
di pagi hari mutia sudah bangun sejak subuh, entah kenapa tiba- tiba dia merasa tidak nyaman, sejak semalam dia merasa gelisah dan kesulitan ubtuk tidur, waktu pun di manfaatkan mutia dengan membereskan kontrakannya dan memasak, semua hidangan sarapan pagi pun diselesaikan dengan cepat
setelah semua tertata di meja makannya terdengar bunyi ketukan di pintu rumah
mutia mengerutkan keningnya sambil melihat kearah pintu , ini masih sangat pagi bukan jika ada tamu? apalagi tidak banyak orang yang tau tempat mutia, hanya orang- orang terdekatnya saja
meski sedikit bimbang mutia tetap membukakan pintunya
"kenapa lama sekali" ucap rey yang sudah cemberut
"ahh... ternyata paman, ada apa kemari sepagi ini ?" ucap mutia masih di depan pintu rumahnya
wajah rey pun semakin tidak enak di lihat "tidak bisakan tamumu di persilahkan masuk dulu, apa kau ingin aku bicara denganmu di depan pintu ini ? "
dengan masih memegang pintunya "aku rasa tidak ada hal penting yang perlu di khawatirkan paman, katakan saja ada perlu apa?
sebenarnya mutia sangat berhati-hati terhadap orang asing, dia merasa rumahnya merupakan tempat teraman baginya sehingga tidak akan membiarkan sembarangan orang datang, termasuk roy yang sudah lama di kenalnya, sampai saat ini hanya sarah yang pernah masuk ke rumahnya
"sarapan" , tanpa menunggu jawaban dari mutia, rey langsung menepis tangan gadis itu agar dia bisa masuk ke rumahnya
mutia tidak tau harus tertawa atau menangis menghadapi tuannya yang 1 ini, pasalnya dia tidak merasa seakrab itu dengannya, tapi dia malah datang sepagi ini hanya untuk SARAPAN.
untung mutia memasak lebih kali ini jadi tidak perlu repot memasak lagi,
" ayo makan" ucap mutia ketus
reyhan merasakan sikap dingin gadis ini membuatnya merutuki dirinya sendiri, setelah perjalanan dari jakarta dia langsung ke rumah gadis ini tanpa istirahat karena sudah sangat merindukan nya, tapi mulut sialan nya malah mengatakan ingin sarapan
benar-benar tidak tahu malu
mereka makan dengan tenang tanpa ada yang memulai percakapan, hanya suara benturan antara sendok dan piring yang terdengar
"aku selesai.. , setelah selesai paman boleh pergi " mutia bicara tanpa menatap reyhan sama sekali, mutia bergegas mengambil tasnya dan hendak pergi meninggalkan rey sendiri,
sebenarnya alasan mutia mengacuhkan rey adalah karna saat ini ada yang membuatnya gelisah, dan orang-orang sebelumnya pasti masih ada yang mengikuti mutia, ntah kenapa ada rasa takut di hatinya jika mereka tau tentang rey
reyhan mencengkram kuat sendok di tangannya saat memperhatikan gadis yang dingin dan acuh padanya itu, "apa dia sama sekali tidak perduli padaku? padahal selama ini aku sangat merindukannya" batin reyhan
reyhan menghela nafas berat sambil berdiri dari duduknya untuk segera pergi, sebelumnya dia berharap bisa tinggal lebih lama lagi dan semakin dekat dengan gadisnya,
aneh memang... reyhan juga merasa dirinya bagaikan seorang yang bodoh dan gila di hadapan gadis kecil ini
mutia sudah hendak membuka pintu sebelum terdengar suara keras dari meja makan, refleks mutia memutar tubuhnya dan menyadari jika suara keras itu akibat tubuh reyhan yang tiba-tiba saja ambruk dan sekarang terbaring di lantai
"ppaaamaannn" mutia panik dan berlari kearah rey yang tampak pucat,
"paman bangun, jangan bercanda denganku.. kalau kau tidak bangun aku akan memukulimu sampai mati"ucap mutia sambil menggoyangkan tubuh reyhan, tapi tidak ada respon dari reyhan
apa dia benar- benar pingsan? bagaimana bisa?
