PEKA

PEKA
KASUS PERTAMA


__ADS_3

"Jadi gimana? ambil ga tawaran kerjaan pak Dirga?" tanya Ryan.


"Kita bukan intel, tapi kalau kasus kematian ga terungkap, gue ga bisa bantu. Kecuali arwah itu yang datang, kita bukan dukun atau peramal Ryan! intinya freelance."


"Tapi kalau terungkap, kita dibayar Hanna."


"Ryan, kerjaan kita ikhlas. Kita bukan pemburu hantu, gue ga suka sebutan itu."


Tatapan Hanna yang kesal, membuat Ryan semakin suka. Ia tahu Hanna membutuhkan uang untuk pergi ke sumatera. Ryan tahu, Hanna sedang kesulitan ekonomi mengejar kampung nenek Sari.


"Besok kita ke sumatera. Gue anter lo."


"Pake apa, lo ga bercanda kan?"


"Tabungan ayam gue, udah sepuluh tahun. Itu pasti cukup, gue udah janji kan sama lo. Sekarang gue nepatin janji ke lo Hanna. Kita bff saat ini, gue ngerti di saat gue benci sama lo yang aneh, ternyata lo yang care selama ini. Temen temen lain, nihil mereka menjauh."


"Gue. Gue ga bisa, itu uang lo."


"Gue mau cari nenek Sari. Nenek lo, nenek gue juga. Kita berangkat ya besok! sekarang gue anter lo pulang. Tapi ke rumah gue dulu, gue mau packing koper baju baju. Gue nginep, berjaga di rumah lo lantai bawah."


Perkataan Ryan, membuat Hanna terdiam. Jujur ia juga hanya seorang diri. Ia tahu, sosok Ryan juga bukan pria nakal. Sehingga Hanna senyum dan menyetujuinya.


"Thanks. Best Friend For Ever."


***


Malam Harinya.


Suara mencekam itu masih setia membekas di telingaku. Kupandangi langit-langit atap kamarku. Air itu menetes mengenai wajahku. Satu tetes, hingga menyusul tetesan-tetesan yang terus membasahi semua tubuhku. Ah, tidak hujan, langit sangat cerah dengan bulan dan bintang yang menghiasinya saat aku memandang keluar kamarku. Dan Ryan yang berada tidur disebelah sofa, seolah tidak merasakan air itu.

__ADS_1


"Ryan, gue basah semua mau mengganti baju." sambil berbicara dengan mata yang sangat susah di buka, aku menuruni ranjangku saat itu tepat pukul satu malam.


"Hanna, lo sama sekali ga basah, badan lo kering. Lo pasti bermimpi yang tidak-tidak. Sudah, kembali lagi tidur sekarang!"


"Apa? Badanku tidak basah sama sekali?"


Perlahan aku kembali menuju ranjangku dan menarik selimutku. Melihat Ryan kembali tidur, yang masih berada di samping kasurku dengan nyata, aku sedikit lega. Hanna menoleh ke arah pintu, ia memang ditemani Ryan, karena merasakan ketakutan.


Suara itu dan bau basah dari air kematian menyengat terus menyerang hidungku. Ketiga anak kecil itu terus berlarian dengan suara yang sangat menggangguku.


Semakin kutarik selimutku hingga tubuhku tertutupi. Jari jemari kakiku tersentuh sebuah tangan yang menariknya. Segera kutekukkan kakiku dan aku mendekat ke Ryan, tapi kaki terasa kaku, dan mulut seolah terkunci.


"Kakak, kakak, dia jahat kak....." arwah anak anak itu ku pandangi, bagai cahaya yang tembus dari pintu kamarku sehingga pandanganku berubah di tempat lain.


Bau itu semakin menyengat. Aku mencium bau air yang muncul dari jasad mahkluk hidup yang mati dan membusuk.


Aku menutup telinga dengan kedua tanganku dan terus berusaha mengabaikannya, hingga kipas angin yang menyala tiba-tiba berhenti menyala.


Ku buka pelan selimut yang menutupi seluruh tubuhku dengan sangat pelan sambil melihat seluruh ruangan kamarku. Syukurlah, ketiga anak itu sudah tidak ada, begitu juga bau itu yang sudah menghilang dari kamarku. Aku turun dari ranjangku dan menyalakan kembali kipas itu dan akhirnya kembali berputar.


"Ah, lega sekali." ucapku dan segera melangkahkan kakiku kembali.


"Ting, ting, ting..."


Suara itu berasal dari kaca yang berdenting. Aku bergegas menuju ranjangku dan melihat jendela yang sedikit terbuka tirainya.


"Ting. ting, ting...." Suara itu kembali menggangguku. Aku melompat dari ranjang, dan menutup tirai jendelaku dengan cepat.


"Ting, ting, ting..."

__ADS_1


"Hah, jangan pernah menggangguku! Aku tidak mau. Pergilah!" batin Hanna berteriak, sementara Ryan di sofa seolah tak mendengar ketakutakanku saat ini.


Kakak! tolong kami, kami datang meminta bantuan kakak! ungkapkan kematian tragis kami!" kakak kami tahu, kakak mendengarnya!


Suara mereka sudah memekakkan telingaku hingga batinku berteriak, "Diaammmmm....."


Sambil menahan nafasku yang terengah-engah, aku semakin mendengar suara dentingan itu dengan sangat kencang.


"Ting, ting, ting...."


Suara yang semula aku kira berasal di kaca jendela kamarku, ternyata saat kupalingkan pandanganku, suara itu berasal dari cermin rias yang terletak di tengah kamarku.


"Tolong......" wajah wanita dengan memakai baju merah bercampur air hujan dengan cairan kental merah segar yang menutupi seluruh wajahnya.


Teriakan itu membuatku semakin menunduk dan terjatuh di lantai. Hanna menatap wanita berbaju merah, tiga anak anak itu di tarik oleh seseorang dan dibunuh sangat kejam. Wanita itu juga terus saja di hujam dengan benda pipih satu meter, menembus perutnya keatas jantung. Sementara anak anak kecil itu di tarik dan dilemparkan batu yang amat besar berkali kali.


"Aaargggh!" teriak Hanna.


"Hanna, lo kenapa? lo dapat sesuatu, lihat sesuatu lagi?" panik Ryan terbangun.


Hanna yang refleks, ia memeluk Ryan sehingga Ryan kebingungan. Hanna berbicara ia melihat semuanya, ia melihat dan tak tega melihat semua yang nampak.


"Gue lihat semuanya Ryan! tiga anak dan istri polisi yang di minta pak Dirga. Gue tahu sekarang ada dimana. Yang bunuh orang terdekat, pelaku berpura berpura gila di rumah sakit jiwa saat ini." jelas Hanna yang masih mode menangis.


Tbc.


Sambil tunggu Hanna! yuks mampir ke temen litersi Author.


__ADS_1


__ADS_2