PEKA

PEKA
BRODY MEYALAHKAN


__ADS_3

"Skripsi kalian akan bapak setujui! asalkan kalian bisa temui mayat pak Yola." jelas pak Brody.


"Astagfirullah pak! apa urusan skripsi kami dengan hilangnya pak Yola. Tim polisi kan sedang mencari terus, meski tim sar diberhentikan, tapi pencarian dilanjutkan." ujar Ryan.


"Karena dia adik kandung saya! satu lagi yang rekomendasi tempat itu kamu kan Ryan?!Jangan berlaga lupa kamu itu! dan Hanna, kamu juga dalang dari hal mistis rumor anak dukun kan?"


Hanna menelan saliva, ia menahan sabar. Jika di depannya bukan dosen, skripsi hasilnya sudah dilolos, mungkin akan Hanna siram dengan air kopi tepat di samping pak Brody. Tapi Hanna masih tidak hilang akal, ia masih punya batas kesabaran yang tidak tahu sampai masa akan meledak.


"Terimakasih pak! kami pasti akan menemukannya! tapi janji bapak, bertemu pak Yola, kasus selesai saya minta lolos tidak di persulit!" ujar Hanna dan pamit.


"Of course!" senyum Brody si dosen yang picik.


Ryan termangu, lalu ikut pamit juga dan bicara pada Hanna apa yang ia lakukan tadi. Bukan tanpa alasan masuk akal. Ryan menarik tangan Hanna dan kini saling menatap.


"Lo janji sama pa Brody? kita cari gimana, ga mungkin kita lakuin ke tempat itu lagi Hanna. Why, kenapa lo buat ide kaya gini sepihak?"


"Trus, mau sampai kapan kita belum di lolosin. Sementara anak anak lainnya udah clear! gue mau cepet cari nenek gue Ryan! gue mau susul nenek gue, gue takut dia tersesat. Please lo ngertiiin gue!" pecah tangis Hanna.


"Ok I'm sorry! terus kita mau coba cari gimana, gue ikut lo sesuai janji gue ..."

__ADS_1


"Bloody Mary, kali ini gue aja yang lakuin. Lo pantau sekitar jangan terlepas atau terpental. Biar di antara kita ga ada korban jiwa lagi." cetus Hanna, membuat Ryan terdiam pucat.


Tak lama Hanna kembali bertemu sosok arwah anak kecil itu lagi, bukan tanpa alasan Hanna tak ingin membuat Ryan panik. Ia berjalan santai dan diam fokus sebentar saja untuk mengalihkan pikirannya.


Dia, anak kecil dengan tubuh yang mengerikan, akhirnya menghilang dari pandangan. Hanna saat itu, sangat melegakan hati yang terus berlari ketakutan dengan bergetar tiada henti. Tapi ketakutanku setiap hari tidak bisa aku atasi lagi. Aku semakin menjadi orang yang jauh dari normal.


"Ok, besok malam ke rumah gue. Gue minta lo hubungi dan ini, tanda arwah anak kecil itu yang kasih tahu. Katanya kalau lo kasih tahu polisi, dia pasti percaya."


"Ok, gue paham. Lo pulang hati hati, gue nyusul ke rumah lo kalau kasus arwah anak itu kelar. Ga apa apakan?"


"Gue ga apa, thanks lo udah care sama gue Ryan."


***


Ke esokan paginya, perasaan Hanna benar benar kacau. Hanna tidak bisa tidur nyenyak, lengan Hanna nyeri, dan kepalanya juga amat sakit. Perasaan Hanna semakin kacau dengan apa yang di alami beberapa hari ini.


Setiap Hanna membuka mata, dimanapun ia berada, semua menunjukkan dirinya dengan berbagai macam wujud menyeramkan.


Sangat bosan sekali berada di kamar Hanna saat ini, apalagi setiap hari lamanya. Hanna menjalani kegiatan scholl di rumah, karena pasti akan sangat mahal dan menjenuhkan buatku selama tak ada nenek Sari di sampingku, terlebih menunggu kelolosan skripsi yang tak usai selesai, terus ditolak dengan alasan tak masuk akal menyalahkannya.

__ADS_1


Ku buka lemari dan segera ku ambil seragam kemeja yang sudah berbulan bulan berada di dalam almari dengan rapi. Kujalani aktifitasku saat ini dengan bekerja freelance di kasir swalayan grosiran.


Hingga saat itu aku mendatangi rumah sepupu Ryan yang kebetulan terletak di tengah pemakaman kampungku, setelah pulang bekerja.


Dia sangat berani dan tentunya sudah biasa baginya untuk menghadapi kejadian aneh di rumahnya setiap hari. Hanna selepas pulang bekerja, ia menanyakan keadaan Ryan yang sudah dua hari tak kunjung datang menemuinya, bahkan ponselnya saja tidak aktif.


'Cccch! kemana sih Ryan ini, udah aku pesan kok ga ada kabarnya lagi tuh anak, sebenarnya dia jadi mau cari kebenaran pak Yola di hutan, atau pasrah skripsi ga lolos begitu aja.' batin Hanna berderu.


Tak lama saat Hanna kembali mencoba memencet layar ponselnya, tiba saja tabrakan arwah penasaran yang tidak orang lihat menyentuh bahunya kasar.


Hanna menoleh, kala ponselnya jatuh setelah ia ambil, dan benar saja wajah penuh sayatan melebarkan senyuman dan menangis didepannya hanya sejengkal lima centi.


"Ya allah! makluk apa lagi yang kau ciptakan sih, kenapa Hanna terus saja tidak tenang." lirihnya menutup mata, tapi perlahan membuka sedikit demi sedikit.


'Tolong aku! ikuti aku, Hanna aku mohon ikuti aku!' ucap Arwah itu seolah membuat kode pesan.


Hanna kembali lemas dan pasrah, ia mencari tempat sepi untuk berkomunikasi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2