mutia mulai panik dan kehilangan sikap acuhnya, dengan perlahan menyeret tubuh rey ke tempat tidurnya dan membaringkannya,
setelah bersentuhan baru mutia sadar jika reyhan badannya panas, dia tidak tau harus berbuat apa saat ini, di tambah lagi tidak mungkin memanggil dokter kerumahnya,
akhirnya mutia memilih melihat internet untuk meredakan demamnya,
cara 1 atur suhu ruangan agar lebih dingin
__ADS_1
cara 2 beri kompres dingin di kening
cara 3 , jika cara 1 dan 2 tidak ampuh pastikan membuka seluruh pakaiannya dan lap seluruh tubuh dengan handuk lembab
seketika wajah mutia memerah seperti terbakar semakin lama dia melihat hp nya
"huh... apa-apaan itu, bagaimana mungkin cara ke 3 bisa berkata tidak tau malu seperti itu, masih membayangkan nya saja sudah membuatku malu" ujar mutia pada dirinya sendiri sambil mengipas-kipas wajahnya yang terasa panas
tapi..
coba cara 1,2 dulu kalau begitu mudah-mudahan segera turun demamnya
.
.
.
sudah 1 jam sejak mutia kompres kepala reyhan tapi demamnya masi sangat tinggi, reyhan juga mulai mengigau akibat terlalu panas, mutia mondar-mandir di kamarnya sambil menggigit kuku jari nya memikirkan apa dia harus lanjut ke cara ke 3
drrttt...ddrrttt
mutia terkejut mendengar suara hp nya saat melihat sarah yang menelpon, mutia menjadi semakin sakit kepala
"halo"
"heii mutia, kamu dimana? " sarah berteriak dengan menggebu-gebu "kita ada matakuliah penting pagi ini, jangan katakan kalau kamu lupa?"
mutia menoleh ke arah reyhan yang berbaring di tempat tidur nya dengan sedikit cemas "mm... sarah, bagaimana cara menurukan demam dengan cepat dan ampuh?"
"oh, itu mudah cukup telanjangi dia dan lap seluruh tubuhnya menggunakan kain lap lembab" ucapnya santai dalam 1 tarikan nafas
seketika wajah mutia memucat mendengar ocehan kawannya, roh nya terasa melayang meninggalkan tubuhnya sejak sarah menggunakan kata talanjangi... ternyata dia salah meminta pendapat sarah, sarannya lebih mengerikan
mutia sama sekali tidak mendengar ocehan sarah lainnya setelahnya
"habislah sudah aku" batin mutia sambil mematikan telfon sarah yang terdegar terus berbicara dari balik telfon lainnya. ..
tutt..tuttt
"hall... hallooo..." sarah makin bingung setelah telfonnya dimatikan oleh mutia,
"sebenarnya siapa yang demam? untuk anak-anak itu sangat efektif tapi jika sudah dewasa langsung minta saja dia minum obat penurun demamnya " ucap sarah sambil berlalu ke kelas
dia akan bertanya nanti saja saat bertemu dengan sarah
39,9°c angka yang tertera di termometer
"astaga panas sekali dia, gimana dong ni" rasanya mutia ingin menangis meratapi nasibnya
perlahan mutia mulai melepas satu bersatu kancing baju reyhan dengan tangan bergetar hebat seakan dia sedang berada di dalam sebuah perang, ingin menolak tapi tak bisa, dia tau jika tuan nya kali ini juga bukan orang yang bisa dia singgung, jika nanti ada hal buruk yang terjadi bukankah dia yang akan di persalahkan karena tidak melakukan apapun saat tuannya sakit
setelah seluruh kancing kemeja putih itu terbuka, wajah mutia terasa terbakar hebat saat melihat gundukan-gundukan yg berbaris rapi di sepanjang perut rey,
1,2 3 4,5,6,7,8
"astaga... bagaimana itu bisa ada 8" batin mutia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya
__ADS_1
dulu saat dia belajar bela diri bahkan untuk mendapatkan 6 kotak saja sulit dan ini ada 8
seberapa hebat pria di hadapannya ini, bentuk tubuhnya sangat sempurna dan kokoh, terdapat beberapa bekas luka samar dan yg paling mengerikan ada seperti bekas luka tembak di lengan kiri reyhan
baju sudah sekarang giliran celana , mutia menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri dan dengan cepat melepas celana rey, mutia memalingkan wajahnya dan menutup sebagian tubuh rey dengan selimut tipis
setelah dirasa cukup mutia langsung melakukan langkah seperti perawat profesional yang memberikan pelayanan medis terbaik untuk pasiennya
38,2°c "akhirnya" batin mutia lega dan tersenyum puas setelah melihat hasil termometer yang di gunakannya untuk memeriksa reyhan
mutia akhirnya merentangkan kedua tangannya ke atas kepalanya, berusaha merilekskan tubuh dan menenangkan pikirannya yang juga sangat lelah akibat reyhan "
.
