bawah sambil mengomel "ya... ya... berlakulah seperti tuan rumah nyonya, anggap aku tidak ada disini"

__ADS_1


"tentu, aaku tidak akan sungkan"jawab mutia sambil tersenyum lebar.


sarah dan mutia menyelesaikan makan dengan tenang kali ini, karena sesuai rencana tadi malam sore ini mereka akan ke club milik roy untuk mendiskusikan kejadian penyerangan mutia sebelumnya, dan siang ini mereka akan melanjutkan bermalas-malasan sambil melanjutkan tontonan drama korea sampai sore


club malam roy


roy duduk sambil menyesap minumannya perlahan saat melihat mutua dan sarah tiba" oh, kalian sudah datang, duduklah"


sarah dusuk di sofa samping roy dan berkata "wah kak, kau curang minum sendiri sebelum kami datang"


"ini bukan minuman anak-anak" sindir reyhan


mutia merasa canggung saat bertemu dengan roy, pasalnya meskipun dia mabuk tapi mutia masi ingat saat roy lah yang membantunya saat mabuk dan akan membawanya pulang tapi tiba-tiba paman sialan itu datang merampasnya.


"hai kak roy"ucap mutia kaku sambil duduk di samping sarah


roy yang menyadari ketidaknyamanan mutia tersenyum manis ke mutia membuat mutia yang kaku merasa meleleh, oh tuhan betapa tampannya ciptaanmu


"mutia, bagaimana kabarmu"


mutia mengambil wine dan menyesapnya perlahan " tentu baik kak, hanya saja kemarin ada orang yang ingin mencoba peruntungan"


roy melihat ekspresi mutia yang berubah dingin membuat hatinya sakit, sebenarnya roy selalu khawatir pada mutia tapi roy tidak berdaya menghentikan jalan mutia karena keadaan ini pula yang membuat roy bertemu mutia.


tatapan lembut roy pun berubah saat dia serius bertanya "sarah bilang kau melihat gambar naga di tangan mereka?"


mutia mengangguk pasti " ya.. aku yakin itu gambar naga yang sama"


sarah melanjutkan " apa menurutmu mereka masih belum menyerah kak, karena 1 tahun ini mereka sudah tidak pernah mengusik kita"


roy berfikir sejenak " akan ku cari tahu, tapi aku ingin kalian lebih hati-hati mulai sekarang, terutama mutia"


sarah seketika potes merasakan ketidak adilan melihat tatapan lembut kakak sepupunya itu ke mutia " kak apa kau hanya melihat mutia, apakah aku bahkan masih adik kesayanganmu?"


mutia dan roy yang melihat tingkah sarah malah tertawa "tentu saja kau masi yang tersayang, tapi mutia teristimewa"lanjut roy


mutia hampir tersedak air liur nya mendengar candaan roy,mutia hanya diam tanpa berkomentar apapun, bukan mutia tidak tau perasaan roy hanya saja mutia lebih nyaman menjadi adik roy sampai saat ini tapi tidak tau cara mengatakannya ke roy.


**hai semua,


terimakasih sudah mampir, maaf ya lama update berhubung realita emak-emak yang lebih banyak drama daripada mutia


happy reading semua

__ADS_1


jangan lupa , like , coment , dan tambahkan ke favorit kalian ya 😘**


__ADS_2