
akhir pekan adalah hari dimana mutia bekerja di rumah reyhan di bandung, sepulang kuliah mutia langsung menuju rumah mewah itu
"selamat siang bi ani" sapa mutia ke wanita paruh baya yang sedang sibuk mengatur beberapa pelayan di halaman depan rumah
"eh mutia sudah datang, gimana kuliahnya nak? " tanya bi ani sambil merangkul bahu mutia
"semua berjalan lancar bi ani, rasanya senang bisa melanjutkan kuliah" ucap mutia, terlihat jelas di wajah gadis itu rasa syukur yang besar
bi ani menatap lembut gadis itu "syukurlah nak, semoga kelak kau bisa berhasil lulus dengan baik dan membanggakan kedua orangtuamu"
sesaat terlintas kesedihan dimata gadis itu mengingat bahkan orangtuanya tidak menginginkanya melanjutkan kuliah bahkan malah memintanya untuk menikah dengan pria yang sama sekali tidak di kenalnya
bi ani melihat perubahan di mata gadis itu dan menyesali ucapannya barusn "sekarang sudah waktunya bekerja, ayo kedalam dan segera ganti pakaianmu, hari ini kamu ke kebun belakang ya menyirami bunga di sana" ucap bi ani sambil menarik tangan mutia masuk ke rumah.
mutia menuju ruangan yang memang dikhususkan untuk para pelayan beristirahat dan berganti pakaian, di sana juga tersedia 10 kamar tidur yang setiap kamarnya di tempati oleh 2 pelayan setiap 1 kamarnya,
ruangan ini bahkan bisa di sebut sebagai rumah di dalam rumah karena termasuk sangat besar untuk bisa menampung para pelayan di sana dan majikan mereka sangat baik hingga memikirkan kenyamanan pelayannya.
mutia menuju ruang ganti dan di sana juga terdapat beberapa pelayan yang sedang istirahat nenatap mutia tidak biasa tapi mutia seolah tidak melihat ada yang berbeda
"wah lihat siapa yang baru datang, bukankah ini sudah lewat dari jam masuk kerja?" sindir putri yang sudah melihat kedatangan mutia dari tempatnya duduk
mutia hanya diam dan acuh seolah tidak ada siapapun disana, hal itu malah membuat putri semakin geram "mutia apa kau tidak bisa mendengarku? aku sedang bicara denganmu?" ucap putri marah
"ada apa? " sahut mutia singkat
"kamu itu anak baru jadi posisikanlah dirimu sebagai junior disini, jangan sombong sementang kamu bisa kuliah dan kami tidak" kata putri
"oke, apa kau sudah selesai? aku sudah terlambat dan kau malah menahanku lebih lama lagi sekarang "ucap mutia acuh.
putri menggertakkan giginya dan kedua tangannya terkepal erat melihat mutia yang sama sekali tidak terprovokasi olehnya dan tetap bersikap acuh, dia sebenarnya berharap mutia menyerangnya balik dan membuat pelayan lain membenarkan tuduhannya bahwa mutia bertindak seenaknya di rumah ini.
"baiklah, kakak senior aku akan bekerja sekarang"ucap mutia sambil berlalu menuju ruang gantinya, terlihat senyum samar disana karena berhasil mematahkan langkah putri yang di rasa memiliki niat tidak baik untuknya.
__ADS_1
mutia menuju taman belakang dan seketika perasaannya yang sempat kacau menjadi tenang kembali saat melihat hamparan bunga-bunga di hadapannya,
"bi ani memang terbaik" batin mutia
dia sadar jika selama dia bekerja disini bi ani lah yang paling mengerti dirinya, meskipun mutia tidak pernah menceritakan tentang hidupnya tapi dia merasa jika bi ani menyadari setiap kesedihannya selama ini.
saat asik menyiram tanaman mutia merasa ada seseorang mengendap-endap di belakangnya, instingnya memberikan efek waspada seketika, saat seseorang menyentuh pundaknya mutia refleks berbalik dan menyiramkan air ke arah orang itu
"hei hentikan, apa yang kau lakukan"ucap seseorang dengan menutupi wajahnya yang tersiram air oleh mutia.
