
"Hanna, fokus bertahanlah Hanna! arrrgh.. " bisik suara Ryan, seolah menahan sakit akibat lilitan.
Sayangnya Hanna saat ini berada di ruang gelap, benar saja ia menyaksikan pak Yola dan kekasih Ryan sedang bermain tanpa busana, dibalik akar pohon di dalam sebuah lubang penuh daun kering.
Hanna jelas menyaksikan gundukan tanah dan pohon besar terbelah, mengenai perut mereka yang sedang menempel tubuh, hingga batang pohon itu menancap dan menguruk sebuah lubang dimana pak Yola dan siswi yang bermain syahdu, tanah tiba longsor mungkin, sedalam sepuluh meter.
Hanna menutup mulut dan fokus untuk kembali ke jiwanya, lalu benar saja setelah ia kembali pada jiwanya. Terlihat wajah merah membiru seolah lama Ryan yang menahan. Benar saja itu adalah tanda ia telah meninggalkan Ryan selama beberapa jam. Hanna kembali.
"Lo ga apa apa Ryan! gue bantu ilangin luka merah di tangan ya!" teriak Hanna dengan merah padam, menatap cuaca semakin aneh yang gelap dan berubah cerah dalam hitungan detik.
Uhuuk! Uhuuuk. "Gue ga apa apa, gue berhasil nahan, lo ga apa Hanna? gimana udah ketemu petunjuknya?" tanya Ryan.
"Iya, kita pergi dari tempat ini. Dan cari sepuluh ayam hitam jantan berusia satu setengah tahun, lalu ikat ke sebuah pohon. Dia minta bertukar itu, selama satu pekan."
"Apa..?" syok Ryan melemas. Hanna mengajak Ryan segera pergi dari pelataran muka hutan.
Hanna sangat ingat, kala ia menatap wajah jin menyeramkan, matanya seketika berubah warna menjadi merah darah. Sepasang mata sosok itu yang sekarang mengeluar sinar merah itu menancap dan menyusup mataku.
__ADS_1
Rasa sakit yang luar biasa terasa menusuk ke dalam mata Hanna, ada sesuatu yang menggerakkanku untuk patuh dan mengikuti apapun yang diperintahkan oleh makhluk yang telah menyatu di tubuh kakek gosong tersebut.
Aku seketika seperti sapi yang telah ditusuk hidungnya, dengan patuh mengikuti apapun yang ia perintahkan padaku, seakan akan otak dan pikiranku telah dikendalikan oleh cahaya merah yang keluar dari sepasang mata yang menyala mengeluarkan sinar merah darah tersebut.
Tanpa rasa jijik ataupun mual aku pun mengendus lidah berlumuran darah, yang telah ia julurkan terlebih dahulu ke arahku.
Aku pun merundukkan tubuhku lalu mendekat di wajah sosok itu demi melihat akhir tragis pak Yola, tanpa rasa geli atau pun jijik aku melakukannya. Sehingga saliva dari lidah sosok pun menyatu dengan salivaku. Seketika turunlah bayangan yang aku lihat, kenapa mereka hilang dan sulit ditemukan jasadnya oleh tim sar hingga saat ini.
Tubuh Hanna seketika berputar dengan hebatnya, sepasang mataku pun seketika mengeluarkan cahaya yang sama, seperti mata sosok penunggu yang memberikan aku ingatan dan permintaan sebagai imbalan telah memberitahu.
"Thanks Ryan. Lo lulus." balas Hanna dengan letihnya.
Langkah Hanna dihentikan oleh sebuah tangan, Hanna terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja. Ryan sontag berusaha melepas ikatan akar melilit di kaki Hanna. Tapi saat itu juga, terlihat tangan Ryan juga terlilit dari akar pohon lain.
"Haaah, Hanna. Gimana ini?" teriak Ryan, Hanna hanya menggeleng kepala karena bingung.
Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar.
__ADS_1
Pandangan Hanna dipalingkan ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat seorang pun. Hingga ia menatap atas atap pohon besar, tepat diatas kepalanya.
Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Hanna dan Ryan, tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah Hanna, dan sebagian membuat kedua tangan, dan kaki Ryan terikat menempel pada pohon besar terpental.
Aaaaarrrrgh!! teriak Hanna dan Ryan saat itu.
"Lepasin kami! kami akan pulang dan kembali lagi, membawa apa yang ingin kalian lakukan!" teriak Hanna, ia terpaksa berjanji.
Ryan spontan terjatuh dari ketinggian satu meter, begitu juga Hanna terlepas dari lilitan akar dan lidah sosok penunggu.
"Ryan, bangun Ryan!" menangis Hanna, jiwanya lemah, seolah energi penunggu hutan sangat besar.
Tbc.
Sambil tunggu Up! mampir ke litersi temen Author ya!
__ADS_1