
Hanna masih menunggu Ryan yang berganti baju, tak lama kak Isma. Sosok kakak Ryan tiba saja pulang, lalu menarik Hanna saat ia senyum menyapa.
"Ka Isma udah pulang? maaf ya Hanna, masih di rumah ini. Sebentar bersiap mau pergi, karena kita .."
"Udah, izinnya nanti aja! sini, ke dapur yuks! ka Isma ada penawaran khusus, bantu ka Isma surprise Ryan! hari ini dia ulang tahun, tapi ka Isma berlaga lupa."
"Ryan, jadi Ryan ulang tahun."
"Heuuumph! nanti saat dia cari kamu, kita bawa kue ini. Ayo, ikut ka Isma." ujarnya, dan Hanna pun menurut.
Sementar bayangan lagi, entah kenapa Hanna saat ini merasakan bayangan berwarna merah jingga, entah apa Hanna mencoba berjalan dengan menyentuh benda asap berwarna itu di balik punggung ka Isma. Jika hitam, itu adalah tanda penjemputan Azal dan bahaya pada seseorang, tapi Hanna bergetar, karena asap merah jingga itu tembus, seolah panas jika di sentuh.
'Asap apa itu ya?' batin Hanna, masih mode menunduk ketakutan, meski saat itu tampilan ka Isma sangat ceria, ia sangat bahagia membuat kejutan untuk sang adik.
__ADS_1
"Hanna, Hanna lo dimana?" teriak Ryan, sampai tiga kalinya.
"Surprise .. kejutan. Happy birthday, selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun Ryan, selamat hari lahir. Yeeaay! maaf ya, kaka telat, semoga hari lahir ini kamu bertambah sehat, panjang umur dan apa yang dicita citakan tercapai." ujar ka Isma, mode suara nyanyi.
"Kak! oh, makasih. Kakak juga sehat selalu ya, makasih buat kejutannya."
Hanna ikut mengucapkan, tapi dengan kode panik ketakutan. Hanna meminta Ryan, tidak menoleh ke belakang pintu.
"Sssst!! kenapa lo Hanna? sini, sebelum berangkat cicipin kue dari ka Isma dulu!" ujar Ryan.
"Waaauh, semenjak kapan gue takut ama ciii..caaa ..k." menelan saliva Ryan, karena berusaha melirik dibelakang pintu.
Ia menarik nafas seolah benar benar hidupnya tidak karuan, tak bisa berteriak atau mengompol, karena ada ka Isma yang jiwa penakut dan riwayat penyakit asma.
__ADS_1
'Kan gue bilang apa, jangan noleh!' cibir Hanna, mendekat ke samping ka Isma.
Hanna masih membungkuk, di dekat meja. Ia menatap dengan gelisah serta fokus. Kala sosok arwah pria menyapa dalam batin berbicara, Hanna bergeser seolah mengambil air minum di dekat wastafel, tengkuk leher ia turunkan dan memejamkan mata.
Tanggal enam april 1976 hari Senin Legi pukul setengah tiga sore, hampir memasuki waktu Ashar.
Sesosok laki laki berseragam yang terus mengamatiku di sudut ruangan, dengan tubuh di penuhi luka hingga isi di dalam tubuhnya terlihat.
Pandangan itu terus mengusikku. Semakin lama mungkin aku bisa menjadi gila. Entahlah ini kenyataan atau bukan. Hanna harus melihat tragedi kecelakaan, yang di ikuti oleh sosok ka Isma dan sampailah ke rumah ini, karena rumah Ryan mirip rumahnya yang ia cari. Entah dari mana, atau aura arwah yang tahu, jika ia bisa tepat meminta bantuan.
'Tolong aku! tanganku masih tertinggal di selokan, bilang saja kejadian tahun 1976, jalan nanggrek! pak Sato tukang kebun, yang tertabrak truk muatan besar. Rumah kami tak jauh dari lima kilometer, beberapa warga pasti masih ingat dan mengenalnya!'
Huaaaah!! Hanna membuka matanya lagi, sungguh melelahkan hari ini bagi Hanna. Hanya ia yang bisa diperlihatkan komunikasi, belum hantu wanita dengan banyak leher meminta bantuan, tapi saat ini malah arwah yang mengekor pada sosok ka Isma, setelah ia pulang membeli kue.
__ADS_1
"Hanna, ayo cicipin! kamu minum aja dari tadi." tarik Isma, pada tangan Hanna yang merasakan dingin sekali tangan kak Isma.
"Ah! iy kak, Hanna haus." senyum, Hanna melotot pada sosok Ryan.