.
.
reyhan mengerjapkan matanya saat dia perlahan terbangun, rasanya sangat nyaman tapi masih ada rasa sakit sedikit di kepalanya, reyhan meraba keningnya yang masih tertempel kain, saat ingin duduk badannya seperti tertahan sesuatu saat menoleh di sebelah kirinya reyhan terkejut melihat mutia bertidur dengan kepala bersandar di tangan kanan nya, dia sangat terlihat damai saat sedang tidur, wajahnya amat cantik dan menggemaskan rasanya reyhan tidak akan pernah bosan melihat wajah gadis ini,
"bangun sayang" ucap reyhan selembut mungkin agar tidak mengejutkan gadisnya sambil membelai lembut rambut gadis itu
mutia terbangun akibat sentuhan reyhan "pamaann.. apa kau sudah merasa lebih baik " ucap mutia sambil mengucek-ucek matanya dengan menggemaskan
"hhmm.. aku baik-baik saja, apa yang terjadi?" reyhan menaikan alisnya setelah menyadari dirinya tidak lagi memakai pakaiannya
" ee.. jangan salah paham paman aku hanya membantumu mendinginkan tubuhmu agar demammu bisa turun"ujar nya malu-malu
"benarkah? apa kau tidak berbohong? bukan kah tidak baik mengambil manfaat dari orang yang sedang sakit" goda reyhan sambil menopang dagunya
mutia malah jadi kesal, "jika bukan karna paman sakit, aku pasti sudah selesai dengan kuliahku hari ini, paman benar-benar merepotkan" ucap mutia sambil menghentakkan kedua kakinya sambil berbalik ingin meninggalkan rey
refleks rey menarik tangan mutia ke arahnya tidak ingin membiarkan gadisnya pergi
mutia yang tidak siap langsung terjatuh di tubuh kekar reyhan yang tanpa pakaian, kulit reyhan yang masih hangat bersentuhan dengan mutia membuat jantung gadis ini berdegup semakin cepat
" ppaman" gumam mutia tanpa berani menatap wajah reyhan, tubuhnya yang menimpa reyhan dan kedua tangannya yang tanpa sengaja menyentuh dada bidang reyhan hingga mutia juga dapat merasakan detak jantung reyhan yang semakin keras
reyhan terpaku melihat wajah memerah gadis di hadapannya, dia sangat malu hingga tidak berani menatapnya, geraman mutia di telinganya terasa membakar telinganya saat ini
cupp.... mata mutia terbelalak saat dirasakan nya sebuah bibir yang sangat lembut, dimana rey menciumnya atau tepatnya hanya menempelkan bibir mereka, mata rey yang terpejam membuat mutia menyadari jika pria ini mempunyai bulu mata panjang dan lentik, sangat indah...
mutia cepat sadar lalu bergegas berdiri di hadapan rey, "paman.. ini sudah siang aku akan siapkan makan siang untukmu, tunggulah disini dan pakai pakaianmu dengan baik" mutia langsung menghilang dari kamar itu tanpa menunda sedetikpun
reyhan yang awalnya cemas akhirnya tertawa puas dengan reaksi gadisnya "sangat menggemaskan"
drrt..drtt..
mata reyhan melihat hp mutia diletakkan di meja samping tempat tidur ada sebuah pesan yang membuat wajah bahagianya berubah detik berikutnya
nomor tak di kenal [ Sayang aku kembali ]
.
.
terimakasih untuk teman-teman yang sudah berkenan mampir di cerita saya
__ADS_1
ini merupakan bab terpanjang yang bisa saya selesaikan , jika ada yang kurang baik dari cerita nya boleh kasi saran ke author agar menjadi lebih baik 😊😊