
reyhan berlari keluar kamar menuju ruang tamu sambil tertawa lebar akibat berhasil mengerjai gadis itu, di belakangnya terlihat mutia mengejarnya dengan wajah memerah , mata yang membengkak serta masih terlihat sisa - sisa air mata di pipi mulusnya akibat menangis sedari tadi.
" dapat " ucap mutia tanpa sadar memeluk pinggang reyhan dari belakang melingkarkan kedua tangannya
"kau sangat keterlaluan paman, aku tidak akan mengampunimu"lanjutnya
" memang dimana salahku? aku hanya berkata jujur padamu" bantah reyhan
reyhan memegang kedua tangan mutia yang di pinggangnya "aku suka saat kau ada di dekatku, terasa sangat nyaman"
mutia yang menyadari posisi mereka merasa sangat malu, jantungnya berdetak sangat cepat, malah wajahnya yg memerah akibat marah sudah berganti menjadi merah akibat malu, mutia melepaskan tangannya di pinggang reyhan, sebelum mutia sempat terbalik pergi reyhan malah berbalik menghadap mutia dan menahan tangan gadis itu, tatapan jahilnya berubah menjadi tatapan lembut dan membuat mutia semakin berdebar melihat paman tampan di hadapannya.
"paman, kenapa selalu menyentuhku, aku merasa tidak nyaman" kata mutia cemberut
"jika ku lepas berjanjilah kau tidak akan melarikan diri"
"tentu saja aku akan segera pergi, disini bukan rumahku
"tapi aku masih ingin disini denganmu,ini masih sangat pagi dan kau juga membangunkanku sepagi ini, tidakkan kau kasihan kepadaku yang kelelahan akibat membawa mobil sendiri dari bandung kemari "ucap reyhan manja.
sesungguhnya reyhan bahkan sangat terkejut mendengar ucapannya sendiri ,
"paman, apakah kamu bercanda? apa saat ini kita di jakarta? "ucap mutia tidak percaya
__ADS_1
"tentu saja, tidakkan kau lihat semua bangunan di luar sana berbeda dari di bandung" jelasnya
mutia berlari menuju jendela di ruang tamu dan melihat pemandangan kota jakarta di bawahnya
" tapi... tapi bagaimana bisa kita tiba disini?"
"aku yang membawamu kemari, karena aku tidak tau dimana kamu tinggal sedangkan kamu sudah tertidur seperti kebo di mobil" jelasnya
"tapi kan paman bisa bawa aku pulang kerumah tuan, bi ani tau dimana kontrakanku paman " kata mutia
"apa kau yakin ingin aku membawamu dengan keadaan semabuk itu? tidakkan kau takut mereka salah faham"ucap reyhan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"kali ini kau benar paman, mungkin lebih baik disini, setidaknya aku masih aman "ucapnya sambil menatap sinis ke arah reyhan
"tapi tetap saja kau menipuku paman, aku sudah berfikir bersedia dinikahi di usia mudaku karenamu" sergah mutia
"tidak ada salahnya kan menikah muda, lagipula itu lebih baik dari pada membiarkan mu berkeliaran ke tempat-tempat berbahaya, jika sudah menikah tentu kau akan disibukkan mengurus anak-anak kita" kata reyhan sambil duduk di sofa
mutia mengikuti reyhan duduk di sampingnya" aku masih ingin kuliah dan bekerja paman tidak mungkin aku akan menikah secepat itu" tolaknya
"tentu kau akan tetap menyelesaikan kuliahmu, dan kalau kau ingin merasakan dunia kerja , kau bisa menjadi asisten pribadiku di kantor meski aku sudah punya 3 asisten profesional di kantor, dan mereka punya peranan masing2 sepeti ben mengurus kantor di mana aku bekerja, jason mengurus perusahaan dan klien dari luar negeri dan putra yang berurusan dengan kemiliteran sedangkan kau sendiri hanya bagian memanjakanku setiap saat di kantor "jelas reyhan panjang lebar, dia benar-benar bersemangat membayangkan yang terjadi.
"wah paman, kau benar2 hebat sampai punya 3 asisten, boro-boro asisten, teman yang mau bantuin mutia aja cuma sarah" ucapnya kagum tanpa menyimak inti dari cerita reyhan
__ADS_1
"jadi kapan kita menikah?"tanya reyhan mendadak
mutia tertawa mendengar pertanyaan konyol reyhan "menikah apaan, siapa juga yang mau menikah dengan paman, kan sudah ku bilang paman bukan tipe ku "
" tapi sekarang kau sudah jadi kekasihku, bagaimana mungkin kita tidak akan menikah" jelasnya
"hah, kapan kita pacaran paman?, bukankah paman hanya bercanda denganku?" tanyanya
wajah reyhan menggelap, tentu saja dia serius saat mengatakan perasaannya, mungkin terkesan terburu-buru tapi reyhan yakin perasaannya sungguh-sungguh terhadap mutia,
semenjak mengenal mutia reyhan malah tidak punya waktu memikirkan lara mantan kekasihnya yang ternyata telah selingkuh dengan pria lain di belakangnya. 5 tahun ternyata tidak cukup untuk reyhan mempertahankan gadis yang dulu amat di cintainya itu
"paman kapan kita kembali ke bandung?, nanti malam aku harus kembali bekerja dan besok ke kampus untuk daftar ulang beasiswaku" tanya mutia menyadarkan reyhan dari lamunannya.
"kenapa buru-buru sekali, kita bisa jalan-jalan dulu sebelum pulang dan aku ingin mentraktirmu makan enak sesuai janjiku kemarin"
"oh, ternyata saat mabuk pun aku masih ingat meminta hal berguna kepadamu paman" ucapnya sambil tertawa lebar
"tentu, aku pasti menuruti semua keinginan kekasihku "katanya bangga
mutia yang mendengar kata kekasih pipinya bersemu merah karena malu, sialan.. apa paman ini tidak salah? oh tuhan, bisakah jantung ini berhenti berdebar? ini benar-benar memalukan
mutia bangkit dari sofa dan berlari kecil ke arah dapur sambil berteriak "paman aku akan membuat sarapan untukmu, tunggu di sini sebentar aku akan segera kembali"
__ADS_1
reyhan hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan gadisnya "kekasih.. sepertinya tidak buruk" gumamnya sendiri