dengan tetap waspada mutia mengarahkan selang air itu ke arah lain
"seharusnya aku yang tanya, kau siapa? kenapa datang mengendap-endap dan menyentuhku?"tanya mutia menuntut
"aku hanya ingin memastikan sesuatu, ternyata aku benar"ucap pria itu nenyeringai
mutia bergidik ngeri melihat tatapan pria itu tapi dia tetap menunjukkan sikap tenang "memastikan apa? sepertinya kita tidak saling mengenal" tanya mutia
"perkenalkan aku ben, asisiten pribadi dan sahabat tuan reyhan" ucapnya sambil mengulurkan tangannya
ben yang melihat mutia melamun tersenyum jahil "aku tau jika aku tampan, tutup mulutmu sebelum lalat masuk"
mutia yang sadar dari lamunannya menjawab dengan malu " namaku mutia"
ben terkekeh melihat wajah mutia yang memerah karena malu, jika saja reyhan tidak menyukai gadis ini duluan mungkin ben akan mendekatinya juga, tapi dia lebih memilih merelakan gadis ini daripada membuat perselisihan dari reyhan
"kau gadis di club yang kemarin di bawa pergi reyhan bukan?, senang berjumpa denganmu"
mutia tertegun sebelum menjawab "bagaimana kau bisa tau? apa paman yang memberitahumu?"
ben menautkan kedua alisnya mendengar panggilan paman, mungkin gadis ini salah orang pikirnya
"paman siapa? aku membicarakan kau dan reyhan"ucap ben memastikan
__ADS_1
"tentu saja paman rey , siapa lagi yang dengan sesuka hati membawa orang lain pergi seperti itu" ucap mutia cemberut mengingat saat reyhan juga menipunya tapi tentu saja tidak akan diceritakannya ke orang lain
ben terdiam sebelum akhirnya mengerti dan tertawa lepas " kau memang gadis nakal, bagaimana bisa kau memanggilnya dengan sebutan paman" ben masih tertawa geli sambil memegang perutnya
"tentu saja itu sebutan yang pantas, lihat aku masih berumur 18 tahun dan dia 28 tahun, 10 tahun sudah cukup membuatku menyebutnya paman" jelas mutia
ben menghapus air di sudut matanya "hanya kau yang berani melakukan itu, apa kau tidak takut dia marah? dia sangat menyeramkan saat marah" kata ben
"mungkin aku akan takut jika melihatnya, tapi aku belum pernah melihatnya marah"jawabnya acuh
"benarkah? padahal aku setiap hari melihatnya marah di kantor, bahkan pernah ada manager yang pingsan dan di rawat di RS karena ketakutan saat rapat dengannya"
ben terus mengobrol dengan mutia, melihat gadis polos itu terus bercerita dan menyahuti ucapanya membuat ben lupa untuk apa dia kerumah reyhan sebelumnya hingga telfonnya berdering, tentu saja itu telfon dari reyhan.
ben menepuk jidatnya sambil memaki dirinya dalam hati " ya tuan" jawab nya setelah panggilan tersambung
...........
" saya sudah di rumah tuan"
..........
"baik saya akan segera kembali"
ben mengakhiri panggilan sambil menghela nafas lega, bisa gawat jika reyhan tau dia malah asyik mengobrol dengan mutia di rumah reyhan sedangkan bosnya sekarang sedang menunggunya mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerja reyhan di rumah.
"adik kecil kita lanjutkan obrolannya lain waktu, kak ben harus kembali ke kantor sekarang sebelum bos kita mengamuk "
ben yang bersikeras agar mutia memanggilnya kakak, karena mutia sangat manis dan polos hingga membuat ben ingin menjaga mutia sebagai adiknya dan mutia pun menyetujuinya
"ok, kak ben, sebaiknya begitu, bosmu benar-benar pemarah" ucap mutia sambil tersenyum manis
ben menggelengkan kepalanya menepis pikiran gilanya dan merutuki kebodohannya kali ini, dia seakan merasa menyesal telah menghampiri gadis itu tadi
__ADS_1
ben pun meninggalkan mutia yang melanjutkan pekerjaanya di taman belakang, melihat gadis itu di tengah-tengah taman bunga membuatnya bingung apakah dirinya menikmati keindahan bunga-bunga di taman itu atau gadis yang ada di tengah hamparan bunga itu.