
Hanna pagi seperti biasa, ia akan bekerja sampai pukul satu siang. Setelahnya ia kembali menemui rumah Ryan, bermaksud menanyakan keadaanya akhir akhir ini yang ponselnya tidak aktif.
Sampailah ia di depan rumah Ryan! sorot mata Hanna tergugah melihat sebelah rumah tak jauh, banyak kerumunan yang membuat mata Hanna mendelik. Sosok arwah tua itu berjalan bagai orang rapuh tatapan kosong, wajahnya hanya menampilkan pucat dan sedikit gosong tidak menyeramkan, seperti arwah lain yang terjadi kecelakaan.
Sosok itu melewatinya tanpa memperdulikan wajah Hanna yang melihat pria tua itu.
"Woy, liat apa Hanna?"
Kaget Hanna, "Lo kemana aja? ponsel lo ga aktif?"
"Duh bestie gue, keren dah! hape gue rusak, lagi di service. Sehabis nyerahin bukti arwah anak kecil itu. Polisi minta ketemu sama lo nanti, semua kasus selesai dan keren deh! gue liat banget arwah anak itu di kantor polisi ngelambain tangan kaya salam perpisahan gitu. Lucu kan?"
"Ah syukurlah! gue kira ada apaan. Panik gue berlebihan rupanya. Trus itu siapa yang meninggal, Ryan?" Hanna terus memandang semua gerumulan orang yang melakukan pemakaman di bawah rumah temanku, yang hanya berjarak beberapa meter dari tembok rumahnya.
"Tetanggaku tuh di depan sana. Bapak tua itu. Entahlah dia tiba tiba saja meninggal. Kenapa emangnya mau lihat hantu. Hhhhiiiiiii...." Ryan sambil menakutiku dengan memperlihatkan wajah jeleknya.
"Jelek banget kamu Ryan, malah lebih serem dari pada hantu." Ledek Hanna dan sedikit tersenyum.
Pandangan Hanna yang terus berarah ke pemakaman membuatku sangat bergetar. Mulailah kembali mata batin melakukan aksinya.
Yah, dia alias arwah itu tidak menyadari jika dirinya sudah pergi dari dunia. Sambil mengamati pemakamannya sendiri, dia hanya berdiri memandangnya. Hingga angin kencang itu datang.
Entahlah pandanganku seakan ada yang menghalanginya, hingga aku tidak bisa membuka kedua mataku ini.
"Hanna, ngapain sih kamu. Geleng geleng sendiri." Ryan mengejutkanku dengan membawa kue bikinannya, yang terbuat dari tape bondowoso super manis.
"Eh, Ryan makasih ya. Enak banget sih kue ini."
Sebelum aku makan secuil kue tape ke dalam mulutku, mereka semua sudah tidak ada di pemakaman.
__ADS_1
"Eh tunggu! Kemana mereka semua, kok ga ada ya?"
"Hanna makan aja sih!"
"Kemana mereka semua itu, Ryan?"
"Ya pulang, uda dari tadi. Kamu itu kemana aja. Di sini kok malah ga tau."
"Pulang? Kok cepet amat sih, aku perasaan cuman memejamkan mataku ini hanya beberapa detik saja."
"Eh, mulai deh komunikasi lagi?" tanya Ryan duduk di depan terasnya.
Segera kuangkat tubuhku dan melihat sekeliling makam yang memang sudah sangat sepi. Tapi, dimana dia laki laki itu?
Hanna memejamkan mata, dan Ryan kali ini memberi ruang, ia yang peka pun sedikit tak bisa melihat jika arwah itu tak memperlihatkanya di depan mata Ryan.
"Apa? Kamu memang sudah pernah lihat, Ryan?" tanyaku heran dan kembali memandang makam yang masih segar itu.
Tono yang di ceritakan Ryan, dengan mengejutkan datang menghampiri makam itu.
Ryan memegang patok nama seseorang yang di makamkan dengan perlahan. Tono adalah tetangga Ryan yang rumahnya hanya berderet dengan tiga rumah dari rumahnya. Ia sedikit gagap, tapi akhir akhir ini ia tak pernah nimbrung bersama kami setelah camping berakhir.
Dari atas makam Hanna dan Ryan, memandangi tanah makam yang basah itu, dengan penuh serius. Hingga angin dingin datang di atas makam, menghampiri dengan daun daun yang ikut memutarinya.
"Hanna, lihat itu!"
Ryan, mulai menempelkan telinganya dikuburan baru.
Aku dan Hanna saling berpegangan melihat serius ke arah makam, yang akan melakukan hal yang tidak pernah aku lihat.
__ADS_1
"Apa kau yakin dia akan baik baik saja, Hanna?"
"Aku sudah sering melihatnya melakukan itu. Tapi, nanti dia pasti akan terpental jauh. Lihat saja, beberapa detik lagi." jelas Hanna.
Dahi Ryan, mengernyit mendengar ucapan Hanna yang tentu saja, sangat membuatku merasa penasaran dingin membeku dengan aksi Hanna yang keren, melihat arwah sampai ke arah jauh.
Hanya dalam hitungan beberapa detik, apa yang diucapkan Hanna memang benar adanya.
Secara bersamaan dengan kehadiran angin kencang yang berputar, aku mendengar suara teriakan minta tolong yang memekakkan telingaku.
Suara nyaring, bahkan sangat mengerikan. Suara seperti orang terbakar, dan tersiksa tanpa ada yang menolongnya.
Hanna terpental, dan segera berlari ketakutan. Hati Ryan, seperti merasa sesak dan tidak bisa kugunakan untuk bernafas walaupun hanya sedetik.
"Hanna, lo ga apa apa kan?" Ryan, sangat panik melihat wajah Hanna yang sangat pucat dan terus memukul lenganku.
Tolong, ampuni aku! Allahuakbar. Ampuni aku, ampuni aku! Hidupkan aku kembali. Tolong, arghhhh.....!!
Itulah teriakan yang Hanna dengar dan menghilang begitu saja. Syukurlah, akhirnya Hanna bisa bernafas kembali. Pikiranku yang tidak jelas semakin membuat aku lemas.
"Dah lah, moga aja dia ga minta tolong. Bisa berabe urusannya! udah gitu di makaminnya ga jauh lagi dari sini."
"Iy namanya juga makam keluarga, tanah mereka sih." jelas Ryan.
Dan benar saja, Ryan dan Hanna di perlihatkan seorang arwah bapak tua yang baru saja meninggal itu, dengan seluruh tubuh gosong dan menatap sedih melihatnya.
'Tolong aku! kalian bisa lihat aku kan?' sosok arwah tua itu berbicara. Sementara Hanna dan Ryan saling menatap dalam dan menelan saliva. Menahan bau menyengat busuk dan gosong menyatu.
Tbc.
__ADS_1