paman rey

paman rey
halte bis


__ADS_3

"kau dari mana saja"tanya reyhan saat melihat ben masuk ke ruangannya.


dirinya sudah kesal akibat banyaknya tumpukan berkas di mejanya tapi malah makin kesal karena menunggu ben sangat lama kembali.


"maaf tuan, ini berkas yang tuan butuhkan" ucap ben sambil meletakkan berkas yang di bawanya di atas meja reyhan


" ada jadwal apa lagi hari ini? "


"tinggal makan malam dengan wiliam tuan"


"ok"


"saya permisi tuan"


"hmm"


ben pun keluar dari ruangan reyhan sambil menghembuskan nafas lega, dia seakan merasa sedang menghadapi hukuman mati jika ada di depan reyhan, apalagi tadi dia sempat mengobrol dengan gadis bos nya.


***


reyhan segera pulang setelah acara makan malam dengan wiliam selesai, wiliam adalah orang yang akan mengurus pembangunan taman bermain yang akan dibangun reyhan di bandung. reyhan ingin memantau langsung pembuatan taman bermain itu untuk memastikan semua berjalan lancar dan sesuai dengan keinginannya.


reyhan mengendarai mobilnya menuju rumahnya tapi pandangannya melekat pada gadis yang sedang duduk di halte bis sambil bermain hp, lalu tatapan reyhan teralihkan oleh 2 pria yang duduk di kanan dan kiri mutia, reyhan merasa ada yang tidak beres dengan 2 pria itu.


reyhan memarkirkan mobilnya di seberang halte untuk mengamati gadis yang seakan acuh terhadap sekelilingnya, hal itu pula membuat reyhan heran melihat mutia seakan dia tidak merasakan bahaya di sekitarnya


***


mutia keluar dari rumah reyhan setelah jam bekerjanya selesai, mutia segera menuju halte bis untuk pulang ke rumah sarah, karena mereka sudah berjanji untuk nonton film korea malam ini


jalan sudah terlihat sunyi karena sekarang sudah jam 23 00wib, mutia mulai merasa ada yang mengikutinya tapi dia tetap tenang dan pura-pura tidak menyadari ada orang di belakangnya


mutia pun duduk di halte menunggu bis


drtt.. drttt ..


pesan masuk sarah


"kau sudah dimana?"


"aku baru keluar dari rumah majikan"


"oh, kenapa lama sekali? aku kira kau lupa"

__ADS_1


"tentu saja aku ingat, apa kau sudah siapkan cemilan?"


"ceh, kau hanya tau makan saja"


"lebih baik sediakan yang banyak, karena aku belum makan malam"


" baiklah, aku akan keluarkan semua makanaan untuk tukang makan sepertimu"


" sudah sampai mana?


" di halte menunggu bis"


"mau aku jemput?"


"tidak perlu, aku akan segera kesana"


"baik hati-hati di jalan"


"tentu"


mutia melirik dari sudut matanya saat kedua pria yang sudah mengikutinya malah duduk di kanan dan kiri mutia tapi mutia masih acuh


"hai adik kecil, sedang apa disini sendirian? " ucap pria di kanan mutia


" apa kau tidak lihat aku sedang menunggu bis"ucap mutia ketus


"ceh, apa kau tidak malu pada kumis paman? ucapnya sambil tertawa mengejek


"biar kami antar adik pulang ya, bahaya jika pulang sendiri" lanjut pria di kiri mutia sambil tangannya menyentuh bahu mutia


"lepaskan tanganmu" ucap mutia menatap tajam ke arah pria itu, tatapan mutia yang awalnya sangat manis dan polos seketika berubah mengeluarkan aura dingin di sekeliling halte hingga membuat pria di sampingnya merasa ngeri


"hei dik, jangan marah kami hanya ingin bersikap baik....


ucapan pria itu berhenti setelah mutia memutar tangan pria yang ada di bahunya ke belakang punggung pria itu dan mendorongnya jatuh ke tanah, pria itu berteriak kesakitan akibat tangannya yang di rasa patah saat di putar oleh mutia


temannya yang sempat terkejut menatap marah ke mutia " jangan sok hebat adik kecil, kami tidak akan melepaskanmu malam ini" ucapnya marah


