
Ryan, saat malam itu juga sangat takut. Baru saja ia mendapat kabar dari Siska, Tono dan Jamet mengirim pesan, jika ia tidak berani menuju rumah Hanna.
Motor pun berhenti, Hanna kini berada di rumah Ryan! terlihat tidak baik, pagi sekali ia sudah menginap di rumah pria.
"Ryan! serius ga apa apa ini?"
"Ga apa apa lah, emang kenapa?"
"Ga enak aja, takut tetangga pada risih."
"Besok kita bicarain lagi, kamar tamu di sana! gue tinggal sama kakak, dah gih lo istirahat Hanna!"
Hanna pun sudah penat, ia masuk ke kamar dan memejamkan mata, sehingga beberapa jam ini ia bisa tidur dengan nyenyak dan sangat rileks.
Mimpi yang Hanna alami, saat itu menjadi nyata. Hanna tetap terdiam melihat mereka yang terus menatap, hingga makanan lezat saja yang baru Ryan beli tadi, tidak di sentuh sedikitpun.
Memang mimpi itu tampak seperti nyata bagiku. Namun, hal tersebut tidak mungkin terulang kembali. Atau malah terulang setiap hari. Hanna malas, tetap saja makhluk tak kasat mata terus mengikutinya, meski kali ini ia hanya berada di luar jendela.
__ADS_1
Esok Hari.
"Ryan, akhir-akhir ini kau sangat aneh. Sepertinya ada perubahan dengan pandanganmu. Kakak amati kau melihat sesuatu yang lain di dalam rumah ini." ucapan kakakku saat itu membuat Ryan hanya terdiam tanpa menjawabnya.
"Ah, perasaan kakak saja kali. Hanna! jangan masukin dalam hati ya! kak Isma memang seperti itu."
Hanna mengangguk, tapi Hanna tahu. Jika saat ini Ryan juga ikut merasakan hal yang Hanna lihat, di pojok kulkas dapur. Hanya saja Ryan memberi kode, agar Hanna tidak berteriak menakuti ka Isma, yang mempunyai asma. Sehingga Hanna hanya menahan dan bicara dalam hati batinnya.
'Pergi kau dari rumah ini! Aku bukan temanmu!' batin Hanna.
Ryan tahu, ketika Hanna terdiam bagai patung, raga Hanna pasti berpencar seolah sedang berkomunikasi, pada sosok di samping kulkas. Sehingga Ryan mengalihkan pembicaraam lain, dan mengajak ka Isma ke ruang kebun sebelum ka Isma berangkat kerja.
"Iy kak." senyum Hanna.
Hanna melirik sedikit ke arah mereka yang masih tajam menatapku. Leher itu semakin mengeluarkan cairan merah dengan cepat.
Sepasang mata ini rasanya semakin susah untuk berkedip. Tengkukku serasa berat dan kepalaku pusing. Hanya dalam beberapa menit pikiranku seakan melayang melewati sebuah lorong waktu yang menuntunku kesana.
__ADS_1
Apa yang ada di dalam kepalaku berputar putar, hingga membuatku memejamkan sepasang mataku.
Seharusnya kegelapan yang bisa aku lihat, namun bayangan sebuah hutan terus mengelillingi isi kepalaku ini. Iya hutan dengan para penduduk yang hanya menggunakan kain kemben yang menutupi sebagian tubuh mereka, para gadis dan wanita yang berlalu lalang di sana.
Aku semakin dalam masuk kepada sesuatu yang terus menuntunku dengan menjalankan pandangan dalam mata tertutup.
'Apakah kalian mau menunjukkan sesuatu kepadaku?' batin Hanna yang terus terucap dengan tanpa henti, yang akhirnya mendapat jawaban dengan suara yang sangat pelan dan serak.
'Lihatlah jejak kematian kami! bantu aku, aku ingin pulang di makamkan dengan layak!'
Suara lirih dan pelan itu sangat menggetarkan telinga Hanna, hingga terasa sakit dan nyilu.
'Untuk apa aku harus melihatnya?'
Kembali aku membatin dengan satu pertanyaan, yang mungkin tidak akan ada jawabannya. Namun suara itu kembali datang menghampiri telingaku.
'Ingatlah, dan tuliskan kisahku!'
__ADS_1
Hanna terdiam, ia menutup rapat mulut dan badannya seolah menggigil dan ikut merasakan panasnya api yang tiba saja menggebu besar dengan kilat.
Tbc.