"coba kita lihat siapa yang tidak melepaskan siapa"ucap mutia tenang


pria itu mengeluarkan sebilah pisau saat mutia belum siap menghindar dan mengayunkannya ke tangan mutia sehingga ada darah yang keluar dari lengan kanan mutia, pria itu tersenyum saat melihat luka di lengan mutia lalu mengarahkannya lagi ke hadapan mutia


" sayang, ayo kita bersenang-senang saja, lihatlah kulit mulusmu terluka sekarang. jangan sampai akan ada makin banyak luka di tubuh indahmu"ucap pria itu sambil menatap mutia lekat-lekat

__ADS_1


mutia yang di tatap dengan tatapan menjijikan itu semakin kesal dan marah tapi tetap mempertahankan sikap tenangnya,


"benar-benar menjijikkan" kata mutia menatap jijik pria di hadapannya.


pria itu mulai menyerang dengan cepat lagi ke arah mutia tapi ternyata kalah cepat oleh mutia yang menghantamkan tinjunya tepat di perut pria itu hingga sang empu nya tersungkur di tanah sambil meraung kesakitan,


mutia kembali menghantamkan pukulan bertubi-tubi ke arah kedua pria itu lalu setelah puas mutia menyeringai"paman lain kali jangan mengganggu orang lain yang menunggu di halte ini, jika aku tau kalian melakukannya, kalian akan ku kuliti dengan pisau ini" ucap mutia dengan mengacungkan pisau ke wajah kedua pria di hadapannya dengan senyum devil


"ampun dik... tolong maafkan kami, kami tidak berani lagi" ucap kedua pria itu memohon.


reyhan yang berada di seberang halte bis itu tercengang dan cukup terkejut oleh apa yang di lihatnya.


tadinya reyhan sudah akan keluar dari mobilnya dan menghajak pria brengsek yang berani menyentuh gadisnya tapi ternyata gadisnya duluan yang sudah menghajar 2 pria dewasa yang ingin mengganggunya yang membuat reyhan terpukau lagi oleh gadis itu


mutia memiliki cara bertarung yang kuat seolah dia sudah terlatih untuk melakukan perlawanan saat menghadapi orang jahat seperti tadi,


" kau sungguh membuatku kagum"ucap reyhan menatap mutia seolah gadis itu mendengarkannya


reyhan memutar mobilnya menuju halte bis tempat mutia menunggu


"mutia, ayo naik" ucap reyhan


mutia yang terkejut oleh kedatangan reyhan malah membeku di tempatnya sebelum akhirnya sadar oleh sentuhan hangat reyhan di tangan kirinya,


"paman kenapa bisa disini?"ucap mutia setelah sadar dari lamunannya


"tentu saja untuk menyelamatkan ke 2 pria ini sebelum kau membunuh mereka" jawab reyhan sambil terkekeh


"bukan mereka paman tapi aku"ucap mutia cemberut


"tapi mereka yang sudah babak belur olehmu, apa kau tidak lihat itu"ucap reyhan tertawa


"jika kau sudah selesai mari ku antar pulang ke kontrakanmu"tawar reyhan


"tidak usah paman, aku juga sedang menunggu bis" tolak mutia langsung


"bis nya belum datang dan kau terluka" ucap reyhan menatap lengan kanan mutia


"setidaknya lukamu harus di bersihkan sebeum terjadi iritasi' kata reyhan sambil menarik lengan kiri mutia ke mobil sport yang di kendarainya.


mutia di dudukan ke kursi penumpang reyhan mengambil kotak P3K yang ada di mobil, mutia hanya menatap reyhan dengan pasrah disaat reyhan fokus membersihkan luka di lengan kanannya, sesekali tampak mutia meringis kesakitan tapi tidak berani berkata apa apa di hadapan reyhan.


**bab ini penuh perjuangan banget buat author, kendalanya buanyakk banget, udah ngetik sampai 3x baru berhasil di terbitkan 🤣🤣

__ADS_1


lega nya ..


semoga kalian suka ya sama ceritanya 😊😊**


__ADS_2